Menulis Skripsi Dan Menulis Blog

Sudah lama sekali saya ingin menuangkan hal ini, entah kenapa selalu tertunda. Apalagi saat membaca artikel ini beserta komen komen di bawahnya. Bahwasanya seandainya saja menlis skripsi bisa dilakukan di blog.

Mohon maaf sebelumnya buat Anto dan Anindito yang saat ini sedang berusaha membebaskan dirinya dari jeratan siksa kuliah, tolong jangan merasa terbebani. Atau kepada pasukan yang baru saja di jebloskan ke dalam neraka dunia macam Difo dan Sora9n, haraf jangan merasa patah arang ataupun ingin menyerang. *goblok ngapain nulis yang begininan. Ga penting tau!*

Back to topic. Menulis di blog, dan seandainya saja menulis dan mengerjakan skripsi bisa dilakukan di blog, alangkah indahnya hidup ini. Ga perlu buang buang kertas sampai ribuan lembar untuk sekedar dicoret coret oleh dosen dosen pembimbing. Ga perlu cabut pasang flashdisk dari rumah (ngetik skripsi), komputer teman teman (ngerampok dan nyalin bahan), rental (ngeprint lembar lembar jahanam skripsi), trus laptop dosen atau komputer kampus (di check grammarnya pakai tools di komputer) untuk kemudian lembar lembar jahanam skripsi yang diprint tadi dicoret coret coret lagi. Huh!

Fasilitas flashdisk ternyata tidak pernah menolong manusia untuk tidak ngeprint, dengan alasan gaptek, ga ngerti komputer tidak sopan dan berbagai alasan lainnya dosen dosen pembimbing menolak untuk menerima berkas berkas skripsi dalam bentuk Microsoft Word ataupun PDF maupun doc doc Office lainnya.

Ribuan bahkan jutaan lembar kertas kertas yang merupakan jelmaan dari berbagai bahan alami maupun tidak alami yang seyogyanya bisa digunakan untuk kemaslahatan dan pencerdasan bangsa malah hanya terbuang sia sia hanya karena perubahan 1 paragraf saja!. “Kamu tolong rubah kalimat ini menjadi yang lebih efektif ya”, simpel saja perintahnya, namun halaman yang sudah disusun dan diberi no itu harus dibongkar ulang semuanya buat perbaikan, kalau ada urutan halaman yang berubah, tentu otomatis semuanya akan berubah.

Coba misalnya kalau ditulis di blog, dosen tinggal kasih komen untuk memberi masukan dan tambahan, mahasiswa tinggal mengganti dan memeperbaiki postingannya. Mungkin postingan antar bab bisa meminimalisasi panjangnya postingan.

Bagaimana dengan pengacau bertulisan kotor yang setiap saat bisa mengincar kita untuk memberi komentar, pingback dan lain sebagainya yang biasanya bersifat pembunuhan karakter, kritik dan saran? Gampang! Gunakan fasilitas moderasi dan berbagai fasilitas lainnya untuk memutilasi komen dan URL lawan, seperti yang selama ini dilakukan oleh seseorang yang mungkin telah kita ketahui bersama. Betul? Ya siapa tau saja salah satu komentator di blog kita memiliki kemampuan melebihi kita dalam mengkritik dan memberikan masukan, kita jadi malu dengan kekalahan kita sehingga kita pun melaksanakan pembersihan dan mutilasi ayat komen, termasuk menghapus artikel.

Ah, alangkah nikmatnya kalau benar benar kejadian. Hanya ada satu masalah yang tersisa, yaitu keterbatasan waktu dan dana untuk ke warnet bagi para mahasiswa. Masa setiap mau membuat bab, ngedit bab, menjawab dan memutilasi komen dari gangguan terrorist, serta melakukan finishing touch untuk setiap bab mahasiswanya harus ke warnet?

Solusinya? Apa gunanya fasilitas negara yang tersedia di kampus kalau tidak digunakan sebaik baiknya untuk kepentingan mahasiswa dan dosen? Apa mau dibikin busuk menggantung karena dibiarkan dan tidak terpakai ? Deal kan? Masalah selesai. Tinggal tindak lanjut rektor, dekan, dosen dan staff staff kampus yang hobi menghambat mahasiswa saja yang berwenang untuk merealisasikannya.

Demi Indonesia juga, demi pendidikan, demi kemajuan bangsa ini. Jangan terulang lagi mahasiswa lulus dengan tingkat pengetahuan komputer dan internet yang hanya mencapai tahap kemampuan chatting dan nyari gambar porno Qur’an online. Paling tidak dimulai dengan kebebasan berinternet di kampus, sehingga mahasiswa bisa lebih kritis, terlatih menggunakan fasilitas negara komputer dan memanfaatkan internet sebagai bahan lintas dunia.

9 Responses to “Menulis Skripsi Dan Menulis Blog”


  1. 1 Ersis Warmansyah Abbas 8 June 2007 at 21:23

    Ha ha itu my dream. Bagus. Saya suka gaya tulisan sampeyan. Tapi, kondisi obyektif punya realitss sendiri. Apakah dosen pada ngerti blog (interet), mahasiswa udah familiar? Kayanya masih jauh tu. Saya pernah ‘diperkosa’ karena dianggap ‘memperkosa’ mahasiswa memakai e-learing dalam aktivitas perkuliahan. Tapi, peduli amat. Saya jalan terus sekalipun sendiri di jalan IT.
    Tq.
    Ersis

  2. 2 Neo Forty-Nine 9 June 2007 at 19:51

    Ah mudah mudahan bisa menjadi lebih maju Pak. Mari….kita mengusahakannya, anda tentu punya cara untuk memajukan pendidikan to?

  3. 3 deKing 12 June 2007 at 05:23

    Ide yang brilian nich…sering kadang kemajuan dan perkembangan memang perlu diawali dengan suatu paksaan…
    Bimbingan skripsi lewat blog bs mengajar mahasiswa untuk menjadi lebih melék teknologi

  4. 4 Fortynine 12 June 2007 at 18:41

    Sip! Mas setuju kan dengan konsep ini, ho ho ho

  5. 5 Death Berry Ille-Bellisima 25 June 2007 at 16:13

    Hahahaha…..Dosen gaptek harus diberi pendidikan TIK intensif. Seperti, bagaimana cara menghubungkan FD ke Komputernya. d.l.l.:mrgreen:

  6. 6 suakcot 26 June 2007 at 10:47

    bagus artikelnya tapi kalu dosen gak pernah pegang komputer gimn tu bisa gawat.doswen pembimbing banyask yang gaptek ni.

  7. 7 Fortynine 26 June 2007 at 11:53

    @Death Berry Ille-Bellisima: Setuju!

    @Suakcot: Makanya dosen perlu di update

  8. 8 made yudhi 18 April 2008 at 18:03

    maaf, saya tidak setuju. kalo kita liat yang namanya administrasi dari level yang agak bawah macam kelurahan, sampe nota pada pak presiden itu mesti pake kertas. dari negeri paling miskin sampe negeri yg katanya paling kaya, kertas masih dipake untuk acara resmi.

    kecuali kalo skripsi dianggep gak resmi dan cuma corat coret belaka, barulah penggunaan kertas dicabut.

    kenapa yang resmi harus pake kertas? karena resmi identik dgn standar. bahasanya harus standar (baku), formatnya pun harus standar (pake kertas) alias bisa dibaca SIAPA SAJA yang terlibat dalam urusan resmi tersebut. so, jgn terlalu idealis lah. idealis = anak2. semua harus bgini, harus begitu. kadang diperlukan sikap lapang dada (kyk PPKn ya?) utk menghadapi dosen “tersadis” sekalipun. itu yang namanya dewasa.

  9. 9 Mr. Fortynine 11 September 2008 at 20:10

    ya. Saya juga tahu. Bahkan pentingnya cap alias tok juga masih ga bisa dihilangkan. Cuma ya ndesonya dosen (baik cara kerja maupun cara pikir) yang pasti perlu dihilangkan.


Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Twitter

  • Laporan kepada @pln_123 , hari ini sdh terjadi pemutusan aliran listrik untuk kesekian kalinya di Banjarbaru dengan durasi yg cukup panjang 23 hours ago

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: