WARNING!!!! ARTIKEL YANG PANJANG, HARAF BACA BAIK BAIK SETIAP HURUF, KATA, FRASE, DAN KALIMATNYA. SILAKAN MUNDUR SEKARANG JIKA MERASA BELUM SIAP FISIK, MENTAL DAN USIA

Pasangan penuh cinta itu sungguh bergembira, hari itu mereka akan menghabiskan waktu mereka buat jalan jalan ke sebuah tempat yang indah, meski harus menggunakan motor pinjaman dari teman. Tersebutlah Difo dan Rizma, pasangan baru yang cintanya sedang berbunga bunga yang memutuskan untuk jalan jalan. Berhubung Difo masih belum punya motor sendiri, maka Difo pun meminjam motor milik sahabat karibnya bernama Shan yang memang dengan tulus ikhlas meminjami mereka motor.

Singkat kata singkat cerita, pasangan berbahagia inipun meluncur melintasi indahnya jalan, sampai saat yang tidak menyenangkan itupun tiba. Saat Difo mendahului sebuah truck melewati lajur kiri, sebuah sepedamotor yang ditumpangi oleh seorang cewe juga berada di sebelah kiri truck tersebut, Difo dengan kegesitan dan skill mengendaranya yang hebat sehebat Valentino Rossi menghindarkan motor supaya tidak sampai menyerempet apalagi menabrak, sukses! Namun entah kenapa si cewe malah jatuh dari motornya (kelak ketahuan bahwa ternyata si cewe mengendarai motornya dengan satu tangan dan sedang tidak memperhatikan jalan alias ga konsentrasi dan tidak memenuhi standar keaman berkendaraan).

Reaksi Difo saat itu? “Ah cuek aja lah, ngapain juga diperhatikan, toh bukan aku yang nabrak, bukan aku yang nyerempet, bukan gara gara aku dia jatuh”. Namun kekasihnya tercinta mengingatkannya “Mas, tu orang jatuh tuh, masa dibiarin?”

Kemudian Difo pun menjawab “Ah biarin aja, bukan urusan kita”

“Jangan gitu mas, seandainya aku yang mengalami kejadian itu gimana? Tiba tiba aku jadi ngeri nich” jawab Rizma lagi.

“Oke oke” sahut Difo. Dan anak ini pun memutar arah, kembali ke TKP yang kelak keputusan ini akan menjadi salah satu keputusan paling goblok yang pernah diambil oleh Difo.

Saat berbalik arah, si cewe sudah ditolong oleh penduduk setempat, maklum cewe coba kalau cowo yang jatuh, alamat ga bakalan ada yang nolong. Ga ada yang tau sebenarnya apa yang terjadi, saat Difo menengok pun tidak ada orang yang curiga atau menuduh kalau si Difo adalah orang yang barusan menyalip apalagi sampai menjatuhkan tuh cewe, dan emang bukan Difo kok yang salah, emang tu pengendara yang goblok! Di dahuluin sepedamotor aja jatuh, apa karena tu anak memang bego dan baru bisa naik motor?

Si cewe dengan sisa sisa kekuatannya menelpon keluarganya yang ternyata tinggal ga jauh dari lokasi kejadian (kayanya ini terlalu dramatisir, si cewe ga luka parah kok, cuma lecet dikit, yang bikin dia nampak lemah adalah shock, bukan karena luka parah).

Akhirnya, kakaknya si cewe pun datang dengan tampang santun dan bijak, bukan sangar. “Bawa pulang, biar dirawat di rumah” kata sang kakak.

“Siapa yang nabrak ya?” gumam kakaknya. Dan saat inilah saat saat paling bego, dungu, tolol dan bodoh yang dilakukan oleh Difo yang seraya merespon “Saya”.

Si kakak cewe tadi menatapnya kosong, “ayo ikut deh ke rumah” sahutnya datar. Merekapun menuju rumah sang cewe, sepanjang jalan Difo menggumam “Puas kamu sekarang, kayanya kita bakalan dapat masalah nih”

“Biarinlah, ingat lho, gimana kalau aku yang jadi korban? Fikirin itu dong” ujar sang pacar.

“Ya mudah mudahan aja keluarganya si cewe cukup besar hati dan bijaksana untuk tidak meminta ganti untung yang bisa mencekik leher kita” sahut Difo lagi.

Di rumah si cewe,ternyata yang menghadapi pasangan penuh cinta ini bukannya si kakak yang bersorot mata teduh dan bertampang bijaksana tadi, melainkan bapaknya si cewe yang tampangnya mirip dengan rentenir rentenir tukang isap darah rakyat kecil, dengan perut buncitnya yang membuatnya makin mirip dengan kumpulan koruptor yang sering rapat di Senayan. Plus tatapan matanya yang bengis campur culas, seculas polisi polisi yang sering menilang masayarakat saat menggunakan jalan raya.

“Anu dek, gimana kronologis kejadiannya?” tanya si bapak. Gini pak “bla bla” lanjut Difo.

“Ehm, gini aja dulu, adek ini bisa menunjukkan SIM dan STNK dari motor yang adek bawa?” tanya si Bapak dengan logat yang lagi lagi mirip dengan pertanyaan keparat keparat berseragam yang sering berkeliaran di jalan. Difo pun menunjukkan surat surat penangkal tilang tadi.

Lalu Difo mengajukan pertanyaan “jadi kira kira gimana nih urusannya pak?”. “Urusan apanya” jawab si bapak sok polos, “itu pak, urusan gonta gantinya, apa perlu saya bayar, sayakan ga salah masa saya harus membayar kesalahan yang tidak saya lakukan???” ucap Difo.

“Sebentar dek, kata siapa adek ga salah? Apa adek ini ga tau peraturan lalu lintas yang tidak memperbolehkan pengendara motor menyalip dari kiri ujar si bapak lagi. Dan selanjutnya dan selanjutnya.

Sebenarnya sich Difo saat itu bisa saja memenangkan debat seandainya dia sudah berpengalaman, seharusnya Difo nanya balik seperti “apa anak bapak punya SIM?” Atau menggugat macam “lho, anak bapak sendiri naikin motor pake satu tangan dan ga liat jalan, ga usah saya selip juga dia memiliki kemungkinan untuk jatuh. Emang bisa pak nyelip lewat kanan? Kan ada pembatas jalan, belum lagi resiko saya untuk disenggo truck jadi semangkin besar”

Tapi saat itu dia belum berpengalaman, sehingga dia pun hanya bisa terbengong bengong. Tambahan lagi, bapak keparat ini mengancam akan membawa urusan ini ke polisi, dan lain sebagainya. “Besok saja lagi kamu datang, biar saya hitung dulu berapa saya harus tipu kamu keuntungan yang bakalan saya dapatkan dari meras kamu, ok?” ucap si jahanam bapak tadi. “Baiklah pak” sahut Difo, “selamat malam pak”, ‘semoga neraka teruntuk buatmu, semoga tuhan cepat mengutus malaikatnya untuk mencabut nyawa bejatmu dari ragamu‘ gumam Difo dalam hati.

Esoknya, Difo datang dengan Shan si pemilik motor. Difo sudah bertekad kuat untuk tidak sedikit pun melibatkan kekasihnya, sebagai gentleman dia ingin menyelesaikan masalah tanpa merepotkan sang kekasih, apa nyana yang didapati adalah kekecewaan, perkiraan matematis dari kerugian yang Difo hitung sebelumnya ternyata membengkak sampai 5 kali buka (bukan lipat, kalau lima kali lipat namanya mengecil jumlahnya).

Anggap saja Difo memperkirakan bahwasanya akan terjadi penipuan sebesar 100 ribu dollar, namun yang didapati adalah tagihan keparat senilai 500 ribu dollar. “Saya harus ganti ini itu dan anu” ujar sang bapak menerangkan, sementara Difo hanya membawa uang 100 ribu dollar itupun dapat minjam dari Fadil dan Shan. “Setan! Terkutuklah kamu!” maki Difo dalam hati, “hitungan dari mana segitu, saya liat sendiri kok kerusakannya, ga mungkin separah dan semahal itu”.

Kembali negosiasi berjalan alot, namun kali ini Difo tidak sendiri, dia dengan Shan yang siap membantunya melakukan serangan balik dan pembelaan diri. Hingga akhirnya si bapak mata duitan tadi mengeluarkan senjata pamungkasnya yaitu “Ingat dek, saya akan laporkan pak polisi teman teman saya kalau adek tidak mau ganti” ucap si bapak.

“Tolong juga adek mengerti, kami ini cuma petani miskin dan ga punya apa apa, tiap hari kami harus berladang berdua untuk biaya hidup, paling paling tambahan kami dari berjualan ikan patin” tambah si istri yang saat itu juga ikutan nimbrung sambil menunjuk kolam besar tempat beternak patin milik mereka. “Kami juga pengen agar orang tua adek yang datang langsung untuk menyelesaikan pembayarannya. Ingat dek. Polisi!!, urusannya bakalan polisi, kalau dalam tempo waktu yang sesingkat singkatnya adek ga bayar”.

Sebentar, mari kita lihat gambaran dan setting kejadian. Pertemuan dilangsungkan di rumah yang tergolong bangunan bagus, katakanlah bangunan tadi mencerminkan kelas pemiliknya sebagai orang dengan kemapanan ekonomi yang mencapai taraf keatas bukan ekonomi menengah kebawah. Si anak cewe yang ketabrak jatuh itupun mengendarai motor tipe terbaru. Si kakak nan bijak menggunakan mobil jenis pick up yang jauh dari kesan butut. Si bapak mata duitan memilik sebuah mobil Kijang warna merah keluaran terbaru diparkir tepat dalam garasi rumah yang besar itu.

Lalu, kata kata petani tadi terbantah oleh sepasang telapak kaki mulus pasutri sialan ini. Mana mungkin petani yang tiap hari berladang punya kaki semulus kaki kaki artis dan bos bos yang di rumah pun pakai sendal meski tiap hari udah menginjakkan kaki di marmer mewah. Plus kolam ikan besar yang mengindikasikan bahwa keluarga ini bukannya manusia manusia ekonomi lemot melainkan kaum kapitalis busuk yang suka menimbun harta tanpa pernah puas yang hanya berjualan ikan kecil kecilan untuk tambahan penghasilan namun sudah mencapai tahap bandar, bukan lagi pengedar kecil. Lagian, siapa bilang jualan ikan modalnya kecil?

Lanjut…….. Tuntutan mengerikan dari si bapak terpaksa dipenuhi, berhubung Difo ga berani nagih dan minta tolong keluarganya, maka teman teman lah yang diminta tolong buat minjam uang. Maka bergerilyalah Difo dan Shan untuk minjam duit kepada Chika, Antobilang, Joe dan Desti. Sialnya cuma dapat 450 ribu dollar, sementara teman teman yang lain udah ga bisa diutangi, dari alasan sesama anak kost sampai alasan masih ada keperluan untuk dibeli, teman teman mereka yang lain terpaksa meminjami terima kasih dan semoga sukses saja.

Sementara masalah siapa yang mengahadap bisa diselesaikan dengan seorang kakak angkatan mereka bernama Teguh yang memang bijaksana dan diplomatis. Setelah merencanakan pengeboman dan penembakan kepada keluarga keparat tadi pembicaraan dan diskusi yang bakalan disodorkan buat keluarga baik budi dan ramah tadi. Teguh pun berangkat mewakili Difo.

Teguh akan berangkat dan berperan sebagai pamannya si Difo. Dan akhirnya Difo pun lega, meski masih sedikit kesal karena percakapan ini. “Pak, ini semuanya uang ganti untung yang bapak minta, keluarga kami cuma bisa menghasilkan 450 ribu dollar sahaja, mohon kekurangannya yang 50 ribu dollar direlakan pak, hitung hitung tabungan buat masuk surga yang dipenuhi 70 ribu vagina basah” ujar Teguh.

“Ya akhii, terima kasih atas do’anya, saya memang calon penghuni surga kok, hanya saja tolong akhi bedakan bencana dengan tabungan dan temuan. Kalau bencana seperti yang saya alami ini tidak bisa dibagi dua, harus keluarga akhii yang menanggung semua keuntungan yang bakalan saya peroleh.

Beda kalau misalnya saya dan keluarga akhii menemukan sebongkah emas, baru itu yang namanya dibagi dua. Kalau yang begini tidak kenal pembagian ya akhii, apa antum sudah mengerti kalimat kalimat ana?” ujar si bapak dengan tenangnya.

“Ya sudahlah, tapi kalau begitu kami minta waktu buat membayar sisanya, terima kasih pak” Sahut Teguh sambil pamitan. “semoga tuhan menutup pintu surga buat bapak.” Ujar Teguh dalam hati.

“Sudahlah Dif, nih saya pinjamin kamu 50 ribu dollar buat menyumpal mulut si jahanam itu kelak” ujar teguh seraya menyodorkan 50 ribu buat minjamin si Difo. “Masalah pembayaran biar saya yang paling akhir saja, kamu ga usah banyak fikiran”. “Makasih banyak mas” sahut Difo.

Beberapa hari kemudian Difo pun datang untuk melunasi tunggakan si bapak, pesan terakhir dari si bapak buat Difo adalah “dek, tuh anak saya manggil manggil nama kamu terus, sejak belum sembuh kemaren. Mungkin mau kenalan lebih jauh dia sama adek”.

“Makasih pak, semoga dia lekas sembuh dan baik baik saja”, ucap Difo seraya berlalu dengan hati tenang campur marah dan kesal. Dalam hatinya menggerutu “kalaupun saja saya ketemu anak bapak dalam keadaan baik baik bukan dalam penipuan seperti ini, seperti misalnya saya ketemu di mall, masih perlu 5 tahun buat saya mikir untuk bisa melanjutkan hubungan dengan putri bapak. Bisa bisa saya di bilang terinjak kodok oleh teman teman saya, belum lagi kalau saya memang harus pacaran dengan dia saya harus punya calon mertua yang mata duitan macam bapak, moga moga tuhan melindungi saya dari ketemu dan berhubungan lagi dengan anak bapak dan bapak sekeluarga”.

Catatan : diperlukan waktu hampir setahun buat Difo untuk bisa melunasi semua hutang hutangnya kepada rekan rekannya.