Bulan menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan matanya yang mulai dialiri airmata. Ini bukan pertama kalinya ia menangis, rasanya ia ingin berlari sejauh mungkin dan menghindari manusia itu. Dadanya pun terasa begitu sesak, ingin meledak dan meneriakkan semua emosinya. Dua kalimat antara “Aku Cinta Kucing Kamu” dan “Aku Ingin Kamu Pergi Jauh Dan Dekati Aku” terus mengiang di telinganya, serasa berada di ujung lidahnya dan ingin ia muntahkan dengan sekuat kuatnya.

Namun ia sadar bahwasanya ia tidak mungkin melakukan semuanya itu. Yang ia bisa lakukan hanyalah diam, menunduk menahan tangisnya, dan berpura pura tegar. Meski untuk itu ia harus menerima cercaan dan tuduhan dari kakak kakak seperguruannya bahwasanya ia adalah seorang perempuan cengeng dan menyebalkan. Sedikit sedikit menangis dan ngambek. Itulah sifat yang menjadi dominan dan digeneralisir oleh para kakak kakak seperguruannya, tanpa memperdulikan kemungkinan lain yaitu masalah hatinya yang bergolak karena sebuah kata singkat, bersayap, penuh makna dan bersisi dua bernama “CINTA”.

Haris Fadhillah alias Surya, kakak laki laki seperguruannya. Pria inilah yang sangat dicintainya. Seorang pria yang kepengen dianggap tampan berwajah lumayan yang sudah memiliki kekasih bernama Rizma alias Bunga. Bagaimana hubungan percintaan antara Surya dan Bunga tidaklah penting, yang terpenting adalah perasaan Bulan saat itu yang benar benar tersiksa oleh keadaan hatinya yang mencintai kakak seperguruannya itu. Tak pernah ia bayangkan akan seperti ini jadinya.

Perguruan bernama Awan Angin yang diketuai oleh seorang guru yang Arif dan bijaksana. Memiliki banyak murid dan salah satunya adalah Bulan. Sejak awal kemunculannya sebagai adik terkecil ia sudah dimusuhi oleh kakak kakak seperguruannya yang wanita seperti Chika dan Siwi. Selama ini merekalah yang merupakan wanita wanita yang paling dikagumi oleh seluruh murid perguruan Awan Angin, sampai kemudian datangnya Bulan yang benar benar mengancam keberadaan mereka sebagai cewe narsis dan kecentilan *paling dikagumi. * = (Wahai, yang Mahamengetahui, Engkau tahu aku banyak berkilah dan berbohong saat menuliskannya, maka maafkanlah atas segala dustaku. Amiin)

Setiap hari di perguruan awan Angin adalah siksaan buat Bulan, karena ia dilatih oleh dua kakak jahat dan egoisnya itu. Semangkin tersiksa dengan matanya yang selalu menangkap keberadaan Surya, telinganya yang terus menangkap suara Surya yang baginya laksana alunan suara merdu merasuk raga. Dimana semuanya berubah menjadi kacau balau saat dua kakak kecentilannya membentaknya.

“Hei bocah gemblung! Latihan yang benar, jangan clingak clinguk ga karuan!”. Perih rasanya hati, cinta tak berbalas, tersiksa pula oleh kekejaman senior seniornya. Namun ia memaksa untuk terus bertahan. Ia di sini atas kehendak kakak kandungnya, yang merupakan sahabat lama dari ketua perguruan. Tak mungkin ia melarikan diri dari tempat yang serasa neraka ini. Tidak, ia berusaha sekuat tenaga menguatkan hatinya.

Dan kekuatan itu mulai bertambah saat sayup sayup ia mendengar suara kakak nya yang paling baik dan disayanginya sebagai kakak seperguruan yang baik hati dan selama ini selalu melindunginya dari gangguan jahat dua iblis betina kakak seperguruannya yang jahat itu. “Chika, Siwi! Kenapa sich kalian selalu membentaknya? ga bisa ya ngomong yang baik?” tanya Eka, pria paling tampan dan dikagumi oleh seluruh murid di perguruan Awan Angin. Dua wanita ini diam saja dan kemudian berlalu. Tak mereka perdulikan lagi latihan yang belum terselesaikan. Syukur syukur, akhirnya kakak kesayanganku ini datang juga, membatin Bulan. Dan kali ini, seperti biasanya ia kembali lolos dari jiratan siksa dua senior kejamnya.

“Eh, anak kecil! Mau kemana kamu? Latihan kamu kan belum selesai, ini juga bukan saatnya kamu beristirahat” ucap Eka datar.

“Sini biar aku yang lanjutkan melatih kamu”

Seusai latihan wajah Bulan terus saja murung, hatinya bimbang antara keinginan besar untuk mengakui dan curhat dengan kakak terbaiknya ini ataukah terus menyimpan bara api asmaranya dalam dadanya. Dan ia pun tak lagi mampu menahan semuanya. Perlahan ia berkata “Kak, bisa kita bicara serius sebentar? Saya perlu sekali untuk membicarakan sesuatu yang penting dan sangat butuh pertolongan kakak” ujarnya lirih. “Bisa” sahut Eka.

Kemudian Bulan pun menceritakan perasaan hatinya yang memendam cinta kasihnya kepada laki laki bajingan yang sudah memiliki kekasih. Namun ia masih menahan ucapannya agar nama itu tidak terucap. Sayangnya, ia masih terlalu hijau untuk menjadi seorang tukang kibul, apalagi kalau harus mengibuli kakaknya yang cerdas dan syarat pengalaman ini.

Otak berkapasitas diatas rata rata yang tersimpan dalam batok kepala Eka bekerja cepat. Tak mungkin lelaki yang dicintai Bulan berasal dari luar perguruan, karena sebagai freshmen bulan belum mengantongi izin keluar dari perguruan untuk mengadu ilmu dengan murid murid perguruan lain. Dapat dipastikan lelaki itu berasal dari Perguruan Awan Angin. Tanpa banyak basa basi Eka menebak siapa lelaki yang dicintai Bulan. Sambil tertunduk malu ia mengakui kebenaran dan ketepatan dari tebakan kakaknya yang satu ini.

“Hanya ada dua pilihan untuk keadaanmu sekarang” lanjut Eka.

“Pilihan pertama adalah jalan terus tanpa peduli statusnya, dan yang kedua adalah kamu memendam perasaan itu sampai mampus, atau paling cepat sampai kamu bisa mematikan perasaanmu itu hingga menemukan tambatan hati yang lain. Mana yang kamu pilih Komunisme Apa Kapitalisme?”

“Aku ingin membuat pilihanku sendiri, aku ingin dia menjadi milikku, dan melepaskan kekasihnya yang sekarang” sahut Bulan.

“Busyet, egois sekali! Dan tidak realistis”

“Perduli setan, perduli Iblis, perduli Jin, perduli malaikat dengan itu semua, pokoknya™ dia harus jadi milikku”

Eka hanya tersenyum kecil, kekerasan hati adik seperguruannya mungkin tidak akan terluluhkan lagi.

Hening sejenak. Bulan membuka pembicaraan lagi. “Kalau kakak, bagaimana dengan pandanganmu, sikap apa yang bakalan kakak ambil kalau kakak dalam posisiku?”

“Dari tadi sudah kukatakan bahwasanya ada dua pilihan itu. Lagian sebenarnya aku sedang malas semalas malasnya untuk membicarakan ‘CINTA’. Kenapa? Karena Cintaku sudah mati terkubur! Terkubur dalam selokan sempit bernama pernikahan yang mahal dan merepotkan!

Bulan melirik wajah sang kakak….. Dingin, hampir tidak terlihat emosinya kecuali sorot tajam kedua matanya yang menyiratkan sinar aneh. Nafsu membunuh! Itulah yang terpancar jelas dari sorot tajam kedua mata indah Eka. Bulan pun tak berani lagi menatap mata sang kakak, pikiranya melayang ke masa dimana ia harus menjalani seleksi masuk perguruan tinggi negeri perguruan Awan Angin. Eka adalah salah seorang yang menjadi pemilih, saat itu Eka juga menyiratkan sorot mata tajam dan memancarkan nafsu membunuh seperti itu.

Meski kemudian ia tau bahwasanya Eka adalah seorang kakak seperguruanya yang paling baik hati dan pengertian, terutama kepada dirinya. Serta selalu melindunginya dari gangguan dua kakak jahatnya tadi.

“Kalau begitu bantu aku melupakan dirinya” sambung Bulan.

“Bisa, mungkin kamu bisa mengambil beberapa cara seperti ini, misalnya…………………” (kepanjangan, malas nulisnya).

Lanjut, hari haripun dilalui Bulan dengan lebih aman, kakak kesayangannya selalu melindunginya dari gangguan dua kakak jahatnya, dan menguatkan hatinya untuk bertahan dan menghapus jejak Surya. Sampai terjadinya kejadian yang sangat tidak diharapkan oleh Bulan. Eka melaksanakan tugas rutinnya sebagai murid senior. Menyambangi perguruan lain. Bahkan kali ini bakalan jadi perjalanan terlama karena yang didatangi adalah perguruan yang berada di tiga negara berbeda. Bakalan makan waktu setahun buat Eka menyelesaikan tugasnya ini.

Gundah pula Bulan. Segenap pertanyaan bergelayut di otaknya. Sanggupkah ia bertahan? Kalau hanya gangguan dua kakak centil itu sekarang bukan masalah lagi buatnya, yang jadi masalah adalah Surya yang masih berada di dekatnya dan siap memancing lagi perasaannya yang sudah mulai terpendam.

*Heh, cape nulis. Mulai menyingkat cerita aja deh*

Akhirnya sedatangnya Eka dari perjalanannya ia menemukan bahwasanya Bulan sudah memadu kasih dengah Surya. Namun Bulan hanyalah menjadi yang kedua alias hanya selingkuhannya Surya. Rupanya selama ditinggalkan Eka, kedua insan ini makin jatuh cinta, ditambah lagi kebetulan ala sinetron Indonesia bahwasanya Bunga pergi bertugas seperti halnya Eka. Bunga bertugas mewakili perguruannya, meninggalkan Surya yang akhirnya mulai kesepian dan tak mampu mengurung ketertarikannya kepada Bulan.

Apalagi sebenarnya sejak pertama kenal Surya sudah merasa jatuh hati kepada Bulan. Hanya saja saat itu Surya masih hangat hangatnya dengan Bunga, ia juga masih sanggup menahan segala godaan cinta. Hingga akhrnya semua terjadi. Eka tersenyum datar. Biarlah semuanya, toh tidak ada untung dan ruginya buatku Eka membatin.

Dan hingga tulisan ini dipublikasikan cinta segi banyak tiga ini masih berlangsung.

Versi sensor dan versi penyimpangan. Versi asli terlalu dipenuhi kedustaan dan makian.

Mati dan Terkubur dalam selokan sempit inspired from here

Semua blogger bersaudara. Saya. Anto. Fadil. Amed. Difo. Chika. Rizma. Siwi dan lain lain adalah saudara.

Namun suatu hari Chika pergi ke Jogja. Bertemu Anto. PACARAN Menikah. Dan kini sang suami menuju ke JKT untuk menemui istrinya. Ini percintaan sesama saudara juga ga yaaaaa????????

*Berlindung di balik tameng baja sebelum ditimpuk Chika dan Anto pakai kue*

*Komentar saya tutup! Guna menghindari kata kata pujian maupun makian dari semua oknum bersangkutan*