Apakah anda percaya dengan adanya ulama busuk seperti yang ditulis oleh Wadehel? Jujur, pada awalnya saya tidak begitu percaya ada orang orang atau oknum yang berusaha menyesatkan saudaranya segama, yang saya yakini adalah perbedaan semata, dan bukankah perbedaan adalah Rahmad Hidayat? Maka sebelumnya, saya ingin menuliskan pandangan saya tentang “perbedaan” dan “penipuan/penyesatan”, meski harus saya bandingkan dengan kapasitas saya, yaitu sebagai orang yang suka camping alias saya gunakan contoh dari sudut pandang ke”pecinta alam”an-sekaligus berusaha sedikit memenuhi permintaan Bu Evy di sini agar saya menulis tentang ke”pecinta alam”an-.

Definisi Perbedaan

Perbedaan bisa menghasilkan tujuan yang berbeda maupun tujuan yang sama. Saya menganggap bahwasanya perbedaan yang terjadi selama ini masih memiliki tujuan yang sama.

Misal: ada sekelompok orang yang ingin menuju sebuah puncak bukit, dan untuk menujunya ada dua pilihan, yang pertama adalah mempersulit diri dengan cara menjalaninya secara vertikal, dari bawah langsung menuju keatasnya. Resiko yang terjadi adalah kemungkinan terjadinya scrambling, yang akan menguras tenaga dan menghasilkan resiko tergelincir. Namun, terkadang bagi para pecinta alam dan pendaki, hal inilah yang justru dicintai…..testing your courage, testing your limits. Sepertinya, yang memilih jalan ini menggunakan kompisisi hati (perasaan) dan semangat dalam porsi yang lebih besar ketimbang otak.

Pilihan yang kedua adalah menyusuri dan memutari punggung bukit, ambil saja jalan yang membelok ke kiri atau kanan, meski akan memakan waktu namun tidak akan menguras tenaga, resiko tergelincir pun akan terminimalisir. Yang memilih jalan ini adalah orang orang yang mungkin memilih proses pencapaian adalah suatu hal yang harus dimudahkan, dan puncak adalah suatu awal dari kepuasan. Kaum ini adalah kaum yang mengkomposisikan otak jauh lebih banyak ketimbang hati (perasaan).

Lantas? Bagaimana dengan akal? Tidak satupun dari kedua cara tadi melupakan akal. Cara pertama, dengan akal kita bisa memanfaatkan segala kemampuan diri kita hingga akhirnya berhasil menaklukkan segala macam tantangan. Kenapa saya sebut menggunakan “kompisisi hati (perasaan) dan semangat dalam porsi yang lebih besar ketimbang otak”? karena otak mengirim rasa lelah bila kita mendaki secara vertikal, sedangkan “Hati (perasaan) dan semangat” memaksa otak untuk sejenak menunda kiriman sinyal rasa lelah dan letih keseluruh tubuh, malah mengirim sinyal bahwa tubuh masih kuat.

Sedangkan yang bagi yang menempuh cara kedua, otak menekan perasaan, tapi tidak semangat, mungkin sebut saja bahwa akal banyak berperan, dengan demikian otak bekerja sempurna membantu hati dan seluruh tubuh mencari jalan termudah, akal pun membantu mencarikan jalan termudah yang membuat otak tidak akan mengirim sinyal keletihan pada seluruh tubuh, atau paling tidak otak tidak perlu dipaksa menunda pengiriman sinyal keletihan.

Namun, tujuan akhir dari perjalanannya tetaplah sama. Yaitu puncak. Keduanya tetap keduanya merasa puas. Yang mengambil jalan pertama puas karena telah menguji nyali, yang mengambil jalan kedua puas karena berhasil mencapai puncak, tak perduli bagaimanapun caranya. Sementara untuk perbedaan yang menghasilkan tujuan yang berbeda, saya rasa tidak perlu dijabarkan.

Definisi “Penipuan/Penyesatan”

Dalam “penipuan/penyesatan”, banyak hal yang bisa dilakukan. Misalnya dengan memalsukan skala peta ataupun mengganti warna peta. Sehingga perjalanan yang diperkirakan memakan waktu tempuh sekian jam, ternyata saat dijalani malah memakan waktu sekian hari, atau yang dikira gunung malah ketemunya sungai.

Contoh lain, seorang teman bertanya kepada saya “berapa jam waktu tempuh dari Desa Belangian menuju ke shelter 4 di dalam hutan cemara?”. Saya tau waktu tempuhnya adalah sekitar 4 jam, namun saya katakan 6 jam, bisa bisa teman saya langsung menyerah dan batal menuju ke sana. Atau saya katakan 1 jam, mungkin akan menjadikan dia semangat, dan kemudian saat menjalani kenyataan bahwa setelah berjalan 3 jam dia belum menemukan tempat yang ingin dituju, semua semangat, tenaga, bahkan akal sehatnya hilang sehingga tidak tertutup kemungkinan dia malah menjadi bingung dan tidak tertutup kemungkinan untuk jadi tersesat sebab sudah blank. Jalan pulangpun bisa menjadi hal yang sulit ketika kita tersesat+putus asa ditengah hutan belantara.

Contoh lain. Sebuah carabiner palsu saya berikan kepada teman saya, padahal saya tau dia akan menggunakannya untuk gantungan tubuhnya saat prusiking apseling, maka dapat dipastikan teman saya tadi akan mati terjatuh dari ketinggian, minimal cidera baik parah maupun ringan. Karena saat dia menggunakan carabiner palsu tadi untuk mengantungkan dirinya, cepat atau lambat carabiner tadi akan patah, minimal melengkung/menganga sehingga membuat beban yang menggantunginya menerapkan prinsip gaya gravitasi bumi dengan baik.

Lagi? Dalam peng“Anchor”an simpul yang digunakan adalah simpul 8, namun saya beritahukan bahwasanya simpul yang digunakan adalah simpul prusik atau simpul kupu kupu atau simpul simpul lainnya yang tidak sesuai. Maka dapat dipastikan bahwasanya akan terjadi beberapa hal. Pertama, kalau tali kernmantel tadi digunakan buat belay rock climbing, maka taruhannya adalah nyawa. Kedua, kalau digunakan dalam penyeberangan kering, maka resikonya adalah maut.

Udah ya Bu, saya ga bisa lagi ngasih contohnya. Lagian contoh ngaco saya malah makin menunjukkan kebodohan dan ketidak berpengalaman saya dalam masalah Ke”pecinta alaman”an. Saya mau langsung ke topik yang sebenarnya saya mau tuliskan.

Pemirsa yang budiman dan budiwati….apakah anda sudah bisa memahami definisi dangkal saya tentang “Perbedaan” dan “Penipuan/Penyesatan”. Nah, sekarang to the point aja. Buat anda yang mungkin sudah mengetahui dan mengikuti tentang aktifitas yang meresahkan dari sebagian oknum yang mengaku bernama………, beserta “Distortion and Conformity”nya, atau juga mutilasi ayat yang sering dilakukan. Apakah menurut anda hal hal seperti itu merupakan keresahan buat saya dan kita sekalian?

Saya ingin memberikan fakta bahwasanya sebagian oknum memang suka memutilasi ayat. Liatlah contohnya di sini, benar benar terjadi mutilasi ayat. Saya pun tak dapat menahan diri untuk berprasangka buruk bahwasanya oknum meresahkan itu telah menyamar di sini, di sini dan di sini.

Dan masih banyak lagi bukti dari kegiatan yang menurut saya sudah menjadi sebuah Penipuan/Penyesatan seperti yang terjadi di sini, di sini dan di sini. Bid’ah ditebarkan, darah dihalalkan, pembunuhan terjadi. Sampai sampai ciri khas dan karakter picik dan tak mau kalah pun melekat, bukan hanya di Endonesia Indonesia, tapi memang sudah terjadi di berbagai negara lain, bahkan di negara dimana Ka’bah berada.

Semuanya menurut saya bukan lagi sebuah Perbedaan melainkan Penipuan/Penyesatan, dan apakah dalam hal ini kita harus Diam™ saat Agama dibuat menjadi Candu dan otak di cuci? Apakah kita harus menghentikan perdebatan? Benturan terus terjadi, pertikaian tidak berhenti, Propaganda dan Provokasi pun berlanjut. Bid’ah membid’ahkan terus berjalan. Sampai sampai sebutan sebagai pengikut setan pun bergaung.

Maka? Apakah yang bisa menjadi solusi terbaik? Diskusi, debat, maupun perang tidak akan menyelesaikan masalah. Persatuan, tidak memaksakan kehendak dan memberikan toleransi mungkin adalah kesimpulannya………. Entahlah………. karena toleransi sering disalah gunakan, persatuan sering diartikan sebagai fanatisme buta dan pengkotak kotakan. Tidak memaksakan kehendak sering di artikan sebagai Diam™. Benar benar sebuah penggambaran masa seperti yang diprediksikan Rasul yaitu banyaknya umat Islam justru akan berbanding terbalik dengan kualitasnya. Mungkin tips dari wadehel ini memang yang paling efektif.