Oke oke, sebenarnya saya ga mau cerita banyak tentang kehidupan dan kesukaan pribadi saya di tempat baru ini. Namun saya sudah janji kepada Teteh Jurig bahwasanya akan membuat postingan tentang divisi dalam Pecinta Alam yang saya sukai dan saya tidak sukai. Yang merepresentasikan diri saya dan yang engga.

Sebagai pembuka, saya lampirkan dulu divisi yang selama ini saya ketahui (mohon maaf atas terbatasnya link, saya ga sempat dan ga sanggup kalau harus nyarikan link nya satu persatu). Ada HG, RC, Caving dan ORAD. Serta sebuah divisi tidak resmi yaitu ORAK. HG ditaruh paling pertama karena sebenarnya dengan memilih HG, sejatinya seorang PA harus bisa menguasai semua divisi di bawahnya, dengan kata lain HG adalah yang divisi yang paling berat. Yang milih HG harus bisa manjat karena setiap waktu dan setiap saat bisa aja ketemu tebing, harus bisa merayap dan memiliki segala kemampuan caving karena tidak pernah tau kapan saatnya bertemu gua. Bisa berenang karena bakalan jadi senjata beladiri ampuh saat ketemu sungai yang dalam. Kenyataannya? Anggap saja saya (dan mungkin mewakili bebarapa manusia lainnya) memelintir atau memodifikasi falsafahnya si Difo. Kalau Difo ga minat sama sekali buat camping dan olahraga, maka saya juga niat sama sekali buat bersusah susah diri.

Contoh pertama. Suatu saat saya dan teman teman berangkat ke hutan yang belum pernah dijamah dan diketahui seluk beluknya, tiba tiba saja, Ya Tuhan……..sebuah tebing tinggi terhampar dihadapan, bukan lagi scrambling yang bakalan dilakukan tapi sudah benar benar masuk kategori climbing. Kanan jurang, kiri semak belukar berduri. Apa yang akan dilakukan? Pilihan pertama dan pasti……….STOP!. Untuk kemudian menentukan langkah selanjutnya. Pilihan kedua pulang!, atau cari jalur lain yang lebih santai dan nyaman, kalau memang ga ada? Ya pulang, ngapain mempersulit diri. Masuk hutan bawa one-daypack (apalagi bawa carrier) aja sudah mempersulit diri. Padahal tebingnya masih bisa dipanjat, perduli setan! setan aja ga perduli. Tangan bakalan lecet lecet, resiko terluka hingga kematian oleh terjatuh, dan lain lain menghadang, lagian berhasil manjat ke puncak bukan obsesi saya.

Contoh kedua, hujan lebat, ga bawa ponco/tenda buat nginap dan buat tempat berteduh, ada gua tapi sempit dan gelap. Mana yang akan dipilih? Kali ini saya akan memilih untuk menjadi bodoh dengan mencari pohon besar dan membuat bivoack alam ketimbang masuk gua. Pertimbangannya? Gua memang bisa jadi lebih hangat dan melindungi dari hujan, namun liatlah kemungkinan kondisi buruk dari gua. Gelap, bahaya binatang berbisa, belum tentu bisa bikin api, belum tentu hujan bakalan lama, ga tau ujung guanya dimana.

Persetan dengan segala tantangan dan kepuasan yang terjadi saat berhasil menaklukkan dan menjelajah gua seperti halnya para caver sejati. Seankan hal bodoh yang mungkin terjadi bila saya ga masuk gua untuk berteduh adalah: Long lasting rain bakalan bikin hypotermia, ga bisa bikin api, ga bisa masak sehingga perut dangdutan keroncongan, tidurpun ga bakalan bisa. Tapi saya lebih memilih kebodohan ini sebagai tantangan yang saya suka ketimbang harus memilih resikonya versi para caver.

Contoh ketiga. Ketemu jalan buntu yang depannya hanya terlihat hamparan air, apa yang dilakukan? Gampang, balik badan, pulang atau cari jalan lain. Ga perduli di depan terlihat daratan/tujuan. Selain saya ga bisa berenang, belum tentu sungainya aman dari buaya, ular, dan berbagai binatang maut atau menjijikkan lainnya. Atau ketemu sungai arus deras, yang lain pada masang pelampung buat melarutkan diri/membuat lanting dan perahu dadakan buat menaklukkan arus, saya ga ikutan dech. Kalau sekedar ORAD singkat saja boleh lah, kalau sudah sampai puluhan kilometer ga usahlah. Malas! Meski standar safety sudah terlaksana.

Kesimpulannya, meski terkadang pasukan HG menyukai tantangan ekstrim, saya lebih memilih jalan paling aman dan paling mengenakkan saja seperti yang pernah saya jabarkan disini. Ngapain cape cape manjat kalau masih ada jalan yang bisa jalan santai? Ngapain ngerayap sana sini dalam gua kalau bisa nyantai sambil ngopi diluarnya? Ngapain mempertaruhkan nyawa dalam arus deras kalau bisa duduk tenang di pinggir sungai sambil menikmati ganja rokok dan kopi? Nanti, kalau memang masih ada tangannya, akan saya posting tentang tempat camping fav saya yang engga bikin kecapean secara ekstrim.

Ini bukan berarti saya ga berani menantang bahaya atau selalu menghindari masalah, kalau memang tidak ada pilihan lain selain menantang bahaya, seperti misalnya saat jadi panitia Latdas yang harus mencari peserta yang hilang, mau tidak mau dan suka tidak suka ya harus diambil juga. Mental Bunglon? Mental Munafik? Ah, biarin aja dianggap begitu. Orang munafik lebih mending kok daripada orang fanatik. Orang munafik/bunglon masih ada kesempatan buat berubah menjadi baik dan lebih baik. Orang fanatik kalau sudah salah ga akan bisa bener, ga mau berubah menjadi lebih baik meski datang koreksian dan kebenaran.