Archive for the 'College and University' Category

Adeknya Pak Erte


Saya, meskipun cerdas, pintar, pemurah, baik hati, tampan rupawan dan ganteng begini juga pernah berorganisasi. Jadi waktu kuliah dahulu tidak sekedar datang duduk diam lantas jadi mahasiswa manis bertampang intelek, atau sampai sampai membuat wajah ganteng saya ternoda oleh penampilan dengan wajah mirip trigonometri seperti halnya kebanyakan mahasiswa jurusan eksak maupun sok eksak yang seringnya tampil berpakaian rapi berkacamata sehingga terlihat seperti mahasiswa atau pemikir sejati.

Continue reading ‘Adeknya Pak Erte’

Input and Output


As a man who was graduated from English Department, why cannot I write as good as these articles? Why cannot I write as long as these articles? You, people, may ask the same question to this person, and to him.

Why should the question be asked to me? Why should the question be asked to us? Me, we, are older than him and him. We should have had more experience and knowledge than they should. We should have had written better and more posts. Unfortunately, we cannot do it!

Is this showing our incompetence? Is this fact showing our lack of knowledge? Or, it is just showing that we are not interested to write theology? Moreover, we do not interested writing in English?

I do not think that we are not interested in. Especially for me, I always want to write in English. I want to write about everything, not just about religion or theology. Nevertheless, it is not easy at all. In addition, I do not reading English everyday. This may cause my ability to write and read English is decreasing. How can I have good output while I do not have good input?

The same case may appear to him. However, we must have no questions about writing ability of this man. I can assure you that he is truly unable to write English post, and if he can, the post will not contain more than one paragraph. I do not understand why could he be accepted in English Department. *Rush away as fast as I can!*

I feel ashamed! As a graduated person from English Department, I cannot show my ability and my quality. As a person who was studying English intensively for more than four years, I have very low quality of writing ability.

This is not only about me. This is about all of my former friends in campus. Can they write in English? If they do, are the results having good quality? At least perfect grammar correctness?

Are we showing our lack of ability? Alternatively, we are just the mirror of bad input. On the other hand, we are having bad English because we are not educated and trained well. The last probability is we were so lazy studying English when we were taking every single subject, but I think this last reason is truly, deeply illogic! How can I be interested in out of date teaching style? How can I read and write if I feel so uncomfortable when I was studying? How can I write good English works (output) if I did not get enough knowledge (input)?

Lagi Lagi Dosen


“Bang. Besok jangan lupa ke Banjarmasin. Ada acara dalam rangka memperingati hari AIDS.”

Begitulah inti dari undangan adik adik saya di IMPAS-B. Tanggalnya memang tidak persis, namun tidak ada salahnya kalau kita turut memperingati dan menyumbang sesuatu yang positif bukan?

Isi acaranya? Kampanye tentang AIDS, Teater, musik jalanan dan pagelaran seni lainnya. Namanya juga Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam Seni dan Budaya. Acara tersebut juga dimaksudkan untuk mengumpukan keramaian dari TWKM yang baru saja dilangsungkan. Mumpung para orang gila seluruh Indonesia masih berkumpul di Banjarmasin. Acara tersebut bisa juga dikatakan sebagai ajang silaturahmi antar mapala se-Indonesia.

Ada beberapa hal yang bakalan menjadi permasalahan sekaligus pembahasan dari hasil paragraf diatas. Namun yang ingin saya soroti justru kejadian pada saat acaranya. Bukan tentang TWKM nya. Bukan tentang AIDS dan hari AIDS nya. Bukan pula tentang Mapala se-Indonesia-nya.

Di saat acara berlangsung. Perkuliahan juga berlangsung. Maklum masih awal minggu. Tepatnya hari Selasa. Namanya juga acara seni. Mana mungkin acaranya diam diaman macam renungan suci yang harus sunyi senyap dan hening.

Acara musik dan teater jelas menggunakan sound sistem alias pengeras suara. Meskipun tidak seprofessional musisi dan seniman seniman seperti yang kita sering saksikan di televisi, ataupun tidak sedahsyat dan sekencang para ahli ahli mikropon di tempat tempat ibadah, setidaknya polusi suara pasti tidak terhindarkan dalam acara itu.

Maka dari itu, jauh hari sebelumnya para adik adik saya itu sudah meminta izin kepada tuhan tuhan yang berwenang di kampus guna sedikit meracuni telinga para penduduk kampus melalui acara tadi.

Izin tentu saja bukan hanya secara mulut lewat mulut. Melainkan juga ijin tertulis. Dengan kata lain, IMPAS-B selaku panitia acara diperbolehkan untuk mengadakan kebisingan di kampus.

Jelas, tuhan tuhan kampus sudah merestui. Namun namanya juga ada banyak tuhan. Makanya banyak juga tuhan tuhan kampus lain yang tidak setuju. Mulai dari tuduhan acaranya buang buang waktu. Meracuni pendengaran. Acaranya tidak penting, hingga yang cuma mengomel di kelas.

Dan disinilah para tuhan tuhan kampus menunjukkan kebesaran dan keagungannya. Acara yang sudah mengantongi ijin dari tuhan tertinggi di kampus masih saja di interupsi. “Hentikan!. Saya ada ujian!. Ga tau saya ada kelas?!. Mahasiswa berisik benar sich!.” Itulah yang terjadi. Dengan statusnya sebagai tuhan tuhan kampus, mereka menunjukkan eksistensinya kepada para mahasiswa.

Ingin sekali rasanya saya menghajar para tuhan tuhan jantan yang menginterupsi dan memaki panitia. Ingin pula saya memaki dan mendebat para tuhan tuhan betina yang menegur dengan sinis hingga kasar. Apalagi dengan stus saya yang sudah bebas dari neraka kampus.

Namun, buat apa juga saya lakukan? Meski tuhan tuhan jantan saya hajar, besok besok mereka tetap jadi tuhan di kampus. Kalaupun tuhan tuhan betina saya maki maki atau saya debat. Di kemudian hari mereka tetaplah tuhan kampus. Sementara saya bisa jadi penghuni hotel gratisnya pak polisi.

Jadilah saya hanya bisa menatap, menyaksikan para tuhan tuhan kampus yang berkali kali menunjukkan kekuasaan dan keberadaan mereka di kampus. Tak perduli bahwasanya tuhan tertinggi di kampus sudah merestui acara.

Permasalahan tidak sampai di situ. Ada tuhan kampus yang diam saja dengan acara. Meski bukan berarti meridhoi acara bising tersebut. Ada tuhan kampus yang maklum. Ada tuhan kampus yang protes sendiri dan lain sebagainya.

Yang saya bingung, tuhan tuhan senior di kampus tidak pada protes, kenapa mereka mereka yang baru jadi tuhan pada protes? Yang saya bingung kenapa tidak dari dulu mereka protes? Sekalian saja membatasi acara? Tapi kenapa ikutan membolehkan waktu minta ijin? Ataukah kami yang kurang sosialisasi? Kalaupun kurang, kenapa mereka tidak menghargai ijin yang sudah didapatkan? Kenapa mereka tidak bisa belajar maklum? Sementara mahasiswa dipaksa maklum jauh lebih sering.

Mahasiswa bisa maklum saat dosen masuk kelas dan merubah jadwal kuliah seenak jeroan busuknya. Mahasiswa dipaksa maklum saat tidak diluluskan dalam mata kuliah yang diambil dengan alasan yang tidak jelas dan tidak logis. Mahasiswa terpaksa maklum saat dosen memberikan nilai 78 untuk 20 soal yang dijawab dengan benar oleh mahasiswa sebanyak 18 soal.

Kenapa mereka tidak mau maklum sehari saja? Lebih tepatnya: kenapa para oknum itu tidak bisa maklum barang sehari saja?

Mungkin ada yang mengatakan bahwasanya saya membenci dosen karena alasan pribadi. Alasan itu sangatlah tidak tepat. Yang saya benci adalah kesewenang wenangan dan ketidakkenalan mereka terhadap toleransi dan penerimaan. Yang saya benci adalah tindakannya. Bukan orangnya.

Saya tidak benci kepada dosen tertua di kampus saya dulu. Yang saya benci adalah turut campurnya beliau terhadap penampilan saya. Saya tidak benci dosen dosen muda ataupun tua di kampus saya dulu, namun yang saya benci adalah sikap bunglon dan munafik mereka. Yang saya benci adalah sikap arogan dan sok berkuasa mereka. Yang saya benci adalah sikap tidak objektif mereka. Yang saya benci adalah ketidak pedulian sosial mereka. Yang saya benci adalah fikiran kolot dan anti perubahan mereka.

Karena semua sikap mereka bukan mendidik mahasiswa menjadi santun melainkan suka cari muka. Bukan menjadikan mahasiswa pandai dan akftif melainkan suka cari nilai dengan berbagai cara busuk hingga elegan. Membentuk mahasiswa yang tidak kreatif dalam bertindak meski kreatif dalam menjilat.

Ah sudahlah, nampaknya hanya ada dua kemungkinan. Saya memang tidak cocok dengan para dosen di kampus saya dulu. Atau para dosen kampus yang memang tidak cocok jadi dosen saya. Meski nampaknya saya tidak sendiri.

Seperti yang ditulis oleh Bang Fertob. Ini bukan satir, ini juga bukan diplomasi, ini murni kejujuran saya tentang yang saya alami.


Monthly Archives

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 170 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 170 other followers

Twitter

  • Hari batik national jar, maaf ay lah onda kada tahu apa tu batik! Mun sasirangan tau ay 4 hours ago

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 170 other followers

%d bloggers like this: