Pak Jenggot Bersorban Putih yang Mengenakan Kalung Salib Besar itu Sedang Bertapa di Klenteng
Melanjutkan tulisan kemaren tentang asal Islam. Nampaknya perlu diklarifikasi lebih lanjut soal Kenapa Islam Harus Berasal dari Arab? Dari pembahasannya Mas Guh tentang bahasa ataupun komen komen yang masuk ke artikel tersebut. Dapat saya simpulkan bahwasanya ada banyak faktor yang menyebabkan Islam turun di Arab, namun Islam tidak harus kearab araban, apalagi diarab arabkan seperti penggunaan syahwat, khamar, akhwat/ikhwat, kafir dan bid’ah secara berlebihan dan tidak pada posisinya. Sekarang yang jadi pembahasan saya sendiri adalah tentang bahasanya. Tolonglah mengerti bahwasanya saya tidak memiliki kemampuan lainnya untuk membahas seperti misalnya faktor sosial budaya, geografis/geologi, matematis, ideologis, dan lain sebagainya.
Maksud saya begini, anda sekalian bisa saja berargumen apa saja. namun buat saya bahasa yang baik jika dipelajari akan menghasilkan sesuatu yang amatlah luas. Mempelajari bahasa apapun (ga mesti harus Arab) dari segi sudut pandang Linguistics akan membuatnya melebar dan memerlukan bantuan para ahli selain ahli bahasa.
Phonology perlu biologi untuk mempelajari organ of speech manusia. Morphology membutuhkan bantuan dari sejarah, sosial, dan budaya. Syntax dan Semantics perlu sastra, dan Sains. Kenapa perlu ilmu lain itu? Silakan anda cari sendiri buku linguistics buat nemu jawabannya yang lebih detail dan ilmiah.
Jadi intinya sebenarnya apa sich? Gampang kalau menurut saya. Tak peduli bahasa apa yang anda, saya, kita, kalian, mereka dan siapapun kuasai, yang penting belajarlah, karena belajar tak ada batasannya, maka belajarlah, belajar untuk mengambil pelajaran dari apa yang setiap hari kita gunakan (bahasa). Untuk kemudian mengembangkannya dan mengeksplornya.
Kalau belajar bahasa nanti akan tau bahasa mana yang Linguistically good, better and best. Kalau sudah tau (kayanya tau saja tidak cukup, namun harus mengerti dan terus mempelajari)? Ada beberapa fungsi dari linguistics itu sendiri. Selupa saya sich, setelah belajar Linguistics kita jadi lebih mudah dalam memahami bahasa sehingga mudah mengerti makna sebenarnya lalu mudah juga menjelaskan dan mencari berbagai kemungkinan lain.
Misalnya begini.
He brought his wife who was a beautiful lady and a doctor
. What do you think? Sepembelajaran saya dulu kalimat diatas bisa diartikan sebagai
Dia membawa istrinya yang cantik beserta seorang dokter
atau
Dia membawa istrinya, wanita cantik yang juga seorang
calon insinyurdokter
Jadi? Jadi kayanya sich ya, kalau ngerti ilmu bahasa (ilmu bahasa, bukan bahasaarabnya), akan tau bahasa mana yang indah dan puitis (If I’m not mistaken they are Arabic and France), bahasa yang njelimet dan ga puitis (for example: Deustch), bahasa yang kebanyakan serapan, persesuaian dan asimilasi (apalagi kalau bukan Bahasa Indonesia!) dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Seharusnya sich setelah mengerti dan mempelajari serta terus mempelajari, maka seorang ulama Syiah ga perlu memusuhi ulama Sunni yang mengambil makna Dia membawa istri cantiknya beserta seorang dokter dari kalimat He brought his wife who was a beautiful lady and a doctor. Sementara si ulama Syiah mengambil makna Dia membawa istrinya, wanita cantik yang juga seorang dokter atau sebaliknya maupun terbaliknya.
Ga perlu musuhan atau ngotot ngototan soal tafsir hadist sunnah, riwatyat dan lain sebagainya, toh tidak ada arti yang salah dalam bahasa, yang tidak logis sekalipun. Tidak ada yang salah dengan ambiguity. Tidak perlu maksa kalau orang mau menafsirkan menurut pengamatan dan sudut pandangnya masing masing. Mending juga membandingkan untuk menemukan kelebihanya daripada meributkan perbedaannya. Toh para kafir dan jahanam musuh Islam manusia yang ga pernah belajar bahasa Arab di Amrik/Jepang atau Eropa sana bisa bikin mobil dan pesawat terbang tanpa perlu ngaji Qur’an pake bahasa Arab yang dicengkok cengkokkin atau di qol qolahin sampe mau putus urat leher dulu.
Mending juga belajar sesuai minat dan bakat masing masing, ga perlu malu belajar sama orang bule yang kafir/atheis kalau memang dia lebih pintar dan memang bisa ngajarin tentang fisika, matematika, biologi atau sejarah dan lain sebagainya. Soal bahasa dan ilmu bahasa? Serahkan pada yang tau ilmunya dan yang memang minat buat belajar bahasa. Ga usyah ngotot pula saat anda bilang “vowel” sementara saya bilang “huruf hidup”.
Maka? Maka saya hanya tau sedikit sekali tentang bahasa, kalau anda tau banyak tentang bahasa tolong koreksi saya, kalau anda tau banyak tentang ilmu bumi, ilmu laut, ilmu langit sampai ilmu dagang agama. Kayanya kita ga bakalan nyambung kalau diskusi, apalagi sampai ngotot ngototan.
Apa hubungannya dengan judul Pak Jenggot Bersorban Putih yang Mengenakan Kalung Salib Besar itu Sedang Bertapa di Klenteng. Itu adalah salah satu contoh bahwasanya tidak ada yang salah secara bahasa. Ada S P K yang lengkap dan sesuai di kalimat itu. S = Pak Jenggot Bersorban Putih Yang Mengenakan Kalung Salib Besar. P = Sedang Bertapa. K = di Klenteng.
Hmmmmmmm……. Do you get what I mean everybody?
*Diupdate atas masukan dari Chika dan vend*







sarjana bahasa
ha..ha…ha… baca postingan ini jadi : headache seven circle
apalagi saat my body is not delicious
Namun, kata orang ahli bahasa, jauh lebih mudah menerjemahkan bahasa arab ke bahasa lain dari pada sebaliknya….
entah benar atau tidak ya?
jeez…i should re-read this entry before leave a comment = =!
nice posting, dude!
*kembali ke kerjaan*
aga bingung awalnya…
tapi okelah…
bagus kok…
*aku masi kesel sama kamu lho,Say*
bought itu bukannya verb-II buat buy (beli)
klo bawa itu v-II nya itu brought (dari bring)
brarti, beli istri?
beli
siwiistri dimana mas?kalo masalah berbahasa, timbulnya multi-persepsi tu dah biasa, cuma jangan sampe mis-persepsi yang mendominasi
dari itu maka, berbahasalah dengan baik
Brought kali.
@Luna

…….
@agorsiloku
Saya juga nda ahlul bahasa Arab Mas.
Bikin pusing? ah paling gara gara Mas lagi ga enak badan aja.. kalau sehat? artikel ginian mah cetek
@ cK
Vielen Dank
@ Mrs. Neo Forty-Nine
Gimana caranya supaya ga kesel?
minta dicium lagi?????
@ vend& Mihael “D.B.” Ellinsworth
Sudah saya edit…
UNTUNG AMED BELUM LIAT>>>
hm..headernya bagus
Hhhmmm ….
Komen apa ya ?
lapar neh ……
Baca koment 5 dan 6 *NGAKAK!*
Wah hebat semantik+tata bahasanya.
Coba tebak apa artinya ini! Baca baik-baik
“Yang kencing harap disiram!”
Apa yang harus disiram?
opo maneh iki???? gak mudeng aku
@Antogirang
Kan kamu yang bikin…
@Aisalwa
Ada makanan kok di sini
@Fadil
SEPAM!
@Awan
??????
@ ndarualqaz
karena itu, matahari itu mengelilingi bumi tauk!
Hem.. ternyata dalam mengartikan kalimat yang sama persispun bisa berbeda pemaknaannya. Jadi yang benar siapa ya kira kira?
@Shelling Ford
Bailah ya akhiii….
@Danalingga
Wah, nda tau ya…..
Oooh karena ini toh kenapa saya di-summon… Ternyata lagi ngomongin bahasa…
@ Joe
Satu pertanyaan buat antum: Apa bahasa Arabnya kata “mengelilingi”? Adakah kata tersebut dalam Al-Qur’an?
nice article… saya sampai bingung mencari korelasi judul dengan isi
@ Pak Agor :
sepertinya benar pak. sepengetahuan saya, kesulitan itu bukan hanya di bahasa Arab tetapi juga dibahasa lain jika diterjemahkan bolak-balik
link-nya nggak tahan….
Amd:::
mending nanya bahasa jawanya aja. kalo arab saya bukan jagonya. paling2 cuma tau sebatas “akhwat” sahaja
bahasa jawanya mengelilingi = mubeng, ngiteri, huehehehehehe!
Baca sambil senyum – senyum.
jadi bingung saya
Apakah Islam itu Arab dan Arab itu Islam?Anyone knows?
Politik, Bisnis, Birokrasi, Mafia dan Darah.
http://phoenixblood.wordpress.com/
Mumet aku. Berantem lagi ah…
Ok Juga Bersorban Tapi Berkalung Salib
Yang nulis siapa sih? ahli agama? ahli bahasa? Ilmuwan? Penemu? Pengamat? ato critTikus?
@Amd

@Fertobhades

Makasih Bang, saya tau artikel ini memang jelek
@Majalah “Dewa Dewi”

@ julfan
Sama, saya juga bingung
dengan komen anda
@phoenixblood
Islam itu memang berasal dari Arab…
@ dewo
Waks! ngomporin?
@ Zoe
Bukan siapa siapa…
Sontoloyo !
Gue udah siap2 nggelar tiker, serius madep-manteb layar monitor, ngga taunya segitu aja.
Wis, jan.
wong uedian !
ini lagi ngebahas Pak Jenggot yang di majalah Bobo kan?
@mbelgedez
?
@ caplang™
aku ora ngerti bahasa arab makanya kl o pas sholat jum’at aku ga mudeg apa yg khotib bilang, yg aq tau agama buat manusia bukan manusia buat agama. sama halnya bahasa buat komukasi bukan komukasi buat bahasa
weleh weleh malah aku ga mudeg.
hehehe kemarin fadhil anakku marah, karena waktu aku di telpon aku jawab “ya saya sendiri” , do you think we are diseapear mom?
hii….
islam bukan arab
arab bukan islam
yg pasti Tuhan mengarti bahasa yg qt gunakan so, jgn bingung bro n’ jgn ke-arab-2an. belajar islam tidak harus bisa bahasa arab. nanti malah g paham
duh, kena migrain nih gw…
@Baliazura

Memang, di dunia ini tidak semua hal harus dimengerti kok…
@Evy

Tapi waktu itu ibu beneran sendirikan?
@Abzay
Saya ga nyuruh belajar bahasa Arab kok
@ Telmark


Minumlah obat sakit kepala yang buat migrain
@
FadliFarid :lho…lho… saya nggak bilang jelek lho
kadang judul yg bombastis bisa “menipu” saya supaya membaca, dan benar-benar akhirnya membaca (sampai tanda bacanya segala).
judulnya kan setara dgn kalimat ini :
dan kata pepatah : bahasa menunjukkan bangsa
Iya Mas…..
Kalau bahasa yang kebanyakan serapan dan persesuaian… itu menunjukkan bangsa yang bagaimana Ya?
Islam memang tidak sama dan sebangun dengan Arab. Akan tetapi untuk memahami Islam khususnya text Al Quran tidak mungkin menghindar dari konteks kearaban. Bahasa bukanlah sekedar bunyi, melainkan memilki makna yang terikat langsung dengan alam budaya yang melahirkan bahasa tsb.
N.B. : Saya koq heran mengapa wacana memutuskan relasi islam dan kearaban begitu populer dilingkungan tertentu? Lantas Islam mau dikaitkan dengan apa? Kejawaan? Atau membiarkannya terbang melayang-layang tidak menginjak bumi?
buat comment #40:
itu menunjukkan bangsa yang mudah beradaptasi dan terbuka. btw. proses serap-menyerap dalam bahasa adalah hal yang paling natural. lihat saja bahasa Inggris. berapa persen serapan dari Prancis, dari Latin?
@Ardhan
mengindar memang tidak mungkin. tapi apa ada tersirat penghindaran dri artikel diatas?
bukan cuma budaya tapi faktor alam
Saya maunya Islam dikaitkan dengan teknologi tinggi dan umat paling mu dan pandai di dunia.
Beradaptasi dan mudah terbuka atau ga punya banyak kosakata alias dungu?
Soal Inggris, Prancis dan latin, itu adalah bahasa dengan root yang sama. sementara yang saya maksud adalah bahasa yang menyerap dan menyesuaikan bahsa baru karena ga tau dan ga punya kosakata itu sebelumnya…
Saya lebih setuju dengan komentar [41] saudara Ardhan.
Agama boleh islam tapi budaya tetap Indonesia. Saya suka heran dengan orang yang mulai suka mengatur-atur kebudayaan seseorang berdasarkan agama yang dianutnya.
Saya rasa untuk menjadi muslimin yang sejati bukan dilihat dari bagaimana dia memasak, dia berbicara, bagaimana sorban /jilbab yang dikenakannya, bukan dari jenggotnya yang panjang, bukan dari berlafal & bertutur kata dengan aksen kearab-araban, juga bukan dari hiasan & ornamen rumah yang semua serba arab.
Islam adalah penyerahan diri kepada Allah (Tuhan Penguasa Langit & Bumi), ام; al-’islām. Bagaimana kita bersikap baik terhadap sesama, lingkungan, dan Sang Khalik adalah muslimin yang sejati.
Bagaimana mungkin mau menyerukan Allah Maha Besar sementara pemahamannya tentang islam sendiri salah kaprah?? الدين: اركان berhentilah menyama-nyamkan bahwa arab itu islam dan islam itu arab. Atau umat Islam diseluruh dunia tak akan pernah maju dan senantiasa berjalan ditempat. Karena agama yang hakiki ada didalam masing2 hati nurani manusia,
Bukalah matamu dan jangan tutup pikiranmu. Atau yang kau lihat hanya bentuk bukan isi.
Politik, Bisnis, Birokrasi, Mafia dan Darah.
http://phoenixblood.wordpress.com/
@phoenixblood
Buka mata, buka hati,. buka fikiran…
Pinginnya refreshing dengan mBlogwalking malah tambah pusiiiinngg
Salah masuk ruangan kali ya?
Eh, gue mau cerita ya. Tentang bahasa arab juga nih.
Ceritanya ada orang sunda dan jawa naik haji. Kebetulan nih dua-duanya cuma bisa bahasa ibu mereka, dan dikit-dikit bahasa arab (maksudnya ngerti arti surat al fatihah).
Suatu hari si orang jawa kehilangan arah pas mau pergi ke masjid. Kebetulan ketemu sama orang sunda yang keliatannya siga orang indonesia pisan. Nah orang jawa ni nanya sama orang sunda pake bahasa jawa. Tapi dua-duanya ngga nyambung komunikasi karena cuma bisa bahasa ibu. Tapi karena mereka orang Islam, maka mereka berpikir keras dan dapat cara komunikasinya.
Orang jawa tanya: “Ihdina sirotol masjid” maksudnya tunjukkan saya jalan ke masjid.
Orang sunda ngarti dong, terus jawab:” Sirotol mustaqim” ambil jalan yang lurus artinya.
Wah langsung salam lah kedua orang itu. Tapi ketika sampe di persimpangan ada jalan serong yang bikin orang jawa bingung. Dia ambil aja jalan serong itu, padahal harusnya lurus.
Untungnya si orang sunda masih lihat, dia teriak dari jauh “Wa ladh dholin, wa ladh dholin”, jangan sesat-jangan sesat. Selamatlah si orang jawa dari kesesatan.
phiuh, komentar koq ya kayak blog. Mohon dipersori.
indonesia ….
ih….
apa yg kau andalkan ???
ekonomi … !!
politik … !!
pertanian … !!
kamtibmas … !!
makin terpuruk ….
eh nggak lo….
ada yg huebat …..
show what….
malingnya nya
korupsi, korupsi, korupsi n korupsi