Kontemplasi Malam Ini……

The main difference between happy and unhappy people is that happy people mostly evaluate their own behavior and constantly attempt to improve what they do.

Unhappy people, on the other hand, mostly evaluate the behavior of others and spend their time criticizing, complaining and judging in an attempt to coerce them into “improving” what they do.
(William Glasser, The Quality School, pg. 180)

::::::::::::

Seorang rekan mengirimkannya di sini. Terjemahan bebasnya kira kira seperti ini;

Perbedaan utama antara orang yang bahagia dengan orang yang tidak bahagia adalah, orang yang bahagia biasanya melihat apa yang mereka telah lakukan sendiri kemudian berusaha meningkatkan apa yang sudah mereka lakukan. Sementara orang yang tidak bahagia biasanya melihat apa yang sudah dilakukan oleh orang lain, menghabiskan waktunya untuk mengkritik,mengeluh,menghakimi dan berusaha merubah serta memaksa orang lain untuk meningkatkan apa yang sudah dilakukan orang lain.

Oke… sebelum bertindak lebih jauh, saya ingin mengetahi lebih jauh siapa itu William Glasser. Seperti biasa, sebelum bertanya kepada Tuhan bertanyalah kepada google, dan google pun menjawab dengan ini. Sudah lumayan cukup untuk menimbulkan kesimpulan siapa beliau.

Cukup? Tentu saja, karena seperti yang biasa digadang gadangkan oleh para blogger maupun para pendebat “professional”; shot the message, not the messenger. Tak perlulah tahu siapa Tuan William Glasser lebih jauh, cukup renungi apa yang telah dikutipkan di atas.

Buat saya pribadi, apa yang menjadi pembuka dari tulisan kali ini adalah sebuah cerminan individualisme kelas tinggi. Contoh kecil dari saya, ketika saya mempunyai seorang teman akrab, adalah mustahil buat saya untuk membiarkan dirinya terjebak dalam hal yang menurut saya dan menurut beberapa orang lainnya tidak baik.

Sebut saja saya mempunyai seorang teman yang sudah beristri lantas suka main perempuan, tentu saja apa yang sudah dilakukan oleh teman tadi akan saya kritik. Saya “paksa” untuk berubah. Adalah tidak mungkin untuk membiarkannya larut, sekecil kecilnya teguran dan sindiran pasti disampaikan. Bagaimana cara penyampaiaan dan sikap selanjutnyalah yang tentu berbeda dari setiap orang. Bahkan jika ditarik lebih jauh lagi, tidak bakalan saya bisa punya teman akrab jika saya seorang yang “ignorance”.

Namun dalam dunia bisnis dan usaha, nampaknya kutipan di atas justru sangat berguna, ketimbang sibuk mencari kelemahan dan kekurangan saingan bisnis,lebih baik meningkatkan mutu pelayanan dan barang yang kita dagangkan. kutipan di atas justru juga menjadi motivator buat meningkatkan kemampuan usaha.

Kutipan diatas juga akan sangat memojokkan para kritikus dan pengamat, mereka semuanya adalah manusia manusia yang tidak berbahagia jikalau ditarik kesimpulan berdasarkan kutipan di atas. Komentator dalam berbagai acara olahraga juga demikian, karena memang mereka dibayar guna melakukan kritik dan pengamatan terhadap apa yang terjadi di lapangan.

Apakah para komentator, pengamat dan kritikus itu adalah orang orang yang tidak bahagia? Tentu tidak semuanya bukan? Bahkan bisa jadi mereka lebih bahagia ketimbang anda para pembaca, pun itu pembaca yang suka melihat diri sendiri dan memperbaiki kekurangan diri ketimbang menilai kekurangan orang lain…

Jadi kesimpulan dari renungan malam ini, segala sesuatunya itu TERGANTUNG…. dan masih TERGANTUNG…..

About these ads

6 Responses to “Kontemplasi Malam Ini……”


  1. 1 hera 31 May 2010 at 00:46

    kontemplatif…

  2. 2 syafwan 31 May 2010 at 08:00

    Ehm…. menarik sekali. Habitual yang mungkin tidak disadari keberadaannya.

  3. 3 Amd 31 May 2010 at 19:07

    Aih, aih, kok tanggapannya jadi begini ya? Hi hi hi…

    Anyway, kita lihat konteksnya yuk, bahwa tulisan tersebut saya temukan ketika mencari definisi kebahagiaan. Monggo dilirik postingan terkait. Saya kutip lagi karena melihat ada korelasi dalam kasus dikhianati kekasih “dipolitiki” di posting antum terdahulu itu (ML).

    Satu hal, saya kok malah kurang sreg kalau ini sudah selesai disebut kontemplasi, karena menurut pandangan sempit saya, tulisannya masih terlalu dangkal, diverting, dan cenderung eskapis untuk disebut sebagai “kontemplasi”, yang idealnya, katanya musti “thoughtful” dan dalem… Kalau dibaca sekilas sih ya enak aja dianggap kontemplasi, seringan dua komen di atas lah, contohnya…

    Contoh-contoh yang diberikan pun, sebenarnya tak menyentuh substansi kutipan itu sendiri, karena hanya pengungkapan kasus “lain” yang di-gothak-gathuk-kan agar nyambung dengan kutipannya. Ini diperparah dengan sedikit kekeliruan logika dalam contoh paling bawah:

    Kutipan diatas juga akan sangat memojokkan para kritikus dan pengamat, mereka semuanya adalah manusia manusia yang tidak berbahagia jikalau ditarik kesimpulan berdasarkan kutipan di atas. Komentator dalam berbagai acara olahraga juga demikian, karena memang mereka dibayar guna melakukan kritik dan pengamatan terhadap apa yang terjadi di lapangan.

    Dengan realita bahwa mereka dibayar, tentu sudah menggugurkan premis asumtif apapun terkait kebahagiaan si komentator. Mereka profesional, yang bekerja sesuai dengan job description mereka. Jadi, sebagai komentator, kritik dan analisis mereka memang harus muncul karena itulah alasan mereka dibayar.
    Satu hal lagi, kritik dan analisis mereka tidak ditujukan langsung atau secara resmi ke klub/tim yang mereka komentari, melainkan hanya sebagai pengisi slot acara kala siaran. Jadi, di sini tidak ada niat untuk meng-coerce-kan tim tersebut, karena toh itu sudah jadi wewenang direktur teknik, konsultan, tim manajer, pelatih, dan pengurus klub.

  4. 4 Amd 31 May 2010 at 19:08

    Eyalah, lupa nutup tag… mohon dibenerin blockquotenya…

  5. 5 AngelNdutz 1 June 2010 at 18:01

    @,@

  6. 6 Fortynine 1 June 2010 at 19:37

    @hera: Makasih…

    @syafwan: menarik mana dibandingkan tangan..? :mrgreen:

    @Amd: Auk kada ngerti Med ay isi komentar imak, suer dech auk kada ngerti, banyak bahsa yang auk kada faham, jadi auk kada tahu harus jawab apa…

    Eyalah, lupa nutup tag… mohon dibenerin blockquotenya…

    Bujurlah sudah kaitu bentuknya??

    @AngelNdutz: @,@


Comments are currently closed.



Monthly Archives

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 166 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 166 other followers

Twitter

  • Bukan aku yang nerima Itu nasabah, knp harus aku yang d kejar2? 1 day ago

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 166 other followers

%d bloggers like this: