Dosen dan Status Sosial
Nopember 26, 2007
Sebenarnya saya berniat untuk memajang foto foto dan sekalian bercerita tentang datangnya idaman hati. Namun biar nanti saja, lagi pula di sini bukan tempat yang baik buat saya untuk memajang foto. Soalnya koneksi terbatas. Maka biarlah saya bercerita tentang yang lain saja.
Dahulu kala, di saat saya masih memiliki kartu tanda pengangguran intelektual. Sering kali saya memanfaatkan beberapa keadaan guna menambah penghasilan. Mungkin lebih tepat jikalau saya katakan sebagai penambah kesenangan.
Ada jalan yang saya ambil sebagai pendekatan emosional, sehingga saya tidak perlu bayar saat naik angkutan umum buat mahasiswa. Yaitu dengan cara berkawan dengan si Abang pengemudi bus angkutan mahasiswa, sekalian jadi tukang tarik tarif angkutan. Dengan demikian, setiap kali naik angkutan mahasiswa, saya tidak perlu keluarkan ongkos. Bahkan bisa minta rokok sama si Abang.
Tidak jarang pula si Abang mengajak saya makan dan minum di warung saat waktu luang. Jadilah, saya yang seharusnya menafkahi beliau melalui pembayaran tarif angkutan mahasiswa, malahan menjadi benalu buat beliau. Kalau dipikir pikir ulang, tindakan saya sungguh menyusahkan. Namun beliau yang baik itu tidak pernah mengeluhkan hal itu. Kalaupun iya, beliau lebih suka minta tolong saya buat melakukan hal lain macam ke pasar buat membantu beliau belanja ketimbang menyoal pembayaran saya macet itu.
Bayar. Hal itulah yang saya usahakan. Saya jelas tidak mungkin buat membayar dengan uang. Sementara buat membayar ongkos angkutan saja saya harus berfikir ulang. Jadilah saya bayar dengan tenaga dan fikiran. Seperti misalnya membantu menarik ongkos, mengantarkan beliau ke beberapa tempat, atau kemudian menjadi montir tak resmi yang ikut ikutan sok sibuk waktu bus mogok. He he…
Sementara itu, di kampuspun saya menggunakan pendekatan emosional ini guna menambahkan kesenangan. Pos Parkir adalah tempat nongkrong terbaik dan paling setia menampung saya. Sekalian bisa dapat makan dan minum gratis, kenalan baru, plus bebas biaya parkir di sana seumur hidup. He he.
Bayarannya? Lagi lagi tenaga dan fikiran jadi bayaran sekedarnya. Menyumbangkan fikiran, bertukar pendapat, jadi tempat berkeluh kesah dan lain sebagainya. Sekedarnya dan semampunya saya. Hanya itulah bayaran yang dapat saya berikan buat kebaikan hati mereka mereka itu.
Si Abang sopir dan bos bos saya di pos parkir memiliki beberapa kesamaan yang mungkin sebangun tapi tidak kongruen. Pertama. Mereka semuanya berpendidikan S3 alias SD, SMP,SMA. Bahkan ada yang cuma S2. Dengan status pendidikan yang setinggi itu, adalah suatu mission impossible buat mereka untuk menaikkan pangkat mereka menjadi Gubernur atau sekedar kepala bagian.
Kedua, mereka semua dihimpit oleh kapitalisasi dan komersialisasi negara ini. Sehingga curahan hati mereka jauh dekat selalu bertujuan hampir sama: ongkos sekolah anak anak, sewa rumah, bayar listrik dan air, dan tentu saja masalah asap dapur. Masalah klasik kemanusiaan saja kalau menurut saya, meski jelas saya juga tidak bisa membantu banyak, malahan turut menambah beban mereka.
Ketiga. Pekerjaan mereka sama sama dipandang sebagai kerja kasar. Mungkin hanya sedikit lebih berkasta daripada buruh pabrik dan kuli bangunan. Plus, pekerjaan mereka memang lebih banyak menggunakan porsi otot dan kenyataan lapangan ketimbang porsi otak dan teori ruangan atau perhitungan diatas kertas.
Keempat. Sama sama seringkali diperlakukan semena mena oleh atasan. Sekalian seringkali berperang dingin dengan beberapa orang orang yang secara struktur organisasi atau kepengurusan merupakan manusia manusia berpangkat lebih tinggi daripada mereka. Meski tidak sedikit yang menjadi teman mereka sehingga sering memberikan beberapa bantuan.
Kelima. Yang ini yang paling saya salut. Sama sama lebih mementingkan kebersamaan dan kesenangan bersama ketimbang memikirkan kepentingan pribadi. Kedatangan saya buat minta rokok, numpang makan dan minum, bahkan bertandang ke rumah mereka, atau sekedar menjadi teman berbincang bincang berbagai topik adalah hal hal yang membuat mereka bahagia ditengah tengah berbagai pikiran dan suara suara minta makan anak anak mereka.
Artinya, mereka senang berteman. Juga bukan teman yang pelit meski bukan orang orang yang kelebihan duit bahkan bisa dibilang pas pasan. Bahkan tidak sungkan membantu atau jujur saat memang sangat perlu minta bantuan, namun selalu diikuti dengan “Kalau kamu bisa bantu..”.
Banyak yang saya dapatkan, banyak pula yang saya pelajari dari mereka dan pergaulan serta pengalaman bersama mereka. Dan kesamaan terakhir adalah suara yang selalu keluar dari para Tuhan Tuhan kampus bernama dosen yaitu: “Buat apa kamu berteman dengan mereka?”.
Dapat apa? Kamu dikasih uang oleh mereka? Kamu tidak punya pekerjaan lain selain mengisi pos parkir? Kamu tidak punya kegiatan lain sehingga menghabiskan waktu jadi kernet bus? Ga pulang kamu, nunggu apa lagi di sini?
Paragraf diatas adalah beberapa dari serentetan pertanyaan yang seringkali saya dapatkan. Jawaban saya juga bermacam macam. Disesuaikan dengan kondisi hati dan cuaca. Kalau panas ya panas, kalau dingin ya dingin.
Meski demikian, tidak ada yang pernah bisa membatasi saya atau melarang saya untuk bergaul dengan mereka. Apalagi sampai memaksa saya pensiun berteman dengan mereka. Hingga akhirnya saya memiliki kartu terakhir saya yang menunjukkan bahwasanya saya adalah penggangguran intelektual. Sayapun berpisah dengan mereka, namun bukan berpisah untuk selamanya. Sesekali waktu saya menyempatkan diri menemui mereka.
Kegiatan saya ini diikuti oleh beberapa mahasiswa lain yang terhitung teman seangkatan dan adik angkatan saya. Hingga suatu saat mereka ditegur oleh Tuhan Tuhan kampus. Alasannya? Status sosial dan status intelektual mereka beda. Pembicaraan mereka tidak bermutu. Pergaulan mereka menjurus pada kenakalan. Dan lain sebagainya.
Dulu, saya tidak pernah ditegur sampai sebegitu. Entah karena para Tuhan Tuhan kampus tidak berani. Entah karena mereka menganggap akan sia sia saja menceramahi saya. Atau karena mereka memang belum menemukan alasan seperti yang mereka kemukakan kemudian. Sayapun tak mengerti.
Yang saya mengerti hanyalah: para Tuhan Tuhan kampus itu berpandangan picik, menganggap intelektualitas adalah segalanya. Buku serta teori selalu bisa menjadi bahan acuan, serta menggap remeh kenyataan yang terjadi di masyarakat, terutama yang kelas ekonomi menengah ke bawah.
Padahal, dari apa yang saya alami, banyak pelajaran tidak resmi yang bisa diambil. Bahwasanya orang pintar belum berarti pandai memikirkan perasaan orang lain, apalagi keadaan ekonomi orang lain. Pembicaraan tidak harus selalu mengenai hal berat dan akademis, pembicaraan santai bisa menjadi bahan yang menarik. Buku dan teori tidak selalu sama dengan kenyataan di lapangan. Dan orang kaya belum tentu bersikap dan bersifat lebih mulia ketimbang orang miskin.
Kalau jadi mahasiswa, rajin rajinlah belajar. Dan itu semua bisa didapatkan melalui ruangan kuliah, buku, dan ceramah dari Tuhan Tuhan kampus. He he he….


