Ketika Islam Mengkopi peis Arab

Setelah kemaren nulis tentang persamaan, nampaknya saya ga bisa melepaskan diri dari perbedaan. Meski Islam itu sama dengan komunis, namun ga bisa dipungkiri bahwasanya banyak terjadi perbedaan pula.

Menurut pendapat saya pribadi.; Sang Pencipta memang menciptakan perbedaan diantara persamaan. Manusia contohnya, manusia semuanya sama, sama sama makhluk bernyawa, sama sama hasil semprotan sperma, tapi kok wajahnya ga sama? Tinggi dan berat badannya tidak sama, ada apa ini? Ya sebenarnya sich simple saja. Kalau semuanya sama persis, bagaimana anda memilih jodoh? Semua wanita dan pria sama bentuk rupa dan bentuk badannya, apakah masih akan ada cinta antara manusia? Ngapain juga mencinta seorang wanita, kalau dia tinggalin kita untuk nikah dengan orang lain mati nanti juga kita bisa dengan gampangnya mencari penggantinya yang sama persis. Kali inilah nampaknya perbedaan menjadi Rahmad Hidayat.

Kalau semua orang sama kualitas keimanannnya, pengetahuannya. Siapa yang harus mengajari pelajaran tauhid dan sains? Namun bukan berarti si pengajar maupun si pembelajar harus berhenti belajar bukan? Baik pengajar maupun yang diajari harus sama sama meningkatkan diri. Disitulah terletak kesamaannya kembali.

Sekarang bahasanya, Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Kenafa Islam turun di Arab ataupun keistimewaan Qur’an silakan cari tau sendiri. Anda menganggap tidak logis dan tidak ilmiah bahwasanya bahasa Arab bukanlah bahasa yang Linguistically best? Silakan debat Linguists yang bilang kalau bahasa Arab itu yang terbaik secara linguistik, bukan saya, karena saya tidak tau apa apa melainkan hanya berusaha mengingat sedikit dari sedikit yang pernah saya baca.

Kenafa bahasa Arab yang dipilih oleh DIA? Padahal karena saking rumitnya dan kompleks serta komplitnya maka bahasa tadi menjadi memiliki kecenderungan untuk disalah artikan, disalah gunakan dan menyalah persepsikan si pembelajar bahasanya?. Katanya agama itu jalan yang mudah dan memberikan kemudahan? Kok malah kesannya susah?

Setuju dengan perntanyaan tadi, tapi mari saya berikan pandangan saya. Ada sebuah kaset yang pitanya kusut, orang bilang itu ga mungkin diperbaiki lagi alias apkir. Kemudian saya mencoba untuk mencari tau, dimana salahnya? Apa yang rusak dan apa yang menyebabkan pita itu tak lagi bisa diputar? Maka sayapun berusaha mencari tau. Apakah semudah itu saja? Belum, anda perlu kesabaran tingkat tinggi hanya untuk membongkar baut kecil yang kadang kadang sudah aus demi untuk memulai membongkar kaset supaya bisa periksa pita. Lanjutkan dengan mengencangkan kembali pita kaset untuk kemudian memasangnya seperti sediakala.

Selesai? Masih harus dicoba dan dibersihkan pitanya tadi. Gampang? Tidak! Namun semakin susyah memperbaikinya maka saya makin betah membedahnya. Karena apa? Karena bagi saya pribadi. CATAT: BAGI SAYA PRIBADI! Sebelum benar benar terbukti tidak lagi bisa dinormalkan, saya tidak akan menyerah untuk mengusahakan kaset (meskipun butut) untuk dinormalkan kembali, minimal bisa diputar kembali dengan lancar.

Begitu juga untuk bahasa, semakin kompleks, semakin sulit, semakin susyah, maka kalau memang sudah minat, sekali lagi minat! Maka akan semakin tertantang tentunya, bukan untuk membuktikan kedahsyatannya, namun untuk mengetahui seberapa dangkalnya pengetahuan kita. Seperti kata salah seorang ulama “Semakin aku tau, semakin aku sadar bahwasanya aku bodoh” (kalau ga salah ingat dan salah tangkap maknanya.)

Begitu juga buat para pendaki dan pemanjat. Makin tinggi dan sukar, makin memberikan kesenangan, karena tantangan dalah kenikmatan. Nampaknya DIA yang Mahakuasa memang telah menanamkan sifat tersebut dalam dalam sedalam dalamnya pada manusia. DIA akan selalu menantang manusia untuk berkata “Impossible is nothing!”.

Malas? Tentu, saya juga sangat malas kalau ga minat. Semudah mudahnya kegiatan kalau saya ga minat saya ga bakalan lakukan/pelajari. Sesusah susahnya kalau minat? Ayo! Oke, saya rasa anda punya kegiatan masing masing yang bakalan bikin anda betah melakukan dan mempelajarinya, apapun itu.

Kembali kepada kaset tadi. Ada yang beranggapan bahwasanya karena kasetnya adalah kaset yang bagus mastering dan mixingnya, plus dihandle oleh mixer handal di studio mahal dan canggih pula, direkam diatas pita terbaik. Maka sebagian orang menganggap bahwasanya kaset itu tidak perlu dipelihara. Misalnya? Diputar berulang ulang side A saja, untuk kemudian direwind tanpa pernah mendengarkan secuilpun bunyi bunyian yang terekam di side B. Parahnya lagi, ada yang mutar kaset cuma lagu pertama lalu di rewind lagi. Sebagaimanapun juga kaset akan berkurang kualitasnya, buat yang telinganya ga sensitif terhadap degradasi suara kaset mungkin bakalan ga perduli bagaimana bunyi yang dihasilkan. Tapi buat yang peduli? Kaset yang tidak pernah diputar bolak balik hanya akan menjadi berat, untuk kemudian mudah putus pitanya sekaligus yang paling objektif adalah kusut. Apalagi kaset butut yang tidak terawat, diputar di tape butut. Bisa anda bayangkan hasilnya?

“Sekarang sudah ada Compact Disc, bahkan MP3. ngapain masih make kaset”.

Betul, namun bukankah sesuatu yang sukar dan tidak gampang akhirnya memicu manusia untuk memudahkan dirinya? Merasa kerepotan untuk memutar lagu harus di rewind dan forward dulu, manusia akhirnya mencari cara untuk memudahkan proses untuk menikmati lagu lagu kesayangannya, bukan meninggalkannya karna beranggapan kaset sudah tidak lazim lagi, melainkan mencari tau dari berbagai sudut pandang.

Gimana caranya agar mendengarkan musik di kaset ini lebih praktis? Gimana caranya agar suara yang dihasilkan lebih jernih dan bagus dari yang dihasilkan oleh kaset ini? Gimana caranya membackup apa apa yang sudah terekam di kaset ini? Gimana juga caranya agar kaset tua ini agar bisa tetap awet untuk diperlihatkan kepada anak cucu kelak?. Apakah untuk menjawab semua pertanyaan itu kita hanya butuh seorang yang tau kaset? Tentu tidak…. masih diperlukan ahli elektronik, ahli mastering dan mixing serta lain sebagainya dan lain sebagainya.

::::::::

Kenapa DIA ga menyeragamkan saja bentuk manusia? Poin ini sudah terjawab. Sekarang kenapa DIA membiarkan saja ciptaanNYA menjadi terpecah belah dan berbeda beda? Sholat dan bacaan ngaji pun jadi beda? Rasanya analogi diatas bisa menjawab, bagi yang memang berminat untuk terus berusaha, kenafa hasrus puas dengan hafal Qur’an? Kenafa harus puas dengan sudah pernah hatam Qur’an? Bukankah katanya Qur’an itu untuk dipelajari? Janganlah membelenggu diri dengan Khamar dan judi adalah perbuatan syaiton, lantas dzikir tanpa henti sambil menanamkan di otak judi haram judi haram judi haram judi haram judi haram. Jangan begitu, tinjau dong kenafa haram? Analisa kemungkinan buruk dan dampak buruknya. Contohnya ada di sini. Yang perlu anda ingat, ga perlu pakai bahasa arab untuk meninjau kenafa judi haram, tapi pakai matematika. Untuk tau apa itu manner of articulation bukan pakai bahasa arab tapi pakai biologi. Do you get the point?

Mungkin contohnya begini. Untuk bepergian dari Banjarmasin ke Banjarbaru, kita memerlukan alat transportasi supaya cepat sampai. Alat transportasi yang kita gunakan adalah Mobil. Apa itu mobil? Mobil adalah bla bla bla.. terdiri dari ban, bahan bakar, jok dan sebagainya lain dan sebagainya lain. Semua komponen yang tidak sama itu membentuk satu kesamaan baru yang bernama alat transportasi

:::::::

Kok sholat harus seragam bacannya dan gerakannya? Menurut saya yang sama aja jadi beda, gimana kalau dibiarkan beda? Yang jelas jelas sama sama pakai ruku saja ada yang ngangkat tangan kedua tangan sampai sejajar telinga sebelum ruku maupun ada yang langsung lepaskan dari sedekap untuk kemudian menyentuh lutut. Itu baru dari segi gerakan, gimana bacaan? Yang jelas jelas disuruh pakai fathihah saja bacaaanya terpengaruh oleh bahasa ibu, gimana mau dibiarkan bersesuaian dengan bahasa masing masing.

Misalnya begini. DIA memperbolehkan umatNYA untuk baca bacaan sholat sesuai kemampuan berbahasa masing masing, trus orang Arab ngajarin orang yang punya sounds /r/ yang lemah untuk bilang “akbar”, dia bunyikan “akbar” dengan logat, accent, dan pronounciationnya dia sendiri yang akhirnya bunyinya “akba”, trus pengucap “akba” ini ngajarin orang yang bahasanya ga punya voiced sound, /b/ nya diganti /p/. Maka bukan lagi Distortion and Conformity lagi namannya, tapi jadi asimilasi dan akulturasi hingga akhirnya pelan pelan “root”nya yang sudah melenceng jauh menjadi makin hilang untuk kemudian digantikan oleh kehendak dan kemampuan si pengguna dan si penutur.

Misalnya begini, sholat dzuhur dan ashar itukan fathihahnya harus dibaca dengan suara yang tidak nyaring, kenafa? DIA pasti sudah tau bahwasanya ciptaanNYA itu akan sedang berada pada jam sibuk dan serta istirahat saat waktu zuhur dan ashar. Maka baca dengan suara keras Insya Allah akan menggangu para manusia yang sedang kerja dan mau tidur siang.

Sementara Islam itu sampainya melalui pantai. Kata salah satu dosen saya orang orang yang tinggal dipantai itu cenderung memliki suara yang nyaring, karena faktor alam. Setiap berbicara mereka akan berbicara dengan suara nyaring. Hubungannya? Karena rata rata yang menerima Islam itu adalah daerah pantai sebagai yang pertama, bisa dibilang yang bakalan mengajarkan Islam itu adalah orang orang dari daerah pantai. Maka kalau ga dikasih panduan, kira kira sholat itu tiap saat akan selalu bersuara nyaring.

Gimana dengan yang kebablasan mengarabkan Islam? Disinilah saatnya otak berfikir. Ngapain sich orang Arab wanita wanitanya pakai jubah sehingga hanya meyisakan 2 lubang buat mata? Saya rasa anda bisa memikirkannya. Apakah memikirkannya harus pakai belajar bahasa Arab dulu? TIDAK! Tapi untuk tau alasannya kenapa wanita wanita Arab pakai jubah adalah dengan sudut pandang sosiologis dan historis. Maka, masihkah anda menganggap orang yang berfikir adalah orang yang menuhankan akal dan mereka adalah sesat?

QS 43. Az Zukhr 56. dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.

56. And We made them a thing past, and an example for those after (them).

Mungkin juga maksudnya adalah JAS MERAH, plus ambillah yang baik (dari mereka yang terdahulu) dan tinggalkan yang buruk. Caranya? Berfikir dan belajar!

::::::

Banyak yang ga ngerti tulisan jelek saya yang memang ngalor ngidul, maka untuk kali ini saya coba berikan kesimpulan:

  1. Ada saatnya Islam itu jadi komunis, namun dalam kekomunisannya itu Islam juga dinamis.
  2. Sukar atau mudah itu kita yang bikin, kalau kita ga minat, maka yang mudahpun bakalan jadi sukar.
  3. Sebarang barangnya bagus kalau tidak dirusakkan maka akan menjadi jaga.
  4. Belajar ga mesti make bahasa Arab dan ga selalu harus mempelajari bahasa arab karena semua ilmu saling berkaitan dan mendukung.
  5. Bahasa yang dipelajari lalu diketahui punya complete sounds itu kebetulan saja namanya “ARABIC”. Sendainya saja sejak dulu namanya adalah “Germans, English, Japanese ataupun Bahasa Indonesia”…… masihkah protes? Tetap protes? Atau diam karena bahasa kesayangan dan kesukaan yang jadi bahasa dengan complete sounds system?
  6. Kenafa mesti menentang prinsip persamaan? Salah satu bukti dari bobroknya sistem anti persamaan adalah perbedaan ciptaan manusia bernama kapitalis, yang tak ada bedanya dengan hukum rimba dimana si kuat yang menang, bahkan si kecil tidak akan dibiarkan berkembang. Jangankan mau berkembang, mau mencoba untuk mengembangkan saja tidak bisa.

Apa susyahnya sich menyamakan fasilitas, kualitas pendidikan dan ketersediaan teknologi di seluruh Pulau Pulau yang tersebar di Indonesia. Katanya punya Pancasila sebagai dasar negara yang salah satu bunyi Silanya adalah “Keadilan Sosial bla bla bla…”, nyatanya? PANCASILA sudah tidak relevan lagi! Harus digugat!

Ada yang sok nasionalis dengan bilang kalau “Kemerdekaan kita direbut dengan darah, dan nyawa para pejuang dulu”. Silakan, silakan berkoar koar seperti itu, apalagi menjelang tujuhbelasan seperti sekarang. Namun saya akan mengajarkan keturunan saya kelak bukan hanya teriakan teriakan macam itu. “Kemerdekaan Indonesia juga dihasilkan oleh proses lobi, kongkalikong, doktrin, dan konspirasi”.

Biar seluruh rakyat berjuang juga, kita ga bakalan merdeka kalau ga ada cara diplomatik. Biar benteng Belanda dihancurkan berjuta juta kali juga, kalau ga ada diplomasi ga akan ada yang namanya Indonesia.

Belanda memang tidak pernah merelakan Indonesia lepas, dan mereka bukannya melepaskan Indonesia, melainkan memindahtangankan penjajahan kepada Amerika Serikat dan negara negara lain. Sedikit contohnya adalah di sini.

Menyoal Lagu Indonesia Raya? Jujur saya bilang, saya ga perduli! Mau jadi berubah 3 bar kek, mau berubah jadi bartender kek. Saya ga peduli. Fungsi lagu Indonesia Raya itukan cuma buat pelengkap saat upacara bendera sok militer tiap Senin. Kadang kadang untuk simbol kemenangan atlet (kadang kadang aja, soalnya atlet Indonesia jarang menang). Lagian saya ga yakin juga kalau lagu Indonesia raya bukan “bajakan atau plagiarisme” dari lagu lagu yang ada di zamannya.

Ga nasionaliskah saya? Silakan anda sekalian beranggapan seperti itu. Saya hanya muak dengan Indonesia Raya yang dinyanyikan berulang ulang oleh saya selama belasan tahun. Lagian nyanyi Indonesia Raya kenceng kenceng juga ga bikin Timnas sepakbola Indonesia menang waktu lawan Korsel dan Arab Saudi dulu. Jauh lagi bikin Kalimantan Selatan punya kampus dengan konek internet gratis dan ga lemot (at least sampai saat ini).

Lagu hanyalah lagu, yang penting adalah usahanya juga. Ga ada gunanya anak anak SD di Irian Jaya dan darah daerah terpencil nyanyi Indonesia Raya kenceng kenceng gaya rocker alternatif sampai mau bikin putus pita suara. Nasionalisme mereka hanya dibayar dengan kemiskinan dan keterbelakangan. Yang ironisnya dihasilkan oleh orang orang yang sama sama hafal Indonesia Raya.

Zidane, Ronaldinho atau Fabio Cannavaro ga pernah teriak teriak tuh nyanyiin lagu kebangsaan mereka masing masing, ya ada juga sich pemain sepakbola yang kenceng kenceng nyanyi lagu kebangsaannya. Tapi itu ga jadi soal. Yang jadi soal adalah gimana agar sepakbola bisa bersaing di pentas dunia, supaya nanti kita liat Indonesia Raya (national anthem yang kepanjangan saat diputar dalam event macam Piala Asia) di TV yang bukan RCTI atau Global TV melainkan di Rai saat Piala Dunia 2010 Afsel misalnya. Bisa ga?

Ga perlu juga teriak teriak Syariat Islam. Kalau mau ambil kesamaannya yang tertanam di Islam dulu. Gimana caranya rakyat bisa dapat taraf pendidikan dan fasilitas pendidikan yang sama dulu. Yang gitu aja ga bisa, mau dipusingin dan didoktrin pake Syariat segala?

Apakah ini semua hanya “ide liar” yang tidak tersampaikan karena saya ga berani?. Bukan ga berani. Tapi saya hanya bisa berharap suatu saat anak cucu orang orang Indonesia yang masih mau memajukan bangsa Indonesia bisa membacanya, siapa tau tulisan tidak mutu dan tendensius macam ini bisa jadi bahan tambahan dan perenungan buat yang memang benar benar minat untuk memajukan Islam dan Indonesia….. toh kalau semuanya disampaikan di alam nyata, belum tentu juga ada hasilnya.

Takut? Takut apa? Takut mati dibacok manusia manusia kecanduan agama? Saya hanya takut pada Pencipta saya, setelah itu kedua orang tua saya. Hanya saja memang tidak bijak untuk teriak teriak seperti ini di depan Mesjidnya/Sekretariatnya Muhammadiyah, Nahdaratul Ulama, Jemaah Tablig, Jemaah Salafy atau aliran aliran Islam lainnya, atau juga didepan Istana Presiden Pengecut yang buta dan tuli itu? Apa didepan kantor polisi?. Buat apa juga? Nyulut perang? Saya ga suka perang. Minta diberangus Densus 88 yang dibeking Amerika itu? Lagian saya ga mau bunuh diri karena DIA menciptakan saya untuk dinikmati ketampanannya oleh wanita, dan nampaknya DIA belum ngasih tanda tanda saya disuruh hidup sebentar. Bukan saya menyatakan saya siap mati, tapi saya juga yakin DIA masih betah melihat umatNYA yang ganteng ini hidup. Buat apa saya minta Izrail cepet cepet datang? Kalau toh nanti juga dia datang sendiri……

*CUKUP! Out of Topic*

Sekian dulu nampaknya, cape nulisnya. Lagian anda juga belum tentu baca dari awal sampai akhir to? Engga kok, saya percaya anda adalah pembaca yang baik……😀
😆

Berita duka! Berdasarkan informasi dari Amd, ada manusia ga kreatif yang membajak beberapa tulisan saya. Entah apa maksudnya……Kalau memang ngefans, harusnya dia bisa langsung mengontak saya dong. Kalau mengkopy paste ya izinlah, ga mungkin saya ga ngasih izin. Minimal kasih trekbeknya… Eh dia ngasih trekbek ya? saya ga ol waktu nulisnya, jadi ga tau dia kasi trekbek apa engga…..

57 Responses to “Ketika Islam Mengkopi peis Arab”


  1. 1 Neo Forty-Nine 8 August 2007 at 17:56

    😀

  2. 2 Rizma 8 August 2007 at 18:01

    buset,, dateng semangat2,, keblokir pertamaxnya,,😦
    gapapa deh,,

    wah,, ide liar itu,, terlaraangg!!! bisa pertanggungjawabkan ga mas??😆

  3. 3 cK 8 August 2007 at 18:13

    panjang amat. bacanya besok-besok aja deh…

  4. 4 Rizma 8 August 2007 at 18:14

    *sakit mata baca dari awal ampe abis*😐

    Ini mau bikin post tentang agama, Indonesia, apa ngamuk gara gara kupipes itu? apa 3-3nya?

  5. 5 Neo Forty-Nine 8 August 2007 at 18:16

    @Rizma😀
    bisa… saya bisa tanggungjawab kok, mau saya nikahin? kan katanya minta tanggung jawab…..😀

    @Chika
    Dasr Miss Komen! Kebiasaan kamu👿

  6. 6 Neo Forty-Nine 8 August 2007 at 18:16

    @Rizma
    Ya tiga tiganya deh

  7. 7 Mihael "D.B." Ellinsworth 8 August 2007 at 18:31

    Hmmm…saya sih simpel saja soal Indonesia. Kalau tidak tahan, tinggal saja di Negeri Johor. Lupakan Indonesia Raya, nyanyikan Negaraku. Ganti KTP, Rubah Paspor.

    Kalau suatu saat kita dilanda perang maka orang butuh Indonesia Raya itu sebagai lagu untuk memberikan semangat.

    Untuk apa Nagabonar sampai hormat – homrat sembari buang – buang waktu di depan patung Soedirman ? Karena dengan begitu kita bisa ingat dengan perjuangannya yang tidka mudah. Begitu pula dengan Indonesia Raya sendiri.

  8. 8 Mihael "D.B." Ellinsworth 8 August 2007 at 18:37

    Biar seluruh rakyat berjuang juga, kita ga bakalan merdeka kalau ga ada cara diplomatik. Biar benteng Belanda dihancurkan berjuta juta kali juga, kalau ga ada diplomasi ga akan ada yang namanya Indonesia.

    SS (Stuchzstaffel) juga berpikir bahwa Jerman sebentar lagi hancur. Tetapi apa yang membuat mereka berjuang sampai titik darah penghabisan ? Nasionalisme dan Persaudaraan.

    ———-

    Makanya saya pernah berspekulasi; hanya perang yang dapat membangkitkan nasionalisme kembali. yang arab tidak akan bertikai melawan yang cina, yang miskin tidak akan menghajar yang kaya; semuanya akan mempunyai tujuan yang sama (saat itu); berperang, merebut kembali tanah air.

    …Kecuali kalau mereka berpikir bahwa mereka bisa lari dari perang itu. Maka seharusnya tidak ada tempat lain yang aman di dunia ini.

  9. 9 Neo Forty-Nine 8 August 2007 at 18:42

    @Mihael “D.B.” Ellinsworth
    Cinta Indonesia rupanya……
    Saya mau perubahan kok, bukan mau minggat……..
    Saya minta daerah saya diperhatikan….
    itu juga kalau pak presiden dan wakil ga buta dan tuli… apa memang sengaja kami dikucilkan sehingga kami ga bisa maju?
    Kalau harus minggat juga saya mending ke Swedia….

    Ganti KTP? bikinnya aja dip[ersulit gimana mau ganti?

    Kalau suatu saat kita dilanda perang maka orang butuh Indonesia Raya itu sebagai lagu untuk memberikan semangat.

    Masa? perasaan kemaren saya nanya teman teman “Gimana kalau kita di suruh perang?”
    “Ah saya bagian dapur saja”
    “Ah saya ga bisa perang, ikut seksi kesehatan aja”
    Dan kayanya Allahuakbar bakalan lebiih ngasih semangat daripada lagu kepanjangan itu….. dengan catatan yang ikut perang adalah orang Islam.

    Perjuangan memang tidak mudah, kakek saya juga pejuang dan dari cerita beliau saya percaya beliau menderita lahir batin saat berjuang…namun apa yang beliau dapat? gaji pensiunan pun di rapel 3 BULAN!
    saya bukannya ga menghormati pejuang, namun saya lebih tidak hormat lagi dengan ‘yang ngakunya pejuang’ padahal waktu perang cuma ikut gabung, bukan angkat senjata…..

    Tanpa bermaksud mengecilkan para pejuang…
    Kita (pulau pulau di Indonesia) ga usyah berjuang juga bakalan merseka sendiri… Amrik pasti akan sok jadi p[ahlawan menekan belanda untuk melepaskan Indonesia, untuk kemudian Amrik yang biarkan negara berdiri, tapi Amrik yang nyetir……..

  10. 10 Sugeng Rianto 8 August 2007 at 18:44

    Yeah! tepuk tangan buat farid.🙂
    Busyet dah!!! panjang amat postingannya, langkah jitu, Block CTRL + C.😆

  11. 11 Neo Forty-Nine 8 August 2007 at 18:45

    Tetapi apa yang membuat mereka berjuang sampai titik darah penghabisan ? Nasionalisme dan Persaudaraan.

    Bukannya semangat Deustcland Uber Alles? dan takut pada tuhan mereka saat itu?

    Pasti bisa lari dari perang… caranya? suaka…dan menjilat musuh………..

  12. 12 Neo Forty-Nine 8 August 2007 at 18:48

    @Sugeng
    Makasih makasih….

    @Mihael “D.B.” Ellinsworth
    Saya ga takut perang… saya cuma minta perubahan pada daerah saya… dan saya mau yang berhak dihormati benar benar dihorrmati……..

  13. 13 Takodok! 8 August 2007 at 19:39

    Awalnya gak ngerti judulnya yang-“Mengkopi peis”- itu..
    Kupipes ya maksudnya? *gak nyambung, maapkeun..

    Hanya saja memang tidak bijak untuk teriak teriak seperti ini di depan Mesjidnya/Sekretariatnya Muhammadiyah, Nahdaratul Ulama, Jemaah Tablig, Jemaah Salafy atau aliran aliran Islam lainnya, atau juga didepan Istana Presiden Pengecut yang buta dan tuli itu? Apa didepan kantor polisi?

    Weii mas, kalo teriak2 di khalayak umum mah gak dipeduliin. Orang udh pada bosan. Lagian, dengan dituliskan, harusnya (atau tidak harus ya?) ide liar itu bisa dipoles hingga jadi “cantik”. Dan orang yang membaca bisa lebih mudeng. Walau tidak menerima, tapi yah… diperhatikan.

    Kalo saat membaca gak nyambung, karna pjg buangett ato lagi laper buangett, suatu hari nanti *ceilee!*, tulisan yg insya Allah masih tersimpan di jagad WP ini (makanya jgn di-delete ya?) bisa terbaca lagi dan membawa pencerahan. Soalnya membaca satu tulisan itu tergantung mood lho!

    Pencerahan maksudnya ya..membuka pikiran lah. Bila tidak jadi contoh yang baik,maka bisa jadi peringatan yang keras.

    Kira2 begitu…

    ps. Saya ngelantur, apa komen di tempat yg salah ya? Ah.. ngeluarinsedikit uneg2..

  14. 14 Mihael "D.B." Ellinsworth 8 August 2007 at 19:59

    Masa? perasaan kemaren saya nanya teman teman “Gimana kalau kita di suruh perang?”
    “Ah saya bagian dapur saja”
    “Ah saya ga bisa perang, ikut seksi kesehatan aja”

    Itu candaan atau apa ?😕

    Lagipula opini itu tidak selamanya sejalan dengan keadaan sebenarnya lho.:mrgreen:

    Dan kayanya Allahuakbar bakalan lebiih ngasih semangat daripada lagu kepanjangan itu….. dengan catatan yang ikut perang adalah orang Islam.

    Itu maksud saya, Indonesia itu beragam. Masa disatukan oleh “Allahu Akbar” saja ? Bagaimana dengan yang “lainnya” ?

    Makanya Indonesia Raya bisa dijadikan pegangan.

    Ya, memang tidak salah kalau pemimpin kita, adapun yang tidak becus. Saya kira andapun tidak menyalahkan Ibu Pertiwi kita, bukan ? Dia diinjak – injak dan dimakan, tidak etis kalau kita menyalahkan dia juga, apalagi lagu yang dibuat khusus untuknya itu (Indonesia Raya, terserah mau yang normal atau yang 3 stanza).😀

    Kita (pulau pulau di Indonesia) ga usyah berjuang juga bakalan merdeka sendiri… Amrik pasti akan sok jadi pahlawan menekan belanda untuk melepaskan Indonesia, untuk kemudian Amrik yang biarkan negara berdiri, tapi Amrik yang nyetir……..

    Tapi kayaknya para golongan pemuda (saat itu) tidak berpikir untuk meminta bantuan Amerika, bukan ? BAR saja mereka belum pernah pakai, bagaimana dengan orang amerika, yang umumnya belum “dikenal” oleh RI ?

    Kalau Amerika membantu, saya rasa Soekarno-Hatta tidak akan diculik ke Rengasdengklok..:mrgreen:

    Bukannya semangat Deustcland Uber Alles? dan takut pada tuhan mereka saat itu?

    Yang saya tahu sih itu, yang saya jelaskan tadi.

    Ah, ya. Yang saya maksud di atas itu Waffen SS, bukan SS biasa.😀

    Pasti bisa lari dari perang… caranya? suaka…dan menjilat musuh………..

    Kebanyakan anggota Waffen SS tidak melakukan itu.

    ———-

    Maaf kalau ada salah – salah kata. Salam.

    *Ngeloyor pergi*

  15. 15 Iwan Darmawansyah 8 August 2007 at 20:46

    Saya kira akal digunakan untuk berfikir cerdas, bertindak tangkas dan berhati mulia. Sesuatu yang rumit jadi sederhana bukan malah sebaliknya sesuatu yang enteng menjadi beban yang super berat.

  16. 16 Nyonya Farid 8 August 2007 at 21:06

    begitu bersemangat dan berapi api di depan, dan bernarsis narsis diakhirnya.

    Ah, sepertinya itu ciri tulisan kamu ya Say? Seneng ya bikin pacar cape?
    😀

    proud to have u, honey…

  17. 17 deKing 9 August 2007 at 07:45

    Bro, numpang absen dulu.
    Sudah saya baca, tapi masih agak berat untuk memahami.
    Baru pulang kopdar selama 3 hari, masih lumayan capek nich hehehe

  18. 18 itikkecil 9 August 2007 at 08:08

    Terlalu banyak isu yang dibahas di sini jadi bingung mau ngomentari yang mana….. kayak pak deKing ah….. mikir dulu baru komen yang waras…..

  19. 19 agorsiloku 9 August 2007 at 08:45

    Menurut pendapat saya pribadi.; Sang Pencipta memang menciptakan perbedaan diantara persamaan.–> inilah sisi yang menarik, tidak ada yang persis sama. Wajah tidak sama di antara para pemilik wajah. Juga simetris bagian kiri dan kanan tidak sama. Setiap pada sesuatunya adalah unik.

    Begitu juga kopipais ketika berada pada lingkungan yang berbeda, maka kehadirannya bermakna beda juga.

    Lalu apa yah.. yang sebenarnya dikopipeis itu?….

  20. 20 matasopiak 9 August 2007 at 09:24

    Jika berhubungan dengan agama dan politik, aku selalu malas membacanya…

  21. 21 nailah zhufairah 9 August 2007 at 11:30

    iya bener mbak, jadi capee mbacanya …soalnya nyambung kemana-mana…

  22. 22 Joerig™ 9 August 2007 at 11:32

    *bingung … kok aku bisa ke-summon kesini … padahal ga ada link yg nyangku ke aku*

    *scroll atas-bawah … baca ulang 2x … baca ulang komen2 lagi …. *

    .

    .

    *ah ternyata ada yg ngomongin ttg SS dan Deustcland-2-an ….. gubrakzzzzzz*😆😆

    ::::::::::: OOT selesai ::::::::::::::

    kritik yg bagus dan tajam seperti biasa …

    kalo ttg perbedaan, kan harusnya setiap orang yg merasa dirinya orang Indonesia mengetahui arti dari Bhineka Tunggal Ika … Unity in Diversity …

  23. 23 Nabi Musa 9 August 2007 at 12:00

    Wah, lagi nggak mood ngomongin agama, absen dulu sajalah😛

  24. 24 nailah zhufairah 9 August 2007 at 12:34

    ehhh, ralat… gak pake mbak…. watuhhh, ke’inget mbak chiw

  25. 25 supono 9 August 2007 at 13:49

    Panjang banget posting-nya. Ampe ngantuk bacanya juga. Untuk paling bawah ada “ADD COMMENT”, jadi langsung bangun tuk nulis comment. he he he…

    “PANCASILA sudah tidak relevan lagi! Harus digugat!”, masalahnya, menggugatnya itu. soalnya burung ini udah lama banget bertengger, jadi kuku-kuku nya ubah nancap banget.

  26. 26 StandAlone 9 August 2007 at 14:24

    waduh, cukup berat neh ulasannya.
    kagak bisa dibreakdown menjadi beberapa artikel yah?

    mengenai pertanyaan “Kalau semuanya sama persis, bagaimana anda memilih jodoh?”
    Kita memang tidak mempunyai jawaban untuk ini.

    hal ini sama seperti pertanyaan mengenai, kenapa seh alien yang di film-film selalu ada tangan-kepala-kaki-perut? Yah karena kita tidak tahu alien itu seperti apa, maka kita menggunakan imajinasi sebatas pengetahuan kita bahwa mahluk berintelegensia adalah mirip manusia.

    kembali kepertanyaan “Kalau semuanya sama persis, bagaimana anda memilih jodoh?” Bukan berarti tidak memiliki jawaban. Jika kondisi ini memang terjadi, gua percaya pasti ada sebuah cara untuk melakukan hal itu.
    ——-

    mengenai sholat yang berbeda, kalo gua masih percaya bahwa Rosul sudah mencontohkan dengan adanya sebuah pola. hanya saja sang pengamat melakukan pengamatan dengan sambil melakukannya. jadi, bisa jadi tidak akurat.

    oleh karena itu perbaikan akan terus ada.
    ——-

    mengenai islam sama dengan komunis. Saya sangat setuju bahwa ada kesamaan antara islam dan komunis. namun tidak menutup kemungkinan bahwa terdapat perbedaan.

    mengenai islam adalah komunis yang dinamis. penilaian yang relatif. tapi, di dunia yang berdasarkan pergerakan waktu ini, adakah yang sifatnya non-dinamis? Bahkan fakta pun bisa berubah seiring bertambahnya sudut pandang yang ditemukan.
    ——-

    “Belajar ga mesti make bahasa Arab dan ga selalu harus mempelajari bahasa arab karena semua ilmu saling berkaitan dan mendukung…”

    Saat gua kuliah di jurusan IT, gua nemuin tuh kalo ternyata konsep procedural bisa menghambat konsep object oriented. Intinya, tidak semua ilmu itu saling mendukung.

    Oleh karena itu, perlunya strategi yang efektif.

    Contoh lah orang indonesia. gua pikir selama ini kita salah dalam mencoba mempelajari Al Quran. Yang penting bisa baca dulu setelah itu baru pelajari bahasanya sehingga paham. Hasil dari strategi ini apa? lebih dari 50 tahun strategi ini digunakan, berapa orang indonesia yang masuk ke tahapan mempelajari bahasanya setelah bisa membaca?

    mempelajari ilmu tapi tidak memahami hanya menghapal… sangat mudah hilang bila tidak dilatih.

    usul gua seh, sebaiknya dimulai dari mempelajari bahasanya terlebih dahulu. sehingga bisa mengerti kalimat-per kalimat. yah, minimal conversaionlah. baru tahapan ke membaca alquran. gua emang kgk punya bukti kalo cara ini efektif, tapi gua bisa bilang bahwa cara yang lama juga tidak terlalu menggembirakan. kenapa tidak mencoba yang baru??
    ——–

    Yang gua kagak suka dari aktivis islam adalah ketika mereka sudah menggunakan terlalu banyak adjektiva dan subyektif dalam kalimat mereka, seperti:

    – Islam sangat mudah dipelajari
    – Islam adalah obat penyakit hati
    – membaca Al Wuran bisa menenangkan hati
    – Islam punya semua solusi dalam kehidupan
    – semua aspek kehidupan sudah diulas dalam Islam, dari sejak bangun hingga kembali tidur.

    huehuehue.
    udah kayak postingan sendiri neh. itung-itung untuk mengimbangi postingannya sendiri.

    thanks

  27. 27 Neo Forty-Nine 9 August 2007 at 15:55

    @Takodok
    Ya mangkanya diriku tuliskan disini saja, moga moga aja ada yang bisa mengambil hikmahnya

    @ Mihael “D.B.” Ellinsworth
    Jujur man, teman teman memang bilang begitu…

    Dengan yang ga ngerti dan ga peduli Allahuakbar? Ya nda tau saya gimana maunya mereka kelak

    Ya, saya kesal dengan banyak oknum tukang perkosa negeri ini
    😀
    Ga tau juga, yang saya baca Amrik memang melakukan konspirasi dalam kemerdekaan beberapa negara pasca dan pra WW II. saya baca dari buku “Birth of Nation”

    saya peercaya mereka ga lari. okelah. Thanks a lot😆

    @Iwan Darmawansyah
    Makasih, saya memang dihadiahi kecerdasan olehNYA kok😀

    @Nyonya Farid
    Cape kenapa Say? mau dipijit?
    Saya ga narsis, tapi realistis😀

    @deKing& itikkecil
    Silakan…saya memang lagi ngaco kok nulisnya…😀

    @ agorsiloku
    Itu Mas, artikel saya dikopipeis
    dan Islam kerab araban yang dikopipeis sebagian oknum secara membabi buta

    @nailah zhufairah
    Buat itikkesil atau salah terka avatar saya?

    @ Joerig™
    Makasih, ya perbedaan memang menghasilkan kesamaan dan kesamaan menghasilkan perbedaan
    *pletak*

  28. 28 Neo Forty-Nine 9 August 2007 at 16:02

    @nailah zhufairah😀😆

    @ supono
    Wah kalau ngantuk jangan dipaksa…
    Kita potong aja kukunya gimana?😀

    @ StandAlone
    Iya, harusnya memang dibagi bagi dalam beebrapa posting

    Memang sudah takdirnya semuanya ga sama persis ko..😀

    oleh karena itu perbaikan akan terus ada.

    Sip, makanya mikir….😀

    Bahkan fakta pun bisa berubah seiring bertambahnya sudut pandang yang ditemukan.

    Dinamis kan😀

    Dinamis lagi Mas. makanya kita harus selalu berubah, kalau bisa menjadi lebih baik. ya seperti merubah pola belajar itu…😀

    Yang gua kagak suka dari aktivis islam adalah ketika mereka sudah menggunakan terlalu banyak adjektiva dan subyektif dalam kalimat mereka, seperti:

    – Islam sangat mudah dipelajari
    – Islam adalah obat penyakit hati
    – membaca Al Wuran bisa menenangkan hati
    – Islam punya semua solusi dalam kehidupan
    – semua aspek kehidupan sudah diulas dalam Islam, dari sejak bangun hingga kembali tidur.

    Saya juga kurang suka, kurang detail dan lengkap soalnya…😀

    huehuehue.
    udah kayak postingan sendiri neh. itung-itung untuk mengimbangi postingannya sendiri.

    thanks

    Thaks juga yaks😆:mrgreen:

  29. 29 Dimashusna 9 August 2007 at 17:11

    Alinea 1,2,3 (Masih Ngotot baca)
    Alinea 4,5,6,7,8 (monitor dan mata menjadi dekat)
    Alinea 9,10,11,12,13,14 (Mulut mulai ternganga)
    Alinea 15-akhir (tetaF maksain baca walau udah ga connect ke syaraf femahaman).
    cuma satu yang saya faham, fostingannya fanjang.🙂

  30. 30 Neo Forty-Nine 9 August 2007 at 17:25

    *ketawa ngakak*

  31. 31 deking 9 August 2007 at 17:38

    Tulisan lumayan ngalor ngidul jadi lumayan repot hehehe…

    Begitu juga untuk bahasa, semakin kompleks, semakin sulit, semakin susyah, maka kalau memang sudah minat, sekali lagi minat! Maka akan semakin tertantang tentunya, bukan untuk membuktikan kedahsyatannya, namun untuk mengetahui seberapa dangkalnya pengetahuan kita

    Kalau bisa untuk merasa butuh kenapa hanya sekedar berhenti pada minat saja?
    Motivasi karena butuh tentu lebih kuat daripada sekedar motivasi minat.

  32. 32 papabonbon 9 August 2007 at 18:43

    wah, mulainya dari anti pada pelembagaan syariat. nanti ujungnya biasanya kebalik, jadi pejuang pembela syariat … :p

  33. 33 Neo Forty-Nine 9 August 2007 at 22:58

    @deking
    Sip!😀

    @papanborn😀
    Saya mau memperjuangkan yang haq
    *pletak*

  34. 34 danalingga 10 August 2007 at 00:27

    Baca artikel ini , kok saya jadi inget obrolan warung kopi di medan sana yak?😀
    Di temani segelas kopi dan sebatang rokok, oh betapa nikamtnya ngobrol ngolor ngidul.:mrgreen:

  35. 35 fertobhades 10 August 2007 at 01:49

    good point…. thankx berat atas artikelnya….. sorry kalau nggak bisa berkomentar….

    *tulisan ini bisa dicopy nggak ?*🙂

  36. 36 Grahat 10 August 2007 at 10:11

    Wakakakka.. Bagus juga.. Aliran pesimis tapi enggan mati yah.. wakakkaka..
    Tapi hati-hati loh. Jangan terjebak untuk selalu merasionalkan semua isi Al-Qur’an. Hidup ini ada rasional dan ada irasional, dalam artian otak kita memang belum mampu.
    Eniwei.. emang postingan sini selalu panjangx yah? sampe kejang2 bacanyah.

  37. 37 anna hape 10 August 2007 at 12:46

    Nice blog, nice article!

  38. 38 nuragus 10 August 2007 at 15:09

    saya simpen dulu. bacanya nanti ya… hehehehe😉

  39. 39 abzay 10 August 2007 at 15:13

    setuju… setuju… setuju….!!!
    yang jadi rahmat itu PERBEDAAN, bukan PERPECAHAN.
    tapi gimana ya kalo perbedaan itu terjadi antara kita dan Nabi Saww.
    BENCANAAAA……!!!!!!!!!
    mari qt nilai ibadah qt, sama g’ ya dg Nabi Saww.

  40. 40 abzay 10 August 2007 at 15:28

    kebenaran itu indah bro…

  41. 41 CY 10 August 2007 at 16:36

    Wah, keluar semua uneg2 Farid dari A – Z.😀

    Pemerataan taraf dan fasilitas pendidikan?? hmm… tunggu seabad lagi deh…., mungkin anda lebih beruntung utk mengecap hal itu di reinkarnasi berikutnya…. huehehehe

  42. 42 bumisegoro 10 August 2007 at 16:56

    “Sekian dulu nampaknya, cape nulisnya. Lagian anda juga belum tentu baca dari awal sampai akhir to?”

    yups, aku baca loncat-loncat, ga dari awal mpe akhir. cappee, panjang bangetttttt. tapi semangatnya boleh tuh….🙂

  43. 43 caplang™ 10 August 2007 at 17:13

    agama yg stabil sekaligus dinamis
    agar tak mudah lekang oleh waktu

    OOT :
    @bumisegoro

    yups, aku baca loncat-loncat, ga dari awal mpe akhir. cappee

    ya iyalah! mangkanya kalo baca tuh sambil duduk
    jangan sambil loncat2😆

  44. 44 Neo Forty-Nine 10 August 2007 at 19:23

    @danalingga
    Kalau begitu saya minta kopi dan rokoknya yach..😀

    @ fertobhades😀
    Makasih Bang. Silakan, asal nanti ditulis…
    Sumber dari blognya saya….😀

    @ Grahat
    Siapa yang pesimis?
    bagi saya….ga ada yang ga rasional kok….😀

    @ anna hape dan nuragus
    Makasih makasih. Silakan…😀

    @abzay
    Pasti maksudnya adalah menyerupakan ibadah kita dengan Nabi.
    Oke oke..kebenaran memang indah
    Makasih…😀

    @ CY
    ampun deh harus nunggu samapi hampir kiamat😀

    @bumisegoro
    Terima kasih😀

    @ caplang™
    Pasti agama Islam…😀

  45. 45 diKO 10 August 2007 at 19:29

    😳 print aja deh😆

  46. 46 junaputra 19 August 2007 at 02:14

    Panjang bener, tapi menarik. gw komentarin yg awal2 saja. islam emang udah identik dengan arab, padahal hanya 15% saja dari umat muslim dunia ini yang arab. selebihnya bukan arab. keseragaman sy rasa masih sangat penting. keseragaman itu untuk mencitrakan persatuan. sebagai contoh, mungkin nggak semua setuju, tapi menurut saya dengan mengucapkan salam “assalamualaikum” sudah jadi ciri seorang muslim.

    Pengekpresian keseragaman itu yang beda2, namun yang penting adalah tujuannya. Contohnya, orang arab mungkin menganggap pakaian solat adalah jubah yang panjang dengan sorban yang menutupi kepala, tapi bagi orang melayu, pakaian sholat adalah baju koko tanpa kerah. atau orang amrik dan eropa yang lebih sreg memakai setelan jas lengkap untuk sholat. semuanya asal “seragam” bahwa pakaian sholat itu mesti menutupi aurat, bersih dan rapi.

    Menjadi muslim nggak mesti jadi orang arab. muslim amerika tentu nggak bisa menghilangkan ke-amrik-annya. muslim indonesia tentu nggak bisa menghilangkan ke-indonesia-annya. dll. Seperti huruf ha yg sebagian orang jawa susah menyebutkannya dengan lafal orang arab, atau orang jepang yang pasti susah ngucapin huruf la,atau orang bali yang unik klo ngucapin huruf ta, atau orang dompu yang susah ngucapin ra dengan lafadz ro, orang banjar yang juga nggak bisa sepurna ngucapin huruf ra. Itulah ekspresi, beda-beda, namun disitulah letak keindahannya

  47. 47 Neo Forty-Nine 19 August 2007 at 17:03

    @junaputra
    Nampaknya anda setuju betul dengan “Perbedaan Adalah Rahmat”😐😐😐

  48. 48 rahmat 28 August 2007 at 21:26

    Karakter anak muda, itulah namanya. Idealis, militan,mengebu-gebu dan sedang dalam proses mencari jati diri. Ada positip dan ada negatip dan itu sudah dari sononya. Mau dibahas lagi, buang waktu dan energi. Menghargai karya sesesorang adalah berjiwa besar, Indonesia Raya dan perjuangan kemerdekaan, adalah karya anak bangsa. Dan itu suatu fakta dan harus kita akui, yang turut serta menghantarkan kita-kita saat ini bisa main internet seperti sekarang. Berjuanglah terus. trims

  49. 49 Neo Forty-Nine 28 August 2007 at 23:11

    trima kasih kembali. Saya memang masih muda kok…

  50. 50 sh1nch1 4 October 2007 at 16:45

    Ehmm perbedaan adalah rahmat… yang namanya rahmat pasti GeEr Neh….

    beda tapi satu.. satu tapi tak sama…
    😀😀

  51. 51 Tuhan, Asli atau Palsu? 14 November 2007 at 01:44

    Postingnya sangat menarik.

    Ini saya ketemu sebuah artikel tentang asli atau palsunya Tuhan: http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2004/6/6/opini.html

  52. 52 Anis Butti 30 January 2008 at 16:36

    mengkopi l;agu dari internet cd MP3


  1. 1 islam turun di arab tapi bukan cuma untuk orang arab « Surga-Neraka’s Weblog Trackback on 9 August 2007 at 19:25
  2. 2 Pelajaran di BOTD « Zona Koruptor Trackback on 10 August 2007 at 20:32
  3. 3 Iqro « Generasi Biru Trackback on 11 August 2007 at 09:15
  4. 4 Tulis postingan offline,.. bisa ga sih? « MasBro . Fahroe Trackback on 18 August 2007 at 04:54
  5. 5 Tulis postingan offline,.. bisa ga sih? « Blognya fahroe Trackback on 20 February 2010 at 20:03

Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Twitter

  • Laporan kepada @pln_123 , hari ini sdh terjadi pemutusan aliran listrik untuk kesekian kalinya di Banjarbaru dengan durasi yg cukup panjang 23 hours ago

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: