Terima kasih yang sebanyak banyaknya saya ucapkan kepada saudara Dion. Atas komentar komentarnya di sini. Sungguh, yang seperti itulah yang selama ini saya tunggu tunggu. Anda telah membuat saya menjadi terinspirasi buat menulis lagi di blog yang mulai terlupakan oleh saya sendiri ini. Sekaligus artikel ini saya juga tujukan sebagai tanggapan dari komentar komentar anda. Saya mulai sekarang.

Di artikel ini. “Perbedaan topik yang dibahas di lagu2nya Dewa dan Slank memang merupakan tembakan jitu ke arah tujuan fans yang ingin dicapai. Slank menginginkan pangsa pasar dari kalangan siswa SMP, SMA dan mahasiswa, sementara Dewa menginginkan yang lebih dewasa, makanya Slank terkesan blak-blakan sementara Dewa banyak kiasan.

Ide-idenya Slank udah jauh dari kata kreatif, kulitas musik yang semakin menurun, topik lagu yang katanya jujur tapi semakin lama semakin sempit, terlalu banyak pengulangan kata dan musik, kesannya seperti keabisan ide, sementara dewa tidak hanya meniru lagu Sting dan U2 saja, tapi coba dengarkan album format masa depannya Dewa lalu bandingkan dengan album Balads-nya Toto, satu album Balads Toto habis dilalap dhani di album format masa depan. Contohnya Mahameru, pas dengan lagunya Toto yang judulnya Africa.”.

Tidak banyak, hanya saja dengan kasus pembajakan kemiripan di sini, saya makin apatis dengan kreatifitas pribadi seorang Dhani. Ya, Dhani memang ga hanya U2 dan Sting, tapi juga Queen, Led Zeppelin, dan King Krimson/Crimson dan lain lain. Saya akui dia jenius dalam mengambil memadukan lyric U2 yang diterjemahkan secara bebas dengan aransemen “Roxanne”.

Trus mencomot sound soundnya Brian May buat mengisi melody di beberapa lagu Dewa 19. yang paling kental ada di lagu “Pupus”. Dari album pertama Dewa 19/Dhani memang sudah bakat dalam hal membajak memadukan berbagai musik orang buat dibikin lagu. Contohnya seperti yang anda sebutkan (Mahameru – Africa), bahkan yang paling awal ada di intro lagu “Kita Tidak Sedang Bercinta” yang mirip dengan you “Give Love A Bad Name” nya Bon Jovi. “Aransemen berbagai band 80’an yang dicomot oleh Dhani, kalau yang ga tau banyak soal musik, mungkin ga tau. tapi kalau yang banyak tau soal musik lapanpuluhan bakalan merasa”. Ujar dosen saya yang pecinta eighties rock. Meliat usia anda, saya yakin anda tau tentang eighties musik lebih banyak daripada saya, betul?

Kemesraan antara Bimbim dengan istrinya semakin terlihat dengan lagu yang diciptakan hanya untuk sang istri, sementara Dhani tega merendahkan istri di depan publik, tapi bagaimana dengan kasus perceraian Kaka dan istrinya beberapa tahun yang lalu? itu terjadi jauh sebelum Dhani melepas Maia, bahkan ketika itu Dhani sedang hangat-hangatnya dengan Maia.

Setau saya sich Kaka dan istri sebelumnya itu nikah gara gara seperti yang tertulis di lagu “April”, lagu yang “hitam” bahkan ga terdaftar di daftar lagu Album “Tujuh”nya Slank. Wajar kalau terjadi perceraian kemudian. Maafkan kalau saya salah. Lagian yang saya soroti adalah Bim bim vs Dhani. Bukan Dhani vs Kaka Slank.

Soal pindah distributor, kali aja kontrak Dhani dengan Aquarius Musikindo udah berakhir hingga akhirnya Dhani memilih EMI yang jelas udah mendunia.

He he, bukannya Aquarius itu yang membesarkan Dewa 19? Lantas ditinggal kabur oleh Dhani karena merasa Dewa 19 nya mandek kalau masih bersama recording company itu? Saya ga mau berprasangka buruk, namun memang menurut pengamatan saya, justru Dhani yang mengusahakan keluar dari Aquarius walaupun menyogok harus membayar kompensasi agar bisa pindah.

Menurut saya poin paling pentingnya adalah kesetiaan. Dimana duit Bim Bim ga bikin dia laksana “kacang lupa pada kulitnya”. Sejauh ini yang saya tangkap Dhani itu sangat ambisius, bahkan otoriter, dan berambisi besar mengusai dunia, minimal dunia musik Indonesia. Tak diragukan memang kejeniusan dan ambisinya sebagai seorang keturunan Yahudi. Sedangkan Bim Bim sangat kekeluargaan, mungkin karena selama ini di besarkan dan dirawat oleh Bunda Iffet yang sangat kekeluargaan.

::::::::

Yang di sini. Kedua: gw kurang setuju, alasan: di album pertama Slank memang menampilkan kualitas musik yang patut diacungi jempol, tapi dewa…? Dewa cuma menampilkan musik cengeng dengan kualitas mentah banget, permainan yang sepertinya masih takut-takut dan tanpa skill bermusik yang mantap, buktinya lagu ini sempat dirilis ulang oleh Dhani sendiri dan hasilnya jadi bagus, ini bukti bahwa lagu kangen pada saat itu masih sangat mentah, gak percaya? dengerin sekali lagi lagu kangen, lalu dengerin lagu cukup siti nurbaya setelahnya, pasti keliatan bedanya.

Diluar ini semua, buat telinga saya Album Dewa 19, memang jauh lebih menunjukkan skill masing masing personelnya, plus tidak Dhani sentris karena dia masih bersedia menjadi keyboardist, bukan frontliner macam sekarang.

Ketiga: kurang setuju, alasannya: setiap band pasti punya seorang motor penggerak bagi band tersebut, Slank punya Bimbim dan Dewa punya Dhani, yang aku kurang setuju, Bimbim di Slank adalah leader yang mungkin bukan pencipta lagu terbanyak dari karya-karya Slank, sebab dari album pertama (gak tau yang sekarang) selalu ada tulisan di cover albumnya Slank yang bunyinya: “semua lagu yang terekam dalam album Slank ini diciptakan dan dimainkan oleh Slank” lalu apa buktinya Bimbim sebagai pencipta lagu terbanyak. Kalo Dhani jelas, hampir semua lagu Dewa diciptakan oleh Dhani.

He he, memang ga ada bukti mas, maaf sekali. Namun menurut saya Bongky, Indra dan Pay itu lebih banyak ikutan mengaransemen, bukan bikin lagunya. Kalau nyarikan kunci/chordnya mungkin iya. Tetap aja kayanya lagu “Maafkan” atau “Mawar Merah” itu bikinan Bim Bim lyricsnya, tapi di aransemen bareng.

Menurut pengamatan saya yang dangkal ini. Lagu lagu non Bim Bim (lyric ga dari Bim2) di album satu dan dua* adalah: “Apatis Blues” (menurut saya ini bikinan Bongky bareng Kaka), “American Style” (Lyrics nampaknya dari Kaka Slank), dan “Teng Teng Blues” (menurut saya ini juga hasil Bongky, Pay dan Kaka). Selebihnya menurut saya hasil karyanya Bim Bim. Ga tau juga ya….ini hanya pengamatan dangkal saya, mungkin ada yang bisa menambahkan dan mengoreksi?

*album 3 sampai sekarang udah ada keterangannya siapa yang mengkompose lagu.

Kedelapan: setuju dan ini yang buat warna musik mereka berubah secara anarkis.

Anarkis apa sporadis Mas?

Kesebelas: ……………………………..Kritik dikit, nama bandnya Dhani bukan Dewa 19 lagi, tapi Dewa aja semenjak ditinggal Ari Lasso. 19 itu maksudnya adalah Dewa masuk dapur rekaman pertama sekali waktu mereka sama-sama masih berusia 19 tahun.

Ya. Diterima, tapi bagaimana denganb album Republik Cinta dan Kerajaan Cinta?

“Gw bahkan terkejut waktu denger album terakhir Dewa”.

Lho? Apa cuma denger lagunya? Ga liat covernya yang terpampang tulisan Dewa 19?

“Sementara Slank memang udah gak bisa bikin lagu sangar kyk dulu, skillnya udah kering kerontang seperti juga idenya, malah menurut gw ini terjadi semenjak Slank ditinggal Pay, Indra dan Bonky.”

Setuju! Tapi setidaknya Bim Bim masih lebih produktif daripada Dhani. Tapi memang kalah kreatif, soalnya setau saya yang di comot Bim Bim kebanyakan cuma dari Rolling Stone seperti “Bim Bim Jangan Menangis” (Fool to Cry) dan “#1″ (kalau ga salah “I Got The Blues”). Dhani? He he…

::::::::

Sekalian, saya kasih komen buat artikelnya Mas. Saya juga kenal dengan Slankers yang pensiun beli album Slank, album terakhir Slank yang dia punya adalah Minoritas, selebihnya? Katanya dia musiknya udah berubah, jadi dia ga mau beli dan ngikutin lagi.

Bahkan nonton konsernyapun ga mau lagi. Memang, sedangkal pengetahuan saya ada 2 jenis Slankers, yaitu yang saya sebutkan tadi, dan yang tetap setia mengikuti. Yang mengikuti masih terpecah pecah lagi, ada yang fanatisme buta, ada yang kritis, ada juga yang terima apa adanya sambil sedikit menyoroti.

Setau saya mereka (Slank) mau berubah dan menerima saran. Dan bukan apa apa, saya adalah salah satu orang yang mengusulkan album Slank akustik, dan ternyata diterima. Jadi, masih tidak tertutup kemungkinan mereka masih akan menjadi lebih baik, setidaknya menjaga kualitas dan kepercayaan penggemar.

“Abdee yang petikan gitarnya patut diacungi dua jempol”

Kalau bagi saya justru Ridho, ya ini memang selera pribadi aja sich.

Sementara Bimbim, gebukan drumnya tak seberat dulu.

Setuju sekali. Namun saya pernah menyaksikan Bim Bim memainkan “Pulau Biru” dan “Kampungan” di ultah mereka yang ke 20 kalau ga salah. Serta sudah beberapa kali secara live saya menyaksikan Bim Bim memainkan “Anijng”, dan “Gadis Sexy”. Beberapa lagu yang menurut saya masuk kategori lagu lagu dengan gebukan drum terberat sekaligus rock n roll abis. Masih bisa, meski sependengaran saya memang sudah berkurang/turun kualitasnya. Faktor usia kalau menurut saya. Selain mungkin lagu Slank sendiri juga memang menurun secara musikalitas.

Yah, itulah hidup….itulah kenyataannya. Apapun juga, sampai sekarang saya masih suka Slank, ga tau kapan akan berhenti suka. Soal perbedaan pandangan. maka seperti kata almarhum Wadehel di sini, mari kita sepakat untuk tidak sepakat. Sekali lagi terima kasih banyak buat anda. Peace!