Hari ini 63 tahun Indonesia merdeka ya? Ah saya ga merasakan apapun tuh. Toh peringatan mewah di Jakarta sana juga takkan membuat lumpur lapindo masuk lagi ke dalam perut bumi. Apalagi membuat jalan di Kalimantan Selatan mulus tanpa ada debu batu bara yang seharusnya tidak dijual ke luar pulau melainkan untuk industri di pulau ini. Saya mau review beberapa hal tentang negara keparat ini saja. He he he.
Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Demikianlah bunyi dari salah satu pasal yang dimiliki oleh negara terkutuk bernama Indonesia. Maka dari itu pantas saja kalau sampai sekarang anak anak jalanan dan busung lapar terus bersemi. Soalnya keberadaan mereka memang dilestarikan oleh negara seperti yang sudah tercantum dalam UUD.
Tanaman bonsai saja kalau dipelihara oleh manusia bisa tetap hidup meskipun tidak mau tumbuh besar, apalagi kalau sampai negara yang memelihara fakir miskin dan anak terlantar. Tentu dapat dipastikan bahwasanya eksistensi mereka akan tetap terjaga, bahkan populasi mereka akan cenderung meningkat. Mungkin atas dasar ini kita perlu berterima kasih pada pejabat pejabat perut buncit dan para koruptor yang hobinya melestarikan fakir miskin.
Warisan Budaya Bangsa
Apa sih warisan budaya bangsa? Saya sendiri ga tau, karena saya ga merasa mewarisi apa apa dari negara ini. Tapi mungkin warisan budaya bangsa ini adalah seperti yang dikatakan oleh salah seorang teman saya: Sikap Toleransi, Ramah Tamah, Tolong Menolong, hormat menghormati dan lain sebagainya.
Contoh: toleransi. Datang terlambat harus ditoleransi, ga masuk kerja harus ditoleransi, bahkan korupsi dan kolusi pun ditoleransi. Sampai sampai diskriminasi antar pulaupun ditoleransi.
Ramah Tamah. Apalagi kalau ada pejabat perut buncit macam Si Butet Yudoyono yang mau lewat, wuaaahhhhhh, keramah tamahan harus benar benar diperlihatkan. Bahkan yang cuma pejabat kelas kampung saja mendapat keramah tamahan yang luar biasa dengan mendapat jatah jalan yang luas dan lebar karena pengguna jalan yang lain pada minggir.
Tolong menolong. Tidak kompatibelnya satu kepala dalam sebuah instansi masih bisa tertolong oleh sikap tolong menolong yang menjadi warisan budaya bangsa. Kalau misalnya ada kepala seksi yang tidak bisa mengetik, maka sudah sewajarnyalah yang lain membantu meskipun sebenarnya itu bukanlah bidangnya. Lihat saja contoh di hampir setiap instansi pemerintahan negara ini. Sikap tolong menolong apalagi yang sekelas lintas kegiatan tentunya sudah menjadi hal yang lazim.
Hormat menghormati: yang ini sudah jelas kan. Siapa yang jamin bahwasanya saya masih akan hidup kalau ketika Mas Bambang lewat saya acuh tak acuh masih memakai jalan negara? Siapa yang jamin seorang anak buah yang tidak mau menghormati pimpinannya yang pelit dan korup akan bisa tetap bertahan dalam suatu instansi? Maka dari itu budaya hormat menghormati, termasuk dengan penghormatan untuk memberikan jabatan empuk kepada yang lebih tua memang terjaga dengan lestari di negara ini.
Beberapa hari yang lalu saya juga menyaksikan debat kusir antar kader partai di salah satu stasiun televisi swasta Indoensa. Yang menarik, saya menangkap ada beberapa kalimat kalimat unik berbau bombasme yang selayaknya saya angkat:
Pak Presiden kita sekarang ini adalah Presiden yang paling banyak prestasinya.
Apa ya? Ada yang bisa bantu menghitung? Karena kalau hitungan saya prestasi SBY adalah: Korban Tol Jagorawi waktu si Komo Presiden mau lewat. Naiknya harga minyak DUA KALI DENGAN KISARAN KENAIKAN HARGA YANG MENCEKIK. Busung lapar, Tsunami, Lapindo dan pemadaman bergilir di Kalimantan Selatan 2 kali dalam setahun yang berlangsung hampir tiap tahun. Ada yang bisa bantu menambahkan??
Naiknya perekonomian bangsa.
Salah satu fakta yang dibeberkan adalah setiap sekian persen dari kenaikan inflasi, maka akan menghasilkan 400.000 tenaga kerja baru! Alamak? Kalau itu adalah fakta, tidak mungkin dua, sekali lagi DUA orang sarjana pendidikan dan satu orang Diploma pendidikan bekerja di luar jalur bukan sebagai tenaga pendidik. Dan kalau itu fakta, maka sarjana kehutanan atau pertanian ga perlu bekerja di dealer sepeda motor atau di tempat tempat penyedia kreditan.
Di hari yang katanya, bahkan dipercaya sebagai hari ulang tahun negara ini, inilah yang bisa saya berikan. Memang bukan pujian, karena saya memang ga cinta dengan NKRI dan memang masih belum banyak yang bisa dipuji dari yang namanya NKRI.
Thanks to Pakacil for UUD
whuihihihi…
sepakat kalau UUD itu harus di amandemen lagi, khusus perubahan pasal Fakir miskin dan anak-anak terlantar “dipelihara” oleh negara itu.
Biarkanlah Kebenaran di ungkapkan sampai ke ujung lorong-lorong kumuh
biarkanlah cinta kasih menjadi senjata yang paling ampuh dalam setiap peperangan di dunia yang angkuh ini
biarkanlah keberpihakan pada mereka yang lemah dan tertidas menjadi sebuah ledakan yang akan menghancurkan tembok-tembok ketidak adilan.
MERDEKA
Met HUT RI Ke 63 ya….
lha..? koq saya kebagian yang jeleknya? Tapi mungkin ada benernya kalo kenaikan inflasi menghasilkan tenaga kerja baru, secara memang negara tercinta ini rakyatnya punya hobi melahirkan *tapi apa hubungannya inflasi dan melahirkan..?*. Mungkin yang sedikit terlupakan sama presiden kita adalah lapangan pekerjaannya. Cuz tenaga kerja tanpa pekerjaan means nothing
eniwei..
ini sapa ya?
ah, ngga ada yang sempurna sayang…
kalo aku sih berharap, semoga negara kita terus ke arah yang lebih baik…
merdeka… merdeka…..
@Pakacil: He he he. Atau mungkin sekalian negaranya yang dirubah? jadi berhaluan komunis misalnya??
@abnersanga: Merkeda!?!?! Thanks buat puisinya ya..
@Teddy: Kan cuma link ga masuk kerja Ted?
Melahirkan? Mungkin karena masih terbawa semboyan banyak anak banyak rezeki
Jawaban pertanyaanmu… Apa ya? nanti kamu tau sendiri deh
@Mrs. Fortynine: Amin
@My: Merkeda!?!?!?
Indonesia tanah airku, jelas lebih baik daripada tanah air orang lain. Ngga semua orang mau dipelihara, jadi buat apa mikir susah-susah.
Kerjakan saja tugas kita sebaik-baiknya, yang kelihatan hasilnya gitu lho. Ngomong aja, ngga banyak menolong. Bukti dong bukti, emangnya politisi lagi kampanyeu?
kalau benci sama oknum, jangan benci sama agamanya. kalau ada ulama busuk, amrozi jihad, atau ustad booligami ya jangan benci islamnya… ajaran islam kan katanya ga gitu… nah, harusnya fair, kalau benci sama presiden, juga tidak perlu benci pada NKRI nya.
Kita bersatu itu untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama. Sekarang sampeyan ditindas sama penebang hutan, sama polisi busuk, sama pejabat keparat, bisa bersatu ndak? Paling tidak satu RT bisa ga bersatu untuk bersuara, untuk berpikir gimana caranya suara itu didengar jakarta dan dunia?
Seperti sekarang aja gampang dibungkam, diinjak dan diperkosa.. gimana kalau misah sendiri-sendiri? Bisa digilir dengan lebih parah lagi oleh para pemerkosa.
Sementara ini yang bersatu itu baru koruptor dan penjarah, kita korbannya belum. Sekali lagi… bisa ga? Mau ga?
Maaf kalau mengartikan sikap anda terhadap NKRI sebagai keinginan memisahkan diri. Saya penasaran bagaimana caranya setelah pisah dari NKRI bisa lebih sejahtera… terutama kalau anda cuma rakyat biasa yang tak punya massa. Semoga saya salah.
@Iwan Awaludin:
Maka kalau begitu Amerika tanah airku, jelas lebih baik daripada Indonesia. kata seorang Amrik.
Buktinya ada, dan tidak secuilpun keuntungan atau guna dari penampakan bukti itu kalau saya liat. Jadi buat apa juga?
@Guh:
Secara umum saya tidak benci keseluruhan. Namun sebagai rakyat yang kecewa, wajar dunk ada protes dan amarah. Karena bagaimanapun dengan berat hati harus diakui bahwasanya setiap presiden masih punya prestasi dan kelebihan masing masing.
Saya juga masih bisa membedakan bahwasanya yang saya benci adalah sistem dan oknumnya. Bukan kesebelasan sepakbolanya. If you know what I mean.
Sebenarnya saya cuma ingin menyatukan ilmuwan untuk bikin mesin waktu lalu balik ke masa lalu buat menggagalkan perjanjian penggabungan Kalimantan dengan Indonesia.
Nah itu dia, jangankan bersatu se-RT. Bersatu se-Provinsi juga ga ada gunanya. Karena sudah NKRI duluan. Termasuk dalam konspirasi pejabat tingginya. Bahkan banyak juga pejabat daerah yang bersatu cuci tangan. Apalagi yang bersatu ga mau ambil pusing.
Saya juga sebenarnya sangat ingin tahu bagaimana nasib pulau jawa ketika terpisah dengan Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Sumatra sebagai lintas negara negara, bukan sebagai provinsi. Dengan jadi negara sendiri, batubara akan menjadi lebih mahal ketika dijual ke luar pulau sebagai barang ekspor resmi.
Yang jadi masalah, ya itu tadi. NKRI duluan. Ketika masuk dalam sistem bernama Pemerintahan. Akan sulit untuk menghadapi yang namanya SISTEM. Idealisme akan mati sehingga urusan perut pribadi bermutasi jadi nomor satu.
Ketika idealisme dipertahankan, kenyataan hidup juga berkata lain. Sistem ini memang tercipta karena bersatunya antar pulau yang membentuk Indonesia itu tadi. dimana sistemnya mengakar pada setiap pejabat tinggi dan ningrat ningratnya.
Sehingga untuk itu rakyat (apalagi di sini) hanya terpikir urusan kebahagiaan dan kepulan asap dapurnya ketimbang merubah kebobrokan. Ditambah ajaran sesat lain dari sistem negara ini yang makin melemahkan. Maka makin komplitlah pengkebirian.
Kalau sejahtera karena misah. Sejahtera atau tidak. Itu urusan pilihan. Hanya jalan untuk misahnya ini yang terkekang sistem itu tadi. Namun sejauh yang saya lihat dengan sok tau. Rasanya tetap saja bahagia dan sejahtera.
Salah satu contohnya adalah ketika kami tidak perlu merelakan tanah kami buat menampung orang asing, yang datang datang dapat tanah gratis. Maka ladang buat digarap pribumi makin banyak.
*Sekian sok tau hari ini*