Indonesia dan Ceramah Berkepanjangan
Maret 9, 2007
Pernahkah anda merasa mengantuk, atau merasa bosan dengan khutbah Jum’at yang disampaikan oleh khatibnya? Nah seperti itulah yang kira kira sekarang ini yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia kepada para pemimpinnya. Sudah bertahun tahun negara ini cuma dijadikan ladang korupsi, perawannya dijual kepada germo internasional, kekayaan negaranya diangkut oleh para brengsek dari negara Indonseia sendiri maupun yang dari negara paman sam diceramahi oleh ustad ustad yang bernama Presiden, Gubernur, Bupati, Walikota, dan pemimpin pemimpin lainnya. Tapi ga pernah menuju kepada kelanjutan dari Khotbah Jum’at itu sendiri, yaitu perwujudan sholat Jum’at nya.
Mereka mereka itu entah buta dan tuli, atau buta tuli beneran, atau dibutakan dan ditulikan oleh Harta Kekayaan, Uang Berlimpah. Paha, Dada dan Serlangkangan Perawan Cantik atau Janda Bahenol orang lain? Apa mereka mereka itu ga liat para jemaahnya sudah pada mengantuk dan lesu? Ko masih aja nerusin ceramah basinya yang itu itu saja, ko masih meneruskan kalimat kalimat yang sering diulang ulang?
Tambahan lagi, para khatib ini ceramah dengan tidak pernah memperdulikan keadaan jamaah, jangankan menatap para jemaah dengan tatapan lembut, mengangkat kepala untuk sekedar memberi variasi agar tidak bergaya monoton (hanya melihat teks) saja mereka tidak pernah.
Sudah pak, mendingan akhiri saja khutbahnya dan di mulai sholat Jum’at nya, karena setelah ini kami juga mau beraktifitas dan mencari rezeki lagi,dan yang jelas kami mau makan siang dulu. Daripada kami hanya disuguhi janji janji dan berbagai statement akan kami pertimbangkan, akan dirapatkan, usul dan kritik anda kami tampung, atau akan kami tindak lanjuti ceramah yang terkadang sudah kami hafal, lebih baik mari selesaikan ibadah Jum’at kita, lalu kita pun pulang, dan berusaha lagi, karena hari esok masih ada menunggu kami semua dengan segala tantangan duniawi serta kerasnya kehidupan, dan kami tidak bisa menghadapi kerasnya hari esok kalau kami cuma duduk di mesjid tanpa berusaha memperbaiki hidup kami.



Maret 9, 2007 at 8:35 pm
Jelek ah kalo gini, Rid, sakit mata…
Mending pake title yang bisa dihover aja gih.
Maret 10, 2007 at 11:00 pm
kebanyakan oret-oretnya hung! Ngalih banar di baca…
Maret 11, 2007 at 12:33 am
Iya… yang dicoret banyak bener…
Maret 11, 2007 at 4:47 pm
buat semuanya: ini cuma lagi mengetes dan mengasah skill ngestrike tulisan, maaf buat ketidaknyamanan yang anda rasakan
Maret 13, 2007 at 1:44 am
Numpang nimbrung nih Mas…
Hehehe, strike-strike nya itu saya suka, cuma mbok ya jangan terlalu banyak..
.
Kembali ke topik. Sholat Jum’at memang tidak dianggap ummat sebagai tempat untuk memotivasi diri, apalagi pencerahan kehidupan. Yang ada, para khatib sibuk dengan topik yang melulu itu, membosankan dan membuat kelopak mata kadang-kadang tertutup. Mari kita jadi khatib keren!!
Maret 16, 2007 at 12:43 pm
@pramur: Sip, mari kita jadi khatib yang keren
April 30, 2007 at 11:30 am
[...] dibacakan oleh pengurus Mesjid. Bagaimana dengan kecakapan dan kelenturan lidah para penyampai khutbah Jum’at? Apakah tanggal tua juga membuat pengkhutbah juga menaikkan kecepatannya dalam berceramah? Yang ini [...]
Mei 3, 2007 at 12:33 pm
[...] 49, …seorang slankers yg juga sarjana sastra inggris…[artikel pertama yg kubaca [...]
Mei 11, 2007 at 4:03 pm
Mengikuti ajaran nabi, sebaiknya khotbah Jum’at menampilkan materi yang sifatnya menambah ketakwaan. Mungkin klo hanya difokuskan pada materi tersebut, sepertinya tidak terlalu banyak khan. Lagipula bukannya Khotbah Jum’atnya yang sebentar dan shalatnya yang lama, kok sekarang kebalik ya… Berkepanjangan itu yang harus dihilangkan… Betul tidak?
Mei 11, 2007 at 6:14 pm
@MH
Betul, ngapain panjang panjang kalau isinya ga Mutu™
Mei 14, 2008 at 9:22 pm
SHOLATLAH SEBELUM DI SHOLATKAN…!!!
Mei 14, 2008 at 9:51 pm
Hubungannya apa Pak? Komentar kok tidak berkesesuaian dengan isi tulisan?