17 Juni 1954. Hungaria menghajar Jerman dengan skor telak 8 – 3. Hungaria adalah tim yang merupakan Los Galacticos pada masanya (1950-an), nama beken Ferenc Puskás, Sándor Kocsis, Nándor Hidegkuti dan kawan kawan adalah sebuah “hantu” bagi lawan lawannya. Tim Hungaria saat itu mendapatkan julukan Mighty Magyars. Pada Piala Dunia Swiss 1954, merekalah calon juara. Apa daya, ketika pertandingan final, lawan yang mereka kalahkan dengan skor telak pada babak penyisihan, ternyata justru mengalahkan mereka. Tipis memang, 3 – 2 saja. Namun sebuah Miracle of Bern telah menyulap semua orang. Telah membuktikan bahwasanya sepakbola bukanlah hitungan 2 + 2 sama dengan empat, apalagi sebuah kalkulasi soal fakta dan data semata!!!
Desember 2010. Indonesia versus Malaysia: 5 – 1. Itu penyisihan, di Gelora Bung Karno pula mainnya. Apa mau dikata, ketika bertandang ke Malaysia, ketika bermain di Stadion Bukit Jalil, tim nasional Indonesia yang pada penyisihan membantai musuh abadinya, ternyata tak berkutik!!! Dihajar dengan skor telak 3 – 0.
Padahal. pada 10 pertemuan sebelumnya, Indonesia tidak pernah kalah dari Malaysia. Padahal, tim nasional Indonesia dilatih oleh Alfred Riedl. Pelatih yang membangkitkan potensi besar Vietnam. Pelatih yang sempat membuat tim yang dilatihnya sekarang, terseok seok ketika masih melatih tim lawan.
Sekarang mari kita bicara fakta. Apa kesamaan Ferenc Puskás, Sándor Kocsis, Nándor Hidegkuti dan kawan kawan ketika berlaga di Piala Dunia 1954 dengan Cristian Gonzales, Irfan Bachdim, dan Markus Horison dan kawan kawan yang berlaga pada Piala AFF 2010? Mereka sama sama membantai lawan pada penyisihan, dan sama sama terbantai oleh lawan yang sama di final!
kalau Hungaria dulu, mungkin terbebani harus juara, rekor fantastis dan lantas terkejut oleh semangat “Deutshland Uber Alles” tim lawan. Maka Gonzales cs terbebani oleh: Blow up media yang membuat mereka seolah olah sudah jadi juara dunia, harapan terlalu tinggi masyarakat pecinta bola Indonesia yang sudah terlalu haus akan gelar. dan tentu saja, ketololan para pejabat politik!
Liat saja wawancara, dan berita di hampir semua media cetak dan elektronik Indonesia. Tim Garuda seolah olah sudah jadi juara sejak mereka membantai Malaysia di babak penyisihan. Liat juga harapan yang selalu di tujukan, yang bukan lagi menjadi sebuah penyemangat, melainkan sudah menjadi beban yang akhirnya mengubur kaki pemain hingga tak sanggup lagi menendang bola. Belum lagi ketololan pejabat yang mendompleng nama dan kesuksesan tim nasional.
Pacar dan istri para pemain timnas “diWAG” kan. Pemain Indonesia, yang jujur saja masih bintang satu, sudah disama samakan dengan pemain bintang lima macam Messi dan Ronaldo. Lalu berbagai acara tidak penting yang akhirnya menggangu jadwal latihan dan istirahat, hingga memecah konsentrasi pemain Indonesia.
Akhirnya, luluh lantak lah tim Indonesia. Ketika untuk pertama kalinya bermain di luar kandang, mereka yang selama ini superior di kelasnya, hanyalah sekumpulan pemain biasa. Ketika sorakan penyemangat tak sama nyaringnya, kaki mereka seolah tak mampu menendang bola sekeras dan seakurat ketika mereka melakukannya di kandang sendiri. Dan, ketika kebobolan untuk pertama kalinya, maka tradisi “kalah apabila kebobolan lebih dahulu” pun berlanjut.
Wahai, para supporter, petinggi PSSI, Pejabat politik Indonesia, bahkan juga presiden Indonesia. Sadarlah, hanya gangguan laser takkan menyebabkan tim Indonesia kalah 3 – 0. Suara petasan atau terompet, atau bahkan cara cara gaib juga tidak. Kenyataannya, tim nasional sudah kalah, dan itu kalah permainan! Ketika Hungaria kalah, mereka dikalahkan dengan semangat, dan permainan luar biasa dari tim Jerman. Begitu juga ketika di Bukit Jalil Indonesia kalah, Malaysia yang mengalahkan Indoensia pada kenyataannya memang lebih siap, dari segi taktik dan fisik!!!
Rabu malam nanti, Indonesia vs Malaysia, leg kedua Final Piala AFF 2010. Akankah timnas sanggup membekap Malaysia dengan selisih empat gol tanpa balas? Jujur, saya ragu! menang mungkin iya, tapi tidak dengan skor 4 – 0, atau mengulang skor 5 – 1. Malaysia tentu sudah mempersiapkan strategi dan fisik mereka dalam menghadapi pertandingan leg kedua. Belum lagi mental pemain Indonesia yang saya yakin, masih belum berubah, ketika terbebani, mereka takkan bisa bermain lepas. Permainan takkan sama seperti ketika penyisihan.
Oh ya, saya takkan hanya memprediksi dan mengkritik. Saya juga tentunya harus menyiapkan solusi. apa itu? SATU: Tentu saja turunkan Nurdin yang terkutuk! Ganti dengan ketua yang lebih faham caranya memajukan sepakbola, toh Indonesia punya banyak mantan pemain sepakbola yang “pintar”. dan bukan hanya Nurdin, Turunkan Nugraha Besoes juga!!! DUA: Jangan pecat Riedl, apapun hasilnya kelak, beliau sudah berhasil memberikan perubahan, meskipun tidak banyak. Biarkan beliau tetap berkreasi, dan membangkitkan potensi sepakbola Indonesia seperti yang pernah dilakukannya pada tim nasional Vietnam. TIGA: Bentuk Liga yang lebih berkualitas, karena seperti yang sudah sering disuarakan, Tim Nasional yang hebat tentu saja terbentuk dari matangnya konsep pembinaan dari usia muda hingga usia emas, bukan sebuah prestasi Instan melalui naturalisasi!!!




Begitulah wajah persepakbolaan kita yang dipolitisasi dan diblow-up media, Rid: Norak dan kampungan. Padahal itu prestasi TIMNAS, bukan rezim brengsek ini, bukan juga PSSI-nya Nurdin.
Bukannya tim nasional Indon dibawah rezim terkutuk dan rezimnya Nurdin masih punya prestasi; kemunduran persepakbolaan nasional, dan keberhasilan untuk selalu pulang tanpa gelar, dalam setiap turnamen yang diikuti!!!
just show them again, the battle cry f senayan!
Yah begitulah wajah persepakbolaan Indonesia. Para pemain yang buta politik seolah menjadi boneka panggung sandiwara para poliTIKUS. Juga media-media yang terlalu mengagung-agungkan Timnas padahal perjalanan masih jauh dan belum usai.
mun kada imak jua turun jadi penyerang tu, wkwkwkwk….
hahaha emang senayan tuh angker buat tim lawan……
gimana nih bos nasib PSSI, mudah2an jgn sampai jth ke tangan yg salah.
nurdin halid gak tw malu!