Keparat di Kampus

Melanjutkan karya tulis saya yang terdahulu, dan menindaklanjuti komentar dari Alief di sini.

Di kampus, keparat itu tidak hanya satu, tapi bisa banyak sekali. Yang paling utama dan paling sering adalah para keparat yang bernama dosen. Mereka mereka ini sering memberikan nilai buat mahasiswanya seenak hati dan perutnya saja. Dengan kriteria yang ga jelas, dengan daftar nilai yang isinya hanya nilai akhir, tiba tiba saja mahasiswa mendapati yang diluar dugaan. Yang ajaib adalah para keparat yang dengan semena mena memberikan nilai “A” buat mahasiswa yang cantik atau terlihat pintar dengan penampilan berkacamata tebal dan buku yang selalu dibawa kemana mana. Ada juga yang dengan mudahnya memberikan nilai 78 untuk nilai final test mahasiswa yang berhasil menjawab dengan benar 48 dari 50 soal. Saat ditanya “Pa/Bu! Kenapa nilai saya hanya 78, kan seharusnya 90, atau minimal 80?”, dan mereka pun menjawab “supaya kamu tidak dapat nilai ‘A’, kalau saya kasih 80 nanti nilai kamu ‘A’”.

Lanjut, keparat bernama dosen ini, tidak pernah masuk saat mata kuliahnya berlangsung, tiba tiba masuk langsung ngasih bahan untuk di baca, dan berkata “minggu depan kita midtest”, setelah itu, ngasih bahan lagi, dan bilang “ini tolong dipelajari, ini bahan midtest kalian, dan ini bahan final test kalian.”, lalu mengumumkan tangal untuk midtest dan ujian akhir,setelah itu nilai mahasiswa yang keluar setelah ujian akhir? paling tinggi “C+”!, sedangkan nilai lainnya didominasi oleh nilai “D”. Dapet nilainya dari mana? Dari menerawang?

Ada juga yang berkata bahwa mahasiswa itu ,tidak boleh gondrong, tidak boleh pakai sendal dan baju kaos. Mahasiswa yang ga nurut silakan keluar, kalau masih membangkang konsekuensinya adalah tidak lulus mata kuliah saya. Puah!!!. Pokonya™ setan kau, gondrong tidak dosa tau!, urusan rapi juga urusan kami pribadi dengan Tuhan kami masing masing, manusia apalagi keparat bernama dosen tak pantas untuk menentukan bahwa kami ini rapi atau tidak rapi. Pakai sendal jepit dan baju kaos itu tidak mengganggu ketenangan belajar, yang berpakaian rapi itu justru Keparat Bernama Pejabat!.

Salah satu yang parah adalah keparat bernama dosen yang meminta dengan terang terangan atau sembunyi sembunyi kepada mahasiwanya untuk menyetorkan uang, sebagai imbalan untuk nilai yang diinginkan mahasiswa, ada yang misalnya pasang tarif pukul rata 100 ribu rupiah untuk nilai “A”, ada juga yang cukup dengan dijenguk dan dikasih oleh oleh alakadarnya, dan yang benar benar keparat adalah dosen yang mendata kemampuan ekonomi mahasiswanya, untuk kemudian memasang tarif yang berbeda beda sesuai dengan kocek ortu mahasiswa. Sampai sampai ada dosen yang menyuruh mahasiswinya untuk ***** ** ********** ***** ***** ******* ***** ******** ***** **********. Masih banyak tingkah laku lain dari para keparat bernama dosen ini, silakan pembaca tambahkan sendiri.

Di kantor BAAK dan staf staf kepegawaian dan kemahasiswaan lainnya, keparat keparat yang lainnya bertaburan, mereka memperlambat proses registrasi kartu rencana studi mahasiswa, menerapkan pungli dan birokrasi komplek untuk mengurus keterlambatannya, menerapkan hal yang sama kepada mahasiswa yang ingin membuat ijin dan surat menyurat lainnya. Salah satu bukti dari para keparat ini : sudah tiga minggu saya mengurus perbaikan nilai saya, masih belum keluar, dengan berbagai alasan macam dekan yang belum datang sehingga belum bisa dilegalisir, sampai dengan keparat ibu yang kemaren menerimanya tidak ada di tempat, sehingga belum bisa di konfirmasi. Bilang aja malas, sengaja belum dikerjakan, dan pengen menerapkan pungli!

Dikantor ketua Prodi, Ketua Jurusan, Ketua Fakultas (Dekan), sampai ketua Universitas (Rektor). Mereka ini adalah para pemakan duit yang mengandung “lemak babi”. Berbagai proyek kampus yang menghabisakan dana abadi, berbagai sumbangan dan bantuan pemerintah, berbagai fasilitas, dan sogokan sogokan mahasiswa atau berbagai institusi lainnya yang ingin urusan lancar, semuanya kalau tidak banyak, maka sedikit, duit ini mengisi kocek mereka.

Keparat lainnya yang paling banyak berseliweran dikampus: MAHASISWA. Di ruangan BEM, kerjannya masukin proposal dengan penggelembungan dana yang fantastis, kalau tembus uangnya bakalan dinikmati berbagai oknum dari BEM itu. Minta fasilitas yang berlebihan dari fakultas, dan memakainya buat kepentingan pribadi. Mengambil KHS dari BAAK kemudian menjualnya kembali kepada mahasiswa, dan menerapkan harga baru buat mahasiswa non anggota BEM yang mengambil KHS nya, harga asli dari BAAK 1500 per lembar, dijual oleh para keparat ini seharga 5000 rupiah, bahkan lebih. Juga Menggunakan ruangan untuk kegiatan yang tidak sepantasnya. Yang terakhir adalah mahasiswa mahasiswa yang bermarkas di sekitar rumah ibadah kampus, dengan slogan Pokoknya™ Kami Yang Paling Benar, Pokoknya™ Pacaran Haram.

10 Responses to “Keparat di Kampus”


  1. 1 Amd 27 March 2007 at 12:08

    Ada juga yang dengan mudahnya memberikan nilai 78 untuk nilai final test mahasiswa yang berhasil menjawab dengan benar 48 dari 50 soal.

    Arhgighh!!@#
    Royalti!!!!

  2. 2 Fourtynine 28 March 2007 at 16:25

    @Amd
    WEEEE! auk gin pernah jua waktu Listening dua, waktu soalnya diulang dan aku sudah hafal jawabannya waktu mengambil salah satu mata kuliah di kampus

  3. 3 igun 10 May 2007 at 01:25

    Keparat?!?
    Hajar brur..

  4. 4 Fourtynine 10 May 2007 at 18:12

    @Igun
    Jangan ah, ntar anarkisme namanya. He he

  5. 5 danasatriya 27 May 2007 at 01:06

    dosen juga manusiaaaaaaaaaa..:mrgreen:

    (makanya pingin cepet2 lulus😛 )

  6. 6 Fourtynine 27 May 2007 at 17:58

    @Danasatriya
    Dosen memang manusia, apa dosen memang manusia biasa?

  7. 7 glanx 9 January 2008 at 02:14

    sip bnr sekali
    aku setuju
    ujian kemaren ja aku dp TL gara2 presensi
    padahal aku yakin aku dpt bagus
    masa gara2 kedekatan dosen-mahasiswa pengaruh dengan nilai
    sip!!!!
    aku yakin byk yg ngalamin spt ni
    mahasiswa indonesia bersatu!!!!!!

  8. 8 wong 13 April 2008 at 03:01

    Masih kurang tu ! tambah dikit ya….keparat dosen yang sok pintar yang bisanya cuma mengumbar, padahal saat mereka kuliah, mereka tidaklah pintar dari yang sekarang di ajar. buktinya apa yang telah mereka ciptakan…..sejak mereka jadi dosen republik makin ringsek…..mahasiswa jadi kehilangan jati diri…salah mereka kan.! mereka mau mengajar setelah ditolak semua perusahaan, dan tak mampu menciptakan pekerjaan…. jadi apa mahasiswanya?????????????

  9. 9 eXe 23 September 2008 at 11:57

    hal itu biasa terjadi dikota-kota besar.
    Parahnya susah-susah kita mengerjakan berbagai tugas biasa sampai tugas mid semester dan UAS kita bisa kalah dengan mahasiswa “pintar” yang hanya mengerjakan tugas UAS.

    dosen ngasih nilai kan tergantung mood-nya,
    kl lg enakan nilainya bs lancar,,,
    kl lg panas hati ya jgn berharap dah…


  1. 1 Yang Lebih Hebat dan MahaKuasa Daripada Tuhan « Generasi Biru Trackback on 6 December 2007 at 11:47

Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: