Filosofi Tempat Parkir

Rasanya tidak seorangpun di dunia ini yang tidak mengetahui apa itu tempat parkir. Disaat mobilitas menjadi keseharian, sepedamotor dan mobil telah bertransformasi dari kebutuhan sekunder menjadi kebutuhan primer. Meski tak jarang, kenaikan status ini juga menjadikan tuannya yaitu si manusia itu sendiri berbalik menjadi budak. Dan jika ditarik kembali ke konsep tempat parkir, maka anda bisa menarik hal hal baik dan buruk dari sana.

Sebagai manusia yang menggeluti tempat parkir dan tukang parkirnya dalam waktu yang lumayan lama, berikut ini adalah beberapa manfaat dan mudharat yang dapat dipetik dari keseharian di tempat parkir, semuanya memang hanya hasil pengamatan dan pengalaman pribadi.

Pertama. Memberikan rasa aman buat pengendara, meski harus seharian putar putar di mall, atau sekedar nongkrong karena kehabisan tempat buat pacaran sehingga berangkat menghabiskan waktu ditempat tempat umum yang ada lorong sepi nya. Berterima kasihlah kepada tempat parkir dan juru parkir. Mereka memberikan rasa tenang pada anda semua saat meninggalkan alat pengangkut anda.

Kedua. Membuat barisan dan kerumunan kendaraan menjadi lebih tertib, nyaman dilihat dan mudah saat dikeluarkan. Memang khusus sepeda motor, dimana juru parkir setiap saat bisa mengatur dan memutar mutar atau menggeser sepeda motor yang sebelumnya berserakan menjadi lebih rapi, meski untuk ini diperlukan tenaga dan keahlian ekstra, apalagi saat mengakali sepedamotor yang dikunci bahu.

Ketiga. Biasanya di pasat pasar tradisional, bahkan dikampus saya dulu pada saat jam sibuk dan hari kerja, tempat parkir sudah bejibun dengan kendaraan. Bagi anda yang terlalu malas, tidak sanggup atau sok ga mau repot untuk mengambil kendaraan anda. Serahkan saja kepada juru parkir yang akan dengan setia mengeluarkan dan menuntunkan kendaraan anda hingga anda tinggal menyalakan mesinnya untuk dijalankan.

Keempat. Banyak duit, bisa makan, minum dan beli rokok dan ngeblog dari hasil duit parkir. Parkir motor punya sendiri secara sembrono dan ga perlu takut karena udah dikenali dan dijagakan oleh teman teman. Pos jaga yang disinggahi banyak bapak dosen/ibu dosen dan staff staff ahli birokrasi komplex lainnya termasuk mahasiswa dan mahasiswi. Ya, paling tidak lumayan buat nambah kenalan. Termasuk kenal satpam dan keamanan sehingga memudahkan berbagai urursan yang bakalan menyangkut keamanan seperti acara peminjaman aula kampus untuk kegiatan mesum positif di kampus. (Yang ini khusus buat saya dulu waktu masih disiksa dalam neraka dunia bernama kampus FKIP UNLAM Banjarmasin).

Kelima. Menyusahkan, karena harus membayar dengan uang receh semasa bayar parkir motor masih 500 rupiah. Ngasih uang 1000 rupiah di kasih kembalian uang receh ratusan semua. Kalau ngasih uang 5000’an jadi nunggu tukang parkir merogoh kocek atau menorek ngorek tempat uangnya dulu, lambat dan menyusahkan. Ditambah lagi misalanya anda sedang buru buru atau cuaca sedang panas.

Keenam. Yang kehilangan kartu parkir, bakalan membayar denda. Belum lagi didukung dengan STNK yang ketinggalan, bakalan benar benar membuat anda kerepotan dan mencak mencak dengan kebijakan kebijakan yang akan diterapkan pengelola parkir.

Ketujuh. Motor atau mobil lecet, karena berdesakan. Saat penuh penuhnya memang diperlukan skill ekstra buat driver untuk menjaga kemulusan body mobil, perlu kesabaran buat pengendara motor saat macet. Plus lagi perlakuan tidak senonoh tukang parkir saat melaksanakan point ke 2 dan 3.

Kedelapan. Masih rentan dicuri orang. Seperti apa yang dialami oleh si Joe saat dia menyaksikan sendiri maling motor beraksi. Memang, secanggih canggihnya pengamanan, maling pasti bakalan lebih canggih lagi. Kerena itulah profesinya, kalau ga bisa mengakali dan membongkar sistem pengamanan, bukan maling namanya.

Kesembilan. Tukang parkir jahat. Biasanya disekolahan, saat siswa siswa yang membandel menaruh motornya tidak pada tempatnya atau ketauan bolos, maka motor dan mobil siswa tidak jarang menjadi korban pembocoran ban. (*Tapi yang ini biasanya satpam dan guru kejam yang melakukan. Yang paling sering dan berwenang sich katanya Wakasek Kesiswaan*).

Kesepuluh. Bikin darah tinggi. Saat tempatnya semrawut, ga ada tukang parkirnya yang mengatur, atau yang tiba tiba datang menagih uang parkir sedangkan waktu ditinggalkan tidak keliatan batang hidungnya untuk menjaga. Belum lagi manusia manusia yang ngakunya buru buru yang keluar masuk dan naruh tuan budak mereka sembarangan, tidak tertutup kemungkinan juga hal hal seperti ini akan membuat point ke 7 terulang.

Jadi. Tempat parkir memang bisa menyenangkan dan bisa menyakitkan. Karena itulah saya memilihnya untuk menjadi judul blog. Sekalian konfirmasi buat tulisan saya di sini, saya ga berhenti menulis secara total, hanya saja saya memang bakalan mengurangi aktifitas di dunia maya, termasuk juga bakalan lebih banyak konsentrasi ke blog ini dulu, sekalian memikirkan jurus jurus baru untuk diterbitkan di omaigat, tapi untuk omaigat saya ga janji bisa produktif. Semoga saja semuanya lancar Amiin.

About these ads

10 Responses to “Filosofi Tempat Parkir”


  1. 1 cK 6 June 2007 at 23:14

    walah…ini mah produktif sekali nulisnya…kirain mo pamit kemanaa gitu…tau2nya pindah rumah hehehe :P
    ah farid, nambah2 blogroll gue aja :evil: hehehe…

  2. 2 Neo Forty-Nine 7 June 2007 at 13:43

    @Chika: Udah dimasukin belum Neng?

  3. 3 cK 7 June 2007 at 21:24

    udah

  4. 4 Neo Forty-Nine 8 June 2007 at 17:20

    @Chika: Makasih banyak

  5. 5 kurtubi 8 August 2007 at 00:42

    penulis berbakat memang tidak mungkin berhenti nulis… bukanlah itu adalah langkah2nya… btw, tentang parkir seakar kali dengan pikir.. maksudnya orang bikin tempat parkir mesti mikir2 begitu pula orang yang mau parkir pun banyak yang berpikir2 kira2 ilang gak yaa, aman ga ya, mahal gak ya.. heheh jadi ketularan filosofinya nih bang… :)

    salam kenal maaf baru sesekali kunjung..

  6. 6 agorsiloku 8 August 2007 at 14:59

    Baru paham… apa itu mantanjuruparkir@yahoo.com
    tahunya betul-betul pengalaman memarkirkan motor….

    Tapi apakah sama ya filosofinya dengan juru parkir pesawat… :D

    Bagaimanapun, pengalaman ini menjadi indah ketika kita melewatinya. Ingat waktu dulu jualan es keliling… :D

  7. 7 Neo Forty-Nine 8 August 2007 at 17:13

    @Kurtubi: Kita udah saling mengunjungi waktu dulu saya masih fourtynine Pak :D
    Makasih udah jalan jalan ya…..
    Markir memang harus mikir dan yang menjaga parkir memikirkan keamanan jagaannya :lol:

    @Agorsiloku: Saya ga ngerti pesawat Mas…. he he he
    Memang pengalaman yang menarik Mas…. :D


  1. 1 Sesuatu yang Tertunda « Generasi Biru Trackback on 6 August 2007 at 22:22
  2. 2 Dosen dan Status Sosial « Fortynine’s Notes Trackback on 26 November 2007 at 18:07
  3. 3 Dosen dan Status Sosial « Generasi Biru Trackback on 10 December 2007 at 19:50
Comments are currently closed.



Monthly Archives

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 170 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 170 other followers

Twitter

  • I Know no-one read this tweet, cause they got too much update in their timeline.... hihihihi 16 hours ago

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 170 other followers

%d bloggers like this: