Setelah kemaren nulis tentang persamaan, nampaknya saya ga bisa melepaskan diri dari perbedaan. Meski Islam itu sama dengan komunis, namun ga bisa dipungkiri bahwasanya banyak terjadi perbedaan pula.

Menurut pendapat saya pribadi.; Sang Pencipta memang menciptakan perbedaan diantara persamaan. Manusia contohnya, manusia semuanya sama, sama sama makhluk bernyawa, sama sama hasil semprotan sperma, tapi kok wajahnya ga sama? Tinggi dan berat badannya tidak sama, ada apa ini? Ya sebenarnya sich simple saja. Kalau semuanya sama persis, bagaimana anda memilih jodoh? Semua wanita dan pria sama bentuk rupa dan bentuk badannya, apakah masih akan ada cinta antara manusia? Ngapain juga mencinta seorang wanita, kalau dia tinggalin kita untuk nikah dengan orang lain mati nanti juga kita bisa dengan gampangnya mencari penggantinya yang sama persis. Kali inilah nampaknya perbedaan menjadi Rahmad Hidayat.

Kalau semua orang sama kualitas keimanannnya, pengetahuannya. Siapa yang harus mengajari pelajaran tauhid dan sains? Namun bukan berarti si pengajar maupun si pembelajar harus berhenti belajar bukan? Baik pengajar maupun yang diajari harus sama sama meningkatkan diri. Disitulah terletak kesamaannya kembali.

Sekarang bahasanya, Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Kenafa Islam turun di Arab ataupun keistimewaan Qur’an silakan cari tau sendiri. Anda menganggap tidak logis dan tidak ilmiah bahwasanya bahasa Arab bukanlah bahasa yang Linguistically best? Silakan debat Linguists yang bilang kalau bahasa Arab itu yang terbaik secara linguistik, bukan saya, karena saya tidak tau apa apa melainkan hanya berusaha mengingat sedikit dari sedikit yang pernah saya baca.

Kenafa bahasa Arab yang dipilih oleh DIA? Padahal karena saking rumitnya dan kompleks serta komplitnya maka bahasa tadi menjadi memiliki kecenderungan untuk disalah artikan, disalah gunakan dan menyalah persepsikan si pembelajar bahasanya?. Katanya agama itu jalan yang mudah dan memberikan kemudahan? Kok malah kesannya susah?

Setuju dengan perntanyaan tadi, tapi mari saya berikan pandangan saya. Ada sebuah kaset yang pitanya kusut, orang bilang itu ga mungkin diperbaiki lagi alias apkir. Kemudian saya mencoba untuk mencari tau, dimana salahnya? Apa yang rusak dan apa yang menyebabkan pita itu tak lagi bisa diputar? Maka sayapun berusaha mencari tau. Apakah semudah itu saja? Belum, anda perlu kesabaran tingkat tinggi hanya untuk membongkar baut kecil yang kadang kadang sudah aus demi untuk memulai membongkar kaset supaya bisa periksa pita. Lanjutkan dengan mengencangkan kembali pita kaset untuk kemudian memasangnya seperti sediakala.

Selesai? Masih harus dicoba dan dibersihkan pitanya tadi. Gampang? Tidak! Namun semakin susyah memperbaikinya maka saya makin betah membedahnya. Karena apa? Karena bagi saya pribadi. CATAT: BAGI SAYA PRIBADI! Sebelum benar benar terbukti tidak lagi bisa dinormalkan, saya tidak akan menyerah untuk mengusahakan kaset (meskipun butut) untuk dinormalkan kembali, minimal bisa diputar kembali dengan lancar.

Begitu juga untuk bahasa, semakin kompleks, semakin sulit, semakin susyah, maka kalau memang sudah minat, sekali lagi minat! Maka akan semakin tertantang tentunya, bukan untuk membuktikan kedahsyatannya, namun untuk mengetahui seberapa dangkalnya pengetahuan kita. Seperti kata salah seorang ulama “Semakin aku tau, semakin aku sadar bahwasanya aku bodoh” (kalau ga salah ingat dan salah tangkap maknanya.)

Begitu juga buat para pendaki dan pemanjat. Makin tinggi dan sukar, makin memberikan kesenangan, karena tantangan dalah kenikmatan. Nampaknya DIA yang Mahakuasa memang telah menanamkan sifat tersebut dalam dalam sedalam dalamnya pada manusia. DIA akan selalu menantang manusia untuk berkata “Impossible is nothing!”.

Malas? Tentu, saya juga sangat malas kalau ga minat. Semudah mudahnya kegiatan kalau saya ga minat saya ga bakalan lakukan/pelajari. Sesusah susahnya kalau minat? Ayo! Oke, saya rasa anda punya kegiatan masing masing yang bakalan bikin anda betah melakukan dan mempelajarinya, apapun itu.

Kembali kepada kaset tadi. Ada yang beranggapan bahwasanya karena kasetnya adalah kaset yang bagus mastering dan mixingnya, plus dihandle oleh mixer handal di studio mahal dan canggih pula, direkam diatas pita terbaik. Maka sebagian orang menganggap bahwasanya kaset itu tidak perlu dipelihara. Misalnya? Diputar berulang ulang side A saja, untuk kemudian direwind tanpa pernah mendengarkan secuilpun bunyi bunyian yang terekam di side B. Parahnya lagi, ada yang mutar kaset cuma lagu pertama lalu di rewind lagi. Sebagaimanapun juga kaset akan berkurang kualitasnya, buat yang telinganya ga sensitif terhadap degradasi suara kaset mungkin bakalan ga perduli bagaimana bunyi yang dihasilkan. Tapi buat yang peduli? Kaset yang tidak pernah diputar bolak balik hanya akan menjadi berat, untuk kemudian mudah putus pitanya sekaligus yang paling objektif adalah kusut. Apalagi kaset butut yang tidak terawat, diputar di tape butut. Bisa anda bayangkan hasilnya?

“Sekarang sudah ada Compact Disc, bahkan MP3. ngapain masih make kaset”.

Betul, namun bukankah sesuatu yang sukar dan tidak gampang akhirnya memicu manusia untuk memudahkan dirinya? Merasa kerepotan untuk memutar lagu harus di rewind dan forward dulu, manusia akhirnya mencari cara untuk memudahkan proses untuk menikmati lagu lagu kesayangannya, bukan meninggalkannya karna beranggapan kaset sudah tidak lazim lagi, melainkan mencari tau dari berbagai sudut pandang.

Gimana caranya agar mendengarkan musik di kaset ini lebih praktis? Gimana caranya agar suara yang dihasilkan lebih jernih dan bagus dari yang dihasilkan oleh kaset ini? Gimana caranya membackup apa apa yang sudah terekam di kaset ini? Gimana juga caranya agar kaset tua ini agar bisa tetap awet untuk diperlihatkan kepada anak cucu kelak?. Apakah untuk menjawab semua pertanyaan itu kita hanya butuh seorang yang tau kaset? Tentu tidak…. masih diperlukan ahli elektronik, ahli mastering dan mixing serta lain sebagainya dan lain sebagainya.

::::::::

Kenapa DIA ga menyeragamkan saja bentuk manusia? Poin ini sudah terjawab. Sekarang kenapa DIA membiarkan saja ciptaanNYA menjadi terpecah belah dan berbeda beda? Sholat dan bacaan ngaji pun jadi beda? Rasanya analogi diatas bisa menjawab, bagi yang memang berminat untuk terus berusaha, kenafa hasrus puas dengan hafal Qur’an? Kenafa harus puas dengan sudah pernah hatam Qur’an? Bukankah katanya Qur’an itu untuk dipelajari? Janganlah membelenggu diri dengan Khamar dan judi adalah perbuatan syaiton, lantas dzikir tanpa henti sambil menanamkan di otak judi haram judi haram judi haram judi haram judi haram. Jangan begitu, tinjau dong kenafa haram? Analisa kemungkinan buruk dan dampak buruknya. Contohnya ada di sini. Yang perlu anda ingat, ga perlu pakai bahasa arab untuk meninjau kenafa judi haram, tapi pakai matematika. Untuk tau apa itu manner of articulation bukan pakai bahasa arab tapi pakai biologi. Do you get the point?

Mungkin contohnya begini. Untuk bepergian dari Banjarmasin ke Banjarbaru, kita memerlukan alat transportasi supaya cepat sampai. Alat transportasi yang kita gunakan adalah Mobil. Apa itu mobil? Mobil adalah bla bla bla.. terdiri dari ban, bahan bakar, jok dan sebagainya lain dan sebagainya lain. Semua komponen yang tidak sama itu membentuk satu kesamaan baru yang bernama alat transportasi

:::::::

Kok sholat harus seragam bacannya dan gerakannya? Menurut saya yang sama aja jadi beda, gimana kalau dibiarkan beda? Yang jelas jelas sama sama pakai ruku saja ada yang ngangkat tangan kedua tangan sampai sejajar telinga sebelum ruku maupun ada yang langsung lepaskan dari sedekap untuk kemudian menyentuh lutut. Itu baru dari segi gerakan, gimana bacaan? Yang jelas jelas disuruh pakai fathihah saja bacaaanya terpengaruh oleh bahasa ibu, gimana mau dibiarkan bersesuaian dengan bahasa masing masing.

Misalnya begini. DIA memperbolehkan umatNYA untuk baca bacaan sholat sesuai kemampuan berbahasa masing masing, trus orang Arab ngajarin orang yang punya sounds /r/ yang lemah untuk bilang “akbar”, dia bunyikan “akbar” dengan logat, accent, dan pronounciationnya dia sendiri yang akhirnya bunyinya “akba”, trus pengucap “akba” ini ngajarin orang yang bahasanya ga punya voiced sound, /b/ nya diganti /p/. Maka bukan lagi Distortion and Conformity lagi namannya, tapi jadi asimilasi dan akulturasi hingga akhirnya pelan pelan “root”nya yang sudah melenceng jauh menjadi makin hilang untuk kemudian digantikan oleh kehendak dan kemampuan si pengguna dan si penutur.

Misalnya begini, sholat dzuhur dan ashar itukan fathihahnya harus dibaca dengan suara yang tidak nyaring, kenafa? DIA pasti sudah tau bahwasanya ciptaanNYA itu akan sedang berada pada jam sibuk dan serta istirahat saat waktu zuhur dan ashar. Maka baca dengan suara keras Insya Allah akan menggangu para manusia yang sedang kerja dan mau tidur siang.

Sementara Islam itu sampainya melalui pantai. Kata salah satu dosen saya orang orang yang tinggal dipantai itu cenderung memliki suara yang nyaring, karena faktor alam. Setiap berbicara mereka akan berbicara dengan suara nyaring. Hubungannya? Karena rata rata yang menerima Islam itu adalah daerah pantai sebagai yang pertama, bisa dibilang yang bakalan mengajarkan Islam itu adalah orang orang dari daerah pantai. Maka kalau ga dikasih panduan, kira kira sholat itu tiap saat akan selalu bersuara nyaring.

Gimana dengan yang kebablasan mengarabkan Islam? Disinilah saatnya otak berfikir. Ngapain sich orang Arab wanita wanitanya pakai jubah sehingga hanya meyisakan 2 lubang buat mata? Saya rasa anda bisa memikirkannya. Apakah memikirkannya harus pakai belajar bahasa Arab dulu? TIDAK! Tapi untuk tau alasannya kenapa wanita wanita Arab pakai jubah adalah dengan sudut pandang sosiologis dan historis. Maka, masihkah anda menganggap orang yang berfikir adalah orang yang menuhankan akal dan mereka adalah sesat?

QS 43. Az Zukhr 56. dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.

56. And We made them a thing past, and an example for those after (them).

Mungkin juga maksudnya adalah JAS MERAH, plus ambillah yang baik (dari mereka yang terdahulu) dan tinggalkan yang buruk. Caranya? Berfikir dan belajar!

::::::

Banyak yang ga ngerti tulisan jelek saya yang memang ngalor ngidul, maka untuk kali ini saya coba berikan kesimpulan:

  1. Ada saatnya Islam itu jadi komunis, namun dalam kekomunisannya itu Islam juga dinamis.
  2. Sukar atau mudah itu kita yang bikin, kalau kita ga minat, maka yang mudahpun bakalan jadi sukar.
  3. Sebarang barangnya bagus kalau tidak dirusakkan maka akan menjadi jaga.
  4. Belajar ga mesti make bahasa Arab dan ga selalu harus mempelajari bahasa arab karena semua ilmu saling berkaitan dan mendukung.
  5. Bahasa yang dipelajari lalu diketahui punya complete sounds itu kebetulan saja namanya “ARABIC”. Sendainya saja sejak dulu namanya adalah “Germans, English, Japanese ataupun Bahasa Indonesia”…… masihkah protes? Tetap protes? Atau diam karena bahasa kesayangan dan kesukaan yang jadi bahasa dengan complete sounds system?
  6. Kenafa mesti menentang prinsip persamaan? Salah satu bukti dari bobroknya sistem anti persamaan adalah perbedaan ciptaan manusia bernama kapitalis, yang tak ada bedanya dengan hukum rimba dimana si kuat yang menang, bahkan si kecil tidak akan dibiarkan berkembang. Jangankan mau berkembang, mau mencoba untuk mengembangkan saja tidak bisa.

Apa susyahnya sich menyamakan fasilitas, kualitas pendidikan dan ketersediaan teknologi di seluruh Pulau Pulau yang tersebar di Indonesia. Katanya punya Pancasila sebagai dasar negara yang salah satu bunyi Silanya adalah “Keadilan Sosial bla bla bla…”, nyatanya? PANCASILA sudah tidak relevan lagi! Harus digugat!

Ada yang sok nasionalis dengan bilang kalau “Kemerdekaan kita direbut dengan darah, dan nyawa para pejuang dulu”. Silakan, silakan berkoar koar seperti itu, apalagi menjelang tujuhbelasan seperti sekarang. Namun saya akan mengajarkan keturunan saya kelak bukan hanya teriakan teriakan macam itu. “Kemerdekaan Indonesia juga dihasilkan oleh proses lobi, kongkalikong, doktrin, dan konspirasi”.

Biar seluruh rakyat berjuang juga, kita ga bakalan merdeka kalau ga ada cara diplomatik. Biar benteng Belanda dihancurkan berjuta juta kali juga, kalau ga ada diplomasi ga akan ada yang namanya Indonesia.

Belanda memang tidak pernah merelakan Indonesia lepas, dan mereka bukannya melepaskan Indonesia, melainkan memindahtangankan penjajahan kepada Amerika Serikat dan negara negara lain. Sedikit contohnya adalah di sini.

Menyoal Lagu Indonesia Raya? Jujur saya bilang, saya ga perduli! Mau jadi berubah 3 bar kek, mau berubah jadi bartender kek. Saya ga peduli. Fungsi lagu Indonesia Raya itukan cuma buat pelengkap saat upacara bendera sok militer tiap Senin. Kadang kadang untuk simbol kemenangan atlet (kadang kadang aja, soalnya atlet Indonesia jarang menang). Lagian saya ga yakin juga kalau lagu Indonesia raya bukan “bajakan atau plagiarisme” dari lagu lagu yang ada di zamannya.

Ga nasionaliskah saya? Silakan anda sekalian beranggapan seperti itu. Saya hanya muak dengan Indonesia Raya yang dinyanyikan berulang ulang oleh saya selama belasan tahun. Lagian nyanyi Indonesia Raya kenceng kenceng juga ga bikin Timnas sepakbola Indonesia menang waktu lawan Korsel dan Arab Saudi dulu. Jauh lagi bikin Kalimantan Selatan punya kampus dengan konek internet gratis dan ga lemot (at least sampai saat ini).

Lagu hanyalah lagu, yang penting adalah usahanya juga. Ga ada gunanya anak anak SD di Irian Jaya dan darah daerah terpencil nyanyi Indonesia Raya kenceng kenceng gaya rocker alternatif sampai mau bikin putus pita suara. Nasionalisme mereka hanya dibayar dengan kemiskinan dan keterbelakangan. Yang ironisnya dihasilkan oleh orang orang yang sama sama hafal Indonesia Raya.

Zidane, Ronaldinho atau Fabio Cannavaro ga pernah teriak teriak tuh nyanyiin lagu kebangsaan mereka masing masing, ya ada juga sich pemain sepakbola yang kenceng kenceng nyanyi lagu kebangsaannya. Tapi itu ga jadi soal. Yang jadi soal adalah gimana agar sepakbola bisa bersaing di pentas dunia, supaya nanti kita liat Indonesia Raya (national anthem yang kepanjangan saat diputar dalam event macam Piala Asia) di TV yang bukan RCTI atau Global TV melainkan di Rai saat Piala Dunia 2010 Afsel misalnya. Bisa ga?

Ga perlu juga teriak teriak Syariat Islam. Kalau mau ambil kesamaannya yang tertanam di Islam dulu. Gimana caranya rakyat bisa dapat taraf pendidikan dan fasilitas pendidikan yang sama dulu. Yang gitu aja ga bisa, mau dipusingin dan didoktrin pake Syariat segala?

Apakah ini semua hanya “ide liar” yang tidak tersampaikan karena saya ga berani?. Bukan ga berani. Tapi saya hanya bisa berharap suatu saat anak cucu orang orang Indonesia yang masih mau memajukan bangsa Indonesia bisa membacanya, siapa tau tulisan tidak mutu dan tendensius macam ini bisa jadi bahan tambahan dan perenungan buat yang memang benar benar minat untuk memajukan Islam dan Indonesia….. toh kalau semuanya disampaikan di alam nyata, belum tentu juga ada hasilnya.

Takut? Takut apa? Takut mati dibacok manusia manusia kecanduan agama? Saya hanya takut pada Pencipta saya, setelah itu kedua orang tua saya. Hanya saja memang tidak bijak untuk teriak teriak seperti ini di depan Mesjidnya/Sekretariatnya Muhammadiyah, Nahdaratul Ulama, Jemaah Tablig, Jemaah Salafy atau aliran aliran Islam lainnya, atau juga didepan Istana Presiden Pengecut yang buta dan tuli itu? Apa didepan kantor polisi?. Buat apa juga? Nyulut perang? Saya ga suka perang. Minta diberangus Densus 88 yang dibeking Amerika itu? Lagian saya ga mau bunuh diri karena DIA menciptakan saya untuk dinikmati ketampanannya oleh wanita, dan nampaknya DIA belum ngasih tanda tanda saya disuruh hidup sebentar. Bukan saya menyatakan saya siap mati, tapi saya juga yakin DIA masih betah melihat umatNYA yang ganteng ini hidup. Buat apa saya minta Izrail cepet cepet datang? Kalau toh nanti juga dia datang sendiri……

*CUKUP! Out of Topic*

Sekian dulu nampaknya, cape nulisnya. Lagian anda juga belum tentu baca dari awal sampai akhir to? Engga kok, saya percaya anda adalah pembaca yang baik…… 😀
😆

Berita duka! Berdasarkan informasi dari Amd, ada manusia ga kreatif yang membajak beberapa tulisan saya. Entah apa maksudnya……Kalau memang ngefans, harusnya dia bisa langsung mengontak saya dong. Kalau mengkopy paste ya izinlah, ga mungkin saya ga ngasih izin. Minimal kasih trekbeknya… Eh dia ngasih trekbek ya? saya ga ol waktu nulisnya, jadi ga tau dia kasi trekbek apa engga…..