Kantor

Juli 31, 2008

Seperti biasa, kantor tempat saya bekerja masih agak sepi kalau jam masih menunjukkan waktu 07:30 WITA. Saya pun bahkan belum datang pada jam tersebut. Bukan karena apa apa melainkan karena malas untuk ikut apel pagi. He he he.

Makanya saya selalu datang pada pukul 08:15. dimana dengan demikian saya ga perlu ikut apel pagi sontoloyo itu. Dan hari itu, seperti biasa saya datang tepat pada waktunya: waktu semau saya maksudnya. Lalu masuk ke ruangan kerja, dimana meja kerja saya tidak pernah rapi karena selau diobrak abrik rekan rekan sekantor yang lain yang mencari ATK hingga buku catatan keluar masuk surat.

Tak berapa lama duduk, saya mendengar suara khas, suara khas milik Pak Haji yang merupakan KASI salah satu bagian di kantor ini. Beliau ini sudah terkenal sebagai jago mengaji. Sukanya sholat dhuha, bahkan diwaktu jam kantor sekalipun beliau selalu menyempatkan untuk mengaji atau sholat baik itu sholat wajib maupun sholat sunat.

Lantas beliau masuk ruangan saya sekalian menyapa saya seperti biasa. Beliau lalu berkata: Hari ini saya sudah datang cepat masih saja ketinggalan ikutan apel pagi.

Ibu rekan seruangan saya yang juga kebetulan berada di ruangan kala itu menjawab: Jam segini pagi Pak? Gimana telatnya?

Sebelum menelusuri jawaban beliau selanjutnya, haraf diketahui bahwasanya saya sudah sangat tidak berminat untuk ikutan nimbrung, karena tidak sekali dua saya diceramahi beliau sampai bosan.

Pak Haji (PH): “Sebenarnya setiap hari setiap pagi saya sudah bangun, pukul 4 subuh saya sudah bangun, lalu nimba air untuk dirumah, tak lupa ngantar anak cucu ke sekolah.”

Ibu Rekan Kerja Saya (I): “Lantas kok masih suka datang telat Pak Haji?”

(PH): “Masalahnya begini, waktu diambil sumpah jabatan ketika diangkat menjadi PNS dulu tidak ada pengucapan bahwasanya saya harus datang terlambat.”

(I): “Lho, tapi kan ada pengambilan sumpah untuk mentaati peraturan? Maka datang tidak terlambat termasuk tidak mentaati peraturan.”

(PH): “Itu peraturan dari mana dulu? Peraturan dari manusia bukan?”

Lantas beliau komat kamit baca bacaan yang nampaknya bahasa arab, persis macam para penyebar agama Islam….

(PH): “Artinya taatlah kepada pemimpin yang begini begini (kurang lebih beliau mengartikannya begitu). Maka dari itu, karena sampai sekarang belum ada manusia/pemimpin seperti yang diartikan dalam ayat ayat setan tadi, sayapun memutuskan bahwasanya tidak berdosa jikalau tidak taat pada pemimpin yang model jaman sekarang.”

Beliau melanjutkan: “Lagipula ketika saya bekerja menimba air dirumah, ngantar anak cucu, dsb, dsb, itu dapat pahala. Dasarnya ayat ini, hadist itu.”

(I): “Tapikan meninggalkan tugas kantor ini bapak malahan dapat dosa karena tidak mentaati peraturan?”

(PH): “Makanya peraturan yang bagaimana dulu? Selama masih peraturan buatan manusia maka tidak sempurna, maka tidak berdosa melanggar peraturannya. Lagipula saya punya alasan jelas untuk terlambat, yaitu mengurus keluarga, ya macam ngantar anak cucu ke sekolah tadi.”

(I): “Ibu lulusan STPDN itu juga ngantar 2 anaknya dulu Pak. Beliau perempuan lagi, tapi datangnya selalu tepat waktu.”

(PH): “Nah, itu wanita sudah memenuhi kewajiban sebagai istri dan ibu rumah tangga tidak? Sebab begini….”

Lantas beliau melanjutkan dengan berbagai kisah dan ayat bahasa arab campur cerita tentang kavling surga dan neraka. Khusnya buat wanita dan lelaki..

Ah sudahlah, saya hanya bisa senyum ketika beliau menjelaskan tentang pembagian manusia manusia penghuni surga dan neraka. Salah satunya adalah istri yang taat kepada suaminya. Meskipun suaminya bejat berdosa sekaligus maling sekaligus rampok yang doyan poligami dan jajan, istri yang taat sudah dikavlingkan surga, entah siapa yang mengkavlingkan? Beliau mungkin

Bisakah anda bayangkan kalau negara ini diisi oleh seratus saja manusia macam beliau ini setiap Kota/Kabupaten? Berapa jumlah mereka seIndonesia? Akan terjadi apa kalau mereka bersatu padu menentang peraturan negara dan daerah masing masing karena pemimpinnya tidak sesuai kriteria agama yang mereka klaim, apalagi pemimpinnya sampai beda agama dengan pasukan pengkavling surga tadi? Bahkan apa jadinya keturunan mereka yang direcoki doktrin para pecandu agama ini?

Maka pertanyaan utama saya? Manusia manusia macam itukah yang akan memajukan Indonesia bahkan akan memimpin dunia? Manusia manusia macam begitukah yang konon pendahulunya pernah menguasai sekian bagian bola dunia? Inikah Kelakuan Umat Taat beragama?

Yang jelas yang bisa saya ambil dari ceramah hari itu: Semua laki laki di dunia ini, itu sudah dikavlingkan surga, dengan sedikit bekerja laki laki bisa masuk surga, pokoknya asal bekerja. biarpun sedikit. Sementara wanita baru bisa masuk surga kalau sudah taat sama suaminya yang meskipun bejat. Lantas bagaimana nasib wanita wanita yang mati lajang itu ya? He he he.

Eh tunggu dulu, bukankah si penulis sendiri malas apel pagi alias sukanya datang terlambat ke kantor? Ya… kan sudah ada dasarnya diatas itu tadi… ha ha ha. Namun kalau sejujurnya: buat apa saya datang lantas apel lantas ngabsen lantas ongkang ongkang kaki tanpa mengerjakan kewajiban kantor?

Apa saya yang datang telat namun deadline ketikan dan laporan jarang lewat ini lebih busuk daripada para pegawai tujuh kosong empat yang datang jam tujuh dan jam empat doang buat apel dan mengabsen tapi ga pernah berada di kantor diluar jam tersebut? Lebih busuk? Ga papa, ga peduli. Itukan perkataan dari anda manusia, kalaupun anda seorang petinggi atau pemimpin. Anda kan bukan pemimpin seperti yang dikriteriakan oleh agama. Lagipula perturan datang kerja itu kan buatan manusia.

Download Film FITNA

April 2, 2008

  • Postingan agak panjang
  • Mengandung Pars Pro Toto
  • Mungkin tendensius+generalisir
  • Disarankan agar mau buka kamus dan referensi untuk berbagi ilmu

Rencananya hari ini saya mau mendownload film FITNA. Apa daya, sebagai manusia yang berkewarganegaraan Indonesia dan bertempat tinggal di Kalimantan, tepatnya Kalimantan Selatan. Yang saya dapatkan adalah kutukan dan kebiri kecepatan.

Kutukan terhadap pulau ini ternyata belum dicabut oleh para petinggi petinggi negara Indonesia yang memang senang mengkebiri Kalimantan. Kutukan yang datang dari sesama warga Kalimantan yang berhianat dengan cara menjual kekayaan alam Kalimantan kepada pulau pulau lain di Indonesia maupun negara negara lain juga membuat pulau yang kaya ini kehilangan sumber daya alamnya yang seharusnya hasil penjualannya digunakan sebagai dana pembangunan fasilitas fasilitas publik menjadi kekayaan pribadi dan golongan.

Sementara umat beragama di propinsi ini nampaknya lebih sibuk beriman dan beribadah, atau mungkin gontok gontokan soal jumlah adzan waktu Jum’at dan meributkan aliran Muhammadiyah versus N.U ketimbang mengasah potensi, atau sekolah ke negeri negeri kafir luar negeri dan luar pulau guna mencerdaskan diri demi memikirkan dan merealisasikan kemajuan pulau yang katanya memiliki Kota Serambi Mekkah ini.

Kembali ke soal kecepatan download. Kecepatan download yang saya dapatkan luarrrr biasa cepat. 40 menit lebih untuk 12.6 Megabyte, silakan hitung sendiri kecepatan downloadnya yang lebih spesifik dan tepat. Jangan lupa gunakan logika, khusunya matematika dan informatika untuk menghitungnya karena setidak tahu saya, tidak satu kitab suci agama manapun yang menjabarkan maupun menuliskan cara, hingga rumus penghitungan yang tepat tentang kecepatan download internet. Kecuali kitab kitabnya orang orang yang kuliah Ilmu Komputer dan Teknik Informatika. CMIIW.

Dengan kecepatan yang jauh dari manusiawi tersebut, adalah wajar jikalau kegagalan mendownload adalah hal yang lumrah dialami oleh manusia manusia berbudget rendah seperti saya yang masa aktif di warnetnya berbanding terbalik dengan masa aktif untuk menghayal tentang sex.

Masih untung sebahagian daripada keseluruhan film FITNA berhasil di download. Terima kasih buat siapa saja yang telah membagi film FITNA tersebut menjadi 3 bagian. Yang bagian 2 dan tiga mungkin hanya akan setara dengan artis artis semok dan seksi yang doyan umbar belahan dada hingga sepersekian bagian tubuhnya, alias menjadi impian dan fantasi saja untuk bisa mendapatkannya.

Pulang, dan waktunya untuk menonton bab 1 dari FITNA. Durasinya 5 menit 27 detik. Diawali dengan tulisan: Warning! This film contains very shocking images. Lalu bayangan separo Al Qur’an yang disandingkan dengan tulisan FITNA yang memang menjadi judul fim. Selanjutnya pembacaan ayat Qur’an plus gambar tragedi 11 September yang sebenarnya hanyalah propaganda dan rekayasa dari Yahudi itu.

Oh iya, berhubung saya membandingkan ayat ayat Qur’an yang tayang dalam film itu dari belakang. Maka review ayatnya akan saya mulai dari bagian belakang film FITNA bagian satu ini juga. Kalau masih ada waktu dan tenaga serta tentu saja kemauan, akan saya lanjutkan review ayat ayat Qur’an versi Fitna yang dibandingkan dengan ayat ayat Qur’an versi PDF Al Qur’an (Arab-Bahasa Indonesia) dan The Noble Qur’an (Arabic-English). Soalnya satu bagian saja menghasilkan tulisan panjang, bagaimana mau semuanya? Mungkin setelah tulisan ini adayang tertarik untuk melanjutkan?

Versi FITNA: Quran. Surah 47, Verse 4: Therefore, when ye meet the unbelievers, smite at their necks and when ye have caused a bloodbath among them. Bind a bond firmly on them.

Lantas versi The Noble Qur’an: 047 - 4: Now when ye meet in the battle those who disbelieve, then it is smiting of the necks until, when ye have routed them, then making fast of bonds; and afterwards either grace or ransom till the war lay down its burdens. That (is the ordinance). And if Allah willed He could have punished them (without you) but (it is ordained) that He may try some of you by means of others. And those who are slain in the way of Allah, He rendereth not their actions vain.

Kemudian versi PDF Alqur’an: Muhammad 4: Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.

Anda bisa menangkap ketidak sesuaian diantara 2 English version diatas? Manusia yang buta English 100 persen pun saya rasa pasti bisa menangkap adanya ketidaksesuaian antara 2 ayat versi English diatas. Ayat ayat Qur’an versi FITNA jelas jelas sudah memutilasi dan memodifikasi ayat Qur’an.

Oh ya, mungkin anda terlalu malas untuk buka kamus, atau maunya cuma buka kamus bahasa Arab, atau bahkan maunya hanya buka Al Qur’an tanpa mau buka kamus apa apa karena dengan buka Al Qur’an semata anda bisa jadi orang paling beriman sedunia sehingga tak perlu lagi belajar yang lain termasuk bahasa Inggris, maka saya akan bantu dengan terjemahan versi saya terhadap ayat Qur’an versi film FITNA: Oleh karena itu, ketika kamu bertemu yang tidak percaya, pukul pada mereka leher dan ketika kamu memiliki penyebab sebuah darahmandi diantara mereka. Ikat sebuah rantai dengan kuat pada mereka. *Dimarahi Dosen Dosen Prodi Bahasa Inggris FKIP UNLAM*

Busyet dah, untung saja saya ini cerdas dan ganteng, sehingga saya belajar menafsirkan pakai logika plus bantuan kamus bahasa Inggris tentunya. Karena saya tidak mau taklid buta alias telan bulat bulat itu ayat, karena menurut logika berbahasa saya yang selama ini saya coba asah, dan setelah semalaman saya habiskan guna buka buka kamus bahasa Inggris dan cari referensi guna mendapatkan makana sehakikinya (hiperbola[dot]bombasme[dot]com) arti mendalam dari ayat Qur’an versi FITNA tersebut adalah: Maka, ketika kamu sekalian bertemu orang orang KAFIR™, pancung mereka (orang orang kafir™ tadi) dan ketika kalian telah membuat mereka mandi darah (ketika kalian telah menumpahkan darah mereka). Ikat mereka (Borgol mereka) dengan kuat.

Sementara untuk terjemahan versi PDF Al Qur’an dan The Noble Qur’an itu tidak banyak terdapat kerancuan. Alias rangkaian kata kata dan bentukan kalimatnya itu semakna tapi tak sama persis. Contohnya seperti: “Taufik ditolak wanita dambaan hatinya” dengan “Wanita dambaan hati Taufik menolak pernyataan cinta dari Taufik”.

Atau dalam versi Englishnya: A Dog bites me dengan I am bitten by a dog. Intinya, artinya sama, cara pengungkapannya atawa penyusunan kata katanya yang berbeda. Okeh? Bisa di copy, ganti???

Kembali ke terjemahan versi film FITNA: Maka, ketika kamu sekalian bertemu orang orang KAFIR™, pancung mereka (orang orang kafir™ tadi) dan ketika kalian telah membuat mereka mandi darah (ketika kalian telah menumpahkan darah mereka). Ikat mereka (Borgol mereka) dengan kuat.

Kesalahan:

Mutilasi Pertama. Adalah in the battlenya yang raib entah kemana. Sang sutradara telah melakukan taklid buta alias telan mentah mentah tanpa pembandingan arti. Sehingga merubah arti bahwasanya pembunuhan terhadap orang orang Kafir™ hanya halal dalam perang menjadi halalisasi pembunuhan orang Kafir™.

Mutilasi Kedua. Afterwards either grace or ransom till the war lay down its burdens yang mungkin lupa diketikkan, atau terlalu panjang untuk ditampilkan dalam scene (prasangkabaik.net). Sehingga mengindikasikan bahwasanya orang Kafir™ itu fungsi utamanya hanya dibunuh, padahal mereka juga perlu dihormati ketika perang, bahkan bisa bebas bersyarat asal ada tebusan sepeti halnya para koruptor bangsa ini. Berarti koruptor bangsa ini Kafir™ dong!

Mutilasi ketiga. Itu sisanya mana ya? Kok janji surga terhadap jihad junkiesnya dihilangkan oleh si sutradara? Padahal And if Allah willed He could have punished them (without you) but (it is ordained) that He may try some of you by means of others. And those who are slain in the way of Allah, He rendereth not their actions vain. Adalah salah satu obat kuat alias booster buat mereka yang doyan kekerasan. Terutama yang bagian ini nih: those who are slain in the way of Allah, He rendereth not their actions vain. Bisa bisa si sutradara itu nanti bakalan berumur pendek karena dimutilasi. Hiyyyy….

Tidak Pararelel Antar Arti Kata. Therefore, when ye meet the unbelievers, smite at their necks and when ye have caused a bloodbath among them. Bind a bond firmly on them. Masa orang sekarat diikat? Kurang kerjaan? Atau sudah sinting? Bukannya orang sudah sekarat itu selanjutnya disiksa? Bisa juga si, mungkin maksudnya si sutradara itu juga. Sayangnya, bloodbath itu kalau menurut saya sudah pasti mampus, mana di smite di leher pulax, buat apa lagi diikat atau diborgol? Jangan jangan ni sutradara pernah belajar ilmu kelirumologi juga dengan bapak Jaya Suprana.

Bagian penutup: Ini serius, tolong, kalau umat Islam mau bereaksi. Gunakan aksi damai, buat film tandingan tentang kasih sayang antar manusia versi Islam. Alias Hablumminannas nya yang ditunjukkan.

Yang paling penting tentu saja adalah reaksi. Aksi bakar bakaran sampai jidat jidatan jihad jihadan hanya akan mempertegas gambaran Islam seperti yang disampaikan FITNA.

Tolong juga untuk bersikap lebih bijak, gunakan akal yang dikaruniakan oleh Allah. Buat apa bisa fasih membaca Al Qur’an kalau tidak melanjutkan menjadi perancang Al Qur’an digital sehingga kefasihan menular? Buat apa meyakini Isra Mi’raj kalau tidak bisa bikin pesawat supersonic? Untuk apa percaya dan mengagung agungkan healing hand-nya Nabi Isa kalau tidak ditindaklanjuti dengan menjadi dokter? Untuk apa terlena dengan dongeng kecepatan pemindahan materi jaman Nabi Sulaiman kalau tidak bisa bikin pemecah dan penggabung unsur terkecil materi? Apa gunanya bangga dengan keberanian Syyidina Umar kalau tidak bisa bikin gentar lawan dengan teknologi maju?

Oh iya. Ayat ayat Qur’an memang rentan dengan modifikasi dari fihak luar Islam. Anggap saja sebagai cermin, kalau Islam cinta damai, gambaran orangpun akan positif. Kalau suka bikin keributan, kenapa berharap CNN menyiarkan yang baik tentang Islam? Kalau masih menganggap perang itu adalah bom bunuh diri, kenapa harus protes dengan sebutan teroris?

Seandainya, dengan akalnya manusia manusia yang mengaku Islam mau mengembangkan teknologi dan informasi, lalu bikin stasiun televisi sendiri yang bisa menyaingi CNN, plus perilaku cinta damai dan toleransi dari umatnya. Mungkin Islam akan kembali berjaya.

Buat yang diluar Islam, atau mungkin yang kolom agama di KTP nya isinya bukan Islam. Percayalah, yang suka memperkosa, membantai orang dan bikin rusuh itu bukan cuma arab, arab waannabe, jihad junkies atau kaum Muslimin dan Muslimah kok. Yahudi juga suka bantai orang tuh. Kaum ortodoks Eropa Timur juga doyannya mayat. Bahkan aparat Indonesia jaman orba sukanya darah dan daging manusia.

Oh iya. Saya liat di salah satu blog di wordpress juga: Tidak ada orang ber IMAN bodoh
lihat para nabi, para sahabat Rosulullah orang ber IMAN selalu cerdas. Katanya orang beriman tidak mungkin bodoh, masa? Itu gambar di film FITNA tentang orang orang yang nulis “GOD BLESS HITLER” apa bukan orang beriman? Kurang apa mereka imannya? Kok bodoh juga ya? Tidak mau memverivikasi sejarah, soalnya Yahudi itu belum tentu dalam kenyataan sejarahnya adalah umat yang dibantai Hitler dan antek anteknya. Sejarah Holocaust itu banyak diragukan. Bahkan sangat mungkin direkayasa Yahudi guna meraih simpati dunia, atau mungkin mereka punya rencana besar lainnya.

Orang orang yang makan iman, lalu teriak teriak Allahuakbar sambil berlaku anarkis itu apa contoh perilaku orang cerdas karena makan iman? Yang suka telan tafsir bulat bulat tanpa fikir dan verivikasi apa orang beriman yang cerdas? Yang suka meracuni pendengaran dan bikin macet jalan tanpa mencari solusi yang lebih manusiawi apa gambaran orang beriman yang cerdas?

Dan penutup khutbah kali ini adalah: PEACE…… Kalau mau perang, perang teknologi dan ide saja, atau perang batin argumen ilmiah dan terarah, bisa juga perang sampah. Daripada perang berdarah. Bagaimana pemirsa?

*ngeliat tulisan yang makin ngaco. Liat jam: Pukul 03:30 WITA. Waktunya tidur*

Pada masa kemunduran Islam seperti sekarang ini. Seorang wartawan berusaha mencari solusi yang tepat, salah satunya adalah mencari orang paling beriman sedunia agar bisa memberikan pencerahan bagaimana Islam bisa berjaya lagi. Dan penantian itupun menemukan ujungnya.

Sang wartawan tadi menemukan seorang Muslim yang memang paling berpotensi untuk memajukan Islam. Berikut wawancaranya:

  • Wartawan Pencari Solusi Kemajuan Islam (WPSKI): Selamat Siang Pak… Boleh Wawancara sebentar?
  • Bapak Berjenggot Yang Paling Beriman Sedunia (BBYPBS): Apa itu? Saya tidak mau menjawab selamat siang dari ente! Ulangi dengan salam!
  • (WPSKI): Mohon maaf Pak. Assalammualaikum.
  • (BBYPBS): Kurang lengkap! Ulang yang lengkap!
  • (WPSKI): Assalammualaikum warohmatullohiwabarokatuh Bapak…
  • (BBYPBS): Waalaikumsalam warohmatullohiwabarokatuh. Ente mau nanya afa? Ane sibuk nih, ane tidak punya banyak waktu. Ane harus ibadah demi meningkatkan iman
  • (WPSKI): Singkat saja pertanyaan saya Pak. Bagaimana supaya Islam bisa maju? Bagaimana supaya Islam bisa menjadi pemimpin dunia dan menjadi peraturan yang dipakai di setiap negara?
  • (BBYPBS): Gampang saja, mari kita kembali kepada zamannya Rasulullah dan para Sayyidina.
  • (WPSKI): Itu maksudnya bagaimana Pak? Bisa diperjelas?
  • (BBYPBS): Hal yang paling utama dan paling dasar serta paling mudah dilakukan: Tumbuhkan jenggot, pakai baju gamis untuk para laki laki. Pakai jubah lebar selebar dan sebesar kardus kulkas untuk para ferempuan, sisakan hanya mata yang terlihat.
  • (WPSKI): Tapikan itu budaya orang Arab dan orang orang yang tinggal di padang pasir Pak? Sementara di dunia ini tidak semua alam bentuknya padang pasir, apa tidak ada dispensasi penyesuaian dandanan Pak?
  • (BBYPBS): Tidak ada toleransi! Jalankan Syariat Islam dengan mutlak kalau mau Islam berjaya!
  • (WPSKI): Baiklah Pak, langkah selanjutnya apa Pak?
  • (BBYPBS): Berhentikan semua anak anak dari sekolah sekolah negeri dan sekolah umum! Belajar cuma buang buang waktu dan menurunkan kualitas iman. Masukkan semua anak anak Muslim ke pesantren. Pesanterennya sendiri isinya harus cuma pelajaran ibadah! Jangan ada pelajaran lain! Karena itu ilmunya orang kafir™!!!
  • (WPSKI): Waduh Pak, kalau begitu umat akan jadi bodoh dong Pak?
  • (BBYPBS): Siapa bilang? Dengan rajin ibadah, manusia akan makmur. Liatlah Nabi Sulaiman. Bahkan Nabi Muhammad. Apa mereka pernah sekolah di sekolah negeri yang isinya pelajaran umum? Tidak pernah bukan? Toh mereka tetap jadi pemimpin Islam yang sukses!
  • (WPSKI): Terus bagaimana dengan para umat Islamnya Pak?
  • (BBYPBS): Mulailah dengan membuang televisi, dan alat alat elektronik lainnya. Soalnya itu adalah perbuatan yang tidak pernah dicontohkan pada zaman Rasul. Lagipula, kebanyakan para pembuatnya adalah atheis atheis Jepang, Korea, Cina, dan KAFIR™ KAFIR™ Barat yang antek Yahudi itu!
  • (WPSKI): Lalu apalagi Pak?
  • (BBYPBS): Buang semua alat transportasi macam mobil, motor, pesawat, kapal bermesin dan lain sebagainya. Itu juga ciptaan atheis atheis Jepang, Korea, Cina, dan KAFIR™ KAFIR™ Barat yang antek Yahudi itu! Itu semua menyesatkan dan hanya akan memundurkan Islam!
  • (WPSKI): Lalu bagaimana kita bisa dapat informasi dari belahan dunia lain Pak? Terus bagaimana kita bisa bepergian?
  • (BBYPBS): Gunakan tafsir, ayat ayat suci dan hadist serta pendapat ulama. Disana informasi tidak terbatas dan ilmu tidak terbatas terdapat. Gunakan onta, kereta yang ditarik kuda dan jalan kaki untuk bepergian. Gunakan kapal layar untuk menyeberang lautan. Karena seperti itulah yang dilakukan para pendahulu pendahulu kita. Dan dengan begitulah Islam bisa menguasai dunia pada masa itu..
  • (WPSKI): Dengan kata lain, kalau kita melakukan hal itu, alias kembali seperti 14 abad yang lalu kita bisa maju dan menjadi umat paling terkemuka di dunia Pak?
  • (BBYPBS): Betul!
  • (WPSKI): Lalu bagaiman dengan anak anak Muslim Pak? Kalau mereka tidak belajar menggunakan akalnya, mereka akan jadi bodoh, tidak bisa berhitung, tidak bisa bersosialisasi..
  • (BBYPBS): Dengan rajin ibadah semuanya akan terpenuhi. Anda ini, anda meragukan kebenaran Islam sebagai satu satunya agama yang paling benar?
  • (WPSKI): Bukan begitu Pak, sayakan cuma bertanya
  • (BBYPBS): Jangan banyak bertanya, nanti antum jadi kafir™!!
  • (WPSKI): Baiklah Pak, terima kasih atas kesempatannya menjawab pertanyaan saya
  • (BBYPBS): Sama sama. Heh, tunggu dulu, itu yang ente gunakan tadi apa?
  • (WPSKI): Oh, ini MP3 player Pak, bisa buat merekam suara.
  • (BBYPBS): Buang juga itu, itu barang ciptaan Kafir™ merknya aja SONY!
  • (WPSKI): Lho? Bagaimana saya bisa mencatat kalau ini tidak dipakai Pak?
  • (BBYPBS): Gunakan kertas saja. Lebih baik jangan dicatat, karena dahulu Al Qur’an pun tidak pernah dicatat melainkan dihafalkan. Tidak seperti sekarang ini. Makanya Islam tidak kunjung maju maju
  • (WPSKI): Kalau tidak dicatat bukannya akan ada slip of the tongue Pak? Siapa tahu hadist hadist bisa tergelincir maknanya karena tidak dicatat. Siapa tahu kisah kisah para pendahulu Islam berubah jadi dongeng karena hanya diceritakan lewat mulut ke mulut
  • (BBYPBS): Ente ini sudah kafir™. Banyak protes sama Islam. Ente tidak beriman. Mau saya bunuh????!!!!!!!
  • (WPSKI): *Lari terbirit birit*

Anda pernah belajar Bahasa Indonesia di sekolah? Kalau anda sekolah di Indonesia tentu saja pernah, betul? Tapi kenapa ya, masih ada orang orang yang menanggap sepele pelajaran berbahasa? Saya percaya orang itu bukan anda. Iya kan?

Saya memang bukan lulusan sebuah lembaga pendidikan yang mengkhususkan alumnusnya untuk menjadi pengajar Bahasa Indonesia. Namun saya tercatat sebagai mantan mahasiswa sebuah lembaga yang menghasilkan tenaga pengajar. Mungkin kali ini saya bisa sedikit menyalurkan apa yang didapat selama pendidikan dulu.

Buat anda yang merasa nilai Bahasa Indonesia di raportnya bagus, sebaiknya anda minggat saja dari postingan yang tidak penting ini. Buat yang merasa ingin mengambil pelajaran dari apa yang akan ditulis di sini, silakan teruskan membaca, lalu kalau bisa berikan tambahan sebagai bahan pencerahan dan renungan buat saya. Atau buat siapa saja yang mau ikut mengambil pelajaran.

Totem pro parte. Adalah majas yang menyebutkan keseluruhan, tetapi yang dimaksud adalah sebagian. Contohnya: Indonesia menang dalam pertandingan bulu tangkis di Korea.

Demikianlah yang saya kutip dari selembar kertas hasil fotokopi yang tentu saja saya sendiri tidak tahu darimana sumbernya, atau pengarangnya ataupun penerbitnya. Karena itu hanyalah selembar kertas tanpa ada cantuman daftar pustakanya.

Sekarang contoh Totem pro parte dari saya: Indonesia mengirimkan pasukan bom bunuh diri ke Iraq dalam rangka membantu Iraq yang sedang berperang melawan Amerika Serikat.

Setiap kata kata yang bermakna suatu negara dalam kalimat contoh diatas adalah totem pro parte. Indonesia: apakah Indonesia-nya yang mengirimkan pasukan bom bunuh diri itu? Apakah Indonesia itu semacam makhluk hidup yang bisa melepaskan pasukan bom bunuh diri? Tentu tidak seperti itu bukan?

Yang dimaksudkan Indonesia tentu saja adalah para rakyatnya, para pemimpinnya dan unsur unsur lain dalam suatu negara yang bernama Indonesia. Tidak semua rakyat Indonesia suka perang. Tidak semua rakyat Indonesia adalah pejuang bom bunuh diri. Serta tentu saja tidak semua manusia berkewarganegaraan Indonesia ingin ke Iraq hanya untuk bunuh diri. Begitu juga dengan kata ‘Iraq’ dan ‘Amerika Serikat’.

Totem pro parte bisa menyingkat tempat jikalau digunakan untuk headline sebuah berita di media cetak. “Indonesia kirim 200 orang untuk menjadi relawan ke Iraq”. Bahkan bisa saja kalimat contoh saya tadi ditulis seperti itu apabila dimuat dalam headline sebuah koran.

Ketimbang menjelaskan panjang lebar apa itu Indonesia dalam kalimat headline, tentu saja akan lebih irit tempat kalau ditulis seperti itu saja. Lagipula wartawan dan editor beserta tukang cetak itu berita tentu saja bukanlah orang yang berkewajiban untuk menyadarkan, apalagi memaksa pembacanya untuk mengerti sepenuhnya. Karena apa? Ya karena tugas mereka adalah menyampaikan berita, bukan membuat masyarakat pembaca faham apa makna tersurat dan tersirat dalam sebuah berita.

Siapa yang bertugas untuk membuat pembaca faham apa makna tersurat dan tersirat? Menurut saya yang paling utama adalah dirinya sendiri. Gunakan segala macam pengetahuan, pengalaman dan pelajaran yang didapat oleh diri sendiri untuk membaca, memahami dan menyikapi sebuah wacana.

Bagi anak anak kecil yang belum banyak tahu, belum banyak pengalaman dan belum tahu banyak ajaran, tentu adalah tugas orang dewasa yang membagi ilmunya, dan memberitahu mereka. Sekalian mengajari dan saling berbagi tentunya. Bukan merasa dirinya benar sendiri. Dengan berbagi, kita dan mereka sama sama belajar, lantas jalan selanjutnya silakan tentukan masing masing. Siapa tahu kelak anak yang kita ajak berbagi bisa lebih pandai dari kita, sehingga gantian kita yang memetik ilmu dari anak tadi.

Kembali kepada contoh kalimat. Kalau diri masing masing sudah saling menggunakan segala pelajaran yang dan pengalaman yang pernah dipetik, tentunya setiap tenaga pendidik di sekolah tidak bakalan banyak keluhan karena murid muridnya sudah pada cerdas, paling tidak mau belajar sendiri untuk meningkatkan kemampuan tafsiran.

Buat yang lagi belajar agama, bukankah pelajaran berbahasa sangatlah penting? Untuk sopan santun, adab dan adat saat berdakwah dan berceramah, dan tentu saja dalam menafsirkan segala sesuatu, bukan hanya kitab kitab dan riwayat riwayat. Dan bukan hanya menafsirkan tentunya, dalam tindakanpun tentu saja akan berpengaruh.

Bersikap bijaksana dan berlogika dalam menanggapi suatu wacana atau acara, tentu saja hal itu adalah ciri orang orang yang baik dan bakalan disukai oleh manusia manusia lain yang ada disekitarnya. Meskipun orang itu tidak beragama. Jadi? Masa umat beragama mau mempermalukan diri sendiri dengan bersikap tidak bijaksana dan tidak berlogika?

Sekarang saya mau kasih contoh lagi. ‘Agama mengajarkan kepada manusia agar mempercayai Tuhan’. Apakah itu berarti ‘agama’ itu makhluk hidup yang bisa mengajar? Bukankah kata kata agama hanyalah sebuah totem pro parte dari umat beragama? Ya, siapa lagi yang mengajarkan untuk percaya Tuhan, berbuat baik kepada sesama, menjaga kelestarian alam, dan lain sebagainya kalau bukan umat beragama. Tentu saja bukan agamanya yang harus susah payah jadi guru untuk mengajar. Manusialah yang berusaha untuk mengajarkan ajaran agama. Bukan agama yang mengajarkan agama. Bukan begitu?

Anda menyimak tulisan ini dari awal sampai akhir? Terima kasih.. mungkin saya ingin merepotkan lagi sedikit dengan memberikan pekerjaan rumah. Apa pendapat atau tanggapan anda terhadap kalimat berita ini:

CNN Report: Islam Suka Akan Kekerasan dan Identik Dengan Pemaksaan. Hari ini Islam makin menancapkan citra mereka sebagai teroris dunia dengan menghancurkan sebuah tempat hiburan malam. Para pelaku berdalih hal ini dilakukan guna menyongsong bulan Ramadhan.

Pemerintah daerah dimana masyarakatnya mayoritas Islam telah menetapkan bahwasanya pada siang hari tidak boleh ada warung makanan dan minuman yang buka demi menghormati bulan Ramadhan. Tidak boleh pula terlihat ada manusia yang makan dan minum selama siang hari, tidak peduli siapa dia dan apa agamanya. Jikalau tertangkap melakukan kegiatan terlarang tadi maka akan dihadiahi hukuman cambuk dan denda.

Silakan tuliskan jawaban anda dalam bentuk essay yang bisa dikumpul kapan saja di kolom komentar di bawah ini. Jangan lupa untuk mengisi url jikalau anda memang punya dan berani untuk mengisikannya sehingga saya bisa menyerang balik ke alamat anda jikalau komentar anda tidak menyenangkan buat saya!

Kalau anda memang memberikan tanggapan, tolong gunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Paling tidak sesuai EYD. Bukan ejaan kearab araban, ketimur tengahan, kebarat baratan, apalagi kekebun binatangan dan kehutan hutanan. Karena saya mengertinya Bahasa Indonesia, bahasa Banjar, bahasa Inggris, Jerman, sedikit bahasa Spanyol, Prancis dan Italia. Bukan bahasa padang pasir, dan bukan bahasa asal salin rekat dari sumber tidak jelas dan meragukan bukan pula bahasanya para orang orang yang suka berdandan tidak sesuai pada tempatnya seperti manusia yang berdandan ala padang pasir padahal tinggalnya di negara tropis.

Demi mempermudah anda, sebaiknya gunakan bahasa nasional kita Bahasa Indonesia saja, biar saya terbantu dan mendapat tambahan ilmu serta para pembaca bisa saling membantu dan menambahkan. Setuju?

Selamat berkomentar bagi yang bersedia, saya ucapkan terima kasih duluan atas segala komentar anda yang manis dan memuji saya sebagai pria ganteng dan cerdas. Terima Kasih.
:D

Iman dan Logika

Maret 3, 2008

Lama tidak menulis nih. Gara gara keasyikan main Football Manager 2008. Berhubung Sabtu sampai hari ini tadi (02-03-200 8) saya camping semalaman bareng rekan rekan dan junior junior di IMPAS-B, dan bercakap cakap, timbul lagi inspirasi buat di tulis.

Sebenarnya selalu banyak inspirasi buat saya, hanya saja saya malas menuangkannya melalui keyboard. Entah kenapa kali ini saya berfikir bahwasanya hal yang satu ini selalu saja menarik dan sangat perlu untuk dituangkan melalui keyboard untuk kemudian ditampilkan ke weblog.

Seperti biasa, jikalau camping bersama sama dengan sesama anggota IMPAS-B, selalu ada session olahraga otak dari Abang terganteng dan tergagah sejagat IMPAS-B. Kali ini korbannya adalah peserta dari hasil Latihan Dasar kemaren. Dikala fajar, pertanyaan favorit sayapun terlontar: “Apakah kamu percaya Tuhan?”. Kalau iya, lalu pertanyaan selanjutnya adalah: “Apakah kegunaan/fungsi Tuhan?”. Dan pertanyaan ini didahului dengan pertanyaan dari junior saya: “Agamanya Abang apa?”. :D

Okelah, mungkin banyak orang Indonesia atawa mahasiswa di negara pengobral hutan ini yang masih belum siap dengan pertanyaan semacam itu sehingga langsung jump to conclusion: “Mempertanyakan keimanan seseorang”. Atau mungkin itu memang budaya relijius ketimur tengahan ketimuran khas Arab Indonesia?

It’s okay, saya jawab pertanyaan dia, lalu melanjutkan dengan “jawaban kamu?”. Salah seorang anggota lain juga saya berikan pertanyaan yang sama. Sementara anggota lain yang terdahulu bilang “itu memang kebiasaan Bang Farid. Bikin pusing adik adiknya dengan pertanyaan menyesatkan”. He he he.

Saya jawab ini adalah usaha sinkronisasi antara iman dan logika. Karena…..

  • Iman, tanpa logika = Brutality
  • Logika, tanpa iman = Madness

Orang yang modalnya cuma iman. Hasilnya adalah fanatisme buta, membungkus nafsu binatang dalam diri dengan pembenaran agama, hadis/ucapan pemuka agama/orang yang dianggap suci dan disakralkan, berikut ayat ayat kutipan dari kitab suci. Mencaci, menghujat, mengkafirkan. Hingga membantai sesama manusia dengan alasan agama demi mengejar janji surga.

Manusia yang cuma pakai logika adalah orang gila. Kerjanya hanya memikirkan dan mencari jawaban berbau sains atau mungkin filosofis realistis, tanpa menyadari adanya kekuatan yang hakiki. Tanpa mau tahu bahwasanya ada suatu kesempurnaan diatas batas logika yang kerap kali disebut sebagai yang serba Maha… Sehingga kerapkali, minimal menuju pemikiran logis yang menganggap bahwasanya dirinya adalah sang serba Maha tadi.

Jadi, buat apa percaya Tuhan tanpa tahu fungsinya? Buat apa tidak percaya Tuhan kalau tujuannya hanya ingin jadi Tuhan? Bagaimana menurut anda??…..

Oh ya, saya percaya para blogger dan calon komentator adalah orang orang beriman dan berlogika yang jauh lebih tinggi daripada saya. Dengan kata lain: lebih relijius serta lebih cerdas dan pandai ketimbang saya.

Sehingga, jikalau anda punya jawaban/pendapat yang lebih yahud dan realistis atau lebih relijius maupun tendensius ketimbang saya, mohon bantuannya. Sekalian saya mohon maaf kalau tidak bisa menjawab apa yang akan anda pertanyakan, karena saya cuma blogger berstatus manusia, bukan Tuhan….

Agama dan Spiritualitas

Nopember 15, 2007

Ada apa dengan agama? Melihat pertanyaan panjang dari Bang Fertob, Difo, tulisan tulisan di bataknews dan Sora9n di sini. Saya menjadi teringat akan cerita dari seorang teman yang dikisahkannnya kepada saya. Seorang teman yang menjadi aktifis lingkungan pernah menjadi duta (entah duta apa) yang mewakili Indonesia ke Afganistan. Di sana dia bertemu dengan seorang American yang sangat mencintai budaya timur, atau mungkin tepatnya Asia, terutama dari India.

Si American ini sering berdiskusi dengan teman saya itu. Pada suatu kesempatan, si American di tanya oleh teman saya tentang wanita wanita Afganistan yang menggunakan cadar dan jubah. Menurut pendapat si American, adalah wajar jikalau wanita wanita Afgan menggunakan jilbab, atau yang lebih tepatnya jubah dan cadar. Karena kalau menggunakan busana terbuka dan tidak menutupi wajah, maka gangguan utama dan sudah sangat pasti adalah debu.

Lalu teman saya melanjutkan dengan mengajaknya berdiskusi tentang keyakinannnya. Si American menjawab bahwasanya sampai saat itu, sampai saat ia berkata dan bercerita dengan teman saya itu, dia adalah seorang Christian. Mungkin kalau bahasa Indonesianya adalah kolom agama di KTP saya Kristen. Namun itu hanya sebatas formalitas saja kata sang American lagi.

Menurutnya, meski ia adalah seorang Cristian, namun banyak hal yang tidak ia pahami dan tidak setujui. Menurutnya: saya adalah seorang Cristian. Namun saya suka Yoga, semedi, dan berbagai ritual serta latihan batin ala Hindu dan Buddha. Saya juga seorang vegetarian. Bukan untuk sok sok’an, namun saya memang sebagai salah satu makhluk hidup haruslah turut serta menjaga kestabilan alam semesta. Setiap tarikan nafas dan hembusan nafas saya sudah merubah sesuatu di alam semesta ini, ujarnya lagi.

Si American, menurut teman saya itu memiliki tatapan mata yang tenang dan teduh, pembawaannya kalem, benar benar seperti pertapa yang telah menemukan kepuasan spiritualitas tingkat tingginya. Dia juga suka puasa, dengan alasan yang dia paparkan sangat panjang.

Lantas? Kenapa kamu tidak memilih Islam sebagai agama kamu? Tanya teman saya. Saat ini saya belum menemukan agama yang sesuai dengan kebutuhan batin saya jawabnya. Dengan kata lain, si American belum merasakan ada agama yang bisa memenuhi kebutuhan batinnya, sementara dengan semedi, yoga, puasa dan menjadi vegetarian, ia sudah merasa bahwa dirinya sudah cukup terpuaskan.

Untuk kemudian ia memaparkan lagi alasan alasan dan pandangannya terhadap berbagai agama yang ia kenal. Sebagai tambahan, si American ini juga sudah banyak mempelajari Islam.

Dari saya pribadi, setidaknya sang American memberikan saya tambahan pengetahuan bahwasanya agama, agama apa saja yang ada di dunia ini. Nampaknya belum menjadi sebuah pemuas kebutuhan batin. Hanya sebatas pada aturan aturan dan ritual, atau malahan mistik dan dongeng.

Apakah ritual dalam agama tidak berguna? Bisa jadi! Rajin ibadah belum tentu rajin membantu orang yang memang perlu dibantu. Rajin ke rumah tuhan belum tentu menjadikannya seorang yang bukan koruptor. Rajin baca kitab suci belum tentu menjadikannya seorang yang santun dan berbudi pekerti luhur. Edannya lagi, alim dalam urusan agama belum tentu menjadikan manusia menjadi seorang yang pandai! Contohnya ya Antosalafy

Si A adalah seorang muslim. Sudah naik haji berkali kali, rajin ke mesjid dan jadi imam. Namun tetap saja ia pelit. Pak B adalah seorang pejabat yang tidak pernah bolos ke gereja, namun kedudukannya sebagai kepala bagian instansi tertentu ternyata tetap saja membuat beliau menghamburkan uang dan menyedot uang melalui koropsi dan kongkalikong.

Tuan C sejak kecil sudah dilatih dan diajarkan tentang kitab suci Hindu/Buddha. Bahkan sudah hapal berbagai pelajaran agama Hindu/Buddha. Namun beliau sekarang adalah bosa suka marah marah, berkata kata kasar dan menghardik bawahannya. Malahan sering memarahi sambil menggunakan wejangan wejangan agama.

Saudara D itu lulusan sekolah agama terkenal. Punya banyak buku buku agama. Hafal kitab suci agamannya. Tau banyak tentang sejarah dan riwayat orang orang terkemuka pada agamanya. Namun cara beliau menasehati ponakannya yang sudah keluar masuk penjara itu amatlah tidak bijak.

Beliau selalu menggunakan nama Surga dan neraka sebagai janji manis dan janji pahit. Tak lupa kisah kisah mengerikan yang terkadang tercampur mistik guna menakuti sang ponakan. Bujukan untuk bertaubat dilaksanakan terus, namun tidak pernah berusaha memahami kebutuhan fisik sang ponakan.

Mungkin kalau ada yang membacanya sampai habis. Akan bertanya tanya pada saya, apakah ini nyata? Ya! Tapi jangan tanyakan saya bagaimana contohnya. Bukan takut atau tidak bisa memebrikan contoh, namun saya tidak mau menambah pergunjingan tak berguna. Lagipula, buat apa menggunakan dan memanfaatkan kesalahan orang lain untuk mempertahankan pendapat kita?

Tertawa, atau marah kepada seorang pemimpin dan penyebar agama baru? Kedua duanya. Namun sebenarnya, apakah yang menjadi alasannya? Tertawa, munkin dialami oleh orang orang yang tidak peduli agama, atau malahan sudah mencapai spiritualitas tingkat tinggi.

Marah, menghancurkan dan brutal justru dilakukan oleh orang orang yang sok ngerti agama. Jangan lupa bahwasanya di manapun juga, selama ada hukum yang berlaku, saya rasa tindakan menghancurkan dan tindakan kekerasan adalah tindakan kriminal!

Baik itu rumah ibadah, rumah pribadi, hingga rumah bordil. Apabila dihancurkan tanpa sebab, atau dihancurkan secara paksa tanpa pengesahan, menurut saya adalah tidakan kriminal. Terlebih lagi, tindakan demikian mencerminkan pendeknya atau dangkalnya cara berfikir dan memandang serta menyikapi keadaan dari para penghancur.

Bagaimana jika yang menjadi pengikut atau bahkan pemimpin agama baru tersebut adalah orang orang terdekat dan tercinta kita? Atau bahkan saya sendiri? Saya sendiri tidak akan pedulikan. Kalau orang tua saya, mungkin saya akan mengajak beliau berdiskusi.

Namun kalau selain itu, misalnya teman, saudara jauh maupun saudara dekat? Saya hanya akan berkata silakan dalam hati saya. Selama dia tidak memepengaruhi saya, selama dia atau mereka tidak menjahili dan menjahati saya, saya akan tetap berkata silakan pilih jalan anda sekalian masing masing.

Kesimpulan Dari Saya

Pemuka agama telah gagal dalam mengajarkan umatnya tentang kepuasan spiritual, selama ini yang terjadi banyak sebatas kepuasan semu. Ibadah dan cara pandang menurut agama memang tidak selamanya harus menyenangkan, namun bukan berarti harus selalu menyusahkan tentunya.

Anak anak muslim diajar sholat bukan untuk kepuasan lahir batinnya. Melainkan cuma buat tolak neraka. Padahal sholat tentunya meiliki hal yang lebih dari sekedar pahala. Kesehatan jiwa raga tentu ada di sana, namun ini nampaknya hanya berlaku buat orang orang dengan tingkat spiritualitas yang tinggi.

Lagipula saya bukan ahli agama, apalagi pernah melakukan penelitian terhadap sholat. Saya hanya percaya bahwasanya yoga, pemiusatan fikiran atau semedi itu tidak ada bedanya dengan sholat. Hanya gerakannya atau tata caranya yang berbeda. Tujuan utamanya selalu kepuasan spiritual, kalau yang ini dapat. Kepuasan fisik tentunya sudah turut didapatkan pula.

Dengan kata lain, kepuasan fisik mungkin adalah langkah awal, sebelum menuju kepuasan tingkat tinggi yaitu kepuasan spiritual. Nah, kenapa kepuasan spiritual yang dicari? Jika bisa mendapatkan jawabannya, itulah kepuasan spiritual.

Lebaran yang Berbeda

Oktober 20, 2007

Perayaan Idul Fitri tahun ini kembali berlangsung dalam hari yang berbeda. Yang bikin gara gara masih sama pelakunya dengan tahun tahun yang terdahulu. Siapa lagi kalau bukan pihak Muhammadiyah versus Nahdatul Ulama dan Pemerintah. Seperti biasa juga, Muhammadiyah mengumumkan perayaan Idul Fitri dengan tempo yang lebih cepat daripada dua musuh besarnya yang suka sekali berkolaborasi itu (NU dan Pemerintah). Muhammadiyah mengumumkan perayaan Idul Fitri jatuh pada hari Jum’at. Lebih cepat satu hari daripada Pemerintah dan NU yang akhirnya menetapkan hari Sabtu sebagai hari raya Idul Fitri.

Rapat digelar. Namun keputusan tetap sama. Mari kita membedakan diri dari Muhammadiyah! Barangsiapa yang berlebaran pada hari Kamis. Dia adalah kaum Muhammadiyah. Dan mereka adalah bid’ah!!

He he he. Itu mungkin hiperbola dari saya saja. Bisa juga doktrin tersirat yang ingin disampaikan oleh pemerintah dan NU. Jangan salahkan saya, karena siapapun berhak menilai hasil dari rangkuman kejadian yang terjadi. Hasil apa yang akan terjadi, dan bagaimana pandangan masyarakat, tidak bisa sepenuhnya dikendalikan oleh Pemerintah yang punya kerjaan memecah belah umat.

Sama dengan Death of the Blogger hasil tulisannya seorang blogger yang juga psikolog. Pengumuman tentang perbedaan ketetapan tanggal 1 Syawal dan perbedaan perayaan Idul Fitri bisa dimaknai apa saja oleh seluruh manusia yang ada di bumi ini. Salah satunya adalah pemaknaan seperti yang saya tuliskan dengan cetak tebal itu.

Sekarag saatnya saya sedikit bernostalgia ke jaman Orde Baru. Saat si Mbah Harto yang sakti dan kaya itu masih berkuasa. Saya sendiri lupa persisnya kejadiannya tahun berapa. Yang saya ingat masa itu adalah masa pertama kalinya saya merasakan perbedaan perayaan lebaran.

Untuk lebih mudahnya kita ambil saja tanggal tanggal di tahun 2007 ini sebagai pedoman. Pada masa itu, hari raya Idul Fitri jatuh pada hari Sabtu tanggal 13 Oktober 2007. Namun itu baru menurut penulisan tanggal merah di kalender. ada tanggal 11 Oktober 2007, alias hari Kamis yang juga saat itu dikatakan sebagai tanggal 28 Ramadhan.

Seperti biasa, saya dan anak anak sebaya berangkat ke Langgar. Namanya juga anak anak, sebenarnya saya dan teman teman berangkat ke Langgar bukan untuk sholat taraweh. Melainkan untuk MEROKOK! Karena anak anak masih dilarang merokok, maka anak anak sekampung saya selalu janjian utuk keluar rumah. Taraweh adalah senjata sakti yang bisa membuat kami semua keluar rumah. Kemudian kami berkumpul di dekat Langgar untuk mencari tempat sunyi buat bisa merokok. Tidak lupa pula kami mengumpulkan uang jajan untuk beli sebungkus rokok buat diisap secara berjamaah.

Biasanya kalau sudah begitu, kami bakalan lupa waktu. Karena terlalu asyik mengisap asap rokok sekalian bersenda gurau. Pernah suatu waktu saya pulang ke rumah pada saat orang Taraweh bahkan tadarus sudah bubar. Semua gara gara kesyikan bermain dan merokok bersama teman teman.

Seperti halnya anak kecil jaman kami kebanyakan. Kami juga dititipi buku Pelajaran Berdusta dari sekolah. Buku yang biasanya harus diisi dengan daftar berapa hari berpuasa, berapa hari taraweh plus paraf imam tarawehnya. Berapa kali sholat dalam sehari selama bulan puasa. Berpa ayat Al Qur’an yang dibaca setiap harinya, dan lain sebagainya.

Saya? Saya memang sudah hobi/bakat berdusta sejak kecil. Setiap harinya saat bulan Ramadahan sholat saya dalam daftar di buku itu selalu full. Karena orang tua saya selalu menandatanganinya dan menconteng kolom “Ya” sebagai tanda mereka mengetahui bahwasanya saya memang sholatnya lima kali sehari. Padahal? He he he, untuk urusan ini biar Sang Pencipta saya saja yang tau bagaimana yang sebenarnya.

Untuk taraweh plus paraf imam. Biasanya saya titipkan buku itu keada salah seorang teman saya yang memang rajin taraweh untuk memintakan paraf imam saat taraweh. Atau saya matikan dulu rokok saya, beranjak dari Blok M, untuk kemudian bergegas ke Langgar saat sholat taraweh akan usai untuk meminta tanda tangan imam.

Malam itu. Seperti biasa, setelah berbuka puasa saya keluar rumah dengan alasan taraweh (padahal sebenarnya mau merokok berjamaah bersama teman teman sebaya). Seusai sholat Isya, kamipun langsung Allahuma antassalam lantas pulang. Alias melarikan diri menuju Blok M. Blok M adalah sebutan kami untuk tempat tempat kami biasa merokok. Tempatnya bisa rumah tua yang kosong tak berpenghuni, warung warung pinggir jalan yang memang tutup selama bulan Ramadhan. Bisa juga di tempat tempat berumput tinggi sehingga kami bisa terlindung dari pandangan orang.

Klepas klepus asap rokok pun mengepul ngepul dari mulut anak anak bengal ini. Sambil bercanda ceria, sesekali kami memasang telinga terhadap suara dari megaphone Langgar. Biasanya kami melakukan ini agar bisa mengenali suara imam sholat taraweh di Langgar. Sehingga kami bisa menuliskan nama imam sholat taraweh di buku yang siap diparaf. He he he. Kebetulan di Langgar kampung saya dahulu, imamnya cuma ada 3 orang. Yang tugasnya bergantian. Maka dari itu sangatlah gampang buat kami untuk mengenali suara, nama, dan bahkan bentuk paraf mereka bertiga untuk kemudian parafnya kami palsukan. He he he he.

Namun malam itu telinga kami sama sekali tidak tercemari oleh suara suara keras dari megaphone Langgar sebagaimana malam malam bulan Ramadhan sebelumnya. Padahal kami sudah habis habisan pasang gaya manusia bionik untuk mendengarkan suara dari Langgar. Biasanya setiap Langgar dan tempat ibadah lainnya macam Mesjid atau Mushalla di kampung ini dan kampung sekitarnya selalu terjadi adu kencang suara megaphone. Tambah lagi kalau Mesjid yang banyak jemaah Muhammadiyah-nya berdekatan dengan Mesjidnya orang orang NU, dijamin perang megaphone bakalan berlangsung sengit.

Meski sedikit bertanya tanya, anak anak bengal ini masih melanjutkan merokok. Sampai pada jam dimana kami biasanya balik ke Langgar guna mendapatkan paraf imam sholat taraweh.

Yang kami temui saat itu adalah Langgar yang hampir kosong melompong, hanya ada beberapa langganan Langgar yang nongkrong sambil mendengarkan radio. ‘Deg’. Saya sangat terkejut. Taraweh sudah usai. Hal ini berarti bahwa saya melewatkan satu kolom untuk diisi paraf imam. Hasilnya kelak adalah jatah duit lebaran yang bakalan berkurang. Plus omelan orang tua saya karena saya tidak taraweh.

Selanjutnya sayapun berlari sekencang kencangnya ke rumah. Sudah saya niatkan dalam hati bahwasanya sesampainya di rumah nanti saya akan langsung masuk kamar untuk kemudian pura pura tidur. Daripada dimarahi gara gara melewatkan taraweh.-Padahal aslinya memang selalu bolos taraweh. He he he-.

Namun apakah yang terjadi sesampainya saya di rumah? Orang tua saya nampak tenang tenang saja. Bahkan tidak bertanya seperti apa yang sudah saya bayangkan sebelumnya: “Tadi tarawehnya bolos Nak?”. Ternyata mereka sedang menonton televisi sambil menunggu pengumuman hasil rapat keputusan tanggal berapa 1 Syawal akan disamakan dengan tanggalan Masehi.

Keputusan akhir yang kemudian muncul di News Flash di setiap televisi baik swasta maupun pemerintah saat itu. “Idul Fitri jatuh pada taggal 13 Oktober 2007. Namun bagi yang meyakininya, bisa melaksanakan sholat Idul Fitri pada esok hari tanggal 12 Oktober 20007″. Entah kenapa pada saat itu tidak ada tampang oknum oknum pemerintah termasuk menteri agama yang muncul di televisi. Semuanya hanya diumumkan dalam bentuk News Flash.

Otak manusia, otak setiap manusia Indonesia, atau bahkan mungkin tidak hanya otak setiap manusia Indonesia melainkan sampai pada otak otak orang orang lain di luar Indonesia, tentu berfikir apakah gerangan yang menyebabkan terjadinya perbedaan perayaan hari besar keagamaan umat yang agamanya paling banyak mengisi kolom agama di KTP itu?

Setiap manusia Indonesia pada saat itu memiliki fikiran dengan segala warna warninya, beserta versi pendapat masing masing. Sementara saya pada saat itu berpendapat bahwasanya kejadian ini adalah akal akalannya Mbah Harto saja. Jauh sebelum hari raya Idul Fitri mendekat, si Mbah sudah menyiapkan acara buang duit besar besaran yang namanya sebesar judul acaranya Takbir Akbar Bersama Presiden di Mesjid Istiqlal.

Acara besar besaran yang juga dibesar besarkan itu rencanaya dilaksanakan pada malam hari tanggal 12 Oktober 2007. Jikalau pemerintah (Mbah Harto) menerima pendapat Muhammadiyah-yang saat itu juga mengumunkan bahwasanya Ramadhan cuma 29 hari-, maka rencana besar besaran Mbah Harto bakalan gagal. Padahal sejak beberapa hari sebelum hari itu termasuk hari Kamis, pemberitaan tentang persiapan acara itu sudah habis habisan juga. Kalau Idul Fitri jatuh pada tanggal 12 Oktober 2007. Maka acara tersebut sudah basi dan tidak bisa lagi disebut Takbir Akbar.

Jikalau mungkin mayoritas masyarakat pada saat itu menganggap bahwasanya yang hari raya duluan adalah kaum minoritas. Saya justru menganggap semua YANG BERHARI RAYA BELAKANGAN ADALAH PARA PENDUSTA AGAMA DAN CALON PENGHUNI NERAKA JAHANAM!!

He he he. Itu pendapat sekaligus pandangan saya dahulu kok. Meski sampai sekarang saya tidak pernah ikut hari raya yang ditetapkan oleh pemerintah. Bukan karena saya fanatik apalagi sampai menuhankan Muhammadiyah. Bukan juga karena saya ingin membedakan diri dan tidak mau disebut seorang penganut aliran NU. Melainkan karena saya memang sudah malas puasa. Kalau ada yang cepat, kenapa harus lambat? He he he he he.

Mulai dari sana sampai seterusnya. Jikalau saya masih ketemu Idul Fitri. Siapapun yang mengumumkan hari raya Idul Fitri jatuh lebih cepat, saya pasti ambil yang cepat. Silakan mau mencap saya seorang pengikut atau penganut Muhammadiyah atau NU. Saya sudah bosan dan tidak mau perdulikan segala macam urusan konyol macam itu.

Sejak kecil saya sudah di paksa untuk membesarkan sekalian memperbesar dan membesar besarkan perbedaan tentang orang orang NU dan Muhammadiyah. Sejak kecil saya sudah dikasih makan makanan batin berupa sholat taraweh 20 rakaat plus witir 3 rakaat itu adalah kerjaannya orang orang NU. Sedangkan kalau mau jadi seorang pengikut Muhammadiyah saya harus sholat taraweh 8 rakaat plus 3 rakaat sholat witir.

Pada kenyataannya, yang 8 saja saya malas melaksanakan. Apalagi yang 20. He he he. Makanya kalau saya sholat taraweh pun, sama seperti keputusan hari saya Idul Fitri. Saya pasti ambil yang cepat. karena sekali lagi saya katakan. Kalau ada yang cepat, kenapa harus lambat?

Balik lagi ke hari hari dimana si Mbah membutikan kekuasaannya yang absolut-bahkan sampai sampai bisa mengalahkan majalah bertaraf internasional sekelas Time-dengan semena mena. Pada pagi hari tersebut, di hari Jum’at 12 oktober 2007. Saya bersama keluarga, dan penganut aliran Muhammadiyah cepat lainnya melaksanakan sholat Id. Diiringi tatapan kosong oleh para pengikut NU orang orang yang lain yang tidak merayakan Lebaran pada hari yang sama. Disambut tatapan mata iri oleh teman teman sebaya saya, karena saya sudah makan makanan ringan dalam perjalanan pulang sementara sebagian teman teman saya masih harus puasa.

Ada juga teman saya yang ikut aliran keluarganya. Tidak sholat sunat Idul Fitri pada hari Jum’at. Tetapi juga tidak puasa di hari Jum’at. Sehingga mereka sholat Id nya ikut hari Sabtu. Jadi meskipun percaya pada kecepatan versi Muhammadiyah, mereka masih malu malu untuk murtad dari NU. Sehingga mereka memikirkan cara untuk tetap tidak ingkar dari kesan sebagai pemeluk NU, meski sebenarnya sudah mendukung dan tertarik Muhammadiyah. He he he he.

Besok besok kalau ada Idul Adha. Maulid Nabi, Isra Mi’raj. Atau tahun baru Hijriyah. Yang merasa Idul Fitrinya duluan silakan duluan merayakan hari hari tadi, pun yang belakangan juga jangan bersama sama merayakannya. Bukankah kalian sudah memutuskan untuk menjadi beda? Jadi yang Idul Fitrinya belakangan. Naik Hajinya nanti juga harus belakangan. He he he he.

Bagi saya, blogger yang baik adalah blogger yang selalu berniat bahkan hingga mampu membantu Para Pengunjung Blog melalui tulisan/gambar/video/suara yang ada di blognya. Kalau tidak bisa membantu, untuk apa mem-publish tulisannya di dunia internet. Kalau memang nge-blog hanya untuk pribadi, kenapa tidak hanya disimpan di hardisk? Kenapa harus disebar-sebar pada publik? Kalau tidak mau dibaca publik, kembali saja ke jaman 80-an, nulis di diary kertas merah jambu dengan sampul plastik Hello Kitty juga yang berwarna merah jambu.

Kutipan dari artikelnya Bang Arif Kurniawan yang saya kagumi itu membuat saya memikirkeun bagaimana caranya supaya tulisan saya yang maha dahsyat ini bisa dinikmati oleh para pembaca lainnya. Kata lainnya adalah saya mengajak pembaca lainnya untuk berbagi. Sekalian mengais traffic.

Adalah mustahil bagi saya untuk berdoggy style ria di blog blog orang lain demi mempublikasikan artikel atau alamat blog. Maka dengan demikian, saya mengirimkan tembusan tembusan saja. Buat semua yang bersedia menerima tembusan yang saya berikan (kalaupun memang tembus). Saya ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya. Mereka yang dikirimi tembusan: