Menggugat Pancasila
Juli 9, 2007
“Menggugat Pancasila”. Pertamax kali dengar 2 kata ini dari Emond. Mantan Ketum Mapala Justitia Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Katanya itu judul skripsi seniornya di Justitia yang nilainya dapat “A”. Selamat buat seniornya Emond, setidaknya dia tidak di cap komunis atau makar. *Sok nulis intelek, padahal otak isinya cuma bokep*
Kemudian membaca dari Greatnews postingan berjudul Panca Asusila di blog ini. Lantas saya akan menggugat Pancasila menurut bahasa saya sendiri. Sayang semilyar sayang, saya ga pernah baca itu skripsi berjudul “Menggugat Pancasila” sehingga referensi saya buat menulis sangat sangat kurang. Ya sudahlah, saya akan Menggugat Pancasila dengan kemampuan otak saya yang ga seberapa ini.
Sila sila dalam Pancasila ada Lima. Saya rasa tidak perlu saya sebutkan satu persatu karena saya percaya semuanya sudah di hafal dengan baik oleh semua manusia Indonesia. Lagian seiring berjalannya postingan ini semua sila kayanya bakalan tersebut. Saya mulai dari Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Rasanya Sila ini tidak lagi layak dipertahankan. Kenafa? Karena tuhan di Indonesia ini tidaklah satu, ada daftar tuhan versi Wadehel. Lantas ada tuhan yang bernama uang, harta, jabatan, dan lain lain. Sementara sila pertama itu isinya “Tuhan yang Maha Esa”. Artinya benar benar satu, atau amatlah satu atau udinlah satu, atau acenglah satu. Alias tunggal alias tidak ada duanya.
Mana? Mana buktinya kalau tuhan di Indonesia itu hanya satu alias maha esa? Jelas jelas tuhan di Indonesia itu tidak esa, kenapa masih harus memakai kata Ketuhanan Yang Maha Esa? Gimana kalau diganti saja “Ketuhanan yang Beragam”? kemudian bagaimana dengan yang engga percaya dengan tuhan alias manusia manusia yang dicap atheis? Kalau begitu saya usulkan agar sila pertama diganti dengan kata “Ketuhanan yang Beragam Sesuai Keinginan Masing Masing”. Jadi yang mau bertuhan silakan, ya ga mau percaya tuhan silakan. Tuhannya yang mana juga silakan pilih sendiri. Atau sila satu ini sebaiknya dihapus saja?
Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Bohong besar! Kalau memang kemanusiaan masih ada. Ga akan ada si jawa, ga akan ada social disobedience, ga akan ada rampok dan maling yang terpaksa melakukan perbuatan kriminal karena lapar. Lalu adil dan beradab? Apa sih adil dan beradab itu? Apakah adil itu sama rata sama rasa? Apakah beradab itu masih ada ketika manusia manusia Indonesia saling menghancurkan atas nama agama masing masing?
Apakah masih adil dan beradab saat orang miskin ga bisa berobat karena ga punya kartu miskin? Apakah masih manusiawi dan adil beradab saat PKL digusur paksa dengan kekerasan oleh petugas Pol PP (polisi poco poco pamong praja)? Baiknya sila kedua disesuaikan menjadi “Kemanusiaan yang Tidak Adil Dan Biadab”. Masalah manusianya mau melindungi diri dengan cara apa dan bagaimana terserah masing masing individu kelompok dan golongan. Bagaimana cara bertahan hidup adalah dengan hukum rimba, siapa kuat dia yang menang.
Takut? Merasa resah? Merasa perlu pelarian? Balik lagi ke sila satu, maka karena ada banyak tuhan silakan minta bantuan dan perlindungan dengan tuhan masing masing buat yang masih percaya tuhan. Legalkan pula perdagangan senjata baik senjata api, senjata tajam maupun senjata tumpul. Gunanya untuk yang mau melindingi diri dari penjahat dan menjaga diri dari godaan poligami sehingga lebih memilih seks bebas tanpa ikatan, jagan lupa melegalkan ganja dan semua jenis Narkoba buat manusia manusia yang frustasi atas ketidakadilan dan kebiadaban, lalu pengen cari pelarian ke narkoba. Supaya ga perlu main petak umpet lagi waktu mau beli barang dan makai narkoba buat fly dan melupakan semua masalah hidup.
Sila Ketiga: Persatuan Indonesia. Masa sich? Apa kabarnya GAM? Sudah damai atau hanya pura pura damai sehingga kesannya NKRI masih utuh? Lantas bagaimana pula dengan pengibaran bendera kemerdekaan di Papua dan Pengibaran Bendera RMS di Maluku? Kalau masih harus bersatu kayanya sila ketiga harus ditambah kata katanya menjadi “Persatuan Indonesia yang Dipaksakan”.
Toh kenyataannya selama ini persatuan itu hanya dilakukan dengan paksaan. Banyak pergolakan dan keinginan memerdekakan daerah yang ditutup tutupi dan disembunyikan, sementara kaum separatis dihajar dengan senjata. Lagian dengan lepasnya Timor Timur sila ini sudah tidak relevan. Jadi bagaimana bagusnya sila ini diganti kata katanya ya? Kalau “Perpecahan Indonesia” saya rasa tidak tepat juga, karena kalau Indonesia pecah Pancasila juga sudah ga ada lagi. Mungkin yang ini bagusnya diganti menjadi “Persatuan Sisa Sisa Indonesia Secara Paksa”.
Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Bah! Panjang amir ni sila. Sampai lupa pula saya bunyi lengkapnya (buat yang bantuin saya mengingatnya saya ucapkan terima kasih banyak). Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Emangnya wakil rakyat sekarang pada bijak? Itu tukang korupsi dan tukang kibuli rakyat miskin itu apa bukan para wakil rakyat? Harusnya memang diganti menjadi “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Kebijaksanaan Para Koruptor”.
Permusyawaratan Perwakilan? Semuanya itu sudah mati! Dimanipulasi oleh para mafia pemilu. Ga usah lagi dipertahankan menjadi bagian dari sila.
Sila Kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Seharusnya kalau sila ke lima adalah ini, negara Indonesia harusnya bukan negara demokrasi melainkan negara sosialis. Kan katanya adil secara sosial, serta merata kepada seluruh rakyat Indonesia. Buktinya ga ada. Orang Kalimantan saja ga bisa menikmati perjalanan darat dalam pulaunya sendiri. Dari Kalimantan Selatan ke Kalimantan Barat harus terbang ke Jakarta dulu. Dari Kalsel ke Kalteng aja jalannya kadang kadang ga bisa dilalui karena jalannya rusak berat.
Adil macam mana itu? Apa kami orang Kalimantan bukan rakyat Indonesia sehingga kami harus terisolir seperti ini? Atau korban Lumpur Lapindo di pulau Jawa. Apakah mereka juga bukan rakyat Indonesia sehingga ga berhak dapat keadilan? Sila ini nampaknya lebih cocok diganti menjadi seperti yang tertulis dalam Panca Asusila: Ketidakadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.
Penutup: Pancasila memang sudah tidak relevan lagi sebagai dasar negara, bagusnya memang diganti saja. minimal dirubah setiap sila nya seperti yang saya tuliskan diatas. Atau mungkin pemirsa punya pemikiran dan ide lain untuk “Menggugat Pancasila”?



Juli 9, 2007 at 11:49 pm
NO PERTAMAX ALLOWED!
Juli 10, 2007 at 3:31 am
gile…malem2 posting. edyan!
Juli 10, 2007 at 10:51 am
sip setuju!
Juli 10, 2007 at 1:24 pm
Hmm…benar. Sila ini hanya mendukung umat Islam, sedangkan Indonesia sendiri dibagi kedalam 5 agama besar dan 1 agama ‘minoritas’.
, Apalagi mereka - mereka itu mempunyai Tuhan yang berbeda, contohnya Kristen saja punya 3, Buddha dan Tiongkok punya ‘banyak’.
Juli 10, 2007 at 2:18 pm
@Chika : Kalau posting sian mah duitku ga cukup buat bayar warnet tarif siang. Maklum lagi bokek.
@Anang : Makasih atas persetujuan anda.
@Debe : Lagipula agama itu adalah candu. Kenafa harus kebanyakan diurusi? bagusnya dibiarkan sesuai keinginan individu dan kelompok masing masing, asal jangan menggangu ketenangan dan kenyamanan orang lain.
Juli 10, 2007 at 3:50 pm
Save dulu, habis di Jogja warnetan sih///
Nanggapin komen aja ya~
Jadi ingat… saat-saat zaman awal kemerdekaan… tentang syariat Islam gitu, dalam UU…
Hmnnnn… Belajar Teologi lagi, nak.
Ya, Siddhartha Gautama bukanlah satu-satunya Buddha.
Ga jelas…


Tiongkok yang mana? Rakyat Tiongkok yang memeluk Islam?
Kepercayaan di Tiongkok?
Konfusianime?
Taoisme?
Kepercayaan tentang dewa-dewi punya pandangan yang berbeda antar rakyat Tongkok, lho.
Juli 10, 2007 at 4:10 pm
Dua Jempol buat Neo-Forty Nine
cuma pingin komen dikit:
Bukannya kata demokrasi and sosialis itu gak bertentangan ya? Jadi sebuah negara bisa menjalankan dua-duanya sekaligus, misalnya Perancis, cmiiw (sambil coba mengingat jaman kuliahan di FISIP dulu). Kalo gak salah inget, Sosialisme itu lawannya Kapitalisme? Demokrasi sparringnya Otoritarianisme? cmiiw, maklum dah lama ninggalin yang begitu-begitu.
Ah, sebodo amat, yang penting artikel ini bagus banget, two thumbs up, Bro!
Juli 11, 2007 at 8:26 am
Namanya juga ideologi… an idea is a dream of nation euy….
Namun bener lho… kita menempatkan ideologi sebagai emas di puncak monas… boleh dilihat jauh dari amalan…
Soal sila ke satu dulu ya… sebenarnya pingin angguk-angguk, tapi demi perpecahan… ya biarlah begitu dulu
Yang lain… itulah ideologi… bukan implementasi…..
Juli 11, 2007 at 9:10 am
*setelah baca postingan*
bisa juga lo nulis beginian rid?? salut deh

kalo saya mah malesJuli 11, 2007 at 10:17 am
Pancasila kan berarti lima dasar….sudah cukup, yang penting kembangannya Mas…
Silahkan membuatnya sendiri-sendiri 
Juli 11, 2007 at 10:58 am
ah sayang sekali …
Juli 11, 2007 at 11:01 am
“Saya mulai dari Sila Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa.”
yg ini maksudnya kita-nya yg harus berketuhanan bro…bukan Tuhan-nya…..kl gw tanya..siapa sich yg bisa melaksanakan Pancasila itu scr penuh???para pejabat aja masih korupsi….presiden aja masih berusaha keras untuk bersikap adil kpd seluruh rakyat……Pancasila artinya sangat luas bro….kl dari sudut pandang sempit ga bakalan bisa merubah Pancasila itu….soalnya merupakan ideologi/pedoman bgs kita ini.tp knp kok masih banyak masyarakat kita yg belum mengerti dan melaksanakan secara taat dan patuh…..merdeka….piss
Juli 11, 2007 at 11:37 am
besok tinggal mengugat UNDaANG-UNDANG DASAR….jajall,mumet ra…he he he he
nich, blogku pindah disini:
http://akhmadmurtajib.com
Juli 11, 2007 at 1:24 pm
@Shan In : Kamu nanggapin komennya DEB kan?
@Novri: Jadi sosialis ama demokratis itu ga bertentangan ya? Makasih Makasih………..
@Mas Agor : Berarti melaksanakan ideologi itu sulit ya Mas….
@Chika : Makasih makasih. bagus kan tulisannya???
*di timpuk massaa pake kue*
@Thamrin : Iya ituh tuh sudah saya kembangkan. he he he he
@Jurig : Sayang kenafa Teh??
@Kum45 : Ya mungkin dengan gugatan ini Pancasila bisa disesuaikan sehingga menjadi lebih mudah dijalankan? Peace!!!!
@Mrtajib: Mumet Kang, ane kaga ngerti UUD secara penuh. Siap kang, saya usahakan segera menuju ke sana
Juli 12, 2007 at 1:12 am
Coba comment, sila pertama. Ketuahanan Yang Maha Esa?? mangnya semua orang dah punya tuhan?? ngga ngerti ah’ negara berketuhanan?? terlalu dipaksakan. mana demokrasinya??
Juli 12, 2007 at 12:31 pm
Makanya Sila satu ku gugat. Coba liat lagi, bagusnya kan di ganti jadi
Gimana?
Juli 12, 2007 at 12:33 pm
Maksdunya……………
Juli 12, 2007 at 1:52 pm
cK…cK…cK!
keras amat bos?!
Juli 12, 2007 at 2:22 pm
Apanya yang keras??? kekekekekeke
Maaf, komenmu sempat dicurigai aksimet
Juli 12, 2007 at 2:35 pm
oo jd anda masih belum mengerti dg benar ya??dg bhs baku yg ada di Pancasila….udahlah meskipun dibuat lebih mudah masih saja masyarakat Indonesia masih sulit untuk bisa melaksanakan….hehe…piss
Juli 12, 2007 at 2:43 pm
kekekekek. saya memang ga ngerti kenapa pancasila harus begitu isi silanya, saya hanya berusaha menyesuaikannnya dengan kemampuan berbahasa saya. berarti anda mempunyai kemampuan pemahaman bahasa yang jauh leih tinggi dari pada saya. boleh saya belajar dari anda???? Peace! he he he
Juli 12, 2007 at 5:47 pm
Mas, keknya yang kek gini blom bisa diterima oleh sebagian besar orang indonesia…(padahal kondisi udah cocok banget, biasalah…negara kita ini negara filsafat,halaaaah..)
so, daripada sia - sia bikin posting panjang ini, gimana kalo kita terapkan di indinesia baru kita?

alias bikkiin negara ndiri gitu?
Juli 12, 2007 at 5:52 pm
Komen kamu mengandung unsur separatis! kulaporkan SBY Kau.
Juli 12, 2007 at 6:28 pm
mana?mana?mana yang mengandung unsur separatis?
mendirikan negara baru emangnya harus keluar dari indonesia yah?
*mikir*
Juli 13, 2007 at 12:52 pm
Ga jadi dilaporin deh………..
Juli 16, 2007 at 6:34 pm
Ikam tahulah kenapa Bung karnoe menciptakan asas pancasila ini? dan berapa juta nyawa gugur untuk mempertahankanya walau kadang pancasila disalahgunakan oleh anjing2 kapitalis tapi tolong hanya pancasila saja yang kita punya sekarang di balik semua kebobrokan dan kesalah bangsa ini, kalau pancasila itu hilang kamu, aku dan 200 juta rakyat indonesia ini tak punya apa2 lagi selain sisa upil di hidungnya tolong jangan dihina!
Juli 17, 2007 at 11:08 am
Siapa yang menhina Pancasila? orang ngasih kebaikan dan revisi kok
Juli 17, 2007 at 11:10 pm
pancasila itu keren abis!
Juli 18, 2007 at 12:33 pm
Iya iya. kita punya pandangan berbeda soal Pancasila kayaknya ya Nto?
Juli 19, 2007 at 6:50 pm
Jangan ngomong begito to…!!
Justru ini semua tantangan bagi kita semua untuk membuktikan bahwa kita adalah bangsa yang kuat dan memiliki ideologi yang kuat…
Pancasila adalah dasar negara, bila dasarnya dirubah jadi ‘jelek’ kaya di atas, mau jadi apa negara kita ini??
Kalau bukan kita yang mencintai Pancasila, Siapa lagi??
Juli 19, 2007 at 10:23 pm
Persesuaian Pancasila justru menunjukkan kecintaan saya pada Pancasila. masa yang tidak sesuai lagi masih kita biarkan?
Juli 20, 2007 at 11:44 pm
Gila…
Benar-benar gamblang. Tapi memang secara kasar dan radikal perlu diapdet.
Juli 21, 2007 at 10:54 pm
Makasih atas pengertian dan pemahaman anda….
Juli 23, 2007 at 12:29 pm
A I R B E R I A K T A N D A T A K
D A L A M
anakku, kalian masih perlu belajar dalam dr pengalaman, jangan hanya menggunakan logika saja. bapakmu yg bodoh dulu berjuang mati matian, sifat penjajah dari dulu hingga sekarang sama saja. alam pikiran kita yg diserang, dicuci otak kita oleh mereka, kemudian diisi dengan hal hal yg logis, semua yg ada dibadan kita ini serba terbatas, penglihatan kita, pikiran kita, pendengaran kita dll. aku sudah lalui itu semua , mulailah dr yg ibumu capai sekarng, jangan molai nol lagi, sekedar introspeksi tidak apa2 kalian lanjutkan saja kalian teriak reformasi, korupsi dll, tak mengapa jangan kalian terpengaruh oleh jalan pikiran orang yg sudah tak terbukti kebenarannya. rumah ibumu ini diperjuangkan dengan darah keringat dan air mata, penjajah selalu ingin menguras kekayaan kita, tidak lewat fisik didunia nyata, masuk lewat dunia maya yg sekarang kalian geluti, kalian kagumi, aku semalin tua, mestinya kalian belajar dr pengalaman ibumu, bapakmu, kalian belum apa apa nak. kalau ibumu bilang air beriak tanda tak dalam, maafkan, jalan pikiranmu jangan sesat terlalu lama, aku sedih, namun aku bangga punya kamu, otakmu adalah ladangmu, jangan kalian menanam salak disawah, tanamlah salak dikebunnya, penjajah masih terus mengincar kita, pikiran kita diracuni agar kita saling bermusuhan,setelah itu mereka akan jual jasa untuk mendamaikan, nanti juga kalian akan diinjak kembali, disedot harta kekayaan milik kita semua.kalian boleh berbeda pendapat, namun tetaplah kalian sebagai anakku. jangan kalian bermusuhan, walaupun rumahmu didesa ini masih kalian anggap jelek, nanti kalau kalian sdh dewasa, kalian perbaiki, jangan kalian jual rumah ibu, aku sedih nak .berjuanglah sana , kalau kalian tidak suka dengan cara berfikir ibumu, ya artinya itu maumu , sadar nak, aku masih yakin kamu adalah anakku, bukan anak orang lain.ikat kepalamu dengan kain merah putih ini nak, seperti bapakmu yg kucintai, memang aku kuno, jangan ada palu arit dikepalamu, kalau jenazah almarhum bapakmu diperiksa kembali, penuh dengan luka, akibat itu, mereka bikin gitu karena otaknya, sakunya diberi penjajah, sekarang masih spt itu, lingkungan sdh berubah, cara mereka menjajah santun sekali, coba rayuannya, ibu masih mudaaaaaa. kaya lagi……ini ibu kalung bagus buat ibu……rayuan gombal.
Juli 23, 2007 at 12:33 pm
A I R B E R I A K T A N D A T A K
D A L A M
anakku, kalian masih perlu belajar dalam dr pengalaman, jangan hanya menggunakan logika saja. bapakmu yg bodoh dulu berjuang mati matian, sifat penjajah dari dulu hingga sekarang sama saja. alam pikiran kita yg diserang, dicuci otak kita oleh mereka, kemudian diisi dengan hal hal yg logis, semua yg ada dibadan kita ini serba terbatas, penglihatan kita, pikiran kita, pendengaran kita dll. aku sudah lalui itu semua , mulailah dr yg ibumu capai sekarng, jangan molai nol lagi, sekedar introspeksi tidak apa2 kalian lanjutkan saja kalian teriak reformasi, korupsi dll, tak mengapa jangan kalian terpengaruh oleh jalan pikiran orang yg sudah tak terbukti kebenarannya. rumah ibumu ini diperjuangkan dengan darah keringat dan air mata, penjajah selalu ingin menguras kekayaan kita, tidak lewat fisik didunia nyata, masuk lewat dunia maya yg sekarang kalian geluti, kalian kagumi, aku semalin tua, mestinya kalian belajar dr pengalaman ibumu, bapakmu, kalian belum apa apa nak. kalau ibumu bilang air beriak tanda tak dalam, maafkan, jalan pikiranmu jangan sesat terlalu lama, aku sedih, namun aku bangga punya kamu, otakmu adalah ladangmu, jangan kalian menanam salak disawah, tanamlah salak dikebunnya, penjajah masih terus mengincar kita, pikiran kita diracuni agar kita saling bermusuhan,setelah itu mereka akan jual jasa untuk mendamaikan, nanti juga kalian akan diinjak kembali, disedot harta kekayaan milik kita semua.kalian boleh berbeda pendapat, namun tetaplah kalian sebagai anakku. jangan kalian bermusuhan, walaupun rumahmu didesa ini masih kalian anggap jelek, nanti kalau kalian sdh dewasa, kalian perbaiki, jangan kalian jual rumah ibu, aku sedih nak .berjuanglah sana , kalau kalian tidak suka dengan cara berfikir ibumu, ya artinya itu maumu , sadar nak, aku masih yakin kamu adalah anakku, bukan anak orang lain.ikat kepalamu dengan kain merah putih ini nak, seperti bapakmu yg kucintai, memang aku kuno, jangan ada palu arit dikepalamu, kalau jenazah almarhum bapakmu diperiksa kembali, penuh dengan luka, akibat itu, mereka bikin gitu karena otaknya, sakunya diberi penjajah, sekarang masih spt itu, lingkungan sdh berubah, cara mereka menjajah santun sekali, coba rayuannya, ibu masih mudaaaaaa. kaya lagi……ini ibu kalung bagus buat ibu……rayuan gombal.
Juli 23, 2007 at 10:40 pm
Indonesia ga merdeka sendiri kok Pak/Bu. Indonesia ini aslinya dimerdekakan oleh hasil konspirasi Amerika. ngapain saya cape cape mikirin yang beginian kalau saya ga cinta Indonesia? Kalau saya ga cinta Indonesia, maka yang saya teriakkkan adalah KALIMANTAN MERDEKA! Bukan menggugat Pancasila.
Kenapa KALIMANTAN MERDEKA? karena Kalimantan sudah lelah dianaktirikan! Mungkin ini juga terasa di Papua, Atjeh dan Sulawesi, makanya mereka ngebet pengen merdeka.
Agustus 29, 2007 at 3:13 am
gombal mukiyo alias katrok piliran apa tu yg mau merubah pancasila mang kamu lebih pinter ma perjuang dulu?
Agustus 29, 2007 at 3:14 am
beraninya kamu mau merubah panca sila gila lho MIKIR
Agustus 29, 2007 at 3:16 am
MANG GAMPANG BUAT NEGARA BRO
Agustus 29, 2007 at 4:24 pm
Yang namanya baru bebas dari belenggu, wajarlah. Dia masih muda dan perlu beradabtasi.Pilosopinya sich udah benar dan harusnya kita berterima kasih untuk itu bukan sebaliknya, mengungat ! Panca Sila adalah suatu falsafah yang sangat luhur. Sayangnya yang empunya kuasa itu tidak dapat mengimplementasikannya dengan baik dan benar. Lihat setelah kejatuhan Soekarno setelah di Cup de tat, Panca Sila adalah satu-satunya falsafah yang tidak bisa diganggu gugat, katanya. Nyatanya yang Panca Silais itu bukan peminpin bangsa ini, tapi peminpin bangsa lain. Bukan Panca Silanya yang harus digugat tapi penyelenggaranya. Kenapa bisa beitu ?
1. Yang namanya presiden di Indonesia, secara de jure memang presiden, tapi secara de fakto, ia peminpin kelompok (partai)
2. Presiden di Indonesia lebih banyak terima laporan asbun. Contohnya opsi TIMTIM> Timor ingin mardeka tapi Indonesia Marah. Akronim ini sudah jelas banyak diketahui oleh PNS yang bekerja di timtim, sejak terintergrasinya timtim ke pelukan ibu pertiwi.
3. Lihat Tatib di DPR.; yang dikembangkan adalah lembaga loby antar fraksi, bukannya pengembangan komisi untuk kepentingan rakyat., akhirnya banyak terjadi toleransi semu dan konspirasi.
4. Para politikus kebanyakan bekerja bukan dengan hati, tapi lebih kepada kepentingan pribadi dan golongan
Indonesia diekspoilati orang sampai 3,5 abad, bayangin kenapa. yaitu antara karena vested interes tadim, dengan melakukan penghiatan terhadap sesama. Indonesia masih muda kok, baru 62 tahun umurnya. Masih gadis remaja. Jadi wajar kalau dia masih perlu sekolah (studi banding), dan beradabtasi dengan jiran. Kaihan Panca Sila, jangat digugat ya !
Agustus 29, 2007 at 5:20 pm
@agung

Sayang komentar anda tidak se”agung” namanya yach…
Yang bikin Pancasila Pejuang ya? baru tau saya… makasih atas infonya…
Lebih pinter dari pejuang dulu? Jelas, saya kan berpendidikan, pejaung dulu paling paling sekolahnya SD…
@rahmat
Oke… kita punya penafsiran masing masing….yang jelas bagi saya memang sudah tidak sesuai kok. ngapain dipertahankan?
Agustus 29, 2007 at 8:52 pm
Lebih pinter dari pejuang dulu ? Jelas, saya kan berpendidikan, pejuang dulu paling-paling sekolahnya SD… Hebat dan salut saya atas pendidikan yang anda tempuh. Ada pepatah mengatakan “Tong kosong nyaring bunyinya” atau … Sudahlah. Pepatah lain mengatakan ” Padi semakin tertunduk semakin berisi” Mudah-mudahan pepatah ini dapat dimengerti kita semua.. Kasihan Moc,. Yamin, Kasihan Soekarno. Kasihan Hatta, Kasihan….. rupanya mereka cuman tamat SD. Katanya, Semoga kita dapat ampunan dariNya
September 1, 2007 at 7:12 am
Setuju dengan mas Farid Pancasila seharusnya tetap terbuka unutk diperbincangkan, dikritik, didekonstruksi, secara terus menerus.
Lagian karena memang ciptaan manusia, mengkritisi Pancasila setidaknya tidak perlu takut dicap kafir
Sedikit ttg Sila ketiga, proses yang disebutkan mas Farid itu (Timtim lepas, masih ada gejolak di berbagai daerah) tampaknya sudah disadari oleh para perumus Pancasila. Sehingga dirumuskan sebagai Persatuan Indonesia yang bisa diartikan sebagai “proses untuk bersatu”. Sialnya seperti kata mas Farid kadang terjadi juga pemaksaan untuk mencapainya.
September 1, 2007 at 10:12 am
Boleh-boleh aja anda setuju dengan pndapatnya Farid. Hanya saja harus kita sadari bersama bahwa proses untuk melakukan kritik atau telaahan terhadap Panca Sila itu, jangan sampai melakukan perubahan isi, bahkan mengantikann dengan panca sila-panca sila lain. Proses deduksi berarti telah mengurangi bahkan menghilangkan essensi nilai yang terkandung didalamnya. Contoh : dapat dilihat terhadap Amandemen UUD 45. Apa masih UUD 45 namanya, pasti disebut bukan UUD 45 lagi karena sudah ada embel-embelnya amendemen
Bukannya saya ingin menjadikan Panca Sila itu sebagai suatu barang yang kramat atau suci. Namun perlu diketahui bahwa Panca Sila itu bukan saja sebagai cara pandang bangsa, tapi Panca Sila itu adalah Idiologi bangsa. Sebagai Idiologi tentunya ia memiliki nilai-nilai yang kita yakini atau percayai, dapat memakmurkan bangsa dan negara ini, Apakah dulu penggali Panca Sila itu menjadikan Panca Sila itu sebagai suatu tindakan yang bersifat gagah-gagahan saja, untuk memperlihatkan kepada dunia luar, bahwa kami Indonesia pun punya Idiologi ? Atau sebagai suatu tandingan dari idiologi-idiologi dari negara lain ? Tidak dan itu bukan yang dimaksud oleh penggagas dan pengali Panca Sila itu. Penetapan Panca Sila sebagai suatu Idiologi bangsa telah melalui suatu proses yamg cukup panjang, perdebatan yang sangat alot. Dan inilah satu-satunya Idiologi yang cocok untuk suatu bangsa yang disebut Indonesia, setelah pembacaan Proklamsi Indonesia.
Panca Sila terlihat loyo bukan karena salah Panca Sila itu sendiri. Panca Sila bila benar-benar diterapkan, akan menghasilkan suatu karya bangsa ini. Hanya saja dikarenakan penerapan Panca Sila khususnya dalam implementasi praktek kenegaraan yang dilakukan oleh penguasa yang telah lalu, telah menghilangkan arti dan fungsi Pnca Sila itu sendiri.
Para penguasa (baca Pemerintah) selama ini tidak berpihak pada pembangunan rakyat, guna meningkatkan tarap hidup rakyat, melainkan hanya untuk kepentingan group, kelompok dan lain sebagainya.
Dalam praktek kenegaraan, penggunaan kekerasan, kadang diperlukan dan penting, tapi dengan cara yang manusiawi seperti misalnya melalui UU atau peraturan-peraturan yang dianggab perlu.
Kesimpulannya, bila pemerataan dan keadilan itu telah dapat dirasakan oleh segenap lapisan masyarakat, maka andapun akan mempercayai Panca Sila itu, benar-benar mempunyai nilai-nilai luhur,dapat diyakini sebagai suatu alat perjuangan untuk menuju kemakmuran dalam rangka proses bernegara. Nilai-nilai dimaksud antara lain : gotong royong, jiwa satria, tepo seliro, tahu diri ect.
September 1, 2007 at 12:51 pm
Saya juga setuju dengan pendapat anda pak Rahmat (sorry kalau tampaknya nggak konsisten). ‘Pembelaan’ bapak tentang mengapa meski kita ber-pancasila Indonesia masih terpuruk merupakan point yang juga saya yakini. Masalahnya argumen yang sama bisa dipakai oleh penganut paham lain termasuk para penganut yang bermaksud mengeliminasi Pancasila.
)
Itu sebabnya saya menyetujui tulisan mas Farid, justru karena Pancasila merupakan buatan manusia maka Pancasila relatif lebih mudah mendapat penafsiran yang bisa memuaskan banyak pihak ketimbang ajaran lain yang dogmatis. Tulisan mas Farid disini bisa dianggap sebagai semacam butir-butir P4 versi mas Farid (sorry lagi kalau asal ber label nih mas
September 8, 2007 at 12:18 pm
Apa yang selama ini menjadi ketakutan negara2 barat termasuk Amerika adalah PANCASILA. Bagaimana tidak, apa yg dicita-citakan oleh paham liberal dan sosialis, mampu diramu menjadi satu di dalam satu cara pandang dan ideologi. Jika mau terbuka, di Eropa sendiri sebenarnya kehidupan yang dilukiskan dalam Pancasila itu memang terwujud. Bukan suatu ideologi kosong. Inilah yang membuat mereka akhirnya menjadi bangsa yang kuat, dan inilah sebenarnya yang ditakutkan oleh negara-negara barat jika itu terjadi pada Indonesia. Belum lagi mereka tahu jika sumberdaya di negeri ini cukup melimpah.
Racun dari barat kemudian ditanamkan sejak PELITA I, untuk menumbuhkan tidak hanya sikap kritis, akan tetapi juga sikap bebas untuk merusak. Pancasila dikatakan ‘Utopis’, Pancasila dibilang ‘Rancu’, dan lain-lain itu akhirnya menjadi bangsa ini ragu dengan ideologinya sendiri. Apa yang terjadi? Lihatlah sekarang ini muncul cukup banyak generasi muda tanpa IDENTITAS.
JIKA MEMANG DI NEGERI BARAT, PANCASILA BISA TERWUJUD, MENGAPA DI NEGERI SENDIRI TIDAK BISA DIWUJUDKAN?
Oktober 10, 2007 at 1:28 pm
[...] seperti UUD ataupun Pancasila sendiri. Ternyata, ditilik dari pengamatan beberapa penulis macam Neo-Forty Nine, Pancasila sudah mengundang dasar - dasar Negara yang ambigu dan [...]
Nopember 12, 2007 at 11:41 am
SIang semua
Pancasila????????
menurut gua pancasila itu unik
di indonesia dikatakan Ketuhanan yang maha esa tapi kok ada yang bertuhankan tiga.
Demokrasi adalah teriakan konyol
teriakan untuk mementinkan golongan
golongan yang mempunyai masa yang menang
bisa saja mereka hanya berdasarkan materi
jadinya kekayaan milik negara yaitu milik para koruptor
Ingat bahwa Kebanyakan manusia berdasarkan prasanka
dan kita tidak boleh mengikuti kebanyakan orang
Nopember 12, 2007 at 11:53 am
oia benar juga…….
Nopember 12, 2007 at 12:39 pm
Menggugat agar pancasila dipertahankan!
Untuk jelasnya, telah terbit buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:
“BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
berikut 4 buah lampran acuan:
“SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISAS)”
hasil karya tulis otodidak penelitian terhadap kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
“SOEGANA GANDAKOESOEMA”
penerbit:
“GOD-A CENTRE”
dengan sambutan tertulis hangat oleh:
“DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.
Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
Nopember 13, 2007 at 2:24 pm
aku ga punya uang untuk beli buku. yang saya tahu bahwa itu salah
Nopember 19, 2007 at 6:16 pm
Mmmm…Q suka bang’Gedh ama bLog ini.
beneRx ciyyy…
bukaN 5sila yaNg saLahhh..
Tapi Oknum2x yaNg daH gag bisa Lage meNgimpLemeNTasikaNx…
(TambahaN aja siy… q juga gag PeRnah NeRapin Tuhhh…)hwehehe..
Dah Pokogx Wokehh dahhh BLognyahhhh…
GuTLak yahhhh…..
Nopember 24, 2007 at 8:21 am
menurut saya pancasila salah
Nopember 28, 2007 at 10:14 am
bagaimana sila hubungan sila ke lima dengan korupsi yang merajalela di indonesia?
kalau saya lihat tidak hanya pejabat saja yang korup namun, banyak dari kalangan warga masyarakat juga melakukan tindakan itu
Desember 3, 2007 at 10:46 pm
pancasila biadab
Desember 26, 2007 at 6:35 am
Panca sila itu enga ada yang salah kalo isi dan makna nya di jalan kan degan benar sama orang2 partai politik itu coba kalo di IND itu cuman ada lima partai yang menjalan kan setiap makna isi dan arti panca sila itu saya yakin indonesia tidak akan seperti ini
Maret 26, 2008 at 11:09 am
Pancasila itu tidak lain hanyalah sebuah aturan yang dibuat oleh manusia, kenapa tidak bisa dirubah ? jika memagn sudah tidak bisa menyesuaikan lagi yaa dirubah lah…
Kalo ada orang yang tidak mau merubah Pancasila, menganggap Pancasila itu sebuah aturan baku yang selamanya benar, jelas-jelas dia sudah menuhankan Pancasila.
Kalo orang itu beragama Islam, sudah bisa dibilang syirik, jika kadarnya tergantung seberapa kuat keyakinan orang tersebut mempercayai Pancasila sebagai penyelamat kehidupan bangsa ini. Dan orang Syirik, adalah orang-orang yang merugi dunia akhirat… lebih parah lagi orang syirik yang gak mau denger kebenaran. Itu udah jatuh, tertimpa tangga pula, kejebur got juga…
Mei 12, 2008 at 1:45 am
[...] Ingin menggugat pancasila dan memberikan solusi buat negara ini, namun sudah pernah menuliskannya. Jadi? Buat apa [...]
Mei 26, 2008 at 11:33 am
[...] Pancaasusila itu dasar negara atau landasan negara? Gw lupa pelajaran PKn nih. Isinya kalo gak salah lima aturan kan? Gw gak ngerti isinya, kok kayak setengah-setengah gitu sih? Ketuhanan yang Maha Esa? Di kemanakan Tuhan-Tuhan yang katanya Three-in-One itu? Uang, wanita, dan kekuasaan diapain ha? Yang atheis gimana? Trus persatuan Endonesia. Halloo? How are you Timor Leste? RMS nangapa habar? GAM opo kabare? Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Endonesia? Kami RAKYAT, diapain wahai WAKILku? Kenapa gaji kalian, yang notabene KACUNG kami malah LEBIH BESAR BERKALI LIPAT dari pendapatan kami yang kalian WAKILI?? Kalian KACUNG KURANG AJAR, masa MILIK KAMI kalian JUAL sama kami sih? Mending dimurahin kek, atau apa kek. Sudah difasilitasi dari duit kami, kaliannya malah bikin kami sengsara! [...]
Juli 7, 2008 at 2:05 pm
Buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul;
“BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
Penulis: Soegana Gandakoesoema
Tersedia ditoko buku K A L A M
Jl. Raya Utan Kayu 68-H, Jakarta 13120
Telp. 8573388