Haruskah Aku Beristri Seorang Wanita Karier?

Kemaren habis nonton film, tentang seorang wanita karir yang jauh lebih sukses daripada suaminya. Dikisahkan dalam film itu betapa si istri sangatlah sibuk dengan pekerjaannya, sampai sampai saat si suaminya menelepon untuk mengajak makan siang, dengan cepat dan tanggap si wanita mengangkat telepon lalau berkata “Mas, aku lagi sibuk, jangan telepon sekarang oke!?”, dan langsung telepon di tutup.

Lalu betapa si wanita sampai sampai tidak lagi memperhatikan anak mereka, waktu si anak sudah tidur, barulah sang ibunya datang, suaminya sudah menunggu di kamar, dan tentu saja wajar sebagai seorang suami untuk mengharapkan adanya sebuah kegiatan serius, untuk melepas lelah setelah sama sama seharian bekerja, tapi dengan entengnya sang wanita langsung merebahkan diri tanpa menoleh pada suaminya, dan dalam adegan ini diperlihatkan sang wanita memasang wajah lelah dan malas untuk sekedar berbicara atau bertegur sapa sebelum tidur kepeda suaminya. Esok paginya, anaknya berangkat sekolah diantar supir, padahal si anak ingin sekali ibunya yang mengantarnya sekolah.

Masih banyak sih kelanjutannya, tapi yang ingin saya soroti adalah:seorang wanita karir yang sampai sebegitunya dengan keluarganya, sampai sampai menelantarkan keluarganya, karenanya di akhir akhir kisah si wanita sempat berujar “wajar saja kalau sekarang kalian (suami dan anaknya) tidak ada untukku, karena selama ini aku tidak pernah ada untuk kalian”. Betapa mengerikannya membayangkan seperti itu, seandainya saya mempunyai istri seorang wanita karir seperti itu, tiap hari istri saya berangkat pagi pulang malam, ya paling cepat pulang sore. Anak ga terurusi, pembantu dan baby sitter yang jadi mama anak anak saya. Istri saya bahkan tidak sempat untuk sekedar mengangkat telepon dari saya saat siang hari, apalagi harus mengangkat ‘telepon’ suaminya dimalam hari.

Dan meski tidak tergambar dan terceritakan dalam film itu, sudah jelas seorang istri macam itu bukanlah seorang wanita yang pandai memasak, atau mengurus rumah, selain ga sempat, juga sang istri pasti ga bisa atau kebisaanya mengurus rumah tangga luntur, dimakan kesibukan dan rutinitasnya sehari hari

Tidak, tidak layak seorang sepertiku memiliki istri seperti ini, apa gunanya punya istri kalau hanya jadi objek foto untuk kemudian dipajang di foto pernikahan. Dan san suami hanya sekedar menjadi teman pesta istri, kata kata suami hanya terucap saat istri kita mengenalkan kita dengan relasinya sambil berkata “perkenalkan, ini suami saya”. Selebihnya, tidak ada apa apa, dirumah hanya bertegur sapa seperlunya, itupun kalau sempat. Lebih baik saya punya istri yang kerjanya setengah hari, paling lama sampai jam 2 siang, biar dia punya waktu untuk mengurus rumah dan anak anak kelak.

Alasan materi juga perlu dikejar mesti oleh si istri tidaklah salah, namun seperti yang tertuang dalam film yang saya ceritakan, si istri pernah berujar “aku tau, kamu selama ini ngiri dengan aku yang lebih sukses!”. Astagfirullahaladzim! Mudah mudahan istri saya kelak tidak akan pernah berujar seperti itu (kalau sempat ngomong kaya gitu, saya akan poligami!). Ibu saya adalah guru yang berpenghasilan lebih tinggi daripada Abah yang juga seorang guru, pendidikannya juga lebih tinggi, dan setau saya, seingat saya, seumur hidup saya tidak pernah mendengar atau menangkap makna eksplisit atau implisit yang menyatakan bahawa ibu saya membanggakan pangkat dan gajinya yang lebih tinggi.

Kemampuan menangani keuangan yang lebih baik, juga tidak menjadikan beliau mengambil semua gaji Abah untuk dikelola dan diatur pengeluarannya. Sebagai laki laki, saya memang mewarisi bakat Abah dalam menghabiskan uang dengan tidak efektif dan tidak efisien, termasuk hobi kuno saya untuk mengoleksi kaset. Namun semua itu tidak pernah dibatasi, paling paling di bilang “nah, nukar kaset pulang inya”. Dan sungguh, sebagai darah daging mereka, saya yakin dan percaya sepenuhnya bahwa tidak secuilpun nada tidak ikhlas saya tangkap dari kata kata itu. Tak pernah juga ibu saya mengambil menyimpan uang Abah supaya beliau tidak bisa beli barang antik atau uang kuno dan ‘wasi wasi tuha maupun anum’ yang menjadi kesukaan Abah.

Sementara seorang istri yang merupakan wanita karir, dalam fikiran dan bayangan saya adalah wanita yang akan mengambil semua gaji dan uang suaminya yang memang jauh lebih sedikit daripada istrinya, untuk diatur oleh istrinya. Ih ngeri! Mudah mudahan istri saya tidak seperti itu dalam hal keuangan. Oke, cukup tulisan ini makin ngelantur, biar saya akhiri saja, daripada tulisannya makin ga karuan dan ga nyambung.

Do’a: ya ALLAH SANG PENCIPTAKU, berikanlah hambamu istri yang soleh, istri yang tidak berpikiran sempit, tidak juga sombong, apalagi sampai meremehkan suaminya hanya karena suaminya lebih rendah pangkat dan gajinya. Kalau harus istriku kelak seorang yang kaya raya, maka jadikanlah hambamu sebagai suami yang sebenar benarnya pemimpin, pemimpin dalam iman, rumah tangga, termasuk dalam hal keuangan. Bukan suami yang cuma jadi pelengkap dalam foto pernikahan agar foto tersebut terlih sebagai foto pasangan pengantin, bukan pula suami yang cuma menjadi pengisi keterangan di kolom kartu keluarga. Amin

27 Responses to “Haruskah Aku Beristri Seorang Wanita Karier?”


  1. 1 manusiasuper 1 April 2007 at 13:18

    Yang penting service rid…
    service…

  2. 2 antobilang 1 April 2007 at 19:16

    setuju ama komen manusia di atasku ini.
    yang penting servis, bro!

    OOT = itu banner diubah widthnya..sekitar 175 gitu mungkin pas,,,
    perbandingan nya 100:45, silahkan mas farid ganti sendiri yah…

  3. 3 deKing 1 April 2007 at 19:28

    Memang kegiatan serius setelah pulang kerja apaan sih?
    Sepertinya bukan masalah pekerjaan yg menjadikan si istri jadi kayak gitu, tetapi memang kelakuan dan kepribadian wanita itu yg tdk baik.
    Contohnya cerita tentang Ibu dan Abah mas td, walaupun Ibu [unya penghasilan yg lebih tinggi (bisa dikatakan karir lebih bagus) tetapi ibu tdk seperti wanita dalam film tadi karena memang ibu punya kepribadian bagus.

  4. 4 bayuleo 2 April 2007 at 12:08

    gak usah cari istri Om … ribet ngurusnya …mending cr simpanan aja🙂

  5. 5 manusiasuper 2 April 2007 at 13:24

    Hidup Bayuleo!

  6. 6 Fourtynine 2 April 2007 at 15:26

    @Fadil
    servas servis!
    @anto
    udah ku ganti. Makasih to
    @deking
    kegiatan seriusnya…. (you know lah)
    @manusiasuper dan bayu
    ya udah deh. Nyari simpanan aja

  7. 7 destiutami 2 April 2007 at 20:29

    Mas, semua wanita itu wanita karier loh. Urus rumah tangga juga termasuk karier/ pekerjaan kan? Bukannya di KTP ditulis,
    Pekerjaan : URT (Urus Rumah Tangga)

    Boleh juga tuh, cari “simpanan duit” banyak2. Nanti kasih ke “istri”nya.

  8. 8 masindra 2 April 2007 at 23:38

    Wah ini ego laki-laki deh yang bermain, selama perempuan tidak melupakan kodratnya melahirkan anak dan menyusui saya pikir sah-sah aja om! Tergantung komunikasi antar pasangan kan, kalau dari sudut pandang saya sih dengan kasus ini yang ga jalan masalah komunikasi dulu, sekarang dan esok.
    So jangan selalu menyudutkan perempuan ( sok pembela hak perempuan nih… ) mari kita bicarakan, komunikasi…itu juga fungsinya blog kan? Atau bloger pada susah berkomunikasi di dunia nyata sehingga ngeblog buat curahan hati wekekekeke…Ngga kan?

  9. 9 Fourtynine 3 April 2007 at 18:14

    @Desti
    Oke deh, cari simpanan duit banyak banyak
    @Masindra
    Ya ya. makanya buka forum untuk merundingkan segala sesuatunya dengan kepala dingin.

  10. 10 agorsiloku 3 April 2007 at 20:20

    Sebaik-baiknya karir wanita adalah wanita sholeh, taat pada suami, sayang sama anak-anak. Syukur bisa juga ikut nimbrung menambah asap dapur, kagak gampang ngabis-ngabisin ….

    Dan judul ini bagus benar, karena kalau kata “karier” nya ditiadakan. Sungguh lho, persoalan menjadi benar-benar berbeda🙂

  11. 11 Fourtynine 4 April 2007 at 12:48

    @Agorsiloku
    Lagi lagi sebuah petuah bijak dari mas Agor.
    Setuju mas, doakan saya dapat istri yang benar benar wanita, sholeh dan taat kepada Allah dan suami. Amiiin

  12. 12 mahendra025 5 April 2007 at 09:09

    Salam knal.. Kalo baca tulisanmu..ntahlah apa yang terjadi padaku ntar. Cew sekaligus tunanganku tipenya ky gt. Mungkin ngga ya tunangan d batalin….

  13. 13 Fourtynine 5 April 2007 at 15:27

    @Mahendra
    Jangan Mas, nanti nyari yang baru susah. Atau mungkin nyari yang baru buka masalah bagi Mas? Diajarin jadi istri solehah aja tunangannya yang sekarang.

  14. 14 muhtar 9 May 2007 at 14:47

    bagus juga tulisan lo
    tapi trus jangan antipati gitu dong sama wanita yang kerja diluar rumah.
    ga semua kayak gitu koq
    eh kalo boleh tahu film yang kamu ceritain itu judulnya apa.
    koq penasaran pingin liat

  15. 15 Fourtynine 9 May 2007 at 15:42

    @Muhtar
    Lupa judul filmnya. Bukan antipati Mas, cuma bertanya tanya…..He he he

  16. 16 Echi 3 July 2007 at 11:01

    Iya betul juga walaupun wanita itu adalah wanita karier tapi jangan lupa ma kodratnya,keluarga lebih penitng lho….
    Bagus juga seh kalo wanita bekerja bagi yangsudah berumah tangga,khan bisa membantu perekonomian keluarga yang tidak hanya mengandalkan suami.

  17. 17 Neo Forty-Nine 3 July 2007 at 22:53

    Mudahan wanita ga lupa dengan tanggung jawabnya

  18. 18 Rizma 4 July 2007 at 08:48

    iya tuh ga boleh lupa kodratnya,,,,

    *Ma sibuk nyeramahin orang tapi ga sadar diri*😆

  19. 19 Neo Forty-Nine 7 July 2007 at 15:04

    Gitu ye?

  20. 20 Mrs. Neo Forty-Nine 27 July 2007 at 18:33

    Do’a: ya ALLAH SANG PENCIPTAKU, berikanlah hambamu istri yang soleh, istri yang tidak berpikiran sempit, tidak juga sombong, apalagi sampai meremehkan suaminya hanya karena suaminya lebih rendah pangkat dan gajinya. Kalau harus istriku kelak seorang yang kaya raya, maka jadikanlah hambamu sebagai suami yang sebenar benarnya pemimpin, pemimpin dalam iman, rumah tangga, termasuk dalam hal keuangan. Bukan suami yang cuma jadi pelengkap dalam foto pernikahan agar foto tersebut terlih sebagai foto pasangan pengantin, bukan pula suami yang cuma menjadi pengisi keterangan di kolom kartu keluarga. Amin

    sebagai calon istri (ehm!) doakan semoga kelak aku bisa menjadi istri yang terbaik bagimu ya Mas…?

    *aaahhh…romantisnya…komen ini*

  21. 21 Neo Forty-Nine 2 August 2007 at 16:03

    Amiin….

  22. 22 ryan 3 July 2008 at 11:22

    wah q tlt bca artikelNa
    yup klo mnrt aq agr wanita g berkarier y sebagai suami ngomong aja ” dech km g usah kerja biar aq yg kerja km dirumah ngurus rumah & anak”. klo dia wanita yg baik pasti dia nurut ma suami

  23. 23 Dewi 8 September 2008 at 15:48

    Maaf ya… sebagai wanita pekerja aku mau kasih pendapat dari sisi yang berbeda…

    Aku bekerja karena harus membantu suamiku… Aku berangkat kadang sebelum anakku bangun dan pulang setelah anakku terlelap…

    Wanita tetaplah manusia dari darah dan daging, ketika suami bisa mengeluh lelah bekerja dan stres hingga uring2an, apakah seorang wanita pekerja juga tidak bisa dan tidak boleh merasakan hal yang sama???

    Saat kami harus turut bergelantungan di bus atau sekedar pontang panting untuk membantu kewajiban suami, sementara suami terus menuntut di”perhatikan” dan kewajiban kami? Bahkan kadang suami mengeluh ketika kami meminta sedikit bantuan mengantar ke kantor atau halte terdekat, apakah kami masih salah pula?

    Tidak semua wanita ingin berkarier, dan tidak semua wanita mati rasa, kamipun terkadang ingin dimengerti bahwa kami bukanlah SUPERWOMAN yang tidak punya rasa lelah, atau perasaan ingin di”perhatikan”… Kami juga punya rasa lelah dan letih setelah bekerja, kami juga punya rasa kangen pada anak dan suami, kami juga punya rasa terluka ketika anak-anak kami menjadi anak baby sitter, hanya karena kelebihan kami menahan “hasrat” maka kami bisa berharap tidur nyenyak setelah hari yang melelahkan, tapi sekali-kali kami bukanlah tidak memiliki “hasrat”

    Aku tidak pernah mengeluh, meski suami tidak secara nyata memberikan kewajibannya, namun janganlah suamiku merasa tersinggung bila kami tak mampu menunaikan kewajiban kami pula…

    Janganlah bermanja dan lihatlah realita… karena seorang istripun masih insan biasa… punya lelah dan resah, punya rasa dan hasrat…

  24. 24 neng 27 February 2009 at 15:30

    wah , seru ya……….
    setuju mbak, wanita karir juga manusia…. sama seperti laki – laki yang juga manusia. jadi ada saat dimana kita para wanita juga butuh sendirian dikala cape sehabis bekerja dirumah ataupun diluar rumah. Semua tergantung dari bagaimana komunikasi dan kepemimpinannya seorang Suami, maka kendala2 yg dibicarakan diatas akan dapat di “pahami” bersama, bekerja bagi wanita adalah sebagai aktualitas dari diri dan suami juga keluarga. jadi bekerja atau tidak , saling memahami adalah point yang penting dalam membina keluarga…..

    sukses untuk wanita karir!! terus berkarir kaum wanita.

  25. 25 Anton 7 September 2009 at 14:02

    Sebaik2 wanita adalah yang taat pada suami. Jika ga taat boleh kok suami menegur, kalo masih bandel poligami, eh kalo malah minta cerai ya cerein aja. Masih banyak kok wanita yg mau nurut sama suami.

  26. 26 busana muslim 12 October 2010 at 12:37

    Aku sangat setuju mbak dengan hal ini karena wanita tapi wanita yang baik itu adalah wanuta sholehah,taat sm suami,memberikan kebahagiaan suami dan bisa membuat suami selalu tersenyum dan yg paling penting nih bisa menjadika ibu yg baik untuk anak2nya….Kalo masalah karir itu perlu dirundingkan lagi dengan suami..


  1. 1 Cerita Pendek: Kisah Seorang Pembual « cK stuff Trackback on 29 June 2007 at 07:10

Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: