Bagian Terbaik Dari Keberanian Adalah Kebijaksanaan

Judul diatas adalah pepatah yang pernah saya baca, namun saya tidak ingat dimana saya pernah membacanya. Hanya saja, saya merasakan benar bahwasanya pepatah yang berbunyi “Bagian Terbaik Dari Keberanian Adalah Kebijaksanaan”, sangatlah berguna untuk diterapkan, juga benar benar pepatah yang bijak.

Misalnya ada orang yang mengatakan bahwasanya blogger yang memuat tulisan yang bersifat kritik atau hujatan itu beraninya cuma nulis di blog, maka pepatah di atas dapat menjadi acuannya. Saat saya masih berstatus mahasiswa misalnya, adalah keberanian yang tidak bijaksana bagi saya untuk bertingkah melawan arus dengan membiarkan rambut saya tumbuh panjang, sementara dosen dosen primitif di kampus primitif saya itu amatlah membenci mahasiswa berambut panjang. Terlalu besar konsekuensi yang harus saya tanggung, bisa bisa sampai sekarang saya belum lulus kuliah, hanya karena saya tidak mau memotong pendek rambut saya. Sementara saya kuliah dengan biaya penuh dari orang tua saya, adalah beban buat orang tua saya bila harus membiaya’i kuliah saya sampai tujuh tahun lamanya. Dan atas segala kekesalan dan kekecewaan saya itu, dengan berani dan bijaksana saya menuangkannya di sini.

Beraninya cuma nulis di blog. Lho? Bukankah justru di sini kita bisa menuangkan seluruh ide, gagasan, kritik dan saran yang bersifat destruktif atau konstruktif. Bukankah disini kita bisa memprotes bahwasanya FPI itu lebih sering bertindak anarkis dan semena mena? Disini juga saatnya kita teriakkan dengan lantang gerakan anti pungutan liar, bahkan kalau pelu teriakan yang bisa menggugah rasa nasionalisme seperti teriakan Ganyang Malaysia!!!. Kalau tidak disini, kapan lagi? Bukankah disini kita bisa menuangkan pendapat kita bahwa homosexual itu adalah suatu kesalahan? Disini juga kita bisa memberikan pendapat kita tentang para mafia dan para aparat yang bertebaran di negara Indonesia ini. Disini juga kita bisa menuangkan cerita cerita dan pengalaman menarik, sekaligus curhat. Maupun berbagi ilmu pengetahuan. Disini juga bisa menjadi tempat menggalang perbedaan dan menampung pendapat. Serta memberikan tips yang bermanfaat. Bisa Juga bicara politik, moral, atau etika. Justru semuanya ini adalah sebuah tidakan yang berani sekaligus bijaksana. Sebab dalam kehidupan nyata, belum tentu semuanya itu di terima oleh masyarakat, apalagi yang masih kolot dan konservatif . Semuanya hanya menjadi sia sia, bahkan bisa menjadikan pertumpahan darah, nah apakah itu sebuah tindakan bijaksana?

Contoh dalam kehidupan nyata. Sebagai anggota pecinta alam yang setiap tahun mengadakan Latihan Dasar, adalah sebuah keberanian yang tidak bijaksana apabila kami melaksanakan Latihan Dasar tanpa melakukan survey medan terlebih dahulu. Meski rata rata para panitia sudah mengenal dan menghafal medan dengan baik, tetap saja survey medan harus dilakukan, untuk mengetahui kondisi terbaru medan yang akan dijadikan tempat pelaksanaan Latihan Dasar, termasuk untuk mengetahui keadaan sosial setempat, ya siapa tau saja kalau kalau masyarakat kampung setempat yang bakal kami lewati sudah ga welcome lagi dengan acara yang bakalan kami laksanakan, siapa tau mereka misalnya sudah tidak mengijinkan lagi hutan di dekat kampung mereka dijadikan tempat pelaksanaan acara.

Adalah tidak bijak pula orang orang yang cuma modal nekat dan dengkul untuk berangkat ke kota lain untuk mencari kehidupan yang lebih baik, dengan pengetahuan medan yang kurang, bahkan tidak sama sekali. Dengan tidak ada sanak famili atau kenalan di kota tujuan, lebih baik jangan namakan perjalanan itu sebagai “perjalanan demi hidup yang lebih baik”, tapi beri saja nama “perjalanan membunuh diri”.

Bagi para siswa yang akan menghadapi ujian nasional, adalah keberanian yang sangat tidak bijaksana kalau anda menghadapinya tanpa belajar sama sekali. Untuk Para pengendara motor yang akan melakukan perjalanan jauh, adalah keberanian yang tidak bijak bila tidak menggunakan helm selama perjalanan. Sedangkan buat pengendara motor yang akan melewati jalan jalan besar yang banyak keparatnya polisinya, tidak memakai helm atau menerobos lampu merah merupakan sebuah keberanian yang sangat sangat tidak bijaksana. Saya rasa anda semua sudah tau apa resikonya. Yang terakhir, keberanian tidak bijaksana yang paling banyak dilakukan oleh manusia, khususnya umat Muslim yang merepotkan mayoritas di Indonesia ini adalah keberanian seperti yang tertulis di sini, di sini, dan di sini.

8 Responses to “Bagian Terbaik Dari Keberanian Adalah Kebijaksanaan”


  1. 1 Kang Kombor 27 March 2007 at 11:14

    “Mata pena lebih tajam dari mata pedang.”.

    Menuliskan pendapat kita mengenai sesuatu, baik sesuatu yang benar maupun sesuatu yang salah memerlukan keberanian sekaligus kebijakan. Berani untuk mempertanggungjawabkan apa yang kita tulis dan bijak menganalisa dampak dari penyampaian pendapat kita.

  2. 2 Fortynine 27 March 2007 at 11:21

    @Kang Kombor: Bukan nyinggung saya kan? He he (Pokoknya™ Ganyang Malaysia!!!)

  3. 3 agorsiloku 27 March 2007 at 15:34

    Wah… kalau dosen ingin rambut kita pendek, baru diluluskan, maka ini namanya etika selera. Jadi kebijaksanaan itu apa ya?

  4. 4 deKing 27 March 2007 at 22:24

    Lalu apakah bagian terbaik dari kebijaksanaan itu sendiri?
    Bisakah dibuat “bagian terbaik ari kebijaksanaan adalah keberanian untuk bertanggung jawab” … sepakat dengan kang Kombor

  5. 5 Fortynine 28 March 2007 at 16:35

    @Mas Agor dan Deking: Jadi kebijaksanaan adalah berani melihat segala sesuatunya berdasarkan realita, sudah jadi mahasiswa masih dilarang untuk gondrong, tidak bijaksana namanya, dan tidak berani mengakui bahwa gondrong itu ga dosa!.

    Boleh juga tuh dibalik, yang jelas saya sudah berani bertanggung jawab dengan cara baru protes sekarang, kalau dulu, saya tetap maksa gondrong. Saya harus bertanggung jawab dengan orang tua saya karena menyianyiakan amanah orang tua saya, sebuah tindakan yang tidak bijak dan tidak bertanggung jawab sama sekali, karena tanggung jawab saya adalah untuk menyelesaikan kuliah, dan keberanian saya yang bijak adalah berani untuk kuliah dan menyelesaikannnya, bukan menjadi mahasiswa gondrong yang tidak kunjung lulus kuliah. Gimana? (udah kaya filosouf ga ngomongnya??)

  6. 6 hendra_ku 7 August 2007 at 23:24

    sepakat jg dengan Kang Kombor, penyampaiannya pas :
    “Berani untuk mempertanggungjawabkan apa yang kita tulis dan bijak menganalisa dampak dari penyampaian pendapat kita.”
    🙂

  7. 7 049 7 August 2007 at 23:28

    Dampaknya apa ya?
    kalau ada dampaknya dari tulisan ini…..sialakan konfirmasi. Saya siap menjawab…………😀


  1. 1 Bercinta Dengan Saudara Sendiri « Parking Area Trackback on 2 July 2007 at 20:53

Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: