Serdadu Bunuh Rakyat Kecil = Demokrasi Bunuh Komunis

Isi kepala dibalik topi baja

Semua serdadu pasti tak jauh berbeda

Tak perduli perwira bintara atau tamtama

Tetap tentara

Kata berita gagah perkasa

Apalagi sedang kokang senjata

Persetan siapa saja musuhnya

Perintah datang karangpun dihantam

Serdadu seperti peluru

Tekan picu melesat tak ragu

Serdadu seperti belati

Tak dirawat tumpul dan berkarat

Iwan Fals – Serdadu

Masih panjang sich, tapi saya malas kalau meneruskan kelanjutan lyricnya. Lagu dari sang legenda Indonesia yang belakangan saya putar terus. Mengingat kematian rakyat di ujung peluru dari para serdadu, khususnya Marinir TNI-AL. Mereka yang jadi korban berada jauh di sana, terpisah pulau dari saya. Mereka masih saudara saya sebangsa dan setanah air (berdasarkan KTP yang menyatakan bahwasanya kami ini WNI aja sich, selebihnya saya ga begitu yakin mereka saudara).

Konon sich, Serdadu menembaki mereka mereka, hingga kemudian jatuh korban. Merenggut nyawa manusia manusia yang berstatus sipil. Permasalahannya adalah sengketa tanah, tanah yang di klaim sebagai milik TNIAL yang diisi oleh masyarakat sipil yang mungkin dikatakan tidak berhak karena tidak memiliki surat surat sah sebagai tanda kepemilikan tanah.

Siapa yang salah? Jelas masyarakat!, sudah tau tidak punya hak, masih ngotot menuntutnya. Kewajiban saja belum dipenuhi. Lho? Apa kewajiban masyarakat? Ya bayar pajak tentunya. Kalau memang masyarakat yang bersengketa tidak punya surat surat resmi, jelas mereka tidak bayar pajak bumi dan bangunan, persetan dengan segala macam UUD, Pancasila dan aturan aturan yang berlaku di Indonesia yang mungkin berbunyi “Keadilan Sosial” ataupun “Segala sumber daya alam dan kekayaan negara dipergunakan untuk kepentingan khalayak ramai”. Bullshit semua! Yang ada kalau mau hidup di Indonesia, kita harus bayar! Termasuk untuk tanah nenek moyang meski sejak jaman Nabi Adam ditempati oleh kakek buyut, kakek, sampai bapak dan ibu kita.

Masih berani menuntut hak kalau memang kewajiban belum dipenuhi? Bahkan mengatasnamakan sebuah alasan empuk yang selama ini menjadi andalan yaitu sebuah alasan bernama HAM? Jangan terlalu banyak mengatasnamakan atau menggunakan HAM, karena hanya akan menguntungkan pengacara pengacara yang konon kaki kirinya sudah berada di neraka yang lebih menarik daripada surga, atau LSM yang memang kerjaannya memancing di benang kusut.

Mereka dapat dana dari kerjaan mereka mengurusi hal hal macam begituan, sementara para korban hanya bisa meratapi kematian para tetangga, anak, orang tua atau saudara kandung dan sudara jauh dekatnya.

Seorang rekan berkata…..”Saya tidak percaya kalau TNI yang nembak duluan, fikirkan saja, kalau memang TNI AL yang memberondong dengan senapan mereka. Mustahil korbannya hanya segitu. Malahan, bisa bisa semua masyarakat sekitar sana mati semua”.

Saya rasa saya lumayan setuju buat statement ini, berdasarkan pengalaman saya dan teman teman yang bertemu dengan para kacang ijo ini. Biasanya mereka ramah dan santun. Kemungkinan besar mereka memang membela diri, karena kalau tidak salah dengar dan salah info, para serdadu di lokasi kejadian malah duluan di kalungi palu dan arit clurit dan diancam. Jelas mereka membela diri, daripada mati konyol.

Masalah jatuhnya korban, bisa saja beberapa dari mereka memang terpancing emosi dan menembak dengan sengaja mengarahkan, namun lagi lagi kalau tidak salah tangkap info, Marinir Marinir itu memang menembakkan ke tempat tempat kosong dan dinding yang akhirnya malah tembus dan melukai bahkan membunuh rakyat sipil.

Bagaimana kejadian resmi dan nyatanya? Entahlah, saya hanya berharap media massa tidak melakukan kebohongan. Meski kalian para jurnalis, reporter dan lain sebagainya adalah penyebar informasi. Tolong jangan menghancurkan nama TNI. Ungkapkan fakta yang sebenar benarnya fakta, kalau memang masyaratakat yang mengintimidasi dan menyerang duluan, jangan kalian sembunyikan. Apa kalian mau minta sogokan lebih banyak dari kalangan milter dulu untuk memberitakan pembelaan dan keterangan yang meringankan dan membela militer?

:::::

Izinkan saya merangkum beberapa kisah kisah dari orang orang yang dulunya pernah merasakan bisingnya desingan peluru, dan benar benar meresapi betapa berharganya sehelai nyawa. Kebetulan sebagian dari mereka semua sudah bernasip seperti Sersan Sanip, sudah beristirahat di rumah persinggahan menunggu datangnya hari kiamat.

Sebagai Serdadu yang selalu mematuhi perintah atasan, maka tak perduli siapa saja musuhnya, perintah datang karangpun dihantam. Itulah nasib serdadu. Seperti halnya kakek saya yang ditugaskan untuk berangkat perang mempertaruhkan nyawanya ke suatu daerah yang terjadi pemberontakan.

Beliau berangkat kesana menggunakan kapal laut. Lalu? Bagaimana keadaan sesampainya disana? Belum sempat kapal beliau merapat, kapal yang beliau tumpangi sudah diberodong peluru panas musuh. Tidak disangka sangka musuh sudah bersiap siap. Hingga akhirnya yang bisa dilakukan hanya tiarap, melindungi isi kepala di balik topi baja, sangat sukar menembak balas karena musuh melakukan kamuflase, menyembunyikan diri.

Yang bisa dilakukan hanyalah tiarap, sambil berharap peluru musuh habis dan pasukan diatas kapal bisa menyerang balik. Apa daya, lebih dari seharian beliau hanya bisa tiarap. Lebih konyol lagi, saya malah nanya “Lantas, saat tiarap kakek makan apa? Kan seharian?”. ya jawabannya kira kira maknanya “Jangankan mikir makan, mikir buang angin aja ga sempat lagi, masih bisa bernafas aja sukur”.

Seorang anak manusia berpakaian hijau hijau, ditengah rimba di Atjeh saat masih maraknya GAM. Disana tidak dapat membedakan mana musuh mana rakyat sipil. Karena masyarakat berkain sarung saja bisa bisa membawa senjata .Setiap saat mereka bisa menembakkan peluru panasnya.

Belum lagi kalau sedang bertempur, dan diserang musuh di tengah hutan. Bisa bisa seharian mereka hanya bisa merendam diri di lumpur atau rawa rawa sampai sebatas dagu. Tidak bisa melakukan apa apa, keluar dari persembunyian, nyawa taruhannya. Hanya bisa menyembunyikan diri sampai bisa melihat dan memastikan keberadaan musuh. Hujan dan panas tidak perduli. Tubuh lelah dan perasaan takut, lelah, geram serta berbagai macam lainnya bercampur aduk menjadi satu. Bagaimana supaya bisa tetap selamat, itulah yang paling penting.

Seorang anak manusia, diperintahkan komandan berada diposisi siap tembak. Apa nyana musuh tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Posisi siap tembak dipertahankan berbulan bulan, tak heran saat ketemu manusia dia jadi gila. Karena berbulan bulan dia tegang, isi otaknya selama itu hanya manusia adalah lawan. Sehingga diapun membantai manusia manusia lain yang ditemuinya.

::::::

Semua kisah itu adalah nyata, meski saya tidak bisa memberikan link. Sekarang mari tanya pada diri kita kalian masing masing. Masihkah berhak kalian bicara tentang HAM dengan para Serdadu? Mereka melupakan Hak Asasi Manusia mereka saat memepertaruhkan nyawa demi bangsa dan perintah atasan. Yang sudah berkeluarga meninggalkan anak dan istrinya yang dirumah berharap harap cemas sambil senantiasa berdoa untuk keselamatan suami dan ayah tercinta. Yang masih bujangan meninggalkan orang tua dan sudara saudaranya yang mungkin setiap hari berdoa sambil berusaha menenangkan hati yang gundah dan risau memikirkan nasib buah hatinya dan saudaranya.

Masihkah kalian anggap mereka melakukan pelanggaran HAM, saat kalian menikmati HAM dengan nikmat dirumah dan kantor masing masing? Kalian tidur dengan nyenyaknya di kasur empuk, Serdadu tidur beralaskan tanah, kadang tidak tidur, hanya bisa berlutut atau tiarap diantara butiran butiran merah menyala yang siap membawakan malaikat pencabut nyawa.

Kalian makan enak direstoran mahal, paling tidak ga perlu repot saat harus memasak. Serdadu harus merebus dengan susah payah dulu biskuit dan ransum mereka sebelum bisa dimakan. Meski memang tak sedikit pula yang merelakan diri dan kehormatannya dengan menjadi tentara bayaran. Yang jelas, mereka tidak, atau setidaknya belum sebusuk polisi polisi keparat seperti yang tertuang di sini dan di sini.

Dan khusus buat yang merasa dirinya Pancasilais, anti-komunisme dan aliran aliran kanan lainnya. Ingatlah bahwa yang membantai membasmi kaum yang dianggap kiri itu adalah para serdadu yang malang itu. Ingatlah bahwasanya kaum buruh dan tani adalah kaum kiri, sebuah aliran yang kalian kutuk habis habisan karena konon tidak beragama bertuhan.

Harusnya kalian kalian yang berdasi atau berpakaian rapi dan menyebut dirinya wakil rakyat, pejabat dan kaum intelek, atau mahasiswa mahasiswa demokratis dan cinta Indonesia membela TNI, TNI lah yang meberantas kaum dan aliran yang kalian sebut musuh yaitu Komunis dan Komunisme! Ingatlah lambang palu arit yang melambangkan PKI buruh dan tani itu, lambang yang kalian kutuk dan haramkan habis habisan, sekarang mereka mulai menunjukkan gelagat berbahaya lagi, dan TNI yang menumpas mereka lagi. Kenapa malah TNI yang kalian musuhi??

Yang merasa dirinya rakyat kecil dan korban, saya tau kalian perlu sesuatu untuk disalahkan. Maka salahkan saja Tuhan kalian masing masing, kenapa Tuhan kalian masing masing tidak menciptakan kalian menjadi manusia manusia kaya dan borjuis, atau setidaknya menjadi mahasiswa pendemo yang bisa dapat kerjaan dan duit gratis saat saat seperti ini. Kenapa kalian bukannya terlahir dan tumbuh menjadi TNI yang bisa menembaki rakyat sipil macam kalian? Kenapa kalian tidak terlahir dan kemudian menjadi orang orang besar dan berduit macam Gubernur, atau Presiden sekalian.

Pemerintah Indonesia nampaknya sudah sangat sukses menjaga demokrasi dan kapitalisme yang memang selalu digadang gadangkan sebagai yang terbaik untuk Indonesia yang mejemuk dan berpulau pulau ini, pemerintah benar benar ingin mengenyahkan rakyat rakyatnya yang miskin dan cenderung akan menjadi komunis dan garis kiri lainnya, cara cara cara yang dilakkan seperti mempersulit pembuatan KTP, surat miskin, termasuk akte kelahiran, akte kepemilikan tanah dan pajak bumi dan bangunan.

Kalau sudah juga masih akan ada Izin Mendirikan Bangunan yang berarti duit lagi. Sehingga masyarakat benar benar kesulitan untuk hidup sah sebahagi warga negara yang dilindungi dan dijaga oleh negara. Tidak seperti kapitalis kapitalis busuk yang dengan mudahnya mengurus segala surat surat, tetek bengek serta birokrasi komplex yang menjadi syarat kewarganegaraan serta sarat syah memiliki segala sesuatunya seperti tanah sehingga tidak akan diganggu gugat lagi.

Bahkan tanah yang bukan milik pribadi atau nenek moyang pun bisa diklaim jadi milik pribadi kalau memang punya duit buat bayar Jaksa, hakim notaris PPAT dan segala instansi dan keparat keparat yang mengurusi segala macam legalisasi dan perizinan.

Mungkin alasan paranoid terhadap komunisme ini juga yang membuat manusia manusia keturunan Cina/Tionghoa menjadi dipersulit menjadi warga negara, meski terkadang manusia manusia berkulit kuning itu sudah tidak mengerti lagi bahasa moyangnya. Saking paranoidnya pemerintah, Cina selalu di samakan dengan komunis = bahaya laten = rakyat kecil = buruh dan tani = harus diberantas. My question is who hates communism? It is USA, right? Does this really mean that our presidents had always been supported by Uncle Sam?

Tidak ada kesimpulan yang perlu saya berikan, tulisan ini memang ga mutu. Silakan ambil hikmah dan manfaat berdasarkan kapasitas otak dan kemampuan hati nurani anda masing masing. Terima Kasih.

11 Responses to “Serdadu Bunuh Rakyat Kecil = Demokrasi Bunuh Komunis”


  1. 1 deKing 7 June 2007 at 07:24

    Apakah hati mereka juga sekeras topi yang mereka pakai?

  2. 2 Neo Forty-Nine 7 June 2007 at 12:18

    @Deking: Bisa jadi Mas, sangat bisa jadi

  3. 3 chiw imudz 8 June 2007 at 11:50

    kata salah seorang temen saya
    “ketergantungan yang tidak terkomunikasikan”

    bisa jadi semcam itu. kan kasusnya udah lama tho?Ndak segera diselesaikan sih…ya kek gitu tadi akibatnya…

    mungkin emang tradisi negara kita kali ya?sukanya nimbun2 (ya sembako, ya uang, ya bbm, ya masalah, ya dll)

    yang ujung2nya ya…konflik yang membesar n meledaks…

  4. 4 divineangel 8 June 2007 at 22:25

    Memang ada salah masyarakat juga. Setelah baca pun ngerti bahwa kesalahan masayarakat juga sama besarnya.

    Tapi soal asal mula penembakan itu memang meragukan. Kalau benar yang mulai adalah rakyat berarti memang kacau tuh informasi di Indonesia.

    baidewei memang iya sih. Saya pernah 5 hari bersama AL di atas perahu di tengah laut (masa di tengah kota?0). Memang benar bahwa AL-AL itu memang ramah. Tapi tidak tahu lain waktu. Mudah2an sih memang ramah.

  5. 5 Master Li 9 June 2007 at 09:01

    Hmnnn… Menanngapi divineangel.
    Kalau masyarakat memang salah, apa semuanya salah? Apa gerombolan loreng berhak menembaki rakyat yang ternyata tak terlibat…?

    Wew… AL lupa lautan…!

    Mungkin alasan paranoid terhadap komunisme ini juga yang membuat manusia manusia keturunan Cina/Tionghoa menjadi dipersulit menjadi warga negara, meski terkadang manusia manusia berkulit kuning itu sudah tidak mengerti lagi bahasa moyangnya. Saking paranoidnya pemerintah, Cina selalu di samakan dengan komunis = bahaya laten = rakyat kecil = buruh dan tani = harus diberantas. My question is who hates communism? It is USA, right? Does this really mean that our presidents had always been supported by Uncle Sam?

    Nah, terjadilah pengkotak-kotakan di mana dulu Konghucu tidak dianggap dan pemeluknya HARUS memeluk salah satu dari 5 agama yang diakui kalau tidak mau dicap komunis. Gila…
    ..hei, buat KTP saja berjuta-juta… ahhhh…
    Keterangan lebih lanjut saya tulis dalam Skenario Minoritas Perantara.

  6. 6 Neo Forty-Nine 9 June 2007 at 19:49

    @Chiw Imudz
    Ada saran buat nyetopnya?

    @Divineangel
    Ya saya juga sudah merasakan keramah tamahan mereka Kok

    @Master Li
    Kayanya saya tidak berani menanggapi lebih jauh, komennya udah bagus dan luar biasa

  7. 7 Tan malaka SH 22 June 2007 at 13:35

    zzzzzzzzzzz…hah jam berapa ni…zzzzzzzz

  8. 8 Neo Forty-Nine 24 June 2007 at 00:23

    weeeeeeeeeeee


  1. 1 Tentara Tembak Rakyat = Garis Kanan Bunuh Garis Kiri « o m a i g a t Trackback on 6 June 2007 at 22:48
  2. 2 Cinta Segi Banyak « Parking Area Trackback on 16 June 2007 at 14:36
  3. 3 Tentang….. « Generasi Biru Trackback on 27 April 2009 at 17:56

Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: