Banjarmasin dan Warna Warninya

Pagi itu aku dibangunkan dengan paksa. Karena hari itu adalah hari dimana aku harus melanjutkan perjuangan hidupku yaitu mencari kerja. Cuaca pada pagi itu amatlah mendukung untuk tidur. Ya, hujan tengah mengguyur kota Banjarbaru dengan lebatnya. Hingga akhirnya pada pukul 9 waktu setempat hujan yang sanggup mengajak manusia untuk melanjutkan tidur menghilang disapu panasnya mentari.

Cuaca berbalik menjadi cerah terang benderang. Hingga aku yang sebenarnya malas bangun dari tidurku akhirnya mencuci tubuhku untuk kemudian membungkusnya dengan pakaian yang sangat tidak menggambarkan siapa diriku. Baju hem lengan panjang. Puah! Hanya demi mengantar beberapa surat surat tetek bengek untuk melamar pekerjaan saja harus berdandan bak sales pedagang parfum yang sering berkeliling dari rumah ke rumah menawarkan barangnya.

Padahal surat surat tersebut-dimana salah satunya adalah fotokopi dari surat tanda lolos dari jiratan neraka dunia bernama kuliah yaitu ijasah-belum tentu dibaca oleh instansi ataupun kantor yang bakalan ku tuju. Bisa jadi surat surat tadi hanya jadi bahan untuk memicu api untuk membakar sampah, atau sekedar menjadi tumpukan buat diumpankan kepada rayap. Ya biarlah, anggap saja sedekah kertas.

Kemudian aku pun berangkat, mengendarai motor yang sampai saat ini masih menjadi barang sengketa bagi aku dan orang tua ku karena memang hanya ada satu motor, sementara yang punya keperluan lebih dari satu sehingga sering terjadi bentrok kepentingan.

Banjarmasin, kota sumpek pengak, rawan banjir dan penuh gang sempit berpreman plus pemabuk yang menjadi tujuanku. Kota yang menjadi tempatku bertahta selama bertahun tahun, kota yang dipilih Tuhan sebagai kota kelahiran seorang pangeran tampan macam aku. Dan hari ini aku kembali ke kota itu untuk mengantar surat lamaran ke sebuah kantor.

Aku mengantarnya kesana atas bujukan salah satu temanku yang mengatakan bahwasanya di kantor yang bakalan aku tuju itu ada temannya temanku yang memberi tahu tadi. Dimana mereka berkata sok yakin bahwasanya lamaran kali ini kayanya ga bakalan gagal. Aku sich berprasangka baik saja, semua lamaran yang kubuang sia sia ku masukkan selalu kuanggap akan berhasil meski kenyataannya semuanya berakhir paling jauh di tahap wawancara dan tunggu panggilan.

Tak kusangka bahwa yang kutemui di kantor itu ternyata adalah salah satu wanita yang pernah minjam kamar kost ku untuk berbuat yang enak enak dan berbuat yang iya iya dengan pasangan laki lakinya. Dia masih kenal aku dan kemudian menyambutku dengan senyuman manisnya. Segera setelah memberikan surat lamaran tadi aku berlalu. Lagian, ngapain juga ngobrol? Nanti malahan mengganggu pekerjaan dia.

Begitu keluar dari ruangan kantor, ku sempatkan mengechek hape. Ternyata di hape ku terdapat missed call dan sms yang belum terbaca….dari siapa? Jelas dari pacar tercinta dong. Kuatir banget rupanya dia. Makasih atas perhatiannya Sayang. Aku ga bakalan berpaling kelain hati kok. Tenang aja. Aku juga sudah sampai dengan selamat, mensedekahkan beberapa lembar lagi kertas untuk kantor.

Lalu aku pun memutuskan untuk bersinggah sejenak ke kampus paling butut dan ketinggalan zaman bernama FKIP Unlam. Kampus yang dulu pernah menyiksaku dengan peraturan peraturan yang sok lebih hebat dari tuhan, macam melarang mahasiswa gondrong sampai melarang mahasiswa pakai baju kaos oblong dan sendal jepit. Padahal polisi polisi yang hobi pungli rambutnya ga pada gondrong. Trus pejabat pejabat berperut buncit di dedung DPR sana juga berpenampilan rapi, serapi korupsi dan kongkalikong yang mereka lakukan selama ini.

Sementara mantan mahasiswa gondrong berkaos oblong dan bersendal jepit macam aku sedikit pun ga pernah ngembat duit kampus, apalagi ngerasain fasilitas kampus yang memang berlimpah itu (berlimpah ruah kekurangannya). Paling banter juga aku ngembat beberapa lembar kertas ujian. Toh itupun aku gunakan buat menjawab soal soal keparat ujian tengah semester maupun akhir semester yang selama ini bikin kepala mumet dan serasa mau dibawa nonton bokep. Biarlah, mungkin para pembuat peraturan jahanam itu memang benar benar mau menggantikan kemahakuasaan tuhan. Silakan saja lah, toh aku juga sudah tidak bisa kalian ikat dan siksa dengan peraturan dungu itu.

Di kampus, tak terbersit sedikitpun rasa rinduku pada kampus tengik ini. Hanya sekretariat IMPAS-B dan pos parkirlah yang masih membuatku tertarik untuk ke kampus primitif ini. Kebetulan yang sangat kebetulan, pak dosen kesukaanku nongol. Beliau ku suka karena masih muda dan ga pernah mengatur penampilan mahasiswanya, termasuk seleb kampus urakan macam aku.

Bicara sebentar tentang kemungkinan beliau membuat alamat di wordpress. Hingga akhirnya kekasih tersayang yang masih kuatir menelefon menanyakan sampai dimana diriku dan sedang berbuat apakah aku. Saya dan pak dosen saya pun berpisah, beliau pulang, aku menuju tempatku selama ini menjadi benalu: Pos Parkir.

Sepi….. sepi manusia, dan jelas duit yang biasanya bergelimpangan disitu juga sepi. Aku tak tertarik, toh tak banyak duit yang bisa kuembat dari sana. Maka aku lebih memilih untuk menuju ke sekretariat IMPAS-B, sekre yang amat sangat dianaktirikan oleh kampus karena IMPAS-B beranggotakan seorang tampan dan cerdas macam aku.

Mungkin semua petinggi kampus tidak suka melihat sepak terjangku di sana. Kalau saja aku memilih organisasi penyedot duit mahasiswa bernama BEM. Mungkin sekre IMPAS-B tidak akan dicemburui oleh kampus. Tapi biarlah, apapun konsekuensinya, itulah pilihan hidupku, itulah pilihan hidup kami. Maka yang suka dan sejalan mari bergabung, yang tak suka silakan minggat.

Bang Asep. Senior yang paling dekat dengan aku yang nongkrong di sekre. Plus tulisan pengumuman:

Tanggal 23 Juli 2007 kita berangkat ke Kahung (Kahung lagi? Aku barusan dari sana!!!!!): Diharapkan agar seluruh anggota IMPAS-B untuk mengikuti pelatihan jungle survival. Khusus untuk anggota muda kata kata diharapkan tadi dimodifikasi menjadi dipaksakan. Sekalian menjadi ajang latihan pemantapan buat anggota muda.

Maka….. kalau minggu depan aku menghilang, artinya aku ke kahung lagi untuk kesekian kalinya. Tapi aku belum pasti berangkat kok. Lagian ntar pacar tersayang kuatir kalau kutinggal lagi.

Apakah kisah ini berakhir sampai disini? Tidak. Masih ada kelanjutannya. Aku pun berbincang cukup lama dengan Bang Asep, hingga sampailah aku untuk beres beres dan bersiap untuk pulang. Namun sudah tertanam dalam di dalam hati ini bahwasanya aku akan mencoba warnet di Banjrmasin.

Maka aku pun menyempatkan untuk bersinggah di salah satu warnet di Banjarmasin. “Baru sekali kesini?” tanya penjaganya yang kebetulan wanita mungil berbodi lumayan (lumayan apa? Aku juga ga bisa mendeskripsikan lebih jauh). “Iya” sahutku. Trus dengan berbagai petunjuk dan bimbingan dari si penjaga, mulai dari mencari komputer yang masih nganggur, menyalakan komputer, log in, trus dia tak lupa membantuku untuk membuka Mozilla Firefox. “Makasih…. ya saya memang baru sekali ke sini kok, tapi saya bukan pertama kali pegang komputer atau baru pertama kali mau main internet sehingga anda harus bersusyah susyah membukakan aplikasi untuk browsingnya, kenafa ga sekalian aja bukakan alamatku di wordpress?” tapi itu hanya kata hati, yang terucap dari mulut adalah “Terima kasih….”

Dan….. ternyata warnet ini punya kecepatan yang belum pernah kutemukan sebelumnya. Ya Tuhan!, cepat sekali ternyata, bahkan lebih cepat dari speedy unlimited di tempat temanku. Andai saja dari dulu aku menemukan kecepatan yang seperti ini, aku ga perlu karatan hanya untuk menunggu masa masa meng-upload satu gambar saja.

Sayang sejuta sayang, kecepatannya berbanding lurus dengan sedotannya kepada lembaran lembaran kertas surgawi memabukkan yang menghuni dompet bermerek Eiger yang bersemayam di kantongku ini. Sudahlah, yang penting tau bagaimana rasanya salah satu warnet di Banjarmasin, daripada tidak tau sama sekali.

Sama halnya dengan mabuk, hubungan sex tanpa ikatan pernikahan, ganja, serta judi. Semuanya selalu terlihat asyik dan nikmat, maka cobalah dulu…. Kalau ketagihan tanggung sendiri, tapi kalau ga ketagihan maka kita menambah pengalaman serta menjadi bahan nasihat untuk anak cucu kelak.

Sehingga saat anak cucu kita kelak nanya “Kenafa judi itu harom?” maka jawaban kita bukan sekedar “karena eh karena merugikan orang” atau “karena sudah tercantum dalam …../karena sudah dari sononya harom/karena sudah diriwayatkan”.

Namun jawaban kita adalah “Begini ya nak/cu…. Judi itu ga baik buat kesehatan, karena bikin ambien gara gara kelamaan duduk, trus jadi sering begadang hingga akhirnya bikin kita pucat dan ga semangat, lantas bikin lupa waktu, dan bisa bikin berantem dengan teman akrab” baru kemudian kita tambahkan penguatannya seperti yang sudah aku sebutkan sebelumnya.

Tetapi masih ada kemungkinan kemungkinan akan berlanjut dengan “bagaimana dengan judi bola dan judi pacuan kuda, judi buntut dan judi kartu tapi mainnya sebentar saja alias ga bikin begadang sehingga tidak merusak kesehatan?” maka jawablah “kakek sudah pernah main judi, ternyata ga pernah menang, kalaupun menang toh bakalan habis lagi uangnya saat dijadikan taruhan, mana banyakan kalahnya daripada menangnya. Dan yang paling utama adalah……judi dan mengundi nasib itu adalah perbuatan setan, setan itu serem dan jelek, kalian ga mau jadi meyeramkan dan berpenampilan jelak bukan? Maka jauhilah judi. Tapi kalau memang masih ngeres dan ngotot, ya silakan lah. Kakek sudah peringatkan. Kalau ga mau percaya ya terserah” *Bego! OOT BANGET!*

Maka aku pun pulang ke Banjarbaru, menyabarkan hati menghadapi pengendara pengendara dan supir supir yang berkeliaran di jalan raya dengan ganas dan seenak jeroannya. Hingga akhirnya sampai juga aku di Banjarbaru, dengan kondisi cuaca yang lumayan dingin karena baru saja diguyur hujan. Maka ku putuskan untuk bersinggah di warung untuk makan sedikit gorengan dan menyeruput teh hangat agar lebih enak dan nikmat mendampingi sedotan sedotan dan kepulan asap rokok.

Hingga akhirnya aku pulang, mandi, dan sms pacar tercinta bahwasanya Kakanda yang kau sayang dan selalu kau rindukan sudah sampai di rumah dengan selamat. Masih utuh dan masih berstatus pacar kamu, bukan pacar wanita lain. Makasih, nanti kapan kapan saya dilamar juga kamu buat jadi istriku, nunggu duit cukup dan nunggu hasil dari sedekah kertas yang selama ini dilakukan. Doakan saja……………

32 Responses to “Banjarmasin dan Warna Warninya”


  1. 1 Neo Forty-Nine 20 July 2007 at 23:11

    NO PERTAMAX

  2. 2 chiw imudz 20 July 2007 at 23:11

    Keduaxxx!!!

  3. 3 Neo Forty-Nine 20 July 2007 at 23:16

    komen yang mutu dikit ga bisa ya Say?

  4. 4 chiw imudz 20 July 2007 at 23:17

    siw slalu doain Mas Farid…

  5. 5 deking 20 July 2007 at 23:18

    Numpang tanda tangan dulu
    Sambil baca…habis lumayan panjang sich

  6. 6 danalingga 20 July 2007 at 23:18

    Eh ini cerpen ya?😆

  7. 7 cK 20 July 2007 at 23:24

    nyang penting komen!

  8. 8 antobilang 20 July 2007 at 23:26

    nih aku kasih sedekah komen…lumayan kalo dikumpulin bisa buat ngelamar siwi:mrgreen:

  9. 9 Neo Forty-Nine 20 July 2007 at 23:29

    @Danalingga : BUkan. reality show

    @Chika : dasar Miss Komen

    @Anto : ni juga satu, dasar misua Chika Mr Komen. eh tapi makasih Nto, sapa tau aja jadi modal beneran.

    *glepak*

  10. 10 chiw imudz 20 July 2007 at 23:30

    Aku ga bakalan berpaling kelain hati kok. Tenang aja.

    beneran Loh ya…

  11. 11 chiw imudz 20 July 2007 at 23:37

    Eh, Mas…

    kalo aku yang berpaling ke Lain hati boleh gak?

  12. 12 deking 20 July 2007 at 23:41

    macam melarang mahasiswa gondrong sampai melarang mahasiswa pakai baju kaos oblong dan sendal jepit.

    Namanya juga calon guru hehehe
    *sambil mengingat jaman kuliah dulu*
    BTW sukses selalu Rid…
    Never give up…
    Sukses ya bro…

  13. 13 ekowanz 20 July 2007 at 23:41

    kd nyoba melintas provinsi kah?kaya2nya kan di provinsi yang rada utara dikit itu menawaarkan banyak pekerjaan😀

  14. 14 danalingga 20 July 2007 at 23:49

    Wah reality show tah, siap siap liat berita inpotementnya.😆

  15. 15 chiw imudz 21 July 2007 at 00:17

    Maaaassss….
    kapan ke Jawa dooonk…

  16. 16 Luna Moonfang 21 July 2007 at 11:09

    makanya belajar suka make pakaian yg necis …😆

    *apa coba hubungannya* ..😆

  17. 17 venus 21 July 2007 at 12:44

    lhoh. farid sama chiw??? lol

  18. 18 Mihael "D.B." Ellinsworth 21 July 2007 at 14:51

    Jadi apa hubungannya antara warna – warni dengan Banjarmasin…?

    Sepertinya yang diperlihatkan abu – abunya saja.😀

  19. 19 chiw imudz 21 July 2007 at 14:56

    #simbok

    Lhaiya Mbok…
    awas lho…Masku ojo di Godain terus…
    🙂

  20. 20 gantungtas 21 July 2007 at 18:38

    Wah… panjang amir.. tapi auk tertarik soal kecepatan warnet dibanjarmasin itu, dimana ya? trus mengalahkan spedy dt4 temanku itu dimana, dt4 auk ya?

    eh jadi mau kekahung lagi?????? kalupina jadi orang utan, masuk hutan terus…

  21. 21 Neo Forty-Nine 21 July 2007 at 23:11

    @Siwi : Silakan, asal saya juga boleh berpaling….

    @Deking : Thanks a lot Brother….

    @Danalingga : Silakan ditunggu……

    @Siwi : Ntar ya sayang…..

    @Luna : Ntarsaya belajarTeteh…

    @Mihael “D.B.” Ellinsworth : *ngakak*. mustinya ada yang tersinggung tuch. *lanjutin ngakak*

    @Gantungtas : Ada deh pokonya. kena auk padahi dan kesahkanja…. ke kahung balum pasti umpat jua auk….

  22. 22 Desti 22 July 2007 at 13:22

    Yak! Smoga sukses aja deh🙂
    Smangat!
    Smangat!
    *haiyah!*

    OOT : Jadi beneran nih kalian berdua? *apa coba?*:mrgreen:
    Wah..😀

  23. 23 Neo Forty-Nine 22 July 2007 at 22:37

    @Ekowanz : Utara daerah mana ya Ko?

    @Desti : makasih makasih… ya emang beneran ko, kenafa??

  24. 24 Takodok! 23 July 2007 at 17:53

    Gak fafa. Kirain hoax doang:mrgreen:
    Ok deh, sukses ya!

  25. 25 Neo Forty-Nine 23 July 2007 at 22:34

    Makasih….

  26. 26 tam malaka enjoy 24 July 2007 at 12:32

    nyawa tulak kada? kenapa nih pina stress…. kusambatnah!

  27. 27 Neo Forty-Nine 24 July 2007 at 22:55

    Sambat jua nah!😀

  28. 28 rahmat 30 August 2007 at 12:33

    Pada waktu gua masih sekolah dulu, guru Ilmu Bumu kami pernah menerangkan tentang Ibukota Kalimantan Selatan iaitu Banjarmasin dan dekat kota Banjarmasin ada daerah yang menghasilkan intan yaitu Martapura. Bahkan disebutkan bahwa Martapura adalah serambi Mekkah yang kedua setalah NAD. Namun cerita dosen sosiologi kami cerita lain. Karena kayanya orang kalsel, barang-barang elektronik yang baru mereka kenalpun, langsung dibeli. (banyak duit) . Setelah dobeli ternyata kagak bisa dipakai. Maklum listrik pada tahun 80 an belum merata. Al hasil kulkas tersebut bukannya dipakai untuk menyimpan bahan makanan, tapi malah dipakai untuk menyimpan pakaian. lucu ya.
    Akhirnya dalam benakku, timbul kesan bahwa Banjarmasin itu masih dipenuhi oleh hutan dan semak serta masyarakatnya lugu dan agamis. Namun dalam kenyatanya, jauh sekali bayangan yang telah ada dibenak. Lambat but sure Banjarmain mulai tumbuh dan berkembang, bahkan perkembangan perilaku masyarakat pun jauh lebih cepat berkembang, sehingga bayangan julukan serambi Mekkah untuk Martapura khususnya dan Kalimantan Selatan umumnya, menjadi sirna. Kehidupan metropolis telah ikut memoles “kecantikannya “, dugem, narkoba, bursa daging apalagi sex before merried pada anak-anak smp dan sma apalagi mahasismanya. Rupanya kemajuan pembangunan dan teknologi tidak sebanding dengan perkembangan pendidikan mental masyrakatnya. Kok jadi mengarah pada patologi sosial nih.. sory ya

  29. 29 Rifai 19 November 2007 at 13:44

    banjar masin perlu penataan kembali. bukan hanya kotanya yang di rehap, tetapi moral anak mudanya juga doooonk……..

  30. 30 anas 17 July 2008 at 13:09

    orang maw bilang apa ttg banjarmasin, toh aq tetap cinta ama kota ini.kita gak bisa memimpikan sebuah kota yg benar2 sempurna yg sesuai nilai ideal yg kita buat.
    semua kota ada kekuranganya.dibalik megahnya jakarta, banjir masih mengancam, dibalik indahnya bali tersimpan kemaksiatan yg tdk kasat mata diliat melalui prilaku bule-bule/turis, dibalik ramahnya warga n nyamannya kultur kota jogja, tetap bisnis pelacuran mahasiswi msh mengancam atau di balik megah dan majunya balikpapan, toh kotanya sepertinya tdk mempunyai identitas karena warganya menggunakan pergaulan dgn bahasa indonesia.
    banjarmasin membanggakan krn byk kuliner enaknya, pasar terapung dll.

  31. 31 norgenawati 4 October 2009 at 17:19

    namanya aja calon guru ya kada boleh gondrong, jadi calon guru yang baik, hingga jadi guru kelak juga baik. jangan kaya aku setelah jadi guru ku malah tidak benar jadi guru. perbuatanku mencoreng GURU aku suka selingkuh dengan kawanku


  1. 1 Ketika Islam Mengkopi peis Arab « Generasi Biru Trackback on 8 August 2007 at 17:56

Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Twitter

  • Laporan kepada @pln_123 , hari ini sdh terjadi pemutusan aliran listrik untuk kesekian kalinya di Banjarbaru dengan durasi yg cukup panjang 3 days ago

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: