Dosen Dengan Pernyataan Jahanam

Para guru itu hanya bisa ngiri dengan para dosen macam kami ini, mereka itu teriak teriak minta naik gaji, dan menganggap kerjaan kami para dosen ini lebih ringan dari mereka, sehingga tidak layak untuk digaji lebih tinggi daripada para guru, padahal mereka itu tidak tau kalau dosen itu lebih susah kerjaannya daripada guru. Wajar saja kalau kami digaji lebih tinggi daripada mereka, guru itu mending ga usah nagih naik gaji deh.

Jujur, saya tidak tau siapa nama keparat yang telah mengutarakan statement seperti ini, dan sebagai seorang anak guru dan sebagai calon guru, betapa tersinggungnya saya, kalau saja saya bertemu dengan orangnya, biar saya hajar si bangsat itu habis habisan!, dan gara gara ini pula perjalanan pulang saya ke Banjarbaru jadi tidak menyenangkan.

Saya memang hanya mendengarnya dari cerita calon istri mantan kekasih saya, namun seketika saya tersentak, betapa jahanam satu ini telah menghina saya dan menyinggung harga diri saya dan keluarga saya. Sebagai seorang anak yang mempunyai orang tua yang keduanya guru, saya tau persis bahwa Abah tidak pernah sekalipun minta naik gaji, bahkan mengurus kenaikan pangkatnya saja beliau harus dipaksa dulu oleh keluarga beliau, itupun setelah bertahun tahun tidak diurus.

Beliau tidak pernah minta naik gaji dan lebih memilih untuk korupsi. Korupsi waktu, dengan demikian beliau bisa mencari rezeki dengan cara lain, kalau tidak ada lagi jam mengajar, meski jam pelajaran disekolah belum berakhir, beliau akan pulang dan mengerjakan pekerjaan lain yang bisa membantu menjadi tambahan penghasilan, seperti misalnya dagang dan penyedia jasa.

Ibu saya adalah seorang guru dengan dedikasi tinggi terhadap pekerjaannya, beliau tidak pernah mau terlambat, apalagi kalau mengajar jam pertama, jam tujuh pagi beliau sudah datang ke sekolah. Saya juga tau benar betapa saat musim ulangan tiba beliau akan begadang merancang soal matematika yang masih harus diverivikasi berkali kali oleh beliau sendiri.

Soal matematika yang kadang kadang hanya dikerjakan dengan sembarangan dan seenaknya oleh para murid itu, harus melalui tahapan panjang untuk bisa sampai ketangan siswa, dan para guru lah yang harus berjuang keras untuk itu. Saya tau betapa lelahnya seorang wali kelas ketika harus mengurus absensi dan daftar nilai raport murid muridnya yang sekolahnya seenaknya dan di dalam kelas lebih banyak main hp serta tidak memperhatikan pelajaran itu.

Sedangkan dosen? Okelah, pada tahun tahun pertama mereka akan merasa cape karena disuruh suruh oleh dosen senior, setelah itu? Dengan datangnya dosen junior mereka akan dengan entengnya menyuruh dosen junior untuk melakukan apa yang dulu diperintahkan oleh senior buat mereka.

Kemudian katanya dosen itu punya jam kerja yang lebih padat daripada guru, sampai pukul setengah lima sore misalnya, tapi bukankah penghasilan guru dan dosen pada dasarnya sudah berbeda? Kalau seorang guru dengan gaji 800 ribu rupiah perbulan mengajar cuma sampai jam 12 siang, maka dengan gaji yang diatas satu setengah juta rupiah perbulan.

Apakah seorang dosen masih bilang bahwa kerjaanya sampai sore itu lebih melelahkan? Apalagi kalau seorang dosen itu mengajar yang giliran siang, dengan enaknya mereka bisa berangkat lima menit sebelum kelas dimulai, dan kemudian dengan santainya terlambat masuk kelas untuk mengajar.

Satu lagi, seorang dosen tidak akan pernah menanggung kemarahan dan caci maki orang tua siswa yang merasa kecewa anaknya tidak lulus Ujian Akhir Nasional. Pernahkah bapak dan ibu dosen merasa berdosa bila mahasiswanya tidak lulus? Pernahkah bapak ibu dosen merasa bertanggung jawab terhadap penyampaian materi yang terus berubah yang tidak dapat tersampaikan dan dikuasai dengan baik oleh oleh muridnya? Pernahkah bapak dan ibu dosen merasakan betapa susahnya menyampaikan materi kepada siswa, sementara siswa di dalam kurikulum dituntut untuk bisa menguasai materi tersebut?

Mungkin kalian para dosen akan dengan mudahnya menyuruh mahasiswa untuk mengerjakan soal atau tugas yang kalian berikan, tanpa perlu kawatir bahwa materi itu tidak perlu dikuasai, yang penting mahasiswa ngumpul tugasnya, lalu ikut middle dan final test sebagai syarat kelulusan dalam mata kuliah kalian.

Dengan buku buku yang seabrek, dan berbagai referensi, para dosen dengan mudahnya mengambil dan memodifikasi soal soal, tanpa harus mumet merancang soal yang sesuai dengan kurikulum seperti yang dilakukan para guru. Kalian para dosen juga tidak perlu risau bila tidak bisa mengajar, cukup dengan ganti hari atau dengan ganti jam pelajaran, maka akan terselesaikan masalah.

Kalau perlu mahasiswa yang protes dengan jam kuliah baru yang anda tetapkan langsung saja hadiahi dengan nilai “D” atau “E”, biar dia jera. Coba kalau guru yang seenaknya aja meberikan nilai, kasih siswa nilai 3 misalnya dalam raport, alamat bakal menjadi undangan eksklusif buat orang tua si siswa untuk berantem atau setidaknya bedebat dengan sang guru.

Dosen juga tidak perlu menjadi wali kelas yang harus siap sedia untuk dipanggil dan menenangkan murid muridnya, apabila seorang wali kelas kebetulan dapat hadiah kelas yang nakal dan ribut, jadi wali kelas tidak ada tambahan gajinya, sedangkan dosen mengajar ada hitungan penghasilannya.

Kalau para dosen berangkat untuk melanjutkan kuliah, mereka tidak perlu risau meski harus kuliah dengan biaya sendiri, masa depan yang menunggu sangatlah cerah, uang yang menunggu sangatlah banyak saat nanti si dosen pulang sekolah. Guru melanjutkan sekolah? Uang darimana? Untuk kebutuhan hidup sehari sudah harus diakali dan dimodifikasi sesuai kebutuhan, kapan lagi harus mikirkan menyisihkan uang untuk bayar biaya melanjutkan sekolah? Bila sudah jadi dosen super senior, bisa seenak perut dan seenak hati mengatur jadwal sendiri, dan bisa lebih santai, dengan gaji yang tetap lebih tinggi daripada guru yang super senior yang mengajar Senin sampai Jum’at.

Yang terakhir adalah, dosen itu menikimati hasi kerja keras guru, mulai dari guru TK, SD, SMP, sampai SMA yang telah menanamkan kemampuan pada siswanya, guru guru yang telah menjadi seseorang yang digugu dan ditiru oleh siswa. Dosen ibarat menjadi cukong buah yang dengan seenaknya memilh dan memetik buah masak untuk diambil dan dijual, sementara buah produk gagal dibuang seenaknya, sementara buah itu adalah hasil kerja keras penanamnya yaitu guru.

Dengan sistem pendidikan masih seperti sekarang ini, masihkah layak guru itu bergaji lebih rendah daripada para keparat kampus bernama dosen, yang kadang kadang mengajarnya cuma seminggu sekali dua sks, tapi gajinya lebih tinggi daripada guru yang mengajar tiap hari selama seminggu, empat sampai enam jam pelajaran?

17 Responses to “Dosen Dengan Pernyataan Jahanam”


  1. 1 agorsiloku 22 March 2007 at 19:51

    pada posisinya masing-masing, pada tingkat kesulitan masing-masing. Penghargaan materi kadang tidak seimbang. Kadang harus diakui juga ya, kerja keras, kerja pintar, sedikit persaingan, banyak tantangan menghasilkan hasil berbeda-beda. Saya masih ingat lagu Ebiet G Ade :”… Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras, tapi kau tetap tabaaaah….”
    Dan di lain sisi, tanpa semuanya, menghitung depositonya yang terus menggunung dari hari kehari..

  2. 2 Amd 22 March 2007 at 22:45

    Mungkin persepsimu akan berubah kalau sudah jadi suami dosen?😀

    Atau haruskah saya jadi dosen juga? Biar bisa menyalurkan aspirasi anda?

  3. 3 erander 23 March 2007 at 09:47

    Mas Farid, saya dipihak anda. Memang ada yang keliru dalam dunia pendidikan kita – mulai dari TK s/d Perguruan Tinggi – baik soal penggajian, apalagi soal kurikulum. Belum lagi pendidikan agama. Sudah deh. Makin mbulet dan ribet.

    Prihatin. Mungkin kata yang pas menggambarkan kondisi kita saat ini terutama guru2 yang ada dipelosok bumi pertiwi ini. Yang ada di pegunungan2 Papua, hutan2 belantara Kalimantan, pedalaman Sulawesi, tempat terpencil di Sumatera.

    Ada ga ya dosen yang mau ditempatkan di daerah2 seperti itu? kalo pun ada mereka lebih suka berleha2 di kota. Saya juga coba untuk memahami kondisi seperti ini. Ibarat mana dulu telor dengan ayam. Jika dosen tidak diberi gaji tinggi – mungkin – dengan gelar S1/S2/S3 mereka lebih senang kerja diluar.

    Yang ketiban para guru. Gara2 program wajib belajar dan anggaran pendidikan kecil, maka guru ‘dipaksa’ menerima nasib. Kemaren saya lihat berita di TV bahwa anggaran pendidikan sudah 20% dari anggaran belanja. Syukurlah. Mudah2an dengan anggaran yang cukup besar dapat menaikan gaji guru.

    Mas Farid tetap semangat ya. Mungkin di dunia ini kita kekurangan tapi diakhirat nanti, Insya Allah, sumbangsih para guru yang telah diberikan akan dibayar Allah. Jujur saya bisa seperti ini berkat guru2 saya. Perubahan cara berpikir saya bukan ketika saya kuliah.

  4. 4 zaki 24 March 2007 at 17:49

    dosen itu menikimati hasi kerja keras guru, mulai dari guru TK, SD, SMP, sampai SMA yang telah menanamkan kemampuan pada siswanya, guru guru yang telah menjadi seseorang yang digugu dan ditiru oleh siswa. Dosen ibarat menjadi cukong buah yang dengan seenaknya memilh dan memetik buah masak untuk diambil dan dijual, sementara buah produk gagal dibuang seenaknya, sementara buah itu adalah hasil kerja keras penanamnya yaitu guru.

    Temuan yg menarik…

    Ttg pernyataan jahannam. Mungkin itu karena si Dosen merasa sudah lewat S1, S2 hingga S3. Sedangkan guru menurutnya, mungkin, S1 ajah nggak (jd inget Program Sertifikasi Guru yg lg heboh disosialisasikan). Menuntut ilmu untuk sombong2an dan merendahkan yang lain memang membuat nurani gelap gulita.

    Dan, Gaji Guru memang harusnya lebih tinggi dari Presiden!

    @Pak Erander: Spt-nya APBN 20% itu blm tercapai deh Pak. Sepengtahuan saya, baru sekitar 10-15%. CMIIW.

  5. 5 Tan malaka 24 March 2007 at 20:00

    Saya tidak setuju guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa guru adalah pahlawan tanpa apa apa !

  6. 6 Fortynine 24 March 2007 at 22:47

    @Agorsiloku: (*mikir*), itu lagu Ebiet pasti yang judulya “Titip Rindu Buat ayah”. Makanya Mas, gimana kalau negara ini dibikin kaya gini aja

    @Amd: Mungkin juga, yang jelas saya benci oknumnya ko, bukan profesi dosennya.

    Lakasi ha jadi dosen, nyaman kena ngiau dosen pakai ngaran ja, kada be “pa” segala.

    @Erander: Makasih dukungannya Mas, kalau mau baca pengalaman buruk saya yang lain dengan dosen bisa di baca di sini

    @Zaki: Pembelaan manis buat Guru

    @Tan Malaka: He he..(*cuma bisa ketawa*)

  7. 7 deKing 25 March 2007 at 01:40

    Dosen=guru atau tidak ya?

    Begitulah manusia yang selalu angkuh-sombong dan tidak pernah puas…

    Dosen menganggap bahwa gaji yang diterimanya memang sudah sepantasnya jika dibandingkan pekerjaannya, hal ini hanyalah suatu cerminan dari keangkuhan oknum dosen tsb…

    Sebenarnya berapa sih gaji dosen? Apakah memang benar gaji dosen jauh lebih tinggi dari gaji guru? Kalau sama2 PNS sepertinya sih gaji mereka sama, kan ada aturan mengenai gaji pokok PNS yang berdasarkan golongan.

  8. 8 rajaiblis 25 March 2007 at 15:15

    di penghujung tahun 1960 …
    ada seorang guru …
    lulusan Holands Inlandse School !
    fasih 5 bahasa … jerman, inggris, belanda, jepang, china

    kini sudah tenang di alam baka !
    bila bukan karena ‘bantuan’ seorang jenderal yg nota bene adalah muridnya semasa SD dan SMP, sang guru mungkin masih berteduh di bawah atap rumbia !

  9. 9 Fortynine 25 March 2007 at 17:52

    @Deking: Gaji dosen emang lebih tinggi dari guru, tapi menurut saya di Indonesia guru kerjanya lebih keras daripada dosen, tapi tidak lebih besar gajinya.

    @Raja Iblis: Ngebelain guru juga Bliis?

  10. 10 erander 25 March 2007 at 22:34

    Ulun sudah baca pengalaman buruk ikam. Tapi kadak harus dendam pang? Ulun sih coba untuk berpikir baik saja. Dari cerita ikam, kok kadak ada tergambar ya, apa yang mereka inginkan. Setahu ulun, komunikasi yang efektif adalah jika kita ingin dipahami oleh orang lain, maka kita harus memahami orang lain dulu.

    Apa yang dialami ikam, ulun juga pernah ngerasakan juga pang hehehe🙂 tapi ulum positip thinking jar.

    @zaki .. thanks infonya

  11. 11 peyek 25 March 2007 at 22:53

    mungkin ini juga jadi salah satu alasan mengapa saya berhenti jadi dosen.

  12. 12 Fourtynine 27 March 2007 at 09:47

    @Erander
    Ulun kada dendam, soalnya ulun urangnya baik hati dan kada pendendam. ulun cuma sangkal ja, jadi hamuk, tapi hamuknya cuma di blog, kada hamuk ditangah urang banyak. Apalgi sampai behehancur. Masalah pengalaman buruk itu biarja sudah, yang lalu biarlah berlalu, cukuplah diingat hanya dalam tulisan di blog ini. He He..

    @Peyek
    Kalau ga jadi dosen? Sekarang jadi apa?

  13. 13 USB80 10 August 2007 at 23:29

    wow… redakan emosimu kawan! Kalau ada yang bicara seperti itu… barangkali dia frustrasi juga karena selama ini guru mendapat perhatian penuh, sedangkan dosen tidak. Sebenarnya mau dosen atau guru… samalah: memberikan pendidikan, membuka wawasan dan (semoga) mengantarkan generasi yang di bawahnya menjadi lebih baik.

    Bukannya sok bijak ya, saya juga dosen. Malah lebih parah lagi… dosen paruh waktu (freelance), yang tak ada jabatan, tak dalam struktur dan tak… tak… lainnya. Percayakah Anda kalau mengajar di salah satu universitas negeri ternama dan kebetulan Anda S2 yang lebih banyak berpengalaman di dunia kerja yang lumayan ganas, hanya di bayar Rp 80.000 (kena PPh pula!) untuk sekali datang? Mau SKS 1, 3 atau 10 pun ya segitu bayarannya. Cakep kan?

    Sebulan dapatnya Rp 320.000. Jangan pernah pikir kalau,”Ah… kan dapat juga dari pekerjaan lainnya.” Pemikiran yang keliru sama sekali. Kita (mau guru/dosen) harus menghargai profesi kita, ya salah satunya dengan “upah” yang tak pernah beres sampai hari ini. LEBIH BAIK KITA BERJUANG BERSAMA-SAMA, jangan lihat ini guru, itu dosen.

    Bukannya dulu kita menang dari penjajahan Belanda/Jepang karena kita bersatu? Tak adalah aku wong jawa, situ urang awak, beta dari ambon terus masing-masing menolak menghalau penjajah. Karena FAKTOR KITA BERSATU ITULAH… PENJAJAH BUBAR! Semoga udah dingin hatinya ya…

  14. 14 Fortynine 11 August 2007 at 08:44

    @USB80: Ga papa. semuanya sudah berlalu kok. Kapan kapan akan saya repost hal ini. Dengan catatan saya tidak malas untuk me-repost…. :mrgreen:

  15. 15 Sylvestre Gabriel 1 November 2008 at 14:20

    Menarik.
    Tapi pleezzz, jangan emosional geeto dhunk nulisnya. Kesan ku jadi nggak bhae’ ^_^ peace.
    Yup, mau ringan atau berat tergantung orangnya;
    1. Kalo dikerjakan sungguh2 dan dinikmati pasti pekerjaan seberat apapun terasa ringan.
    2. Kalo dikerjakan sungguh2 tapi nggak enjoy, pasti bawaannya cepat capek (tapi yg ini kasusnya jarang).
    3. Kalo ngga dikerjakan sungguh2, pekerjaan seringan apapun pasti nggak bakalan beres, ada aja bolongnya.
    …plis deh kalo ada yg mau nambahin…

    Prinsipnya, dosen dan guru sama2 ngajar, hanya beda sistem dan terminologi. Lingkungan kerja juga mungkin boleh dibilang beda. Kalo guru ngajar di sekolahan dengan penjadwalan yg jelas, nah, kalo dosen suka2 gue mau ngasih kuliah hari apa & jam berapa, walaupun udah ada jadwal resmi dari fakultas (biasanya begitu).

    Kita Indonesia memang masih terbukti susahnya, bukannya memikirkan kualitas anak didik, tapi malah ributin kenaikan gaji, de-el-el.
    Dan yang memprihatinkan juga, output perguruan tinggi untuk calon guru lebih untuk mencetak seorang “pengajar” bukan “pendidik”.
    Pengajar=dia hanya akan mengajarkan materi sesuai kurikulum dan memberikan sejauh penguasaan materi pelajaran yang dimilikinya (syukur2 kalo ni guru pinter, kalo blo’on–> yaah siswanya juga jadi ikut blo’on).
    Pendidik= tidak hanya mengajar/memberikan materi, tapi juga mampu menanamkan nilai/value yg positif bagi siswa, membentuk pola pikir dan budi pekerti yg baik. Hal ini sebenarnya sangat diperlukan pada jenjang pendidikan dasar.
    Seperti yang Rm. YB Mangunwijaya pernah katakan, pendidikan dasarlah yang paling menentukan bagaimana si anak didik pada jenjang2 selanjutnya hingga perguruan tinggi.
    Namanya juga dasar Mas, kalo sebuah bangunan tidak memiliki dasar yang kokoh, khan di atas2nya goyah.
    (Sering saya menemukan sarjana ekonomi yang tidak bisa berhitung Speren/pecahan, membuat persentase, atau bahkan pernah ada yang bilang Konferensi Meja Budar tuh diadakan di Ambarawa…ala maaak…dulu pelajaran sejarah SD-nya dapat berapa yaaa???).
    Kalo yg udah S2/S3, kan katanya TOEFL min. sekitar 550 yaah…tapi tetep aja bahasa Inggrisnya–> bahasa Inggris “AH, SKOR DOANK…”
    Sebuah negeri pseudo-idealis.

    Trend sekarang kalo dari pengamatan ku, ada banya orang tua berbondong-bondong memasukkan anaknya kuliah di jurusan PGSD, karena jaminan untuk mendapat pekerjaan lebih besar ketimbang jurusan lain, tambah lagi masa kuliahnya yg relatif lebih singkat/cepat. Untuk ini bahkan ada yang sanggup mengeluarkan uang puluhan juta (biasanya untuk yg ikatan dinas) supaya anaknya bisa lolos.
    Disini terbukti, ternyata memang yang “paling transparan” di negeri ini adalah KORUPSI.
    Tapi toh ternyata kualitas guru yang dihasilkan pun masih dipertanyakan….wallahu’alam
    Dan yang kulihat sendiri dan jadi pertanyaan, ini kebanyakan mahasiswa memang sungguh2 belajar mau jadi guru??? atau cuma ngejar ijazah untuk calon guru???
    Tugas aja copy-paste sana-sini. Bikin paper aja amburadul.
    (Nggak semua seeh….aku positif dan fair aja, memang ada yg bagus & sungguh2)
    Sudahlah mahasiswanya demikian, pun pihak perguruan “mendukung”. Contoh aja neeh: judul skripsi disiapin buat tiap mahasiswa, kalo ada yang kesulitan bikin skripsi pasti dibantuin,…bahkan (rumornya neeh) kalo memang ada mahasiswa yg blank sama sekali, siapin aja sekian JUTHH…beres dah bang, lu tunggu ujian ajahh…sono kawin ajahh dulu….
    Kenapa?…karena:
    1. institusi ngejar target kelulusan dan IPK minimal (Secara periodik mesti bikin laporan ke tiap kabupaten yang mengirimkan mahasiswa ikatan dinasnya).
    2. Ini maah memang proyek…
    Kalo udah gini, memang sistemnya yg patut di acungi jempol terbalik.

    Yang bikin kita jeblok juga, tiap ganti menteri pendidikan, kurikulum juga ganti, buku paket ganti, seragam ganti (…apa iya???)
    Plus lagi, komersialisasi pendidikan yg gila-gilaan.
    Wallahu’alam…

    Kembali ke kita masing-masing.
    Apa yang dapat kita lakukan.
    Perubahan sekecil apapun, dimulai dari sebuah tindakan simpel yang berarti.
    Sebuah tindakan yang sungguh, berdedikasi, & punya komitmen ke arah perubahan yg positif…

    Salam,

    Gaby.


  1. 1 Filosofi Tempat Parkir « Generasi Biru Trackback on 6 December 2007 at 11:41
  2. 2 Being A Teacher « All That I Can’t Leave Behind Trackback on 12 February 2008 at 22:11

Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Twitter

  • Laporan kepada @pln_123 , hari ini sdh terjadi pemutusan aliran listrik untuk kesekian kalinya di Banjarbaru dengan durasi yg cukup panjang 3 days ago

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: