Download Film FITNA

April 2, 2008

  • Postingan agak panjang
  • Mengandung Pars Pro Toto
  • Mungkin tendensius+generalisir
  • Disarankan agar mau buka kamus dan referensi untuk berbagi ilmu

Rencananya hari ini saya mau mendownload film FITNA. Apa daya, sebagai manusia yang berkewarganegaraan Indonesia dan bertempat tinggal di Kalimantan, tepatnya Kalimantan Selatan. Yang saya dapatkan adalah kutukan dan kebiri kecepatan.

Kutukan terhadap pulau ini ternyata belum dicabut oleh para petinggi petinggi negara Indonesia yang memang senang mengkebiri Kalimantan. Kutukan yang datang dari sesama warga Kalimantan yang berhianat dengan cara menjual kekayaan alam Kalimantan kepada pulau pulau lain di Indonesia maupun negara negara lain juga membuat pulau yang kaya ini kehilangan sumber daya alamnya yang seharusnya hasil penjualannya digunakan sebagai dana pembangunan fasilitas fasilitas publik menjadi kekayaan pribadi dan golongan.

Sementara umat beragama di propinsi ini nampaknya lebih sibuk beriman dan beribadah, atau mungkin gontok gontokan soal jumlah adzan waktu Jum’at dan meributkan aliran Muhammadiyah versus N.U ketimbang mengasah potensi, atau sekolah ke negeri negeri kafir luar negeri dan luar pulau guna mencerdaskan diri demi memikirkan dan merealisasikan kemajuan pulau yang katanya memiliki Kota Serambi Mekkah ini.

Kembali ke soal kecepatan download. Kecepatan download yang saya dapatkan luarrrr biasa cepat. 40 menit lebih untuk 12.6 Megabyte, silakan hitung sendiri kecepatan downloadnya yang lebih spesifik dan tepat. Jangan lupa gunakan logika, khusunya matematika dan informatika untuk menghitungnya karena setidak tahu saya, tidak satu kitab suci agama manapun yang menjabarkan maupun menuliskan cara, hingga rumus penghitungan yang tepat tentang kecepatan download internet. Kecuali kitab kitabnya orang orang yang kuliah Ilmu Komputer dan Teknik Informatika. CMIIW.

Dengan kecepatan yang jauh dari manusiawi tersebut, adalah wajar jikalau kegagalan mendownload adalah hal yang lumrah dialami oleh manusia manusia berbudget rendah seperti saya yang masa aktif di warnetnya berbanding terbalik dengan masa aktif untuk menghayal tentang sex.

Masih untung sebahagian daripada keseluruhan film FITNA berhasil di download. Terima kasih buat siapa saja yang telah membagi film FITNA tersebut menjadi 3 bagian. Yang bagian 2 dan tiga mungkin hanya akan setara dengan artis artis semok dan seksi yang doyan umbar belahan dada hingga sepersekian bagian tubuhnya, alias menjadi impian dan fantasi saja untuk bisa mendapatkannya.

Pulang, dan waktunya untuk menonton bab 1 dari FITNA. Durasinya 5 menit 27 detik. Diawali dengan tulisan: Warning! This film contains very shocking images. Lalu bayangan separo Al Qur’an yang disandingkan dengan tulisan FITNA yang memang menjadi judul fim. Selanjutnya pembacaan ayat Qur’an plus gambar tragedi 11 September yang sebenarnya hanyalah propaganda dan rekayasa dari Yahudi itu.

Oh iya, berhubung saya membandingkan ayat ayat Qur’an yang tayang dalam film itu dari belakang. Maka review ayatnya akan saya mulai dari bagian belakang film FITNA bagian satu ini juga. Kalau masih ada waktu dan tenaga serta tentu saja kemauan, akan saya lanjutkan review ayat ayat Qur’an versi Fitna yang dibandingkan dengan ayat ayat Qur’an versi PDF Al Qur’an (Arab-Bahasa Indonesia) dan The Noble Qur’an (Arabic-English). Soalnya satu bagian saja menghasilkan tulisan panjang, bagaimana mau semuanya? Mungkin setelah tulisan ini adayang tertarik untuk melanjutkan?

Versi FITNA: Quran. Surah 47, Verse 4: Therefore, when ye meet the unbelievers, smite at their necks and when ye have caused a bloodbath among them. Bind a bond firmly on them.

Lantas versi The Noble Qur’an: 047 - 4: Now when ye meet in the battle those who disbelieve, then it is smiting of the necks until, when ye have routed them, then making fast of bonds; and afterwards either grace or ransom till the war lay down its burdens. That (is the ordinance). And if Allah willed He could have punished them (without you) but (it is ordained) that He may try some of you by means of others. And those who are slain in the way of Allah, He rendereth not their actions vain.

Kemudian versi PDF Alqur’an: Muhammad 4: Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.

Anda bisa menangkap ketidak sesuaian diantara 2 English version diatas? Manusia yang buta English 100 persen pun saya rasa pasti bisa menangkap adanya ketidaksesuaian antara 2 ayat versi English diatas. Ayat ayat Qur’an versi FITNA jelas jelas sudah memutilasi dan memodifikasi ayat Qur’an.

Oh ya, mungkin anda terlalu malas untuk buka kamus, atau maunya cuma buka kamus bahasa Arab, atau bahkan maunya hanya buka Al Qur’an tanpa mau buka kamus apa apa karena dengan buka Al Qur’an semata anda bisa jadi orang paling beriman sedunia sehingga tak perlu lagi belajar yang lain termasuk bahasa Inggris, maka saya akan bantu dengan terjemahan versi saya terhadap ayat Qur’an versi film FITNA: Oleh karena itu, ketika kamu bertemu yang tidak percaya, pukul pada mereka leher dan ketika kamu memiliki penyebab sebuah darahmandi diantara mereka. Ikat sebuah rantai dengan kuat pada mereka. *Dimarahi Dosen Dosen Prodi Bahasa Inggris FKIP UNLAM*

Busyet dah, untung saja saya ini cerdas dan ganteng, sehingga saya belajar menafsirkan pakai logika plus bantuan kamus bahasa Inggris tentunya. Karena saya tidak mau taklid buta alias telan bulat bulat itu ayat, karena menurut logika berbahasa saya yang selama ini saya coba asah, dan setelah semalaman saya habiskan guna buka buka kamus bahasa Inggris dan cari referensi guna mendapatkan makana sehakikinya (hiperbola[dot]bombasme[dot]com) arti mendalam dari ayat Qur’an versi FITNA tersebut adalah: Maka, ketika kamu sekalian bertemu orang orang KAFIR™, pancung mereka (orang orang kafir™ tadi) dan ketika kalian telah membuat mereka mandi darah (ketika kalian telah menumpahkan darah mereka). Ikat mereka (Borgol mereka) dengan kuat.

Sementara untuk terjemahan versi PDF Al Qur’an dan The Noble Qur’an itu tidak banyak terdapat kerancuan. Alias rangkaian kata kata dan bentukan kalimatnya itu semakna tapi tak sama persis. Contohnya seperti: “Taufik ditolak wanita dambaan hatinya” dengan “Wanita dambaan hati Taufik menolak pernyataan cinta dari Taufik”.

Atau dalam versi Englishnya: A Dog bites me dengan I am bitten by a dog. Intinya, artinya sama, cara pengungkapannya atawa penyusunan kata katanya yang berbeda. Okeh? Bisa di copy, ganti???

Kembali ke terjemahan versi film FITNA: Maka, ketika kamu sekalian bertemu orang orang KAFIR™, pancung mereka (orang orang kafir™ tadi) dan ketika kalian telah membuat mereka mandi darah (ketika kalian telah menumpahkan darah mereka). Ikat mereka (Borgol mereka) dengan kuat.

Kesalahan:

Mutilasi Pertama. Adalah in the battlenya yang raib entah kemana. Sang sutradara telah melakukan taklid buta alias telan mentah mentah tanpa pembandingan arti. Sehingga merubah arti bahwasanya pembunuhan terhadap orang orang Kafir™ hanya halal dalam perang menjadi halalisasi pembunuhan orang Kafir™.

Mutilasi Kedua. Afterwards either grace or ransom till the war lay down its burdens yang mungkin lupa diketikkan, atau terlalu panjang untuk ditampilkan dalam scene (prasangkabaik.net). Sehingga mengindikasikan bahwasanya orang Kafir™ itu fungsi utamanya hanya dibunuh, padahal mereka juga perlu dihormati ketika perang, bahkan bisa bebas bersyarat asal ada tebusan sepeti halnya para koruptor bangsa ini. Berarti koruptor bangsa ini Kafir™ dong!

Mutilasi ketiga. Itu sisanya mana ya? Kok janji surga terhadap jihad junkiesnya dihilangkan oleh si sutradara? Padahal And if Allah willed He could have punished them (without you) but (it is ordained) that He may try some of you by means of others. And those who are slain in the way of Allah, He rendereth not their actions vain. Adalah salah satu obat kuat alias booster buat mereka yang doyan kekerasan. Terutama yang bagian ini nih: those who are slain in the way of Allah, He rendereth not their actions vain. Bisa bisa si sutradara itu nanti bakalan berumur pendek karena dimutilasi. Hiyyyy….

Tidak Pararelel Antar Arti Kata. Therefore, when ye meet the unbelievers, smite at their necks and when ye have caused a bloodbath among them. Bind a bond firmly on them. Masa orang sekarat diikat? Kurang kerjaan? Atau sudah sinting? Bukannya orang sudah sekarat itu selanjutnya disiksa? Bisa juga si, mungkin maksudnya si sutradara itu juga. Sayangnya, bloodbath itu kalau menurut saya sudah pasti mampus, mana di smite di leher pulax, buat apa lagi diikat atau diborgol? Jangan jangan ni sutradara pernah belajar ilmu kelirumologi juga dengan bapak Jaya Suprana.

Bagian penutup: Ini serius, tolong, kalau umat Islam mau bereaksi. Gunakan aksi damai, buat film tandingan tentang kasih sayang antar manusia versi Islam. Alias Hablumminannas nya yang ditunjukkan.

Yang paling penting tentu saja adalah reaksi. Aksi bakar bakaran sampai jidat jidatan jihad jihadan hanya akan mempertegas gambaran Islam seperti yang disampaikan FITNA.

Tolong juga untuk bersikap lebih bijak, gunakan akal yang dikaruniakan oleh Allah. Buat apa bisa fasih membaca Al Qur’an kalau tidak melanjutkan menjadi perancang Al Qur’an digital sehingga kefasihan menular? Buat apa meyakini Isra Mi’raj kalau tidak bisa bikin pesawat supersonic? Untuk apa percaya dan mengagung agungkan healing hand-nya Nabi Isa kalau tidak ditindaklanjuti dengan menjadi dokter? Untuk apa terlena dengan dongeng kecepatan pemindahan materi jaman Nabi Sulaiman kalau tidak bisa bikin pemecah dan penggabung unsur terkecil materi? Apa gunanya bangga dengan keberanian Syyidina Umar kalau tidak bisa bikin gentar lawan dengan teknologi maju?

Oh iya. Ayat ayat Qur’an memang rentan dengan modifikasi dari fihak luar Islam. Anggap saja sebagai cermin, kalau Islam cinta damai, gambaran orangpun akan positif. Kalau suka bikin keributan, kenapa berharap CNN menyiarkan yang baik tentang Islam? Kalau masih menganggap perang itu adalah bom bunuh diri, kenapa harus protes dengan sebutan teroris?

Seandainya, dengan akalnya manusia manusia yang mengaku Islam mau mengembangkan teknologi dan informasi, lalu bikin stasiun televisi sendiri yang bisa menyaingi CNN, plus perilaku cinta damai dan toleransi dari umatnya. Mungkin Islam akan kembali berjaya.

Buat yang diluar Islam, atau mungkin yang kolom agama di KTP nya isinya bukan Islam. Percayalah, yang suka memperkosa, membantai orang dan bikin rusuh itu bukan cuma arab, arab waannabe, jihad junkies atau kaum Muslimin dan Muslimah kok. Yahudi juga suka bantai orang tuh. Kaum ortodoks Eropa Timur juga doyannya mayat. Bahkan aparat Indonesia jaman orba sukanya darah dan daging manusia.

Oh iya. Saya liat di salah satu blog di wordpress juga: Tidak ada orang ber IMAN bodoh
lihat para nabi, para sahabat Rosulullah orang ber IMAN selalu cerdas. Katanya orang beriman tidak mungkin bodoh, masa? Itu gambar di film FITNA tentang orang orang yang nulis “GOD BLESS HITLER” apa bukan orang beriman? Kurang apa mereka imannya? Kok bodoh juga ya? Tidak mau memverivikasi sejarah, soalnya Yahudi itu belum tentu dalam kenyataan sejarahnya adalah umat yang dibantai Hitler dan antek anteknya. Sejarah Holocaust itu banyak diragukan. Bahkan sangat mungkin direkayasa Yahudi guna meraih simpati dunia, atau mungkin mereka punya rencana besar lainnya.

Orang orang yang makan iman, lalu teriak teriak Allahuakbar sambil berlaku anarkis itu apa contoh perilaku orang cerdas karena makan iman? Yang suka telan tafsir bulat bulat tanpa fikir dan verivikasi apa orang beriman yang cerdas? Yang suka meracuni pendengaran dan bikin macet jalan tanpa mencari solusi yang lebih manusiawi apa gambaran orang beriman yang cerdas?

Dan penutup khutbah kali ini adalah: PEACE…… Kalau mau perang, perang teknologi dan ide saja, atau perang batin argumen ilmiah dan terarah, bisa juga perang sampah. Daripada perang berdarah. Bagaimana pemirsa?

*ngeliat tulisan yang makin ngaco. Liat jam: Pukul 03:30 WITA. Waktunya tidur*

Pada masa kemunduran Islam seperti sekarang ini. Seorang wartawan berusaha mencari solusi yang tepat, salah satunya adalah mencari orang paling beriman sedunia agar bisa memberikan pencerahan bagaimana Islam bisa berjaya lagi. Dan penantian itupun menemukan ujungnya.

Sang wartawan tadi menemukan seorang Muslim yang memang paling berpotensi untuk memajukan Islam. Berikut wawancaranya:

  • Wartawan Pencari Solusi Kemajuan Islam (WPSKI): Selamat Siang Pak… Boleh Wawancara sebentar?
  • Bapak Berjenggot Yang Paling Beriman Sedunia (BBYPBS): Apa itu? Saya tidak mau menjawab selamat siang dari ente! Ulangi dengan salam!
  • (WPSKI): Mohon maaf Pak. Assalammualaikum.
  • (BBYPBS): Kurang lengkap! Ulang yang lengkap!
  • (WPSKI): Assalammualaikum warohmatullohiwabarokatuh Bapak…
  • (BBYPBS): Waalaikumsalam warohmatullohiwabarokatuh. Ente mau nanya afa? Ane sibuk nih, ane tidak punya banyak waktu. Ane harus ibadah demi meningkatkan iman
  • (WPSKI): Singkat saja pertanyaan saya Pak. Bagaimana supaya Islam bisa maju? Bagaimana supaya Islam bisa menjadi pemimpin dunia dan menjadi peraturan yang dipakai di setiap negara?
  • (BBYPBS): Gampang saja, mari kita kembali kepada zamannya Rasulullah dan para Sayyidina.
  • (WPSKI): Itu maksudnya bagaimana Pak? Bisa diperjelas?
  • (BBYPBS): Hal yang paling utama dan paling dasar serta paling mudah dilakukan: Tumbuhkan jenggot, pakai baju gamis untuk para laki laki. Pakai jubah lebar selebar dan sebesar kardus kulkas untuk para ferempuan, sisakan hanya mata yang terlihat.
  • (WPSKI): Tapikan itu budaya orang Arab dan orang orang yang tinggal di padang pasir Pak? Sementara di dunia ini tidak semua alam bentuknya padang pasir, apa tidak ada dispensasi penyesuaian dandanan Pak?
  • (BBYPBS): Tidak ada toleransi! Jalankan Syariat Islam dengan mutlak kalau mau Islam berjaya!
  • (WPSKI): Baiklah Pak, langkah selanjutnya apa Pak?
  • (BBYPBS): Berhentikan semua anak anak dari sekolah sekolah negeri dan sekolah umum! Belajar cuma buang buang waktu dan menurunkan kualitas iman. Masukkan semua anak anak Muslim ke pesantren. Pesanterennya sendiri isinya harus cuma pelajaran ibadah! Jangan ada pelajaran lain! Karena itu ilmunya orang kafir™!!!
  • (WPSKI): Waduh Pak, kalau begitu umat akan jadi bodoh dong Pak?
  • (BBYPBS): Siapa bilang? Dengan rajin ibadah, manusia akan makmur. Liatlah Nabi Sulaiman. Bahkan Nabi Muhammad. Apa mereka pernah sekolah di sekolah negeri yang isinya pelajaran umum? Tidak pernah bukan? Toh mereka tetap jadi pemimpin Islam yang sukses!
  • (WPSKI): Terus bagaimana dengan para umat Islamnya Pak?
  • (BBYPBS): Mulailah dengan membuang televisi, dan alat alat elektronik lainnya. Soalnya itu adalah perbuatan yang tidak pernah dicontohkan pada zaman Rasul. Lagipula, kebanyakan para pembuatnya adalah atheis atheis Jepang, Korea, Cina, dan KAFIR™ KAFIR™ Barat yang antek Yahudi itu!
  • (WPSKI): Lalu apalagi Pak?
  • (BBYPBS): Buang semua alat transportasi macam mobil, motor, pesawat, kapal bermesin dan lain sebagainya. Itu juga ciptaan atheis atheis Jepang, Korea, Cina, dan KAFIR™ KAFIR™ Barat yang antek Yahudi itu! Itu semua menyesatkan dan hanya akan memundurkan Islam!
  • (WPSKI): Lalu bagaimana kita bisa dapat informasi dari belahan dunia lain Pak? Terus bagaimana kita bisa bepergian?
  • (BBYPBS): Gunakan tafsir, ayat ayat suci dan hadist serta pendapat ulama. Disana informasi tidak terbatas dan ilmu tidak terbatas terdapat. Gunakan onta, kereta yang ditarik kuda dan jalan kaki untuk bepergian. Gunakan kapal layar untuk menyeberang lautan. Karena seperti itulah yang dilakukan para pendahulu pendahulu kita. Dan dengan begitulah Islam bisa menguasai dunia pada masa itu..
  • (WPSKI): Dengan kata lain, kalau kita melakukan hal itu, alias kembali seperti 14 abad yang lalu kita bisa maju dan menjadi umat paling terkemuka di dunia Pak?
  • (BBYPBS): Betul!
  • (WPSKI): Lalu bagaiman dengan anak anak Muslim Pak? Kalau mereka tidak belajar menggunakan akalnya, mereka akan jadi bodoh, tidak bisa berhitung, tidak bisa bersosialisasi..
  • (BBYPBS): Dengan rajin ibadah semuanya akan terpenuhi. Anda ini, anda meragukan kebenaran Islam sebagai satu satunya agama yang paling benar?
  • (WPSKI): Bukan begitu Pak, sayakan cuma bertanya
  • (BBYPBS): Jangan banyak bertanya, nanti antum jadi kafir™!!
  • (WPSKI): Baiklah Pak, terima kasih atas kesempatannya menjawab pertanyaan saya
  • (BBYPBS): Sama sama. Heh, tunggu dulu, itu yang ente gunakan tadi apa?
  • (WPSKI): Oh, ini MP3 player Pak, bisa buat merekam suara.
  • (BBYPBS): Buang juga itu, itu barang ciptaan Kafir™ merknya aja SONY!
  • (WPSKI): Lho? Bagaimana saya bisa mencatat kalau ini tidak dipakai Pak?
  • (BBYPBS): Gunakan kertas saja. Lebih baik jangan dicatat, karena dahulu Al Qur’an pun tidak pernah dicatat melainkan dihafalkan. Tidak seperti sekarang ini. Makanya Islam tidak kunjung maju maju
  • (WPSKI): Kalau tidak dicatat bukannya akan ada slip of the tongue Pak? Siapa tahu hadist hadist bisa tergelincir maknanya karena tidak dicatat. Siapa tahu kisah kisah para pendahulu Islam berubah jadi dongeng karena hanya diceritakan lewat mulut ke mulut
  • (BBYPBS): Ente ini sudah kafir™. Banyak protes sama Islam. Ente tidak beriman. Mau saya bunuh????!!!!!!!
  • (WPSKI): *Lari terbirit birit*

Pesimis Terhadap Agama

Maret 24, 2008

Susah juga rasanya, setelah sekian waktu absent mengetik maka dikala jemari ini mulai diajak untuk mengetik lagi jadi serasa kaku dan kelu. *bombasme mode*. Baiklah pemirsa sekalian, berhubung ini hari Jum’at sekalian juga hari libur yang berbarengan. Mungkin tidak ada salahnya jikalau saya menulis tentang agama.

Sebelumnya mari berprasangka terlebih dahulu. Hari Kamis kemaren adalah hari yang dikatakan diperingati sebagai hari lahirnya seorang nabi yang menurut umat Islam adalah nabi terakhir alias hari Maulid Nabi Muhammad. Sementara hari ini, hari Jum’at adalah harinya umat Kristiani. Mereka sedang merayakan Paskah. Sementara di kalender tertulis sebagai Peringatan wafatnya Yesus Kristus. CMIIW.

Ada apakah ini? Setelah nabinya umat Islam lahir maka Tuhannya atau nabinya oang orang Kristiani wafat. Kalau hanya melihat kalender, tentu kita bisa berkata bahwasanya ini hanyalah kebetulan, karena sistem yang dipakai berbeda. Umat Islam memakai penanggalan bulan sementara umat Kristiani memakai sistem penanggalan matahari.

Ya, bisa jadi hanya kebetulan. Bisa juga sebuah rekayasa dari Yahudi, kaum yang terdahulu ketimbang kaum Muslimin dan kaum Kristiani :P. Maklum, mereka kaum Yahudi kan sangat memusuhi umat Kristiani dan umat Muslim. Ah, kalau yang itu hanyalah prasangka buruk dan tidak beralasan sahaja.

Yang sebenarnya ingin saya tuliskan adalah mengenai agama, dalam hal ini mungkin secara spesifik: Islam. Kalau Bung Fertobhades alias Pyhrro menuliskan tentang Ke-Sinis-an Terhadap Agama. Maka saya ingin menuliskan tentang: Pesimis Terhadap Agama. Tulisannya mungkin tendensius dan tidak berdasarkan, serta terlalu terpaku pada satu agama saja. Maklum, sampai sekarang kolom agama di KTP saya masih berisi Islam. Jadi sedikit banyaknya, pengetahuan agama saya memang terpatok pada kesesuaian dengan kolom agama di KTP.

Sampai saat ini, melihat perkembangan, tata cara ibadah, hingga ritual ritual aneh dan tak berguna dari umat Muslim, adalah wajar jikalau banyak yang pesimis terhadap umat beragama terbesar kedua di jagat ini.

Berikut adalah beberapa alasan kenapa saya merasa pesimis terhadap Islam. Beberapa alasan ini nampaknya dirasakan pula oleh Muslim lain. Atau mungkin cuma saya sendiri yang memang sebagai manusia terlalu banyak bertanya dan mengkritik.

1. Syahadat ternyata tidak menjamin apa apa. Khususnya di dunia.

Bayangkan jika anda adalah seorang atheis yang berprofesi menjadi pekerja kasar dengan upah harian yang jauh dari cukup guna menghidupi diri sendiri. Kemudian anda diislamkan oleh seorang pemuka agama Islam dimana tentunya syarat utamanya adalah pengucapan kalimat syahadat.

Apa yang anda dapatkan? Apakah lantas kehidupan anda beberapa tahun kemudian, atau yang mungkin lebih dramatis lagi, beberapa bulan kemudian tiba tiba saja anda bisa menjadi juragan sebuah proyek pembangunan gedung bertingkat? Nampaknya tidak, kecuali anda memang sangat beruntung, atau sangat cerdas, bisa juga sangat licik. Yang jelas semuanya butuh logika dan tentunya usaha yang dibumbui oleh satu hal yang tidak pernah tertinggal dalam setiap daya upaya: “Luck”. Itu yang pasti dibutuhkan. Bukan sebatas pernyataan keimanan dan keislaman semata.

Ibadah itu bukan untuk duniawi. Ada surga indah penuh bidadari yang menunggu orang orang beriman dan rajin beribadah. Begitulah encouragement yang sering didengungkan oleh pemuka agama. Ada yang menyebutnya sebagai calo surga karena kerjaannya hanya obral janji janji surga.

Bagi saya, kehidupan sekarang sudah berubah menjadi suatu usaha menghadapi kenyataan yang bisa diprediksi, bukan hanya soal obral janji yang masih belum pasti. Misalnya:

Kalau saya seorang bertitel professor, maka bisa diramalkan atau katakanlah diprediksikan bahwasanya saya akan mudah mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang lumayan, atau mungkin katakanlah lebih dari cukup. Sementara itu, kalau saya adalah seorang lulusan sekolah dasar atau sekolah menengah, tidak sukar memperkirakan apa yang bisa menjadi ladang pekerjaan buat orang orang semacam itu.

Sementara itu, kalau saya orang Islam, saya tidak tahu apakah saya akan masuk surga ataukah menuju neraka ketika Kiamat datang. Bahkan kapan saya mati dan kapan kiamat itu sendiri tidak da yang tahu.

Misalkan saya bertanya kepada ulama yang agak gaul dan tidak berpendirian keras, maka jawaban yang akan diberikan: Setiap orang yang matinya dalam keadaan percaya Allah, maka sekecil apapun imannya kelak diapun akan merasakan nikmatnya surga. Sementara untuk urusan mati dan datangnya hari Kiamat. Tidak ada seorangpun didunia ini yang bisa memperkirakan kapan datangnya kematian dan hari Kiamat.

Sedangkan jikalau saya datang dan bertanya kepada kaum berjenggot haluan keras, dapat dipastikan bahwa surga hanya diisi oleh manusia manusia bercadar, berjubah selebar kuping gajah, memiliki jidat dengan totol hitam membiru, berpakaian gamis khas padang pasir timur tengah, dan tentu saja Arab wannabe dengan janggut lebatnya. Mereka akan mengatakan bahwasanya surga itu akan dihuni oleh orang orang yang menjalankan Syariat Islam! No matter what it takes, Make Sharia for the rules of the world! Dan kebetulan sudah sejak lama saya agak pesimis dengan kaum yang macam begini. Kaum yang kehilangan toleransinya. Kaum yang egois karena mengklaim surga sebagai milik kelompok tertentu.

Juga ada satu hal lagi, tidak ada satupun dari mereka yang bisa memperkaya harta duniawi saya. Karena bisanya mereka juga bukan orang yang super kaya alias milyuner yang siap memberikan atau melimpahkan hartanya buat saya. Padahal saya datang sebagai sesama Muslim yang katanya saudara mereka. Kalau saya datang kepada mereka untuk minta duit atau minta pekerjaan? Prediksi saya adalah ceramah dan nasihat yang akan diberikan kepada saya.

2. Kebanyakan ibadah hanya membuang buang waktu.

Hari ini, hari Jum’at, umat Islam akan membuang buang waktunya untuk urusan surgawi. Mulai dari sholat Jum’at yang tentunya diiringi khotbah membosankan dan tidak bermutu, plus mantra mantra lain yang sampai sekarangpun saya tidak tahu gunanya apa.

Saya sudah sering pernah ikut berdoa, saya juga sudah sering ikut Jum’atan, tahlilan, yasinan bahkan pernah juga ikut acara haulan buat tokoh tokoh Islam lokal yang sudah modar. Entah kenapa sampai sekarang saya belum juga jadi orang kaya. Sampai sekarang Kalimantan juga belum merdeka dari diskriminasi oleh pemerintah pusat. Sampai sekarang kehidupan bangsa ini belum maju. Masih ada kelaparan, dan kebodohan.

Berpanjang panjang saat wirid, komat kamit merapal berbagai bacaan berbahasa arab ketika menanti waktu adzan subuh juga ternyata tidak bisa memberikan perubahan positif hingga perubahan dramatis kepada kecerdasan dan kekayaan bangsa ini. Berbagai acara ceramah dan penyegaran rohani juga tidak bisa membuat negara ini bebas korupsi dan bebas kemiskinan.

Contoh lain adalah: Ketika saya adalah seorang pekerja paruh waktu yang bekerja sambil kuliah. Karena itu saya mengambil jam kerja siang atau malam, sedangkan paginya saya kuliah. Setiap harinya ketika bekerja saya harus berangkat dengan cara menumpang dengan teman saya yang memiliki motor.

Nah disinilah masalah mulai muncul. Teman saya adalah seorang yang sangat religius, sehingga jikalau dia sholat Dzuhur bisa memakan waktu 10 menit lebih. Belum lagi pra sholat yang dilakukannya yaitu mandi, berwudlu dan tentu saja memasang pakaian gamis khas arab.

Berhubung teman saya ini melakukannya setiap hari, dan setiap bekerja saya harus numpang dia karena tempat kerja yang sama, maka tidak mengherankan jikalau kami sering terlambat masuk kerja. Belum lagi sumpah serapah yang tak terasa keluar dari mulut saya kepada teman yang menyebabkan seringnya terlambat.

Berangkat sendiri menggunakan angkutan umum. Meninggalkan teman yang lelet dan lemot tadi? Apa perasannya? Anda sendiri, bagaimana perasaan anda ketika anda sudah janjian untuk berangkat bersama, anda sudah buang buang waktu, tenaga dan bahan bakar untuk menjemput teman ternyata malah ditinggalkan, atau dapat SMS: “Aku duluan yaa”. Apakah itu tidak menyakiti hatinya dan perasaannya? Apakah itu adalah hubungan baik kepada sesama manusia?

3. Persaudaraan yang ternyata hanya di bibir saja.

Sesama Muslim adalah saudara. Itulah yang sering digadang gadangkan oleh umat Muslim. Sekarang buktinya? Kenapa cukong cukong minyak di negara negara tukang perkosa dan tukang lecehkan TKI itu lebih sibuk koleksi istri, umbar nafsu hamburkan uang ketimbang membantu Muslim Somalia?

Kurang apa duit para jenggoters jazirah arab untuk beli pesawat tempur paling canggih lalu mengebom Israel sampai luluh lantak sehingga warga Muslim Palestina bisa hidup dengan tenang, merdeka dari ancaman kaum Zionis Yahudi?

Kalau memang Amerika yang disetir Yahudi itu tidak mau menjual teknologinya kepada negara negara kaya jazirah arab, bukankah masih ada negara merah yang punya teknologi tidak kalah canggihnya. Atau pergi ke timur dimana ras kuning makin merajai Asia dan kini bakalan menyaingi Amerika dalam menyetir ekonomi dunia.

Masa negara negara Muslim dan mayoritas penduduknya Muslim tidak bisa membuat sekolah yang bertaraf internasional bermutu super canggih guna menghasilkan ilmuan ilmuan cerdas guna menyaingi ilmuan ilmuan dari negara negara yang katanya kafir?

Dalam hal yang lebih kecil: Apakah kaum Muhammadiyah itu bukan sudaranya kaum Nahdatul Ulama? Sehingga ketika misalnya saya, atau anda merayakan Idul Fitri duluan, akan langsung dicap: ‘Dasar Muhammadiyah!’. Apakah karena saya memilih masjid yang adzan Jum’at nya satu kali, kalian yang berpapasan dengan saya langsung bergumam: ‘Orang Muhammadiyah, pasti mau ke mesjidnya Muhammadiyah yang adzan Jum’atnya satu kali saja’.

Apakah begitu perlakuan Muslim kepada sesama Muslim? Apakah demikian anjuran dan ajaran dari Beliau yang kelahirannya banyak dirayakan dalam waktu dekat ini? Apakah pesimisme yang saya paparkan banyak kekeliruan dan kekurangannya? Kalau yang pertanyaan terakhir itu jawabannya jelas: IYA. Namun, saya percaya para pembaca dan calon komentator tentunya memiliki tambahan dan masukan yang akan sangat berfaedah. Betul?

Oh iya, sebenarnya tidaklah bagus kalau hanya bisa pesimis tanpa menyodorkan ide atau mungkin solusi. Inilah dia:

  1. Hentikan penyebaran agama, agama apa saja. Melainkan buktikan bahwasanya semua agama bisa damai dan berdampingan sesuai anjuran pemuka dan panutan agama masing masing. Sehingga manusia bebas memilih agama yang akan menghias kolom agama di KTPnya. Bahkan jikalau memilih untuk tidak beragama, kenapa mesti dilarang? Bukankah itu ruang pribadi?
  2. Hentikan ibadah yang kebanyakan dan berlebihan, bukankah kita hidup di dunia juga harus bekerja? Masih banyak yang perlu kita lakukan untuk mengelola dunia. Untuk memperbaiki negara. Janganlah hanya memikirkan surga untuk pribadi dan golongan, mulailah memberikan sesuatu yang berguna buat alam beserta isinya tentunya termasuk pula berguna untuk manusia lainnya.
  3. Mari tingkatkan toleransi. Bukan hanya antar mahzab, namun tentunya antar golongan. Mari tingkatkan kepedulian sosial kita. Menolong bukan berarti harus melihat ras, suku, warna kulit atau jenis agamanya bukan?

Agama dan Spiritualitas

Nopember 15, 2007

Ada apa dengan agama? Melihat pertanyaan panjang dari Bang Fertob, Difo, tulisan tulisan di bataknews dan Sora9n di sini. Saya menjadi teringat akan cerita dari seorang teman yang dikisahkannnya kepada saya. Seorang teman yang menjadi aktifis lingkungan pernah menjadi duta (entah duta apa) yang mewakili Indonesia ke Afganistan. Di sana dia bertemu dengan seorang American yang sangat mencintai budaya timur, atau mungkin tepatnya Asia, terutama dari India.

Si American ini sering berdiskusi dengan teman saya itu. Pada suatu kesempatan, si American di tanya oleh teman saya tentang wanita wanita Afganistan yang menggunakan cadar dan jubah. Menurut pendapat si American, adalah wajar jikalau wanita wanita Afgan menggunakan jilbab, atau yang lebih tepatnya jubah dan cadar. Karena kalau menggunakan busana terbuka dan tidak menutupi wajah, maka gangguan utama dan sudah sangat pasti adalah debu.

Lalu teman saya melanjutkan dengan mengajaknya berdiskusi tentang keyakinannnya. Si American menjawab bahwasanya sampai saat itu, sampai saat ia berkata dan bercerita dengan teman saya itu, dia adalah seorang Christian. Mungkin kalau bahasa Indonesianya adalah kolom agama di KTP saya Kristen. Namun itu hanya sebatas formalitas saja kata sang American lagi.

Menurutnya, meski ia adalah seorang Cristian, namun banyak hal yang tidak ia pahami dan tidak setujui. Menurutnya: saya adalah seorang Cristian. Namun saya suka Yoga, semedi, dan berbagai ritual serta latihan batin ala Hindu dan Buddha. Saya juga seorang vegetarian. Bukan untuk sok sok’an, namun saya memang sebagai salah satu makhluk hidup haruslah turut serta menjaga kestabilan alam semesta. Setiap tarikan nafas dan hembusan nafas saya sudah merubah sesuatu di alam semesta ini, ujarnya lagi.

Si American, menurut teman saya itu memiliki tatapan mata yang tenang dan teduh, pembawaannya kalem, benar benar seperti pertapa yang telah menemukan kepuasan spiritualitas tingkat tingginya. Dia juga suka puasa, dengan alasan yang dia paparkan sangat panjang.

Lantas? Kenapa kamu tidak memilih Islam sebagai agama kamu? Tanya teman saya. Saat ini saya belum menemukan agama yang sesuai dengan kebutuhan batin saya jawabnya. Dengan kata lain, si American belum merasakan ada agama yang bisa memenuhi kebutuhan batinnya, sementara dengan semedi, yoga, puasa dan menjadi vegetarian, ia sudah merasa bahwa dirinya sudah cukup terpuaskan.

Untuk kemudian ia memaparkan lagi alasan alasan dan pandangannya terhadap berbagai agama yang ia kenal. Sebagai tambahan, si American ini juga sudah banyak mempelajari Islam.

Dari saya pribadi, setidaknya sang American memberikan saya tambahan pengetahuan bahwasanya agama, agama apa saja yang ada di dunia ini. Nampaknya belum menjadi sebuah pemuas kebutuhan batin. Hanya sebatas pada aturan aturan dan ritual, atau malahan mistik dan dongeng.

Apakah ritual dalam agama tidak berguna? Bisa jadi! Rajin ibadah belum tentu rajin membantu orang yang memang perlu dibantu. Rajin ke rumah tuhan belum tentu menjadikannya seorang yang bukan koruptor. Rajin baca kitab suci belum tentu menjadikannya seorang yang santun dan berbudi pekerti luhur. Edannya lagi, alim dalam urusan agama belum tentu menjadikan manusia menjadi seorang yang pandai! Contohnya ya Antosalafy

Si A adalah seorang muslim. Sudah naik haji berkali kali, rajin ke mesjid dan jadi imam. Namun tetap saja ia pelit. Pak B adalah seorang pejabat yang tidak pernah bolos ke gereja, namun kedudukannya sebagai kepala bagian instansi tertentu ternyata tetap saja membuat beliau menghamburkan uang dan menyedot uang melalui koropsi dan kongkalikong.

Tuan C sejak kecil sudah dilatih dan diajarkan tentang kitab suci Hindu/Buddha. Bahkan sudah hapal berbagai pelajaran agama Hindu/Buddha. Namun beliau sekarang adalah bosa suka marah marah, berkata kata kasar dan menghardik bawahannya. Malahan sering memarahi sambil menggunakan wejangan wejangan agama.

Saudara D itu lulusan sekolah agama terkenal. Punya banyak buku buku agama. Hafal kitab suci agamannya. Tau banyak tentang sejarah dan riwayat orang orang terkemuka pada agamanya. Namun cara beliau menasehati ponakannya yang sudah keluar masuk penjara itu amatlah tidak bijak.

Beliau selalu menggunakan nama Surga dan neraka sebagai janji manis dan janji pahit. Tak lupa kisah kisah mengerikan yang terkadang tercampur mistik guna menakuti sang ponakan. Bujukan untuk bertaubat dilaksanakan terus, namun tidak pernah berusaha memahami kebutuhan fisik sang ponakan.

Mungkin kalau ada yang membacanya sampai habis. Akan bertanya tanya pada saya, apakah ini nyata? Ya! Tapi jangan tanyakan saya bagaimana contohnya. Bukan takut atau tidak bisa memebrikan contoh, namun saya tidak mau menambah pergunjingan tak berguna. Lagipula, buat apa menggunakan dan memanfaatkan kesalahan orang lain untuk mempertahankan pendapat kita?

Tertawa, atau marah kepada seorang pemimpin dan penyebar agama baru? Kedua duanya. Namun sebenarnya, apakah yang menjadi alasannya? Tertawa, munkin dialami oleh orang orang yang tidak peduli agama, atau malahan sudah mencapai spiritualitas tingkat tinggi.

Marah, menghancurkan dan brutal justru dilakukan oleh orang orang yang sok ngerti agama. Jangan lupa bahwasanya di manapun juga, selama ada hukum yang berlaku, saya rasa tindakan menghancurkan dan tindakan kekerasan adalah tindakan kriminal!

Baik itu rumah ibadah, rumah pribadi, hingga rumah bordil. Apabila dihancurkan tanpa sebab, atau dihancurkan secara paksa tanpa pengesahan, menurut saya adalah tidakan kriminal. Terlebih lagi, tindakan demikian mencerminkan pendeknya atau dangkalnya cara berfikir dan memandang serta menyikapi keadaan dari para penghancur.

Bagaimana jika yang menjadi pengikut atau bahkan pemimpin agama baru tersebut adalah orang orang terdekat dan tercinta kita? Atau bahkan saya sendiri? Saya sendiri tidak akan pedulikan. Kalau orang tua saya, mungkin saya akan mengajak beliau berdiskusi.

Namun kalau selain itu, misalnya teman, saudara jauh maupun saudara dekat? Saya hanya akan berkata silakan dalam hati saya. Selama dia tidak memepengaruhi saya, selama dia atau mereka tidak menjahili dan menjahati saya, saya akan tetap berkata silakan pilih jalan anda sekalian masing masing.

Kesimpulan Dari Saya

Pemuka agama telah gagal dalam mengajarkan umatnya tentang kepuasan spiritual, selama ini yang terjadi banyak sebatas kepuasan semu. Ibadah dan cara pandang menurut agama memang tidak selamanya harus menyenangkan, namun bukan berarti harus selalu menyusahkan tentunya.

Anak anak muslim diajar sholat bukan untuk kepuasan lahir batinnya. Melainkan cuma buat tolak neraka. Padahal sholat tentunya meiliki hal yang lebih dari sekedar pahala. Kesehatan jiwa raga tentu ada di sana, namun ini nampaknya hanya berlaku buat orang orang dengan tingkat spiritualitas yang tinggi.

Lagipula saya bukan ahli agama, apalagi pernah melakukan penelitian terhadap sholat. Saya hanya percaya bahwasanya yoga, pemiusatan fikiran atau semedi itu tidak ada bedanya dengan sholat. Hanya gerakannya atau tata caranya yang berbeda. Tujuan utamanya selalu kepuasan spiritual, kalau yang ini dapat. Kepuasan fisik tentunya sudah turut didapatkan pula.

Dengan kata lain, kepuasan fisik mungkin adalah langkah awal, sebelum menuju kepuasan tingkat tinggi yaitu kepuasan spiritual. Nah, kenapa kepuasan spiritual yang dicari? Jika bisa mendapatkan jawabannya, itulah kepuasan spiritual.

Lebaran yang Berbeda

Oktober 20, 2007

Perayaan Idul Fitri tahun ini kembali berlangsung dalam hari yang berbeda. Yang bikin gara gara masih sama pelakunya dengan tahun tahun yang terdahulu. Siapa lagi kalau bukan pihak Muhammadiyah versus Nahdatul Ulama dan Pemerintah. Seperti biasa juga, Muhammadiyah mengumumkan perayaan Idul Fitri dengan tempo yang lebih cepat daripada dua musuh besarnya yang suka sekali berkolaborasi itu (NU dan Pemerintah). Muhammadiyah mengumumkan perayaan Idul Fitri jatuh pada hari Jum’at. Lebih cepat satu hari daripada Pemerintah dan NU yang akhirnya menetapkan hari Sabtu sebagai hari raya Idul Fitri.

Rapat digelar. Namun keputusan tetap sama. Mari kita membedakan diri dari Muhammadiyah! Barangsiapa yang berlebaran pada hari Kamis. Dia adalah kaum Muhammadiyah. Dan mereka adalah bid’ah!!

He he he. Itu mungkin hiperbola dari saya saja. Bisa juga doktrin tersirat yang ingin disampaikan oleh pemerintah dan NU. Jangan salahkan saya, karena siapapun berhak menilai hasil dari rangkuman kejadian yang terjadi. Hasil apa yang akan terjadi, dan bagaimana pandangan masyarakat, tidak bisa sepenuhnya dikendalikan oleh Pemerintah yang punya kerjaan memecah belah umat.

Sama dengan Death of the Blogger hasil tulisannya seorang blogger yang juga psikolog. Pengumuman tentang perbedaan ketetapan tanggal 1 Syawal dan perbedaan perayaan Idul Fitri bisa dimaknai apa saja oleh seluruh manusia yang ada di bumi ini. Salah satunya adalah pemaknaan seperti yang saya tuliskan dengan cetak tebal itu.

Sekarag saatnya saya sedikit bernostalgia ke jaman Orde Baru. Saat si Mbah Harto yang sakti dan kaya itu masih berkuasa. Saya sendiri lupa persisnya kejadiannya tahun berapa. Yang saya ingat masa itu adalah masa pertama kalinya saya merasakan perbedaan perayaan lebaran.

Untuk lebih mudahnya kita ambil saja tanggal tanggal di tahun 2007 ini sebagai pedoman. Pada masa itu, hari raya Idul Fitri jatuh pada hari Sabtu tanggal 13 Oktober 2007. Namun itu baru menurut penulisan tanggal merah di kalender. ada tanggal 11 Oktober 2007, alias hari Kamis yang juga saat itu dikatakan sebagai tanggal 28 Ramadhan.

Seperti biasa, saya dan anak anak sebaya berangkat ke Langgar. Namanya juga anak anak, sebenarnya saya dan teman teman berangkat ke Langgar bukan untuk sholat taraweh. Melainkan untuk MEROKOK! Karena anak anak masih dilarang merokok, maka anak anak sekampung saya selalu janjian utuk keluar rumah. Taraweh adalah senjata sakti yang bisa membuat kami semua keluar rumah. Kemudian kami berkumpul di dekat Langgar untuk mencari tempat sunyi buat bisa merokok. Tidak lupa pula kami mengumpulkan uang jajan untuk beli sebungkus rokok buat diisap secara berjamaah.

Biasanya kalau sudah begitu, kami bakalan lupa waktu. Karena terlalu asyik mengisap asap rokok sekalian bersenda gurau. Pernah suatu waktu saya pulang ke rumah pada saat orang Taraweh bahkan tadarus sudah bubar. Semua gara gara kesyikan bermain dan merokok bersama teman teman.

Seperti halnya anak kecil jaman kami kebanyakan. Kami juga dititipi buku Pelajaran Berdusta dari sekolah. Buku yang biasanya harus diisi dengan daftar berapa hari berpuasa, berapa hari taraweh plus paraf imam tarawehnya. Berapa kali sholat dalam sehari selama bulan puasa. Berpa ayat Al Qur’an yang dibaca setiap harinya, dan lain sebagainya.

Saya? Saya memang sudah hobi/bakat berdusta sejak kecil. Setiap harinya saat bulan Ramadahan sholat saya dalam daftar di buku itu selalu full. Karena orang tua saya selalu menandatanganinya dan menconteng kolom “Ya” sebagai tanda mereka mengetahui bahwasanya saya memang sholatnya lima kali sehari. Padahal? He he he, untuk urusan ini biar Sang Pencipta saya saja yang tau bagaimana yang sebenarnya.

Untuk taraweh plus paraf imam. Biasanya saya titipkan buku itu keada salah seorang teman saya yang memang rajin taraweh untuk memintakan paraf imam saat taraweh. Atau saya matikan dulu rokok saya, beranjak dari Blok M, untuk kemudian bergegas ke Langgar saat sholat taraweh akan usai untuk meminta tanda tangan imam.

Malam itu. Seperti biasa, setelah berbuka puasa saya keluar rumah dengan alasan taraweh (padahal sebenarnya mau merokok berjamaah bersama teman teman sebaya). Seusai sholat Isya, kamipun langsung Allahuma antassalam lantas pulang. Alias melarikan diri menuju Blok M. Blok M adalah sebutan kami untuk tempat tempat kami biasa merokok. Tempatnya bisa rumah tua yang kosong tak berpenghuni, warung warung pinggir jalan yang memang tutup selama bulan Ramadhan. Bisa juga di tempat tempat berumput tinggi sehingga kami bisa terlindung dari pandangan orang.

Klepas klepus asap rokok pun mengepul ngepul dari mulut anak anak bengal ini. Sambil bercanda ceria, sesekali kami memasang telinga terhadap suara dari megaphone Langgar. Biasanya kami melakukan ini agar bisa mengenali suara imam sholat taraweh di Langgar. Sehingga kami bisa menuliskan nama imam sholat taraweh di buku yang siap diparaf. He he he. Kebetulan di Langgar kampung saya dahulu, imamnya cuma ada 3 orang. Yang tugasnya bergantian. Maka dari itu sangatlah gampang buat kami untuk mengenali suara, nama, dan bahkan bentuk paraf mereka bertiga untuk kemudian parafnya kami palsukan. He he he he.

Namun malam itu telinga kami sama sekali tidak tercemari oleh suara suara keras dari megaphone Langgar sebagaimana malam malam bulan Ramadhan sebelumnya. Padahal kami sudah habis habisan pasang gaya manusia bionik untuk mendengarkan suara dari Langgar. Biasanya setiap Langgar dan tempat ibadah lainnya macam Mesjid atau Mushalla di kampung ini dan kampung sekitarnya selalu terjadi adu kencang suara megaphone. Tambah lagi kalau Mesjid yang banyak jemaah Muhammadiyah-nya berdekatan dengan Mesjidnya orang orang NU, dijamin perang megaphone bakalan berlangsung sengit.

Meski sedikit bertanya tanya, anak anak bengal ini masih melanjutkan merokok. Sampai pada jam dimana kami biasanya balik ke Langgar guna mendapatkan paraf imam sholat taraweh.

Yang kami temui saat itu adalah Langgar yang hampir kosong melompong, hanya ada beberapa langganan Langgar yang nongkrong sambil mendengarkan radio. ‘Deg’. Saya sangat terkejut. Taraweh sudah usai. Hal ini berarti bahwa saya melewatkan satu kolom untuk diisi paraf imam. Hasilnya kelak adalah jatah duit lebaran yang bakalan berkurang. Plus omelan orang tua saya karena saya tidak taraweh.

Selanjutnya sayapun berlari sekencang kencangnya ke rumah. Sudah saya niatkan dalam hati bahwasanya sesampainya di rumah nanti saya akan langsung masuk kamar untuk kemudian pura pura tidur. Daripada dimarahi gara gara melewatkan taraweh.-Padahal aslinya memang selalu bolos taraweh. He he he-.

Namun apakah yang terjadi sesampainya saya di rumah? Orang tua saya nampak tenang tenang saja. Bahkan tidak bertanya seperti apa yang sudah saya bayangkan sebelumnya: “Tadi tarawehnya bolos Nak?”. Ternyata mereka sedang menonton televisi sambil menunggu pengumuman hasil rapat keputusan tanggal berapa 1 Syawal akan disamakan dengan tanggalan Masehi.

Keputusan akhir yang kemudian muncul di News Flash di setiap televisi baik swasta maupun pemerintah saat itu. “Idul Fitri jatuh pada taggal 13 Oktober 2007. Namun bagi yang meyakininya, bisa melaksanakan sholat Idul Fitri pada esok hari tanggal 12 Oktober 20007″. Entah kenapa pada saat itu tidak ada tampang oknum oknum pemerintah termasuk menteri agama yang muncul di televisi. Semuanya hanya diumumkan dalam bentuk News Flash.

Otak manusia, otak setiap manusia Indonesia, atau bahkan mungkin tidak hanya otak setiap manusia Indonesia melainkan sampai pada otak otak orang orang lain di luar Indonesia, tentu berfikir apakah gerangan yang menyebabkan terjadinya perbedaan perayaan hari besar keagamaan umat yang agamanya paling banyak mengisi kolom agama di KTP itu?

Setiap manusia Indonesia pada saat itu memiliki fikiran dengan segala warna warninya, beserta versi pendapat masing masing. Sementara saya pada saat itu berpendapat bahwasanya kejadian ini adalah akal akalannya Mbah Harto saja. Jauh sebelum hari raya Idul Fitri mendekat, si Mbah sudah menyiapkan acara buang duit besar besaran yang namanya sebesar judul acaranya Takbir Akbar Bersama Presiden di Mesjid Istiqlal.

Acara besar besaran yang juga dibesar besarkan itu rencanaya dilaksanakan pada malam hari tanggal 12 Oktober 2007. Jikalau pemerintah (Mbah Harto) menerima pendapat Muhammadiyah-yang saat itu juga mengumunkan bahwasanya Ramadhan cuma 29 hari-, maka rencana besar besaran Mbah Harto bakalan gagal. Padahal sejak beberapa hari sebelum hari itu termasuk hari Kamis, pemberitaan tentang persiapan acara itu sudah habis habisan juga. Kalau Idul Fitri jatuh pada tanggal 12 Oktober 2007. Maka acara tersebut sudah basi dan tidak bisa lagi disebut Takbir Akbar.

Jikalau mungkin mayoritas masyarakat pada saat itu menganggap bahwasanya yang hari raya duluan adalah kaum minoritas. Saya justru menganggap semua YANG BERHARI RAYA BELAKANGAN ADALAH PARA PENDUSTA AGAMA DAN CALON PENGHUNI NERAKA JAHANAM!!

He he he. Itu pendapat sekaligus pandangan saya dahulu kok. Meski sampai sekarang saya tidak pernah ikut hari raya yang ditetapkan oleh pemerintah. Bukan karena saya fanatik apalagi sampai menuhankan Muhammadiyah. Bukan juga karena saya ingin membedakan diri dan tidak mau disebut seorang penganut aliran NU. Melainkan karena saya memang sudah malas puasa. Kalau ada yang cepat, kenapa harus lambat? He he he he he.

Mulai dari sana sampai seterusnya. Jikalau saya masih ketemu Idul Fitri. Siapapun yang mengumumkan hari raya Idul Fitri jatuh lebih cepat, saya pasti ambil yang cepat. Silakan mau mencap saya seorang pengikut atau penganut Muhammadiyah atau NU. Saya sudah bosan dan tidak mau perdulikan segala macam urusan konyol macam itu.

Sejak kecil saya sudah di paksa untuk membesarkan sekalian memperbesar dan membesar besarkan perbedaan tentang orang orang NU dan Muhammadiyah. Sejak kecil saya sudah dikasih makan makanan batin berupa sholat taraweh 20 rakaat plus witir 3 rakaat itu adalah kerjaannya orang orang NU. Sedangkan kalau mau jadi seorang pengikut Muhammadiyah saya harus sholat taraweh 8 rakaat plus 3 rakaat sholat witir.

Pada kenyataannya, yang 8 saja saya malas melaksanakan. Apalagi yang 20. He he he. Makanya kalau saya sholat taraweh pun, sama seperti keputusan hari saya Idul Fitri. Saya pasti ambil yang cepat. karena sekali lagi saya katakan. Kalau ada yang cepat, kenapa harus lambat?

Balik lagi ke hari hari dimana si Mbah membutikan kekuasaannya yang absolut-bahkan sampai sampai bisa mengalahkan majalah bertaraf internasional sekelas Time-dengan semena mena. Pada pagi hari tersebut, di hari Jum’at 12 oktober 2007. Saya bersama keluarga, dan penganut aliran Muhammadiyah cepat lainnya melaksanakan sholat Id. Diiringi tatapan kosong oleh para pengikut NU orang orang yang lain yang tidak merayakan Lebaran pada hari yang sama. Disambut tatapan mata iri oleh teman teman sebaya saya, karena saya sudah makan makanan ringan dalam perjalanan pulang sementara sebagian teman teman saya masih harus puasa.

Ada juga teman saya yang ikut aliran keluarganya. Tidak sholat sunat Idul Fitri pada hari Jum’at. Tetapi juga tidak puasa di hari Jum’at. Sehingga mereka sholat Id nya ikut hari Sabtu. Jadi meskipun percaya pada kecepatan versi Muhammadiyah, mereka masih malu malu untuk murtad dari NU. Sehingga mereka memikirkan cara untuk tetap tidak ingkar dari kesan sebagai pemeluk NU, meski sebenarnya sudah mendukung dan tertarik Muhammadiyah. He he he he.

Besok besok kalau ada Idul Adha. Maulid Nabi, Isra Mi’raj. Atau tahun baru Hijriyah. Yang merasa Idul Fitrinya duluan silakan duluan merayakan hari hari tadi, pun yang belakangan juga jangan bersama sama merayakannya. Bukankah kalian sudah memutuskan untuk menjadi beda? Jadi yang Idul Fitrinya belakangan. Naik Hajinya nanti juga harus belakangan. He he he he.

Bagi saya, blogger yang baik adalah blogger yang selalu berniat bahkan hingga mampu membantu Para Pengunjung Blog melalui tulisan/gambar/video/suara yang ada di blognya. Kalau tidak bisa membantu, untuk apa mem-publish tulisannya di dunia internet. Kalau memang nge-blog hanya untuk pribadi, kenapa tidak hanya disimpan di hardisk? Kenapa harus disebar-sebar pada publik? Kalau tidak mau dibaca publik, kembali saja ke jaman 80-an, nulis di diary kertas merah jambu dengan sampul plastik Hello Kitty juga yang berwarna merah jambu.

Kutipan dari artikelnya Bang Arif Kurniawan yang saya kagumi itu membuat saya memikirkeun bagaimana caranya supaya tulisan saya yang maha dahsyat ini bisa dinikmati oleh para pembaca lainnya. Kata lainnya adalah saya mengajak pembaca lainnya untuk berbagi. Sekalian mengais traffic.

Adalah mustahil bagi saya untuk berdoggy style ria di blog blog orang lain demi mempublikasikan artikel atau alamat blog. Maka dengan demikian, saya mengirimkan tembusan tembusan saja. Buat semua yang bersedia menerima tembusan yang saya berikan (kalaupun memang tembus). Saya ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya. Mereka yang dikirimi tembusan: