Insya Allah

Seketika setelah saya membaca tulisan Distorsi Insya Allahnya Sains-Inreligion, saya kembali terkenang betapa saya telah sering menggunakan kata “Insya Allah” sebagai sebagai kata kata yang berarti “tidak”, alias sebagai cara halus dari penolakan.

Saat saya masih tinggal di Banjarmasin, di kampung saya setiap minggu didakan semacam acara selamatan atau yasinan, yang lokasinya bergiliran dari tiap tiap rumah warga. Dan setiap kali acara diadakan, tuan rumah mengingatkan, sekaligus mengundang waga lain dengan cara door to door, maka salah satu wakil tuan rumah yang akan berkeliling kampung mengetuk pintu para tetangga dan menyampaikan undangan untuk menghadiri acara.

“Tanggal sekian (malam nanti) datanglah kerumah saya, kita ada acara..” begitulah yang sering mereka sampaikan. Setiap kali undangan ini datang, saya selalu menjawabnya dengan kata “Insya Allah” saya akan datang. Ah, betapa berdosanya saya saat itu, karena jawaban saya itu selalu bermakna bahwa “Maaf, saya sibuk”, “Maaf, saya tidak bisa datang”.

Karena pada saat itu saya selalu lebih memilih untuk berdiam diri di rumah, menonton televisi, atau jalan jalan kerumah teman teman saya. Sampai akhirnya saya berfikir bahwa kebiasaan ini harus saya hentikan segera. Dan yang lebih mendukung lagi sebenarnya adalah kepindahan saya ke Banjarbaru, dimana di komplek perumahan saya yang baru, acara tiap minggu itu khusus ibu ibu, bukan buat kaum laki laki lagi. Sehingga saya tak perlu lagi berdusta dan mengelak secara halus setiap minggu.

Namun saya juga sudah bertekad, untuk tidak lagi menyalah gunakan kata kata “Insya Allah”. Saya cuma akan menggunakannya di saat yang saya rasa benar benar tepat, seperti misalnya waktu teman bertanya “besok bisa datang?”, baru saya menjawab dengan kata “Insya Allah”, apalagi saya memang niat untuk datang dan benar benar berusaha untuk bisa datang. Sementara untuk menolak secara halus, saya lebih memilih untuk berusaha jujur.

Misalnya seorang kerabat mengundang saya untuk datang ke acara, kalau saya memang tidak bisa datang atau berhalangan hadir, saya akan menolak undangannya dengan kata kata “ya, akan saya usahakan untuk datang”. Atau cukup dengan “ya” saja, kemudian setelah acara nanti saya akan menghubunginya lagi dan berkata “maaf kemaren ga sempat datang”, meski harus sedikit berdusta, tapi bagi saya ini lebih baik ketimbang melakukan penolakan dengan kedok “Insya Allah”.

13 Responses to “Insya Allah”


  1. 1 erander 9 March 2007 at 16:57

    Mungkin ‘kita’ termasuk orang yang susah untuk mengatakan tidak sehingga mencari kata lain agar kelihatan sopan .. eh, malah kata Insya Allah yang ‘dianiaya’ untuk menutup kedok. Tapi apapun, ada sisi positip atau negatip. Syukur kalo sudah sadar. Buat yang belum .. ya kita kudu ingatkan. Bahkan .. orang non muslimpun pernah saya dengar mengucapkan kata Insya Allah .. wadoh! .. kalau saya, lebih suka bilang: “Maaf, sebenarnya saya ingin sekali datang tapi berhubung saya ada kegiatan lain dan sudah diagendakan jauh2 hari, saya tidak bisa hadir.” atau “Saya usahakan untuk menyelesaikan acara saya yang lain. Kalo masih sempat atau ada waktu, saya akan mampir” atau “Ga usah ditunggu, kalo masih sempat saya hadir.” ya gitu deh ..

  2. 2 Amd 10 March 2007 at 20:40

    Kalau cuma bilang “Iya” atau “saya usahakan” kan kurang “Islami”, Rid?

    Ya sudah, Insya Allah, SAYA AKAN, tidak lagi menggunakan frase Insya Allah jika di hati ada niat ingin mengingkari janji… Walaupun kesannya tetap kurang “Islami”

    Hmm… I wonder…

  3. 3 Fortynine 11 March 2007 at 17:17

    inilah problematika kita, mudah mudahan kita bisa bersikap bijak dalam menggunakan kata Insya Allah. Amin

  4. 4 joesatch 19 March 2007 at 18:37

    kadang2 saya bersyukur 19 tahun tinggal di bali. jadi kurang sering menggunakan istilah2 ketimur-tengahan itu. malah jadi lebih jujur, nggak menggunakan istilah2 islami buat bersembunyi

  5. 5 Fortynine 20 March 2007 at 17:14

    Untung benar kau Joe

  6. 6 Amd 22 March 2007 at 22:55

    Kalau “Insya Allah” di title blogmu itu hukumnya apa tuh?

  7. 7 Fortynine 24 March 2007 at 22:50

    Halom (*mau bilang haram ragu, mau bilang halal da berani*)


  1. 1 Salafy Bikin Ulah Lagi. Dan Kali Ini Saya Tidak Boleh Diam™ « I’m not King, Queen, or Gods. I’m just Slankers Trackback on 26 April 2007 at 11:00
  2. 2 Kumpulan Cerita Di Hari Jum'at dan Malam Jum'at, Yang Tidak Diceritakan DI Hari Jum'at « I’m not King, Queen, or Gods. I’m just Slankers Trackback on 3 May 2007 at 17:51
  3. 3 Otak, Akal dan Hati « Generasi Biru Trackback on 6 December 2007 at 11:30
  4. 4 Ospek, dan Latihan Pemantapan « Generasi Biru Trackback on 6 December 2007 at 16:52
  5. 5 Hiatus Seminggu « All That I Can’t Leave Behind Trackback on 14 December 2007 at 10:07
  6. 6 Salafy Bikin Ulah lagi, Kali Ini Saya Tidak Boleh Diam « Mereka Bicara Salafy n Wahabi Trackback on 3 January 2008 at 09:39

Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: