Ha ha ha
Mei 30, 2008
fire
n.
- the state of burning, in which substances combine chemically with oxygen from the air and give out bright light, heat, and smoke. a destructive burning. one of the four elements in ancient and medieval philosophy and in astrology.
- a collection of fuel burnt in a hearth or stove for heating or cooking. Brit. (also electric fire or gas fire) a domestic heating appliance that uses electricity (or gas) as fuel.
- a burning sensation. passionate emotion or enthusiasm.
- the firing of guns. strong criticism.
v.
- propel (a bullet or projectile) from a gun or other weapon. discharge (a gun or other weapon). direct a rapid succession of (questions or statements) towards someone.
- informal dismiss from a job.
- supply (a furnace, power station, etc.) with fuel. (of an internal-combustion engine) undergo ignition of its fuel. set fire to.
- stimulate (the imagination or an emotion). fill with enthusiasm: he was fired up for the Cup final.
- bake or dry (pottery, bricks, etc.) in a kiln.
That word may have more than one meaning and usage. However, I am sure you would not use “counterfeit” to express farmer’s activity in his field or what terrorists do to the plan or ship.
Inspired by this post and this comment. Ha ha ha ha *continue laughing*
Someone says truth is not universal, you may consider one thing as a truth while others do not. Yes, I do agree with that, but at some cases, there are something can be said as ultimate truth! Ahmad Dhani kiss Mulan is completely a grammatical error! Because first person singular must be followed by verb 1 + s. I think Mister John knows how is the correct simple sentence must be, is that right Mister John?
There are thousand people called John in this world, that name may refer to anyone in this world, it is not like the name such as Susilo Bambang Yudhoyono that must be known as Indonesian president who always nods to what Capitalists want.
Therefore, I claim that this post contains no personal attack (usually called Argumentum ad hominem) because I use anonymous example. Ha ha ha.
Pelajaran Berbahasa Buat yang Merasa Beragama
Maret 26, 2008
Anda pernah belajar Bahasa Indonesia di sekolah? Kalau anda sekolah di Indonesia tentu saja pernah, betul? Tapi kenapa ya, masih ada orang orang yang menanggap sepele pelajaran berbahasa? Saya percaya orang itu bukan anda. Iya kan?
Saya memang bukan lulusan sebuah lembaga pendidikan yang mengkhususkan alumnusnya untuk menjadi pengajar Bahasa Indonesia. Namun saya tercatat sebagai mantan mahasiswa sebuah lembaga yang menghasilkan tenaga pengajar. Mungkin kali ini saya bisa sedikit menyalurkan apa yang didapat selama pendidikan dulu.
Buat anda yang merasa nilai Bahasa Indonesia di raportnya bagus, sebaiknya anda minggat saja dari postingan yang tidak penting ini. Buat yang merasa ingin mengambil pelajaran dari apa yang akan ditulis di sini, silakan teruskan membaca, lalu kalau bisa berikan tambahan sebagai bahan pencerahan dan renungan buat saya. Atau buat siapa saja yang mau ikut mengambil pelajaran.
Totem pro parte. Adalah majas yang menyebutkan keseluruhan, tetapi yang dimaksud adalah sebagian. Contohnya: Indonesia menang dalam pertandingan bulu tangkis di Korea.
Demikianlah yang saya kutip dari selembar kertas hasil fotokopi yang tentu saja saya sendiri tidak tahu darimana sumbernya, atau pengarangnya ataupun penerbitnya. Karena itu hanyalah selembar kertas tanpa ada cantuman daftar pustakanya.
Sekarang contoh Totem pro parte dari saya: Indonesia mengirimkan pasukan bom bunuh diri ke Iraq dalam rangka membantu Iraq yang sedang berperang melawan Amerika Serikat.
Setiap kata kata yang bermakna suatu negara dalam kalimat contoh diatas adalah totem pro parte. Indonesia: apakah Indonesia-nya yang mengirimkan pasukan bom bunuh diri itu? Apakah Indonesia itu semacam makhluk hidup yang bisa melepaskan pasukan bom bunuh diri? Tentu tidak seperti itu bukan?
Yang dimaksudkan Indonesia tentu saja adalah para rakyatnya, para pemimpinnya dan unsur unsur lain dalam suatu negara yang bernama Indonesia. Tidak semua rakyat Indonesia suka perang. Tidak semua rakyat Indonesia adalah pejuang bom bunuh diri. Serta tentu saja tidak semua manusia berkewarganegaraan Indonesia ingin ke Iraq hanya untuk bunuh diri. Begitu juga dengan kata ‘Iraq’ dan ‘Amerika Serikat’.
Totem pro parte bisa menyingkat tempat jikalau digunakan untuk headline sebuah berita di media cetak. “Indonesia kirim 200 orang untuk menjadi relawan ke Iraq”. Bahkan bisa saja kalimat contoh saya tadi ditulis seperti itu apabila dimuat dalam headline sebuah koran.
Ketimbang menjelaskan panjang lebar apa itu Indonesia dalam kalimat headline, tentu saja akan lebih irit tempat kalau ditulis seperti itu saja. Lagipula wartawan dan editor beserta tukang cetak itu berita tentu saja bukanlah orang yang berkewajiban untuk menyadarkan, apalagi memaksa pembacanya untuk mengerti sepenuhnya. Karena apa? Ya karena tugas mereka adalah menyampaikan berita, bukan membuat masyarakat pembaca faham apa makna tersurat dan tersirat dalam sebuah berita.
Siapa yang bertugas untuk membuat pembaca faham apa makna tersurat dan tersirat? Menurut saya yang paling utama adalah dirinya sendiri. Gunakan segala macam pengetahuan, pengalaman dan pelajaran yang didapat oleh diri sendiri untuk membaca, memahami dan menyikapi sebuah wacana.
Bagi anak anak kecil yang belum banyak tahu, belum banyak pengalaman dan belum tahu banyak ajaran, tentu adalah tugas orang dewasa yang membagi ilmunya, dan memberitahu mereka. Sekalian mengajari dan saling berbagi tentunya. Bukan merasa dirinya benar sendiri. Dengan berbagi, kita dan mereka sama sama belajar, lantas jalan selanjutnya silakan tentukan masing masing. Siapa tahu kelak anak yang kita ajak berbagi bisa lebih pandai dari kita, sehingga gantian kita yang memetik ilmu dari anak tadi.
Kembali kepada contoh kalimat. Kalau diri masing masing sudah saling menggunakan segala pelajaran yang dan pengalaman yang pernah dipetik, tentunya setiap tenaga pendidik di sekolah tidak bakalan banyak keluhan karena murid muridnya sudah pada cerdas, paling tidak mau belajar sendiri untuk meningkatkan kemampuan tafsiran.
Buat yang lagi belajar agama, bukankah pelajaran berbahasa sangatlah penting? Untuk sopan santun, adab dan adat saat berdakwah dan berceramah, dan tentu saja dalam menafsirkan segala sesuatu, bukan hanya kitab kitab dan riwayat riwayat. Dan bukan hanya menafsirkan tentunya, dalam tindakanpun tentu saja akan berpengaruh.
Bersikap bijaksana dan berlogika dalam menanggapi suatu wacana atau acara, tentu saja hal itu adalah ciri orang orang yang baik dan bakalan disukai oleh manusia manusia lain yang ada disekitarnya. Meskipun orang itu tidak beragama. Jadi? Masa umat beragama mau mempermalukan diri sendiri dengan bersikap tidak bijaksana dan tidak berlogika?
Sekarang saya mau kasih contoh lagi. ‘Agama mengajarkan kepada manusia agar mempercayai Tuhan’. Apakah itu berarti ‘agama’ itu makhluk hidup yang bisa mengajar? Bukankah kata kata agama hanyalah sebuah totem pro parte dari umat beragama? Ya, siapa lagi yang mengajarkan untuk percaya Tuhan, berbuat baik kepada sesama, menjaga kelestarian alam, dan lain sebagainya kalau bukan umat beragama. Tentu saja bukan agamanya yang harus susah payah jadi guru untuk mengajar. Manusialah yang berusaha untuk mengajarkan ajaran agama. Bukan agama yang mengajarkan agama. Bukan begitu?
Anda menyimak tulisan ini dari awal sampai akhir? Terima kasih.. mungkin saya ingin merepotkan lagi sedikit dengan memberikan pekerjaan rumah. Apa pendapat atau tanggapan anda terhadap kalimat berita ini:
CNN Report: Islam Suka Akan Kekerasan dan Identik Dengan Pemaksaan. Hari ini Islam makin menancapkan citra mereka sebagai teroris dunia dengan menghancurkan sebuah tempat hiburan malam. Para pelaku berdalih hal ini dilakukan guna menyongsong bulan Ramadhan.
Pemerintah daerah dimana masyarakatnya mayoritas Islam telah menetapkan bahwasanya pada siang hari tidak boleh ada warung makanan dan minuman yang buka demi menghormati bulan Ramadhan. Tidak boleh pula terlihat ada manusia yang makan dan minum selama siang hari, tidak peduli siapa dia dan apa agamanya. Jikalau tertangkap melakukan kegiatan terlarang tadi maka akan dihadiahi hukuman cambuk dan denda.
Silakan tuliskan jawaban anda dalam bentuk essay yang bisa dikumpul kapan saja di kolom komentar di bawah ini. Jangan lupa untuk mengisi url jikalau anda memang punya dan berani untuk mengisikannya sehingga saya bisa menyerang balik ke alamat anda jikalau komentar anda tidak menyenangkan buat saya!
Kalau anda memang memberikan tanggapan, tolong gunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Paling tidak sesuai EYD. Bukan ejaan kearab araban, ketimur tengahan, kebarat baratan, apalagi kekebun binatangan dan kehutan hutanan. Karena saya mengertinya Bahasa Indonesia, bahasa Banjar, bahasa Inggris, Jerman, sedikit bahasa Spanyol, Prancis dan Italia. Bukan bahasa padang pasir, dan bukan bahasa asal salin rekat dari sumber tidak jelas dan meragukan bukan pula bahasanya para orang orang yang suka berdandan tidak sesuai pada tempatnya seperti manusia yang berdandan ala padang pasir padahal tinggalnya di negara tropis.
Demi mempermudah anda, sebaiknya gunakan bahasa nasional kita Bahasa Indonesia saja, biar saya terbantu dan mendapat tambahan ilmu serta para pembaca bisa saling membantu dan menambahkan. Setuju?
Selamat berkomentar bagi yang bersedia, saya ucapkan terima kasih duluan atas segala komentar anda yang manis dan memuji saya sebagai pria ganteng dan cerdas. Terima Kasih.
![]()
Bersuara Dengan Lantang
Oktober 22, 2007
Pernah terfikir oleh saya. Bahwasanya menjadi seorang blogger hanyalah sebuah kesia sian dan membuang buang waktu. Apa gunanya menulis buat blog? Menghasilkan uang? Menghasilkan jumlah hits? Ataukah hanya sekedar kepuasan batin? Atau menjadi ajang silaturahim mungkin?
Maka sayapun berusaha menyuarakan isi pikiran saya melalui blog juga. Guna menjawab pertanyaan yang justru diajukan oleh isi kepala saya sendiri.
Menulis di blog, atau mengisi blog dengan tulisan kita adalah suatu hal yang gampang gampang susah sekalian susah susah gampang. Gampang kalau kita memang menginginkan blog kita hanya sebagai catatan harian. Tinggal tulis apa yang kita alami sehari hari. Atau catatan kegiatan kita selama hidup.
Namun bagi sebagian blogger yang memiliki nilai nilai karya sastra yang tinggi. Catatan harian dan pengalaman hidup saja sudah cukup untuk menjadi ajang pencerahan dan menambah pengetahuan serta pengalaman bagi para pembacanya.
Ada juga blogger yang catatan hariannya menjadi suatu pertentangan. Menimbulkan perang antara pembaca dengan penulis blog, pembaca dan pembaca, atau pembaca dan pemilik blog versus pembaca lain.
Pertentangan itu bisa berupa pertentangan idealisme, pertentangan prinsip hidup, bahkan pertentangan tentang kepercayaan, keyakinan dan agama. Yang bagian ini juga merupakan seorang blogger yang karyanya layak kita acungi jempol.
Blogger yang catatatannya menjadi bahan acuan oleh blogger lain juga merupakan seorang blogger yang hebat. Isi blognya mungkin memang catatan, namun catatannnya misalnya berisi tentang pengalaman mendaki Himalaya sampai puncak. Atau pengalamannya mewawancarai bintang film dan musisi ternama.
Bisa juga catatannya merupakan catatan sang blogger saat mengajar, dimana catatan dari seorang blogger tadi dilengkapi dengan bahan bahan yang diajarkan dan disampaikan dalam kelas dimana sang bloger mengajar.
Ada juga blogger yang menggunakan blognya sebagai ajang menampung tulisan tulisan dari berbagai penjuru. Blogger yang menggunakan blognya sebagai kumpulan kutipan dan bahan bahan yang didapat dan disukainya selama ini. Sampai sampai blogger yang menggunakan blognya sebagai ajang permusuhan dan propaganda.
Kritikan dan saran juga sering ditemukan dalam isi blog. Kritikan sosial, politik, agama bahkan kritikan terhadap diri sendiri, orang lain, organisasi lain hingga kritikan buat negara sendiri dan negara lain juga bisa ditemukan dalam blog.
Ringkasnnya. Isi blog bisa bermacam macam. Sesuai minat dan bakat sang penulis blog. Dari berbagai jenis isi tulisan di blog. Ada satu kesimpulan yang saya simpulkan menurut pemikiran saya sendiri. Yaitu bahwasanya seorang blogger adalah orang yang mau bersuara.
Suara disini maksudnya bukan suara bising atau gaduh maupun teriakan teriakan dan jeritan seperti yang sering dilakukan para penghuni tempat ibadah yang mengotori suara dengan megapone. Ataupun kotoran suara yang dihasilkan oleh orang orang yang suka memperbesar suara knalpot motornya. Melainkan sebuah penyampaian ide kepada khalayak ramai. Dalam hal ini para pembacanya.
Dan orang orang yang berani bersuara adalah lebih baik ketimbang orang orang yang hanya memendam kemampuannya di otaknya atau buku hariannya sendiri. Orang orang yang bersuara dengan nada kritikan juga lebih baik ketimbang orang orang yang hanya bisa memaki dalam hati tanpa ada niat dan usaha untuk kemajuan.
Blogger blogger yang kritis, bagi saya adalah Iwan Fals di dunia blog. Kenapa Iwan Fals? Karena beliau adalah orang yang berani menyuarakan kritik sosialnya. Iwan Fals, adalah seorang musisi sekaligus seniman sejati. Karya karyanya bernilai sastra tinggi sekaligus berisi kepeduliannya terhadap masyarakat. Iwan Fals juga menyuarakan perubahan melalui kritik kritik dalam lagunya.
Sawung Jabo: Ketika semua orang bersuara dan berteriak. Tidak ada seorangpun yang dapat disebut pemberani. Namun saat semua diam, dan ada yang berbisik… dialah peberani sejati.
Semua orang, atau lebih tepatnya semua blogger adalah orang orang yang bersuara. Namun hanya sedikit dari semua blogger yang berani bersuara terhadap hal hal yang lazimnya didiamkan.
Ah, tidak juga nampaknya. Semua blogger sebenarnya bisa bersuara lantang (baca:mengkritik). Hanya saja nampaknya banyak blogger yang masih belum terarah ataupun terasah kelantangan suaranya.
Perlu diingat, bahwasanya apa yang disuarakan itu adalah suara suara yang disuarakan dengan lantang, bukan lancang. Alias kritikan yang bersifat membangun atau mungkin membongkar kembali opini dan topik topik yang selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan.
Para wordpresser, apalagi yang sudah cukup veteran tentu tau siapa salah satu blogger yang berani bersuara dengan lantang. Siapa blogger yang suka bersuara dengan lancang, ataupun bersuara dengan ketidakpedulian terhadap suara suara blogger lain.
Marilah bersuara. Apakah itu dengan lancang, lantang, atau bahkan bersuara dengan sopan hingga bersuara dengan tujuan memaki atau omong kosong. Yang penting bersuara. Setidaknya orang orang yang bersuara adalah lebih baik daripada diam membisu. Untuk kali ini, diam adalah emas nampaknya tidak berlaku.
Setelah berani bersuara? Bersiaplah menghadapi suara tandingan. Suara tandingan yang mungkin lebih lantang, maupun suara lantang yang mendukung. Bisa juga pembungkaman dan caci maki serta omelan dari suara suara lainnnya. Tak terlepas pula suara sumbang dan mengejek.
Namanya juga berbuat, pasti ada hasil balasannya. Apa yang kita suarakan akan mendapatkan suara balasan yang berbagai macam jenisnya. Dan jangan takut untuk menerimanya. Selantang lantangnya dan selancang lancangnya suara balasan, semuanya adalah proses pembelajaran dan pengalaman. Baik bagi si penyuara maupun si pendengar.
Sayangnya, suara lain kerapkali muncul. Suara dengan jenis polusi dan keributan. Suara suara macam ini biasanya sangat mengganggu, baik itu penyuara maupun pendengar. Apakah kita harus diamkan saja? Ada yang berkata “ya”. Ada juga yang tidak suka dan mempersiapkan sumbat duluan supaya tidak dikotori dan dibisingi. Ada yang pasang pesan agar jangan berbising ria dan mengotori. Ada juga yang membalas kotoran dan kebisingan dengan lebih kotor dan lebih bising.
Blog saya masih baru. Kira kira apa suara blog saya? Entahlah, para pendengar yang lebih cerdas dalam menilai suara blog saya. Saya hanya bisa berharap agar saya tidak berhenti bersuara. Paling tidak bersuara melalui pengantar bernama blog. He he he.
Ini hanyalah tulisan dari seorang anak manusia yang tidak bisa tidur, meski jam dinding sudah menunjukkan pukul 4 subuh. Serta masih kesal karena harddisknya yang diantara isinya terdapat banyak halaman halaman blog yang menarik masih belum sembuh.
Jadi kalau suara kali ini bising dan tidak karuan. Silakan tutup telinga ada. Tidak usah didengarkan kalau terasa menggangu pendengaran anda sekalian.


