Semasa seorang ulama kharismatik Kalimantan Selatan yang bernama K.H Zaini Gani (Guru Ijai) masih hidup di dunia, beliau mengadakan acara keagamaan setiap minggunya. Dua kali seminggu, satu kali untuk kaum laki laki, satu kalinya lagi untuk kaum perempuan. Setiap acara itu dijalankan, maka kota Martapura yang menjadi lokasi kediaman beliau sekaligus menjadi tempat acara akan penuh sesak dengan manusia manusia berkopiah, kebanyakan mereka ini berkopiah haji putih, dan memakai baju seperti yang lazimnya dikenakan oleh para santri pesantren. Mereka ini berdatangan bukan hanya dari penjuru Martapura atau Banjarbaru yang merupakan tetangga paling dekat kota Martapura, melainkan juga datang dari seluruh Kalimantan Selatan, bahkan juga terkadang orang orang dari luar daerah Kalsel rela berdatangan untuk mendengarkan siraman rohani dari beliau.

Yang menjadi permasalahan selanjutnya dalah jalanan kota Banjarbaru yang sekali lagi saya katakan sebagai tetangga paling dekat kota Martapura yang kemudian menjadi penuh sesak, lebih macet dari sekedar ada konser atau ada event macam pameran. Jalanan di Martapura jangan ditanya lagi bagaimana macetnya, sementara Banjarbaru harus menampung arus masyarakat yang berdatangan dari luar kota macam yang datang dari Landasan Ulin, Gambut, sampai yang datang dari Banjarmasin. Jalanan penuh sesak, taksi angkutan kota yang biasanya sepi pun jadi kebanjiran penumpang. Dan jangan harap anda bisa menemukan taksi yang berangkat dari Martapura ke Banjarabaru. Karena semua angkutan kota ini sudah mengalihkan tujuannya ke Martapura, ya hanya melayani jalur ke Martapura.

Dan yang layak anda ketahui adalah, yang menyebabkan Banjarbaru tetap macet itu adalah karena anak anak muda, bahkan ada yang sudah tua dari para rombongan jamaah yang ingin ke tempat Guru Ijai itu banyak yang nongkrong atau kabur ke Banjarbaru. Tujuan mereka biasanya adalah lapangan Dr. Murdjani Banjarbaru. Jadi begini, kira kira para anak muda dengan pakaian ala santri itu, pamitnya dari rumah dengan alasan mau ikut ke tempat Guru Ijai, sehingga orang tua pun senang. “Wah anakkku religius sekali”, mungkin itulah yang ada dalam pikiran para orang tua mereka. Ga taunya anak anak merepotkan itu semuanya malah nongkrong atau sekedar putar putar kota, dan celakanya mereka ini memilih Banjarbaru sebagai tujuannya. Jelas mereka ga mungkin kalau harus jalan jalan di kota Martapura, kota itu jelas sekali sudah penuh sesak dengan para manusia berpakaian ala santri. Maka jadilah kota Banjarbaru penuh sesak dengan para manusia berpakaian santri yang sedang bolos.

Kemudian yang paling membuat saya terheran heran adalah sikap masyarakat yang berpakaian ala santri yang pulang dari acaranya Guru Ijai. Mereka pulang dengan alat transportasi yang bermacam macam, yang paling banyak tentunya adalah sepeda motor. Para pengendara sepeda motor ini berpakaian ala santri, tapi kelakuan mereka dalam berkendara? Huh!, mereka ini berkendaraan sangat tidak sopan sekali!, kalau belok tidak pernah pakai lampu sein, jalan seenaknya, bahkan ada yang kebut kebutan. Sebagai tambahan info : tidak satupun dari mereka yang pakai helm, saat 2 hari dimana acara Haji Ijai berlangsung, pakaian putih ala santri, atau kopiah haji anda sudah berhasil menggantikan helm, pak polisipun takkan bisa menangkap.

Yang pulang pakai sepeda, mereka akan memenuhi jalanan kota dengan sepeda sepeda mereka, mereka ini jalannya lebih seenaknya lagi, kadang kadang ada yang jalan di tengah tengah jalan aspal. Kalau pengendara yang tidak berpakaian santri melintas, dijamin harus ekstra hati hati, sebab kesenggol sedikit saja, urusannya adalah dengan para calon penghuni surga itu bisa runyam. Bisa bisa mereka semua itu marah marah, bahkan bisa bertindak lebih anarkis.

Inikah yang kalian sebut dengan kelakuan umat taat beragama? Memang ini hanya tindakan sebagian oknum, sekali lagi saya tegaskan sebagian oknum!. Tapi sebagiannya adalah jumlah yang besar alias mayoritas. Mungkin mereka merasa bahwa mereka adalah calon calon penghuni surga yang sedang melintas dijalan milik nenek moyangnya, sehingga mereka mengindahkan pengendara lain yang tidak berpakaian ala santri dan pengendara lain yang tidak baru pulang dari acarnya Guru Ijai.

Bukankah kalian ini baru saja dapat siraman rohani, kenapa kalian malah tidak menampakkannya sedikitpun saat kalian pulang? Rupanya kalian cuma ikut ikutan tanpa mampu menangkap esensi atau tujuan dari acara tersebut. Saya yakin Alm K H Zaini Gani tidak pernah mengajarkan atau menganjurkan kalian untuk berperilaku seperti itu, kaliannya saja yang kebablasan. Apakah ini yang disebut sebagai kelakuan umat beragama?