Dua grup band ini merupakan grup band besar di Indonesia, kiprah mereka di dunia rekaman musik Indonesia sudah dimulai sejak era 90’an. Dan semua orang tentu tahu betapa susahnya untuk bisa berkiprah dan tetap eksis di dunia musik seperti apa yang telah dua grup band ini lakukan.

Ada satu yang terlintas di benak saya selama beberapa hari ini, bahwa dua grup band ini punya berbagai kesamaan sejak dari pertama kali album mereka muncul sampai sekarang ini. Berikut akan saya coba jabarkan persamaan persamaan tersebut.

Pertama, persamaan yang paling mudah dilihat dalam kemunculan album perdana Slank dan Dewa 19 adalah jumlah personel, dan gaya rambut mereka. Slank album pertama bermaterikan 5 orang personel yaitu Bim Bim (Drum), Kaka (Vokal), Bongky (Bass), Indra (Keyboard), dan Pay (Gitar). Sedangkan Dewa 19 di isi oleh Dhani (Keyboard), Erwin (Bass), Wawan (Drum), Andra (Gitar), dan Ari Lasso (vokal). Pada album perdana ini juga seluruh personel dari Slank dan Dewa 19 tampil dengan gaya rambut gondrong khas musisi awal tahun 90’an.

Kedua, Slank dan Dewa 19 dalam album pertamanya sama sama menampilkan kualitas musik yang tinggi dan mampu menggebrak pasaran, menununjukkan karakter musik yang kuat, serta punya vokalis dengan suara yang khas.

Ketiga, Slank dan Dewa 19 punya satu orang yang menjadi aktor utama dalam inspirasi lagu dan penulisan lirik lagu, aktor ini adalah yang paling dominan dan paling banyak menciptakan lagu buat grup band masing masing. Slank punya Bim Bim sebagai penulis lagu yang utama, sedangkan di Dewa 19 ada Dhani.

Keempat, baik Slank maupun Dewa 19 sama sama berjaya dan meraih popularitas mereka dalam rentang waktu 1993 sampai 1999, dimana dalam lima tahun tersebut kedua grup band ini meraih berbagai penghargaan, menggelar konser dan tampil di televisi dengan intensitas yang cukup tinggi pada saat itu, termasuk mengambil hati rakyat Indonesia dari berbagai latar belakang pendidikan maupun status sosial untuk menjadi fans mereka.

Kelima, vokalis mereka sama sama makin turun kualitas vokalnya, meski tidak kehilangan karakter, namun baik Kaka Slank maupun Ari Dewa sama kehilangan nafas panjang dan nada tinggi suara mereka. Tak akan ada lagi teriakan sangar Kaka Slank macam yang ada di lagu Aborsi, Karang, ataupun Mau Tidur. Ari Lasso juga tak lagi menunjukkan kemampuan vokalnya seperti pada lagu Kangen, Hanya Mimpi, atau Swear.

Keenam, baik Slank maupun Dewa 19 pernah bermasalah dengan yang namanya narkoba. Personel Slank dan Dewa 19 terjerumus dalam lorong hitam bernama narkoba, bahkan sampai pada taraf yang parah sekali. Sampai sampai Bim Bim pernah digosipkan mati.

Ketujuh, Slank dan Dewa 19 pernah hampir bubar saat mereka kehilangan personilnya. Slank kehilangan Bongky, Indra, dan Pay (sekarang membentuk BIP), sedangkan Dewa kehilangan Ari Lasso (solo karir) dan Erwin (kalau tidak salah sekarang bergabung dengan Nukla).

Kedelapan, baik Slank maupun Dewa 19 menyisakan dua personil asli mereka sejak album pertama mereka, yaitu Bim Bim dan Kaka pada Slank, sementara Dewa 19 menyisakan Dhani dan Andra

Kesembilan, Slank dan Dewa 19 terus berevolusi dengan warna musik mereka yang makin beragam, progresif dan inovatif dalam setiap album barunya. Hal ini sedikit banyak terpengaruh oleh pergantian personel di tubuh masing masing

Kesepuluh, masing masing sudah memiliki manajemen yang kuat, termasuk mereka juga sudah mampu memproduseri sendiri album mereka. Kedua band ini juga punya studio rekaman sendiri.

Kesebelas, kedua band ini punya penghasilan besar dari penjualan album, manggung dan lain sebagainya. Namun salah satu konsekuensinya adalah lagu lagu dalam dua album terakhir mereka yang mulai datar, jarang lagi ada warna warni musik seperti yang sering mereka tampilkan pada album album sebelumnya.

Demi menjaga konsumen yang juga berarti menjaga penghasilan, Slank dan Dewa 19 lebih memfokuskan diri untuk membuat lagu lagu yang bisa laku dipasaran, sehingga mereka mempertahankan gaya bermusik yang sudah pasti diterima masyarakat meski dengan gaya musik tersebut akhirnya musik yang mereka tampilkan menjadi statis, ketimbang membuat lagu lagu bagus dan beda dari yang lain seperti yang biasanya mereka lakukan, dengan kata lain musik mereka mulai basi dan menjemukan untuk didengar, apalagi kalau harus didengar berulang ulang.

Dewa 19 dan Slank mungkin masih tertolong dengan skill alami dan pengalaman personel mereka sehingga lagu lagu mereka masih tidak kehilangan ciri sama sekali, namun kalau disuruh memilih, saya akan lebih memilih lagu lagu Slank seperti Reaksi Kimia, Telanjang, Apatis Blues, Pulau Biru, ataupun Bang Bang Tut ketimbang lagu lagu seperti Slankkissme, Yang Manis, Atjeh, atau pun Juwita Malam dan Jakarta Meledak Lagi. Saya juga lebih menyukai lagu lagu Dewa 19 macam Restu Bumi, kita Tidak Sedang Bercinta Lagi, Mahameru, Aspirasi Putih, Satu Sisi, Cukup Siti Nurbaya, maupun lagu lagu macam Angin, Pupus, dan Roman Picisan, ketimbang, Pangeran Cinta, Matahari Bintang Bulan, Indonesia Saja, Laskar Cinta, Sedang Ingin Bercinta, Lelaki Pencemburu, atau Aku Tetaplah Aku.

Padahal, dengan popularitas dan penghasilan tinggi seperti mereka sekarang, apa salahnya membuat warna warni musik seperti yang sudah mereka lakukan sebelumnya, kenapa harus membuat lagu yang nuansanya “itu itu saja”, kalau bisa menjelajah gaya musik baru yang lebih progresiff?.

Bim Bim mungkin sudah dimakan usia, dan idenya mulai kering, tambah lagi Ridho dan Abdee sebagai personel baru kurang banyak memberi warna lain dalam musik Slank, tidak seperti Bongky, Indra, dan Pay.

Sementara Dhani Dewa lebih suka menjadi artis infotainment dan melakukan hal hal kontroversial ketimbang bikin lagu bagus kaya Cintakan Membawamu, ataupun Still I’m Sure We Love Again. Kalaupun bikin lagu, seperti yang terjadi pada dua album terakhir Dewa 19, Dhani lebih suka mengkondisikan agar ia bisa ikut menyanyi, bahkan kalau perlu jadi lead vokal, bukan jadi keyboardist yang mengeksploitasi kemampuannya dan memperindah musik dengan dentingan nada nada manis dan enak didengar.

Andra sibuk dengan side project nya. Sementara Once dan Yuke lebih banyak jadi anak manis dan penurut, lalu memainkan musik sesuai instruksi dan rancangan Dhani, ketimbang menyodorkan ide kreatif seperti yang dulu dilakukan oleh Ari Lasso dan Erwin.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.