Kenapa Jarang Menulis

Mei 12, 2008

Pertama. Karena saya lumayan sibuk ketika akhir dan awal bulan. Rekap absen dan laporan bulanan menunggu. Belum lagi birokrasi agak kompleks khas Indonesia yang membuat saya juga harus bekerja sedikit lebih rajin untuk mengulang, dan merapikan pekerjaan saya.

Kedua. Karena saya lebih baik beli bensin yang katanya mau naik itu dan bahan makanan ketimbang harus bayar billing warnet. Konsekuensinya saya juga jarang baca baca postingan lain. Maka idepun berkurang.

Ketiga. Karena saat ini saya sedang berfikir bahwasanya sia sia juga saya menulis, misalnya saya menulis tentang BBM yang mau naik itu, meskipun saya seorang ahli yang bisa memberikan solusi maupun teori ekonomi, tetap saja BBM akan naik. Meskipun saya menyarankan agar koruptor ditangkap kalau perlu di pancung, rasanya koruptor itu akan tetap hidup tenang selama jaksa dan para hakim hingga aparat negara ini sudah disumpal mulutnya. Jadi? Buat apa buang buang energi menulis tentang semua itu? Sementara ketertarikan saya saat ini justru menulis tentang keluhan saya terhadap carut marutnya bangsa yang sangat memalukan ini.

Keempat. Ingin menggugat pancasila dan memberikan solusi buat negara ini, namun sudah pernah menuliskannya. Jadi? Buat apa lagi?

Kelima. Karena masih mempertimbangkan sisi kemanusiaan dan kegunaan, kalau tidak tentu saya akan posting tulisan tulisan makian saya yang beraroma rasis dan argumentum ad hominem kelas wahid. Lagi pula, tidak ada untungnya kalau semua itu harus diposting, hanya akan menambah permusuhan dan kebencian.

Keenam, karena saya memang lagi kecapekan, atau bahasa ilmiahnya, lagi kena angin malas.

Aneh..

Februari 19, 2008

Aneh, kenapa saya tidak menulis? Padahal banyak ide yang melintas di fikiran. Salah sekian faktornya adalah: Internet lagi kacau, koneksi internet gratisan di Lapangan Murdjani error terus. Hanya terdeteksi sebagai jaringan hotspot, tapi tidak bisa digunakan untuk mengakses.

Warnet lagi pada lemot, entah kenapa? Mungkin kebanyakan yang memaksakan main game secara online, atau memang koneksi terkutuk dan mahal yang sengaja disetel oleh negara supaya pemakai bayar mahal. Nasib koneksi orang orang di pulau yang dikeruk kekayaan alamnya tapi dianak tirikan oleh negara. Merdeka saja! Dirikan negara Kalimantan!

Selanjutnya: Keasyikan main Football Manager. Karena disinilah kita bisa mewujudkan segala impian. Mau bikin Bambang Pamungkas dan Kurniawan Dwi Julianto berduet sebagai penyerang AC Milan? Indonesia juara Piala Asia 2009?

Atau untuk para hooligan the Three Lions yang bernafsu mengubah nasib Inggris menjadi juara dunia seperti yang selama ini dikhayalkan dan didongengkan oleh mereka?

Bisa juga membuat Real Madrid dan Manchester United tidak berdaya secara finansial. Mentransfer Alessandro Del Piero dan Ricardo Izecson ke Barito Putra Banjarmasin misalnya?

Atau membuat David Beckham pensiun dari sepakbola selamanya karena cedera hamstring dan metatarsal? Membuat Markus Horison menjadi kiper andalan Barcelona. Semuanya bisa dilakukan. Berkat adanya editor yang mengiringi Football Manager.

Lengkap dengan editing skill, stamina, kepemimpinan,hingga kefasihan berbahasa hingga siapa saja pemain serta apa saja klub yang disukai maupun dibenci oleh si pemain. Sayangnya, untuk bagian terakhir ini, seringkali terjadi perubahan manual oleh komputer. Bambang Pamungkas yang saya edit sebagai penyerang dengan skill terbaik dunia kadang kadang pada saat dimainkan, kelasnya kalah dengan penyerang kelas divisi dua liga Prancis karena kalah reputasi.

Yah, namanya juga permainan. Melarutkan saya untuk malas menulis.

Yang terakhir, saya terancam kehilangan semua phonebook saya berhubung HP saya rusak lagi, dan kali ini saya tidak sempat membackup phonebooknya. Tidak seperti kerusakan sebelumnya dimana saya masih sempat menyelamatkan phonebooknya meski kenyataannya masih ada juga yang terlewat. sehingga, dengan rusaknya HP, saya juga kurang semangat menjalani hidup, soalnya komunikasi tidak lancar. *ini bagian teraneh dari postingan ini*. Sekian, sekarang waktunya melanjutkan peranan sebagai manajer terbaik dunia…

Entah

Oktober 29, 2007

Entah mengapa aku tak berdaya
Waktu kau bisikkan jangan aku kau tinggalkan
Tak tau dimana ada getar terasa
Waktu kau katakan kubutuh dekat denganmu
Seperti biasa aku diam tak bicara
Hanya mampu pandangi bibir tipismu yang menarik.
Seperti biasa aku tak sanggup berjanji
Hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini
Entah esok hari, entah lusa nanti. Entah…

Pernah dengar lagu diatas? Pernah menemui lirik lagu yang saya tuliskan diatas? Kalau belum pernah, biar saya informasikan buat anda. Lagu diatas adalah sebagian lirik lagu dari salah satu Asian Heroes, Iwan Fals.

Lagu berjudul Entah, pertama kali dimuat di album Iwan Fals berjudul Ethiopia. Tahun 1983. kemudian sempat dirilis ulang dengan pembaharuan versi. Lagu ini murni lagu cinta. Iwan Fals selain mahir menciptakan lagu lagu bertema kritik dan kepekaan sosial, juga selama ini dikenal memiliki lagu lagu bertemakan cinta seperti halnya lagu Entah.

Ada juga yang bercampur antara lagu sosial dengan dengan cinta, seperti misalnya lagu Galang Rambu Anarki, ataupun lagu Libur Kecil Kaum Kusam. Namun begitu, lagu Iwan sepertinya selalu identik dengan tema sosial. Dalam hal ini, tema sosial seolah olah memang mendapatkan perhatian lebih dari seorang Iwan Fals.

Uniknya, sadar atau tidak sadar, lagu Entah tersebut juga merupakan lagu yang bertemakan sosial. He he he. Entah saya yang terlalu banyak dan berkhayal secara telaah sastra dan gaya bahasa perumpamaan. Ataukah saya hanya mengungkapkan pesan tersimpan dalam lagu tersebut. Ataukah saya terlalu mengada ada saja. Entah…

Lagu Entah. Menurut penerawangan secara kebahasaan dan kesusatraan dari saya. Memiliki sebuah pesan yang mengandung sindirian kepada salah satu perusahaan negara yang sering membuat rakyat Indonesia elus elus dada. Marah marah, protes, demo, dan banyak juga yang terpaksa menerima saja karena memang sudah tidak tahu lagi harus bilang apa dan berbuat apa.

Atau mungkin hanya saya dan propinsi tetangga saja yang sering dibegitukan oleh mereka? Siapa sich mereka? Siapa lagi kalau bukan Perusahaan Listrik Negara alias PLN. PLN adalah perusahaan yang paling cocok menyanyikan lagu Entah. Tetapi tunggu, Pertamina dan PDAM juga kayanya. Waduh?

Kalau begitu saya pukul ratakan saja ketiganya (PLN, Pertamina, PDAM) sebagai oknum yang memang seharusnya memperbaiki dirinya. Termasuk juga agar tidak lagi menyanyikan lagu Entah kepada rakyat Indonesia.

Mari kita tinjau kenapa saya menuliskan Entah sebagai lagu yang berisi sindiran kepada oknum oknum maupun perusahaan tersebut secara keseluruhan.

Entah mengapa aku tak berdaya. Waktu kau bisikkan jangan aku kau tinggalkan. Saya tafsirkan sebagai loyonya PDAM, PLN, dan Pertamina saat masyarakat makin tergantung pada mereka semua. Rakyat butuh air bersih, butuh listrik, butuh bahan bakar. Maka rakyat Indonesia pun berbisik jangan aku (kami) kau tinggalkan.

Nyatanya? Entah kenapa PLN, PDAM, Pertamina tidak berdaya karena bisikan ini. Bukan karena tersanjung lalu serasa lemas. Melainkan sering mati lampu, sering ledeng mampet dan airnya kotor, sering habis bahan bakar di SPBU dan sering terjadi krisis minyak. Entah apa alasannya, yang jelas alsannya selalu hadir sebagai tameng dan penghias.

Kenapa berbisik saja? Bukankah rakyat Indonesia banyak? Seharusnya kalau banyak bukan bisa menghasilkan sura keras sehingga lebih layak disebut berteriak. Bukan begitu, selama ini suara rakyat memang hanya dibisikkan saja, atau terdengar pelan seperti orang berbisik.

Karena meskipun rakyat Indonesia banyak, yang banyak lebih sering dibungkam atau sudah duluan kehabisan tenaga karena kelaparan, kemiskinan dan kebodohan. Sehingga suara rakyat selama ini hanya berbentuk bisikan. Bisikan dari musisi macam Iwan Fals dan Slank. Dari orang orang kritis dan peduli negara, termasuk dari blogger. He he he.

Wakil rakyat? Yang ini suaranya kencang dan nyaring sekali kalau ada urusan revisi undang undang, atau ada proyek. Tapi kalau urusan kesejahteraan rakyat? Entah.. nampaknya mereka juga lebih suka berbisik… “Psst… udahlah, mending kita sikat aja duit rakyat, ngapain mikirin mereka”.

Tak tau dimana ada getar terasa. Waktu kau katakan kubutuh dekat denganmu. Yang ini hampir mirip mirip saja dengan lirik sebelumnya. Entah kenapa, saat konsumen bertambah. Saat pelanggan dilarang mencuri listrik, dilarang mencuri ledeng, dilarang mengoplos dan mencuri minyak. Semuanya ditimpali dengan janji janji pelayanan yang memuaskan.

Nyatanya? Tak tau kenapa. Setiap tahun perbaikan PLN makin sering. Imbasnya mati lampu makin marak. Apalagi di daerah saya, mati lampu juga berarti mati ledeng. Entah kenapa juga, kami rakyat hanya bisa berbisik, untuk akhirnya terdiam. Sebab mau apa lagi? Mau demo? Mau telepon untuk protes? Mau melayangkan surat terbuka sampai ke presiden yang buta tuli, pengecut dan lumpuh tak bertaring itu? Mata dan telinga mereka semua juga sudah kebal terhadap bisikan bisikan suara rakyat.

Pertamina? Yang ini tidak mau kalah. Liatlah bagaimana antrian minyak tanah yang selalu tampil sebagai berita di televisi. Atau berjibunnya kendaraan bermotor di SPBU guna mengisi bahan bakar yang terancam habis dan mahal. Atau langka karena air surut yang katanya membuat kapal pengangkut minyak tidak bisa masuk dermaga.

Seperti biasa aku diam tak bicara. Hanya mampu pandangi bibir tipismu yang menarik. Yah. Seperti biasa, mau didemo, mau ditelepon dan dikirimi pesan singkat oleh orang seIndonesia. Seperti biasanya, mereka akan diam saja. Diam saja tak melakukan perbaikan apa apa. Diam saja tidak melakukan pelayanan yang makin baik. Diam saja tidak melakukan perubahan menjadi perusahaan yang lebih baik.

Bibir tipis yang menarik adalah suara rakyat yang sudah makin pelan. Namun menarik buat para pemburu berita dan gosip. Bagus juga buat acara acara Kilas Balik akhir tahun dan lain sebagainya. Sekalian menunjukkan bahwasanya mereka makin suka di demo oleh rakyat.

Hal ini dikarenakan selain karena mereka sudah kebal akan segala macam demo. Demo juga memberikan keuntungan buat preman preman berseragam yang kelaparan. Polisi polisi bisa dapat sedikit tambahan dana operasional mengawasi orang demo. Atau sedikit olah raga dengan menghajar rakyat sipil menggunakan pentungan mereka. Bisa juga dapat sasaran tembak gratis. Yang jelas, kelaparan dan nafsu binatang para preman preman berseragam itu bisa sedikit terlampiaskan melalui kegiatan mengawasi orang orang berdemo.

Seperti biasa aku tak sanggup berjanji. Hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini. Entah esok hari, entah lusa nanti. Entah… Hingga akhirnya, seperti biasa, mereka tak pernah mau bejanji. Atau sekedar tebar janji janji palesu. “Akan kami pertimbangkan”.”Akan kami usahakan”. Itulah yang sering terucap dari pejabat pejabatnya, kepalanya, sampai penerima sambungan telepon untuk menerima keluhan, ancaman serta caci maki dari pelanggan.

Hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini. Saya/kami melakukan ini semua demi kebaikan dan kepentingan kita bersama. Itulah yang sering terdengar dan terbaca. Berbagai dalih kebaikan bersama dan lain lain sebagainya yang selalu kami dengar. Demi ini, demi itu, yang sebenarnya demikianlah buat kami, dan demi rekening, dan syahwat kalian para oknum koruptor dan pembunuh rakyat.

Kalian mungkin merasa tidak pernah membunuh rakyat. Namun sebenarnya tanpa sadar kalian sudah membunuh rakyat perlahan lahan. Dengan cara membuat rakyat tidak bisa mendapatkan air bersih, tidak bisa mendapatkan penerangan, tidak bisa beli minyak dan akhirnya usaha rumahannya bangkrut. Dan lain sebagainya dan lain sebagainya.

Sikap Nasionalis

Oktober 23, 2007

Pada suatu hari di dalam hidup saya. Pernah seorang rekan saya yang berlokasi di pulau yang berbeda dengan saya menelepon. Isi percakapannya bermacam macam. Salah satunya adalah soal kehidupan berbangsa dan bernegara. Lebih terperinci lagi adalah soal Indonesia dan Malaysia.

Dia ingin tau bagaimana sikap saya terhadap rentetan kejadian Indonesia versus Malaysia yang sedang heboh dibicarakan. Dengan demikian, di blog ini saya ingin menyampaikan pandangan dan harapan saya.

Indonesia dan Malaysia adalah bertetangga. Paling tidak secara geografis. Ada juga yang menyatakan bahwasanya Indonesia dan Malaysia adalah serumpun. Yaitu sama sama rumpun melayu. Kelanjutan dari masalah serumpun itu bisa dibahas lebih lanjut hingga memakan waktu dan tempat yang teramat sangat panjang. Maka untuk itu lebih baik jika tulisan saya kali ini membahas tentang sikap saya terhadap Malaysia yang mulai macam macam dengan negara tetangganya yang disebut Indonesia.

Bagi saya, apapun yang dilakukan oleh Malaysia terhadap Indonesia, apakah itu mencuri hak cipta lagu daerah, melakukan kekerasan terhadap tenaga kerja Indonesia, ataupun kegiatan lainnya yang bisa memancing perdebatan bahkan perang. Saya sejujurnya sangat prihatin. Meskipun saya dalam hal ini memiliki sikap ganda.

Sebagai orang Indonesia. Yang secara umum lahir, besar, bersekolah, dan mengerti Indonesia dan Bahasa Indonesia. Adalah suatu kewajiban saya sebagai warga negara Indonesia untuk berterima kasih, mencintai, sekaligus membela negara bernama Indonesia.

Adapun sikap saya terhadap Indonesia pada dasarnya adalah benci dan cinta. Meskipun saya sendiri tidak tahu yang mana yang benar benar benci, dan yang mana yang benar benar cinta.

Kalau saya berpendapat bahwasanya semua koruptor di Indonesia harus dihukum mati, lalu semua hartanya diserahkan kepada negara untuk kemakmuran rakyat. Apakah itu adalah kebencian terhadap Indonesia? Ataukah justru sikap dan keinginan saya itu adalah bentuk kecintaan saya kepada negara Indonesia?

Lebih singkatnya. Dalam menyikapi tindakan Malaysia kepada Indonesia, saya sebagai warga negara Indonesia memiliki beberapa harapan. Dimana harapan itu saya tujukan bukan kepada Malaysia, melainkan kepada Indonesia. Atau lebih menyempit lagi adalah kepada rakyat dan pemimpin Indonesia.

HARAPAN PERTAMA: Berantas korupsi. Harapan ini nampaknya akan lebih tepat jika ditujukan kepada aparat dan pejabat yang ada diseluruh negara Indonesia.

Saya sangat berharap agar siapapun yang berwenang di negeri ini bisa menangkap semua koruptor. Jangan pedulikan latar belakang maupun golongan sosialnya. Meskipun sang koruptor itu adalah kerabat anda anda sekalian. Tangkap mereka. Hukum! Sita semua hasil korupsinya!

Kemudian untuk mencegah terjadinya permainan. Harap para jaksa, hakim, pengacara, dan para polisi beserta segenap penegak keadilan dan kebenaran di negeri ini bersikap jujur. Sehingga tidak akan ada lagi yang lolos. Saya percaya, jikalau semuanya jujur, paling tidak bersikap tidak pandang bulu dalam mengadili koruptor. Maka korupsi akan bisa diberatas. Minimal dikurangi sehingga mencapai taraf paling minimum!

Kegunaannya? Tentu saja kesejahteraan rakyat. Apabila rakyat sudah sejahtera. Maka kita Indonesia tidak lagi memerlukan Malaysia sebagai penerima tenaga kerja. Kemakmuran tentunya berbanding lurus dengan ketersediaan lapangan pekerjaan bagi seluruh warga negara Indonesia.

Dengan demikian, yang bekerja ke luar negeri kelak hanyalah orang orang yang memang punya keahlian. Bahkan kalau perlu yang bekerja ke luar negeri hanyalah orang orang yang akan menancapkan kukunya sebagai warga terhormat di negara lain.

Imbasnya adalah promosi negara. Indonesia akan dikenal sebagai negara yang mengirimkan ahli ahlinya untuk membantu perkembangan negara lain. Bukan sebagai pesakitan yang sudah putus harapan untuk menyambung hidup di negara sendiri.

Hambatannya? Semua yang berwenang saling bersimbiosis mutualisme. Para pengadil sudah pernah menikmati hasil korupsi dari para koruptor yang akan diadili. Aparat penegak hukum, misalnya polisi. Dulu waktu masuk kepolisian dibantu oleh si koruptor agar bisa diterima sebagai polisi. Dan lain sebagainya.

Untuk hal ini. Saya memikirkan sebuah sikap yang keras. Pecat! Penjarakan semua yang terkait. Bentuk tim orang jujur dan anti KKN untuk memberantas hal ini. Semua yang sudah merugikan negara dan bertindak culas serta menyengsarakan masyarakat harus dipecat. Kemudian dipenjarakan.

Percuma. Para koruptor, sekeluarnya dari penjara mereka masih tetap kaya. Maka dari itu solusinya adalah dibunuh! Ambil semua hartanya! Dengan demikian semua koruptor akan jera. Yang bersedia mengembalikan uang negara diampuni tapi tetap dipenjara.

Kenapa harus dibunuh? Supaya penjara tidak penuh. Dan supaya semua koruptor tidak lagi menyusahkan negara. Tidak perlu mereka diberi kesempatan kedua, karena kesempatan kedua mereka sudah ditukar dengan kerugian negara dan kesengsaraan masyarakat.

Tidak perlu takut akan kekurangan tenaga, ataupun orang jujur dan berniat untuk hidup bersih. Tidak mungkin dari sekian ratus juta rakyat Indonesia tidak ada orang orang yang bersih dan anti KKN.

Membasmi orang orang kotor dan culas di negeri ini dengan cara hukum mati juga akan mengurangi kepadatan penduduk. Menguragi angka pengangguran, dimana para orang orang idealis yang mengganggur atau terkucilkan selama ini bisa naik jabatan. Orang orang yang berniat tulus dan jujur dalam membangun Indonesia bisa menempati posisi yang sesuai keahlian dan minat.

Orang orang yang berfikiran maju, membangun dan tidak pandang bulu dalam menegakkan keadilan bisa turut serta menyumbangkan tenaga dan fikiran mereka demi kemajuan dan kesejahteraan negeri ini.

HARAPAN KEDUA: Jika sudah dilakukan harapan pertama. Maka kemakmuran dan keadilan sosial haruslah diratakan. Jangan ada lagi diskrimiasi terhadap rakyat Indonesia. Dalam hal apapun, jangan lagi memandang suku, agama, ras, status sosial, termasuk masa lalu sebagai anak seorang anggota komunis misalnya.

Seorang anak mantan anggota komunis atau yang orang tertuduh komunis oleh rejim orde baru. Jikalau dia seorang yang cerdas, bertekad membangun bangsa dan cinta tanah air serta berkemampuan untuk membangun negeri. Jangan dihalangi untuk jadi pejabat, aparat, dan atau pegawai negeri. Apalagi jika si anak tertuduh komunis itu memang lebih handal dan jujur ketimbang seorang anak pejuang atau anak pejabat negara yang selama ini sok baik dan sok suci.

Jangan lagi ada pembedaan terhadap suku dan etnis. Meskipun seorang Aceng, jikalau dia memang bisa menjadi wakil rakyat yang baik dan jujur, kenapa harus digantikan dengan yang lain? Atau ditaruh dibelakang yang lain?

Mohon maaf berjuta maaf jika saya menyinggung anda. Menurut saya pribadi, selama ini yang bisa jadi pejabat, lalu dapat jabatan tinggi, empuk dan basah di negeri ini hanyalah orang orang dari pulau dan etnis, atau suku atau ras terentu.

Dalam pandangan saya. Yang bisa jadi orang besar di negeri ini hanyalah orang orang yang itu itu saja. Jikalau alasannya tidak ada orang lain yang kompeten, menurut saya itu adalah alasan yang sangat tidak masuk akal.

Memangnya orang dari pulau ujung dan tengah tidak ada yang bisa jadi presiden dan mentri? Tidak ada! Kenapa? Karena memang dikucilkan, dibedakan, dan dikebiri. Bukan karena memang tidak ada yang mampu atau sanggup!

Dengan pemerataan di segala pulau dalam segala bidang. Akan ada persaingan yang mudah mudahan adalah persaingan yang sehat. Tidak membeda bedakan, dan tidak mendahulukan kepentingan golongan.

HARAPAN KETIGA: Terbentuknya negara yang sama rata dan sama rasa. Atau negara yang memiliki kedaulatan sendiri didalamnya.

Dalam buku karangan Lambert Giebels yang saya lupa judulnya. Beliau mengusulkan dua cara untuk memajukan negara yang luas dan padat ini. Yang pertama adalah pemerataan di segala bidang, dan yang kedua adalah membentuk negara bagian.

Kalau memang setiap pulau punya kekayaan alam. Maka hasilnya haruslah memakmurkan seluruh Indonesia, bukan pulau tertentu saja, bukan golongan tertentu saja.

Atau biarkan kami berdiri sendiri. Pemerintah pusat tidak usah terlalu banyak campur tangan. Karena kami bisa sendiri. Kami bisa mengatur diri sendiri. Dengan kesamaan fasilitas, perlakuan, dan kesempatan. Maka kami akan bersaing secara sehat.

Ibarat perlombaan Formula 1 dimana semua pembalap memakai mobil terbaik. Disokong ban dan mekanik terbaik. Maka yang menentuan hasil akhir adalah pembalapnya. Dalam hal ini adalah manusianya.

Bukan seperti sekarang, dimana seorang yang ibaratnya memiliki kemampuan sehandal Michael Schumacher harus bertarung dengan mobil Toyota untuk bersaing dengan pembalap sekelas Alex Yoong yang menggunakan mobil Ferarri. Sehebat hebatnya Schumi, dia akan tetap kalah cepat dengan Yoong kalau keadaannya demikian.

Begitu pula dengan anak anak bangsa ini. Anak anak yang brilian dan cerdas banyak yang terpendam. Bisa karena kesukuan dan etnisnya. Bisa karena asalnya dan keturunannya. Bisa juga karena fasilitasnya atau ketidakadaan kerabat dan sokongan.

Banyak juga ‘Schumi Schumi’ lain yang kalah dengan seorang Ananda Mikola karena ‘Schumi Schumi’ tadi cuma pakai mobil Honda dengan mekanik level medium saat bersaing dengan Ananda Ananda lain yang bermobilkan Ferarri atau McLaren Mercedes dan ditopang oleh mekanik mekanik level expert.

HARAPAN KEEMPAT: Indonesia adalah negara yang adidaya. Dengan segala kemakmuran dan kemajuannnya. Negara ini tidak perlu lagi tergantung pada negara manapun.

Paling tidak, negara Indonesia tidak perlu takut akan putusnya hubungan dagang dengan negara lain. Karena orang orang pintar tapi tidak membodohi rakyat sudah banyak.

Apa yang kita Indonesia tidak punya? Hasil alam? Hutan? Laut dan sungai? Atau tambang maupun manusia? Indonesia punya semuanya. Berlimpah malahan. Berhenti tergantung dengan negara lain dan mencintai produk dalam negeri yang memang berkualitas akan menumbuhkan rasa nasionalisme yang kuat. Dengan demikian negara Indonesia akan menjadi negara adidaya.

HARAPAN KELIMA: Sebagai negara adidaya, Indonesia tidak akan takut akan ancaman dari negara lain. Termasuk ancaman kehilangan kepulauan atau ancaman kehilangan hak intelektual.

Negara adidaya tentunya bukan hanya bisa mempertahankan, namun memperluas dan memperbanyak atau memperluas kekayaannya. Maka, jika Malaysia berbuat macam macam. Indonesia bisa dengan mudah menghajar Malaysia. Baik secara diplomatik. Ataupun secara jalan kekerasan sekalipun.

Jika semua harapan terkabul, persenjataan dan seluruh kekuatan tempur Indonesia tidak akan kalah dengan Malaysia. Dengan demikian Malaysia tidak akan berani berbuat macam macam.

Indonesia adalah macan tidur sekaligus ompong. Entah kapan Indonesia akan bangkit dari tidurnya. Lagipula kalaupun bangkit, Indonesia harus memperbaiki dulu gigi giginya yang rontok oleh kebiasaannya sendiri. Belum lagi kuku kukunya yang sudah tumpul harus diasah kembali. Agar bisa pamer kekuatan dan mengusir kejahilan negara lain. Tak perduli itu negara manapun.

Nampaknya harapan harapan saya hanyalah dongeng semata. Atau saya sebut saja sebagai tulisan aneh, tidak bermutu, sekaligus kacau. Namun hanya itulah yang bisa saya tuliskan.

Dari sisa sisa nasionalisme saya. Itulah yang bisa saya tuliskan. Semoga saja semua harapan itu bisa terkabul demi kemajuan Indonesia, paling tidak ada kedekatan dalam realisasi harapan harapan saya.

Saya tidak bisa memastikan apakah tulisan saya mencerminkan kecintaan saya kepada Indonesia ataukah justru mencerminkan kebencian dan kekecewaan saya pada negara dan oknum oknum republik ini. Dalam hati saya, masih ada setitik harapan: Semoga saja negara kesatuan republik Indonesia bisa jadi negara yang kuat dan makmur.

Tulisan lain mengenai Indonesia Malaysia