Antara Unlam Dan Unila
April 21, 2007
Nasib nasib, siapa sich yang duluan? Unlam apa Unila? Maaf Bang Arif, ga ada maksud apa apa kok. Dan Abang juga bukan orang pertama yang ketipu, jauh sebelum ini, baik saya maupun teman teman sudah mengalami yang namanya misinterprestation (sok intelek banget)
Jadi begini, Unlam itu adalah singkatan dari Universitas Lambung Mangkurat, julukan lainnya adalah…… Sedangkan yang di Lampung itu adalah Unila, Universitas Lampung. Oke pemirsa????? Nah untuk lebih jelasnya saya akan jelaskan sedikit mengenai kedua Universitas yang memiliki kemiripan ini.
Saya mulai dari Unila. Pertama, Unila itu adanya di Lampung, dan saya belum pernah kesana. Kedua, saya bahkan belum pernah meliat bagaimana Unila itu, atau ketemu anak Unila. (Lantas????? Ngapain Kau cerita tentang Unila???? Hah hah???? Udah cerita Unlam aja!)
Unlam, nah kalau ini mah saya tau. Karena pernah terjebak disana selama 5 tahun! Keunikannya adalah Universitas ini memiliki dua bagian yang luas. Unlam yang berisikan Ilmu Sosial, Politik, Hukum dan lain lain yang tidak tersentuh ilmu ilmu eksak adanya di Banjarmasin. Sementara Unlam yang mengandung ilmu eksak ada di Banjarbaru. Untuk menghubungkan dua lokasi ini, disediakan alat transportasi yang bernama Damri. Tugasnya mengangkut mahasiswa mahasiswa keren seperti saya dari Banjarbaru ke Banjarmasin dan sebaliknya.
Untuk Unlam Banjarbaru. Meskipun saya tinggal di Banjarbaru, saya tidak bisa menceritakan banyak. Soalnya Unlam yang saya kuasai dulu ya Unlam Banjarmasin. Lebih persisnya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Fakultas paling canggih, lengkap, dan mahasiswanya paling banyak. Bisa dibilang mahasiswa FKIP menyumbang lebih dari separo penghuni Unlam. Karena Jurusan maupun Progarm Studi yang ditawarkan teramat banyak dan beragam, sampai sampai saya lupa, kalau harus menyebutkannya satu persatu.
Kampus yang namanya FKIP Unlam adalah kampus paling canggih di Unlam. Karena masih setia menggunakan blackboard dan kapur. Kemudian juga, kampus ini amatlah dermawan. FKIP merelakan Lab. Bahasa yang cuma ada dua itu untuk kemaslahatan orang banyak. Satu Lab Bahasa yang paling besar berada di belakang gedung Rektorat, FKIP dengan senang hati menghibahkannya untuk mahasiswa fakultas lain, termasuk masyarakat yang ingin menggunakannya. Biasanya untuk tes TOEFL. Masarakat atau orang umum tidak perlu bayar mahal untul mengikuti tes TOEFL di Lab Bahasa. Kalau anda mahasiswa Fakultas lain, bahkan anda tidak perlu bayar untuk mengikuti tes TOEFL disana.
Sementara mahasiswa FKIP sendiri? Apalagi yang dari Jurusan Bahasa dan Seni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris? Kami tidak perlu itu semua, kami bisa ikut tes di tempat lain yang diadakan pihak lain. Kasian kan penyelenggara lainnya kalau event nya tidak diikuti, dan kamipun berbaik hati dengan menyumbangkan diri menjadi peserta tes TOEFL dan sebagainya di tempat lain, hitung hitung juga sekalian menyumbang dana untuk panitianya.
Mahasiswa FKIP Unlam Prodi Bahasa Inggris juga memiliki Lab Bahasa pribadi, kami melakukan perawatan intensif untuk yang satu ini. Untuk merawatnya. Komputer, tape recorder dan VCD player yang tersedia sebagai media pembelajaran di Lab Bahasa itu tidak pernah kami gunakan, sayang kalau rusak. Makanya dijadikan pajangan saja.
Yang kami pakai selama ini adalah buku jaman Majapahit, jaman Sriwijaya dan yang paling baru adalah buku jaman penjajahan Belanda dan Jepang.
Dosen dosennya juga berfikiran yang sangat maju, kreatif dan modern, mereka sangat memperhatikan nasib penjual sepatu dan penjahit kain. Untuk itulah mereka menginstruksikan mahasiswanya untuk membeli sepatu, menjahit baju berkerah, serta membuat celana dari bahan kain. Dengan dandanan seperti yang diinstruksikan oleh para dosen, penampilan mahasiswa FKIP umumnya benar benar cakep, rapi, dan menarik. Persis seperti salesman elektronik seperti yang sering anda temui. Sepatu kulit, celana kain warna gelap, plus baju berkerah dan kadang kadang berlengan panjang.
Kebanyakan juga dosen dosen sangatlah perduli dengan nasib tukang cukur, secara tidak langsung mereka sering meminta mahasiswanya yang berambut agak panjang untuk berangkat ke tukang cukur, supaya bisa menambah penghasilan mereka. Kami juga diajarkan sopan santun, misalnya ada anak dosen atau Pegawai FKIP yang lagi berurusan di kantor, maka kami biasanya dengan suka cita mempersilakan mereka lewat.
Sementara kaum wanitanya sangat terjaga auratnya, kalau masuk kelas yang banyak mahasiswinya, dijamin anda akan sulit membedakan mana papan tulis, mana rekan seangkatan, dan mana wanita yang sedang anda taksir, karena semuanya hampir sama. Tidak seuntai rambutpun bisa anda jadikan patokan. Keadaan ini akan makin parah kalau anda terkena bagaian duduk di belakang, dijamin! Anda membutuhkan bantuan teman atau teropong untuk melihat tulisan yang ditulis dosen di papan tulis.
Dulu, dulu sekali waktu status saya masih freshmen, dengan rambut cepak seperti penampilan ABRI. Masing masing kampus bisa diberikan ciri dari pakaiannya, terutama yang namanaya Kampus FKIP dan Fekon. Kalau mahasiswi berpenampilan mentereng, mengundang birahi ata sekedar mengundang perhatian, bisa dipastikan itu adalah mahasiswi Fekon, jangan haraf anda akan menemukan mahasiswi berdandan demikian di FKIP.
Kalau dandanan seperti yang saya sebutkan diatas mah banyak. Hal ini juga membuat saya cukup terkesima, kaget dan agak shock saat baru mendarat di sana, Astagfirullah!!!! Ya Tuhan, kalau begini bagaimana hamba mencari jodoh???? Bentuk mahasiswinya hampir sama semua. Makanya waktu itu saya milih yang agak beda, yang rambutnya masih bisa menjadi ciri khas, jadi kalau manggil dari jauh saya ga bakalan salah. Kalau sekarang, mahasiwi berdandan Fekon berhati FKIP sudah dapat anda temukan, mungkin banyak terjadi kawin silang antara FKIP dengan Fekon, sehingga banyak mahasiswi FKIP yang mulai berdandan gaya mahasiswi Fekon, namun tak lupa, Jilbab sebagai identitas utama FKIP tidak ditinggalkan, meski kain untuk jilbab harus dibagi bagi dengan kain celana dan kain baju. Hasilnya??? Pas! Pas Banget dengan badan.
Sekian dulu, meski banyak yang masih bisa diceritakan, namun akhirnya postingan kepanjangan toh juga jadi tidak menarik. Untuk Fakultas lain, saya ga bisa cerita banyak, soalnya bukan ahlinya. Mungkin Untuk Fakultas Hukum, teman saya ini yang bisa menjelaskannya lebih detail. atau mungkin anda tertarik dengan Keadaan Fekon???? Tanyakan pada rekan yang satu ini. Mantan Pacarnya selama bertahun tahun adalah orang Fekon



April 21, 2007 at 6:46 pm
Ciiiiiiit!*niat-ngomong-pertamax-tapi-gak-jadi*
Maksudnya tidak bisa membedakan mana papan tulis, rekan seangkatan sama wanita yang ditaksir itu apah?
Temen sekelasnya papan tulis semua Ya?*kening berkerut*
April 21, 2007 at 6:53 pm
Bukan, teman sekelasnya kepalanya bulat semua…..
April 21, 2007 at 11:58 pm
sekarang gimana ya, itu berapa tahun yg lalu? apa benar di kayutangi, pernah nyasar kesana tuh
April 22, 2007 at 2:25 am
lihat wanitanya dari depan, jangan dari belakang dong, eh Labnya di LEM aja. he .. he…
pantas aja hasil dari sana kaya gene…..
rade.. rede
April 22, 2007 at 10:17 am
Request, habis ini tulis juga tentang “Antara UNLAM dan IAIP”
April 22, 2007 at 10:18 am
Revisi
Request, habis ini tulis juga tentang “Antara UNLAM dan IAIN”
April 22, 2007 at 1:18 pm
Apa seh ini??
Marah sama FKIP atau marah dengan
salah seorang mahasiswilulusan FKIPyang sekarang ngajar di IAIN?April 22, 2007 at 8:03 pm
Ah, kemarin Shan-in batal ingin daftar Unlam.
Kirain mau promo univ, tahunya…
April 22, 2007 at 11:15 pm
@Peyek
Ya kaya yang diceritakan itu Mas
@Amipoenya
Hasilnya gimana? Keren, Ganteng, dan Pandai?
@Amd
Habis ini, antara pengangguran keren dan cerdas versus setan keparat berseragam dinas dengan SK yang menerangkan bahwa dia adalah tanggungan negara!
@Manusiasuper
Sama FKIP nya+ sama Bu Nelly dan dosen dosen kolot dan keparat lainnya!!!!!
@yang kenal dan bertemu saya secara fisik
Puwas!!! Puwas!!!!!
@Shan-in Lee
Daftar aja…….., pasti
kecewapuas dan terkesan dengan keadaan dan fasilitasnyaApril 23, 2007 at 2:41 pm
koment balas
dendamApril 23, 2007 at 6:09 pm
Maksudnya Dosen dengan pernyataan keparat?
April 23, 2007 at 6:11 pm
Itu dosen IAIN, aku ga kenal orangnya, cuma dengar dari R*#*#*
April 24, 2007 at 2:04 am
Lhaaa penampilanmu kok gondrong spt Indian? hahahaha, udah pernah di lepar kapur belum? ya itu khan bia ntar klo jadi guru ga terlalu kaget gitu ngajar di papn tulis pake kapur… btw..btw.. kenapa ga cari cewe di fekon juga?
April 24, 2007 at 5:06 pm
Disarankan oleh teman-teman, soalnya UNLAM termasuk yang dekat Palangkaraya katanya.
Tapi ah, malas.
April 24, 2007 at 8:39 pm
@Bu Evy
Gondrong mah dulu Bu, sekarang udah ga gondrong lagi.
Kalau dilempar kapur sering, oleh guru saya di SMP.
Nyari cewe di fekon???? kan udah lulus kuliah, lagian banyak teman teman di fekon yang bakalan menghambat proses pdkt kalau harus nyari di kampus orang.
@Shan-in Lee
Ooooo, orang Palangka Toh? ya terserah dech, pilih yang terbaik untuk dirimu dan masa depanmu. (*sok bijak banget nich….*)
April 24, 2007 at 11:25 pm
hmmm, ngereview kampus or promosi?
April 28, 2007 at 8:44 pm
Wah hebat euy gaya bahasanya. Lebih hebat kalau di tulis di media cetak. Soalnya kalau di website warga FKIP (Unlam?) ngak banyak yang baca he he
April 29, 2007 at 2:01 pm
@Lutfi
keduanya dech
@Pa Ersis Warmansyah Abbas
Bisa di bantu mempublikasikan Pak?
Mei 2, 2007 at 3:09 pm
dari dahulu sering sangkal kalau kenalan dengan orang luar daerah, ditanya “kamu kuliah dimana?” kujawab “di Unlam”, balasannya “ooo jauh ya di Lampung” wacaiaiaruauaenfjasnfoa what the hell…dan ini bukan satu atau dua kali tapi beratus-ratus kali (serius!) terutama zaman chating mirc, ternyata banyak juga ya remaja indonesia yang pengetahuan umumnya kurang.
Mei 3, 2007 at 4:33 pm
@Anak Sultan
Mudahan banyak nang tahu antara Unlam dan Unila imbah membanca pun ulun lah….
Mei 6, 2007 at 2:27 pm
[...] Antara Unlam Dan Unila [...]
Mei 7, 2007 at 6:04 am
BAH lah urang banjar skalinya. WKWKWKWKWKWKWK…
salam kenal buat penulis yg tulisabnya bisa di bilang sedikit kritis but sure.
wlwlwlwlwl… kukira urang banua manakah, bah skalinya banua sorang jua lah. ayuja still ngeblues aja dah gasan slankers banjar . khusus buat banajrbaru people, miss u alll, i’ll be back soon.
FROM JOGJ WITH LUV.
pissssssssssssssssss………………
Mei 8, 2007 at 11:47 am
@bymo_vergil
Ikam masih di Jogja kah? Ayuha, salam ja gasan buhan banua nang lagi di banua urang
Juni 28, 2007 at 5:27 pm
[...] Ketiga : Fasilitas yang Lengkap dan Memadai. Untuk FKIP UNLAM Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Program Studi Bahasa Inggris. Kalian bisa liat keistimewaannya di sini. [...]
Juli 1, 2007 at 2:00 pm
dosen kok bahasanya ndeso… katro… ini mah dosen go*l*k dan dang*al dari sisi aqikdah…,,, ga bisa nulis yg bener ya nda usah nulis… gitu aja kok repot…
Juli 1, 2007 at 2:09 pm
Dosen? dosen yang anda maksud itu siapa? saya bukan dosen lhooo, saya cuma manusia biasa. kekekekek
Agustus 27, 2007 at 4:46 pm
Nah ini! gue banket dah. pasti waktu jadi mahasiswa berpikiran kritis. Udah lulus tambah kritis. Terus terang aku seneng mahasiswa yang bisa nulis kayak gini. Bener lho. Mungkin pernah dapat ganjalan, jadi sampeyan tumplekkan di sini. Tapi gak papa koq. Kalau mau nulis terus pasti produktif. Salam n salut.
Agustus 28, 2007 at 11:11 pm
Terima kasih banyak pak…

Agustus 29, 2007 at 3:33 pm
kacian deh lu keliatan banget ngibulnya. Katanya yang eksak ada di B.baru dan yang non Eksak di Bjm. Apa betul Teknik Arsitektur ada di Banjarbaru. Nah keliatan banget cinta civitas akademiknya kurang.
Unlam ada yang bilang Universitas Lambat Maju apa betul tu . Mungkin, habis kuliahnya masih akrab dengan kapur dan blackboard, sementara kampung orang udah pakai senter. Trims
Agustus 29, 2007 at 5:28 pm
Kacian deh lu, ga ngerti pars pro toto dan totem proparte…
Bahasa Indonesianya pasti “nilai kasihan nich.. kasihan dari gurunya”
Senter itu lawannya kapur ya? bukannya Lilin?

Agustus 29, 2007 at 6:16 pm
Senter itu adalah lampu dengan daya sorot, itu zaman dulu. Kalau sekarang diartikan dengan overhead projector. masak presentasi/ kuliah masih pakai kapur, harusnya udah pakai teknologi yang lebih=..lebih gimana gitu. Uang kuliah udah mahal, dikamanain tuh ?
Agustus 29, 2007 at 6:28 pm
Senter adalah bahasa dulu, kalau sekarang mah diartikan dengan overhead projector dengan media komputer jinjing. Uang kiliah udah mahal, kog masih pakai kapur. Pada Dikemanain tuh ,, bacaannya
Nopember 8, 2007 at 1:35 pm
Adik-adik semua ( maklum saya lulusan FKIP Unlam juga yang sekarang jadi Oemar Bakri)…
Kayanya banyak adik-adik ini salah memilih fakultas..!
1. Kalo mau melihat cewe-cewe berpakaian seksi dan mengundang birahi maka kuliah aja di Amrik, atau di Fakultas Model, Fakultas Artis, Fakultas Sinetrot. di FKIP ini fakultasnya orang yang mau menjadi guru yang tugasnya mendidik anak bangsa agar pintar dan berakhlak mulia.
Kalo gurunya saja berpakaian seperti (maaf) Julia Perez, maka muridnya nanti berpakaian seperti apa?????????
2. Kalo tujuan kuliah mau mencari perempuan kayanya anda salah alamat juga. Nggak usah susah-susah kuliah, mencari jodoh cukup mendaftar di Biro Jodoh. Cukup sepuluh ribu rupiah dapat 1000 kenalan yang 100nya bisa di ajak kencan. Kalo kuliah, kasian orang tua tiap bulan membiayai tapi anaknya cuma pacaran saja kerjanya….
3. Kalo kuliah tidak ingin oleh dosennya dididik sopan santun, di atur cara berpakaian, (NB: Ingin Bebas) buat saja Universitas Sendiri, tentukan saja aturanya sendiri. Ajak para anak muda yang suka hura-hura masuk ke sana. Dijamin PUAAAAASSS.
4. Dari postingan penulis, saya menilai penulis salah memilih fakultas. Style anda bukan style seorang pendidik. Apa adik ini nggak diterima di Fakultas Lain sehingga terpaksa memilih FKIP Unlam. (Biasanya nggak lulus FT atau Fekon lalu memilih FKIP, seperti saya ini)….
Wassalam
Oemar Bakrie.
Desember 6, 2007 at 4:26 pm
[...] Memori 2005 Genera… di Things I Hate from England… Otak, Akal dan Hati … di Insya Allah Antara Unlam Dan Uni… di Dosen Memang Manusia Demi Masa Depan Anak… di Keparat Itu bernama [...]
Desember 12, 2007 at 5:11 pm
@Oemar Bakrie:
1. Perasaan anak anak FKIP sudah banyak yang pakai baju kurang kain.
2. Ngapain daftar biro jodoh? udah ga laku?
3. Oh? Mari kita join bikin kampus baru? situ dosen ya?
4. Ga lulus? ga lulus di Fakultas lain? he he…. Saya sudah selesaikan pendidikan di FKIP. dan itu dulu adalah pilihan pertama waktu UMPTN. Saya memang tidak cocok jadi pendidik konvensional. karena saya ga suka pendidikan gaya kolot macam pendidikan jaman Jepang dan pendidikan jaman Belanda
Januari 9, 2008 at 5:15 pm
adu..bener banget deh tulisannya..salute..???tapi secara aku masih ada hub ama FKIP ya tetep aja kangen masa masa dulu…(alumni nih english dept 91) salam ya untuk teman temin…
Maret 3, 2008 at 3:43 am
[...] Antara Unlam dan Unila [...]
Maret 3, 2008 at 4:40 am
anak fkip unlam dh byk yg makai pakain kekurangan kain,cth yg terbaik ad lh anak2 PGSD,mereka semua memakai pakaian yg pantas dkenakan oleh seorang calon guru,saran saya ad lh semu mahasiswa/wi fkip unlam memakai pakaian spt yg dpakai anak2 PGSD
Mei 7, 2008 at 9:45 am
jah….org pahuluan jua nang manulis niya….
Juli 10, 2008 at 7:31 pm
dfkip 1 dh byk mahasiswi yg make pakaian kekurangan kain,hrzx seluruh mahasiwa/i fkip meniru ap yg dpakai mahasiswa/i pgsd,pakaianx rapi n seragam,g saling unjuk k kayaan,trims