Bersuara Dengan Lantang
Oktober 22, 2007
Pernah terfikir oleh saya. Bahwasanya menjadi seorang blogger hanyalah sebuah kesia sian dan membuang buang waktu. Apa gunanya menulis buat blog? Menghasilkan uang? Menghasilkan jumlah hits? Ataukah hanya sekedar kepuasan batin? Atau menjadi ajang silaturahim mungkin?
Maka sayapun berusaha menyuarakan isi pikiran saya melalui blog juga. Guna menjawab pertanyaan yang justru diajukan oleh isi kepala saya sendiri.
Menulis di blog, atau mengisi blog dengan tulisan kita adalah suatu hal yang gampang gampang susah sekalian susah susah gampang. Gampang kalau kita memang menginginkan blog kita hanya sebagai catatan harian. Tinggal tulis apa yang kita alami sehari hari. Atau catatan kegiatan kita selama hidup.
Namun bagi sebagian blogger yang memiliki nilai nilai karya sastra yang tinggi. Catatan harian dan pengalaman hidup saja sudah cukup untuk menjadi ajang pencerahan dan menambah pengetahuan serta pengalaman bagi para pembacanya.
Ada juga blogger yang catatan hariannya menjadi suatu pertentangan. Menimbulkan perang antara pembaca dengan penulis blog, pembaca dan pembaca, atau pembaca dan pemilik blog versus pembaca lain.
Pertentangan itu bisa berupa pertentangan idealisme, pertentangan prinsip hidup, bahkan pertentangan tentang kepercayaan, keyakinan dan agama. Yang bagian ini juga merupakan seorang blogger yang karyanya layak kita acungi jempol.
Blogger yang catatatannya menjadi bahan acuan oleh blogger lain juga merupakan seorang blogger yang hebat. Isi blognya mungkin memang catatan, namun catatannnya misalnya berisi tentang pengalaman mendaki Himalaya sampai puncak. Atau pengalamannya mewawancarai bintang film dan musisi ternama.
Bisa juga catatannya merupakan catatan sang blogger saat mengajar, dimana catatan dari seorang blogger tadi dilengkapi dengan bahan bahan yang diajarkan dan disampaikan dalam kelas dimana sang bloger mengajar.
Ada juga blogger yang menggunakan blognya sebagai ajang menampung tulisan tulisan dari berbagai penjuru. Blogger yang menggunakan blognya sebagai kumpulan kutipan dan bahan bahan yang didapat dan disukainya selama ini. Sampai sampai blogger yang menggunakan blognya sebagai ajang permusuhan dan propaganda.
Kritikan dan saran juga sering ditemukan dalam isi blog. Kritikan sosial, politik, agama bahkan kritikan terhadap diri sendiri, orang lain, organisasi lain hingga kritikan buat negara sendiri dan negara lain juga bisa ditemukan dalam blog.
Ringkasnnya. Isi blog bisa bermacam macam. Sesuai minat dan bakat sang penulis blog. Dari berbagai jenis isi tulisan di blog. Ada satu kesimpulan yang saya simpulkan menurut pemikiran saya sendiri. Yaitu bahwasanya seorang blogger adalah orang yang mau bersuara.
Suara disini maksudnya bukan suara bising atau gaduh maupun teriakan teriakan dan jeritan seperti yang sering dilakukan para penghuni tempat ibadah yang mengotori suara dengan megapone. Ataupun kotoran suara yang dihasilkan oleh orang orang yang suka memperbesar suara knalpot motornya. Melainkan sebuah penyampaian ide kepada khalayak ramai. Dalam hal ini para pembacanya.
Dan orang orang yang berani bersuara adalah lebih baik ketimbang orang orang yang hanya memendam kemampuannya di otaknya atau buku hariannya sendiri. Orang orang yang bersuara dengan nada kritikan juga lebih baik ketimbang orang orang yang hanya bisa memaki dalam hati tanpa ada niat dan usaha untuk kemajuan.
Blogger blogger yang kritis, bagi saya adalah Iwan Fals di dunia blog. Kenapa Iwan Fals? Karena beliau adalah orang yang berani menyuarakan kritik sosialnya. Iwan Fals, adalah seorang musisi sekaligus seniman sejati. Karya karyanya bernilai sastra tinggi sekaligus berisi kepeduliannya terhadap masyarakat. Iwan Fals juga menyuarakan perubahan melalui kritik kritik dalam lagunya.
Sawung Jabo: Ketika semua orang bersuara dan berteriak. Tidak ada seorangpun yang dapat disebut pemberani. Namun saat semua diam, dan ada yang berbisik… dialah peberani sejati.
Semua orang, atau lebih tepatnya semua blogger adalah orang orang yang bersuara. Namun hanya sedikit dari semua blogger yang berani bersuara terhadap hal hal yang lazimnya didiamkan.
Ah, tidak juga nampaknya. Semua blogger sebenarnya bisa bersuara lantang (baca:mengkritik). Hanya saja nampaknya banyak blogger yang masih belum terarah ataupun terasah kelantangan suaranya.
Perlu diingat, bahwasanya apa yang disuarakan itu adalah suara suara yang disuarakan dengan lantang, bukan lancang. Alias kritikan yang bersifat membangun atau mungkin membongkar kembali opini dan topik topik yang selama ini dianggap tabu untuk dibicarakan.
Para wordpresser, apalagi yang sudah cukup veteran tentu tau siapa salah satu blogger yang berani bersuara dengan lantang. Siapa blogger yang suka bersuara dengan lancang, ataupun bersuara dengan ketidakpedulian terhadap suara suara blogger lain.
Marilah bersuara. Apakah itu dengan lancang, lantang, atau bahkan bersuara dengan sopan hingga bersuara dengan tujuan memaki atau omong kosong. Yang penting bersuara. Setidaknya orang orang yang bersuara adalah lebih baik daripada diam membisu. Untuk kali ini, diam adalah emas nampaknya tidak berlaku.
Setelah berani bersuara? Bersiaplah menghadapi suara tandingan. Suara tandingan yang mungkin lebih lantang, maupun suara lantang yang mendukung. Bisa juga pembungkaman dan caci maki serta omelan dari suara suara lainnnya. Tak terlepas pula suara sumbang dan mengejek.
Namanya juga berbuat, pasti ada hasil balasannya. Apa yang kita suarakan akan mendapatkan suara balasan yang berbagai macam jenisnya. Dan jangan takut untuk menerimanya. Selantang lantangnya dan selancang lancangnya suara balasan, semuanya adalah proses pembelajaran dan pengalaman. Baik bagi si penyuara maupun si pendengar.
Sayangnya, suara lain kerapkali muncul. Suara dengan jenis polusi dan keributan. Suara suara macam ini biasanya sangat mengganggu, baik itu penyuara maupun pendengar. Apakah kita harus diamkan saja? Ada yang berkata “ya”. Ada juga yang tidak suka dan mempersiapkan sumbat duluan supaya tidak dikotori dan dibisingi. Ada yang pasang pesan agar jangan berbising ria dan mengotori. Ada juga yang membalas kotoran dan kebisingan dengan lebih kotor dan lebih bising.
Blog saya masih baru. Kira kira apa suara blog saya? Entahlah, para pendengar yang lebih cerdas dalam menilai suara blog saya. Saya hanya bisa berharap agar saya tidak berhenti bersuara. Paling tidak bersuara melalui pengantar bernama blog. He he he.
Ini hanyalah tulisan dari seorang anak manusia yang tidak bisa tidur, meski jam dinding sudah menunjukkan pukul 4 subuh. Serta masih kesal karena harddisknya yang diantara isinya terdapat banyak halaman halaman blog yang menarik masih belum sembuh.
Jadi kalau suara kali ini bising dan tidak karuan. Silakan tutup telinga ada. Tidak usah didengarkan kalau terasa menggangu pendengaran anda sekalian.
Cerita Tentang Bahasa
Oktober 19, 2007
Komputer masih dititipkan di toko komputer, sekarang saya minjam laptop orangtua untuk menulis. Kali ini tidak menggunakan OpenOffice lagi. Entah kapan tulisan ini bisa di publikasikan. Maklum jarang konek internet. Tapi sebaiknya saya tuliskan dulu beberapa rancangan saya sebelum lupa. Itu juga bakalan ditulis kalau lagi ada kemauan.
Karena menulis bagi saya, yang utama adalah kemauannya dulu. Soal topik bahasan nanti bisa dicari kalau kemauan menulis sudah muncul. Jadi inilah beberapa calon calon tulisan dan yang bakalan saya lakukan untuk blog ini:
- Menulis tentang kerusakan alam (Lagi? Kan tadi udah?)
- Menulis tentang 19 Oktober
- Menulis tentang perbedaan Hari Raya Idul Fitri
- Menulis tentang problem saat ber-Ubuntu Linux
- Kembali ke
fitrahasal dan prinsip awal dengan menambahkan satu kategori lagi untuk blog saya yaitu: Lorong Hitam
Okey. Enaknya yang mana dulu ya? Mungkin bisa saya mulai dengan cerita hari ini dulu. Eh salah, maksud saya cerita tentang tanggal 17 Oktober 2007 Pukul 05:30. GMT +08:00. Ceritanya apa? Ceritanya hari ini saya bangun pagi lagi. Karena malam sebelumnya saya berhasil tidur cepat. Jam berapa tidurnya? Jam 2 pagi!
Kenapa dikatakan tidur cepat? For your information: Saya sudah sekitar 2 bulan tidak pernah ketemu pagi. Karena biasanya pada pagi hari saya baru saja tidur. Selama beberapa waktu belakangan ini, saya selalu tidur setelah adzan subuh berkumandang di Langgar sebelah rumah. Alias sudah sekitar dua bulan saya hanya bisa tidur pada pagi, siang, dan sore hari. Sedangkan malam pada malam hari, saya sudah merasa tidak mengantuk lagi.
Apakah saya terserang gejala insomnia? Apakah saya terkena insomia? Insomnia kelas berat atau kelas bantam? Atau mungkin insomnia kelas bantam junior, insomnia kelas bulu? Versi apa? Versi WBA? WBO? IBF? Atau versi WBC? *Pletak!!! Ini bukan membahas soal tinju tauk!*. Oh iya, intinya sich saya susah tidur. Seperti halnya saat saya menulis ini menggunakan laptop merek Axioo, dengan Intel Celeron, 512 MB berkapasitas 40 Gigabyte yang sedang menopang program Microsoft Office Word 2003 ini.
Saat menulis saya sudah tidak mengantuk. Padahal tadi saya sudah berusaha tidur sebelum pukul 12:00 waktu setempat. Sayangnya, gara gara makan mie, ngantuknya kekenyangan dan akhirnya pergi meninggalkan saya.
Aneh? Apa yang aneh? Bahasa yang saya gunakan yang aneh. Meskipun tergolong dan terkategorikan sebagai bahasa Indonesia. Namun merasakan oleh saya bahwasanya bahasa indonesia yang saya gunakan untuk menulis tidaklah sepadan dan sesuai dengan instruksi dari bapak menteri Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) maupun Kamus Besar Bahasa Indonesia. *Dari tadi nulis muter muter. Maunya apa sich?*
Baiklah. Mari belajar berbahasa yang baik, sesuai ejaan baku. Serta belajar menulis seperti apa yang sering dikatakan oleh orang bule sebagai to the point. Alias langsung pada intinya, tidak usah berbelit belit sampai sembelit atau perut melilit.
Kembali pada cerita pada tanggal yang sebelumnya sudah tersebut di paragraf sebelumnya. Pagi hari, setelah untuk pertama kalinya dalam jangka waktu yang terkesan cukup lama, saya berhasil bangun pagi. Setelah jalan jalan menikmati udara pagi yang konon segar dan sehat itu, saya pulang ke rumah, lantas melanjutkan kegiatan saya dengan membaca.
Membaca apa? Membaca file yang merupakan hasil simpanan dari menjelajah dunia maya. File tersebut adalah file yang menurut terminologinya orang barat disebut sebagai HTML page. Alias halaman berekstensi HTML.
Apakah isi halaman berekstensi HTML tersebut? Isinya yang tersimpan adalah tentang Bahasa Indonesia versi Wikipedia. Meskipun tentang Bahasa Indonesia, namun saya menyelamatkannya sebagai (save as) halaman dalam bahasa Inggris. Dimana halaman tersebut secara cukup terperinci menjelaskan tentang Bahasa Indonesia dengan bahasa pengantar yaitu bahasa Inggris.
Sementara itu, sore harinya, saya membeli sebuah buku tentang Iwan Fals, yang ditinjaulah dirinya secara karya sastra dan secara gaya bahasa, begitulah kira kira ringkasnya.
Nah, cukup sudah rasanya menulis dengan hasil yang memutar mutar tidak karuan. Mari kembali konsisten pada topik awal ang ingin disampaikan, sekalian to the point. Sebenarnya cerita tanggal tujuhbelas Oktober tahun 2007 Masehi adalah menceritakan tentang seorang anak manusia yang dalam sehari telah menemukan kembali fitrahnya pelajaran baru tapi lama sekalian pelajaran lama tapi baru.
Apakah itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah pelajaran berbahasa secara umum. Pelajaran berbahasa Indonesia secara khusus. Si anak manusia terbayang lagi semua kenangan saat belajar tentang awalan, akhiran, dan sisipan. Juga tentang pengulangan, majas personifikasi, metafora, hiperbola, hingga akhirnya yang paling baru ditemukan olehnya yaitu bombasme.
Bombasme. Entah itu sudah diketemukan sejak lama. Seumuran dengan saudara saudara semajasnya seperti metafora, personifikasi, hiperbola, litotes, totem pro parte, dan pars pro toto, atau bahkan mungkin saudara saudaranya semajas yang kurang ajar dan kualat bernama Satire dan Ironi. Ataukah memang si bombasme ini hanyalah adik semajas dari mereka?
Yang jelas, majas bombasme baru pertama kali di dibaca oleh si anak saat membaca buku berjudul: Fals. Nyanyian Ditengah Kegelapan. Hasil tulisan Mokoo Awe. Sedikit kutipan dari buku tersebut tentang majas bombasme adalah
Bombasme adalah sarana retorika yang menyatakan sesuatu hal atau keadaan yang merupakan sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal. Pemakaian bombasme ini banyak terdapat dalam lirik lagu yang bertemakan kehidupan rakyat kecil dan protes sosial.
Sampai disitu dulu. Penulis menyebutkan bahwasanya bombasme adalah majas. Sementara si penulis buku menyebutkan bombasme sebagai sarana retorika. Dasar penulis mengatakan bahwasanya bombasme adalah majas, karena sebelum topik bombasme terdapat topik hiperbola yang selama ini di ketahui penulis sebagai majas. Sementara penulis buku tersebut tentunya mempunyai dasar dan daftar pustaka yang kuat pula untuk memperkuat tulisannya. Daripada diributkan, lebih baik dilanjutkan kepada kutipan berikutnya yaitu
Sedanau nanah dari matamu
Tak mampu jatuhkan hati mereka
Serimba luka di dalam jiwa
Juga tak berarti
Kutipan dari apakah itu? Kutipan tersebut berasal dari potongan lirik lagu Iwan Fals yang judulnya adalah PHK. Kutipan selanjutnya dari buku tersebut
Cairan yang keluar dari air mata berupa air mata yang bening, tak berwarna dan tak berbau. Sementara dalam lirik lagu tersebut dikatakan dari mata keluar ‘sedanau nanah’. Padahal nanah merupakan cairan yang keluar dari sebuah luka yang sudah membusuk, berbau, dan pekat. Pemakaian kata ‘nanah’ ini untuk mebuat kesan bahwa tangisan yang dilakukan merupakan penderitaan yang sangat mendalam. Bahkan dalam lirik lagu tersebut masih dikatakan bahwa nanah yang keluar dari mta sebanyak satu danau sehingga semakin menambah kesan yang tragis………………..
Kalau melanjutkan pembahasan mengenai segala macam tetek bengek antek anteknya bahasa dan karya sastra. Ratusan halaman, bahkan mungkin ribuan halaman Microsoft Word tidak akan cukup untuk menggambarkan dan mewakilinya serta menyampaikannya. Pendeknya, ada banyak hal yang bisa dipelajari, didalami dan digali. Untuk kemudian diperdebatkan atau diperincangkan maupun di bagi bagi menjadi sub topik yang lebih spesifik dan detail. Atau mungkin di dekonstruksi, di restorasi, atau direshuffle?
Maka dari itu, mulailah belajar berbahasa yang baik dan benar. Minimal yang mudah dimengerti. Sebenarnya manusia Indonesia sudah tau, sudah belajar dan sudah pernah menerapkan pelajaran berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Hanya saja, banyak yang tidak suka menerapkannya. Apalagi membiasakannya.
Wajar, sangat wajar. Apalagi dalam lingkungan dunia maya macam blog yang mencantol di wordpress, blogspot, blogsome, blogdrive, goblogmedia dan lain sebagainya. Atau berbagai forum online lainnya. Semua lingkungan tersebut dengan senang hati menerima adanya pemakaian Bahasa Indonesia jenis slang, kasar, jorok, atau bahkan yang tidak lazim maupu yang sok intelek dan bertele tele sampai yang benar benar membingungkan pembacanya sendiri. Pun juga bahasa es mambo, es campur dan es pelangi seperti Bahasa Indonesia campur Arab, Bahasa Indonesia campur Inggris, Bahasa Indonesia campur bahasa daerah dan lain sebagainya.
Mengapa terjadi fenomena seperti itu? Penulis berpendapat bahwasanya kejadian luar biasa ini terjadi karena:
- Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional tidak mampu mengakomodir atau memfasilitasi penyampaian ide dan fikiran atau gagasan bahkan doktrin dan paksaan yang ingin disampaikan oleh para penutur bahasa itu sendiri. Contoh jelas baru saja terjadi dimana Bahasa Indonesia tidak mampu mengakomodir atau tidak sepenuhnya mampu memfasilitasi penyampaian ide mengakomodir itu sendiri menjadi kata kata yang represetatif.
- Bahasa Indonesia terlalu kampungan, tidak gaul,
maupun tidak bisa menjamin masuk syurga seperti bahasa Arab,maupun tidak lengkap sehingga penuturnya malas menggunakannnya. Dan lebih suka menggantikannya dengan bahasa yang lebih keren,lebih agamis dan syurgawi,lebih intelek hingga lebih gaul. - Penuturnya sendiri lebih bangga dengan bahasa lain. Sehingga tidak berminat menggunakan Bahasa Indonesia. Atau lebih suka mencampurkan bahasa lain kepada Bahasa Indonesia dengan dalih yang berbagai macam dan beragam versi.
- Bahasa Indonesia bukan bahasa yang bisa menjamin masuk surga. Bahkan bahasa yang mengandung lemak babi yang bisa membuat penuturnya masuk neraka. Kenapa begitu? Karena bahasa Indonesia itu plural. Sebab terdiri dari serapan pluralisme latar belakang bahasa dan budaya. Dimana pluralitas, plurarisme dan sejenisnya itu dekat dengan sekularisme, dan sekularisme itu dekat dengan rekayasa dan strategi penghancuran umat oleh kaum Barat, Kafir, Kapitalis dan Yahudi laknat terkutuk!
- Silakan tambahkan pendapat anda para pembaca dan komentator.
Sudah mulai meracau tidak karuan nampaknya. Oh, pantas. Sudah hampir pukul 3 subuh. Sekarang saya harus memaksa mata saya untuk terpejam. Pesan: Pergunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam menulis blog. Minimal berusahalah untuk diri anda sendiri dulu. Oh ya. Pesan itu juga ditujukan dan ditekankan kepada penulis. Semoga kelak penulis bisa menulis tulisan selanjutnya dengan bahasa Indonesia yang lebih baik dan benar. Amin. Semoga terkabul. Selamat tidur.


