Aku. Aku tak perlu sebutkan namaku. Nanti ada yang tersinggung. Yang jelas aku hanya ingin berbagi kisah. Aku adalah anak Muslim, lahir dari orangtua yang keduanya Muslim. Meskipun bukan Muslim macam Ustadz ataupun anak anak pesantren namun aku mendapatkan bekal pengetahuan agama yang lumayan. Sejak kecil aku sudah dimasukkan TK Al Qur’an. Juga dipanggilkan guru agama setiap malam untuk menceritakan riwayat dan sejarah Islam.

Sejak kecil hingga kini aku bersekolah selalu di sekolah negeri. Namun karena aku tinggal di kota yang cukup metropolis dan memiliki masyarakat dari unsur unsur yang berbeda. Maka sejak kecil aku sudah punya teman teman yang kebetulan tempat ibadahnya berbeda dengan tempat ibadahku. Ada Kristen, ada Hindu, dan Buddha. Aku tak pernah pilih pilih teman, karena bagiku mendapatkan 1 teman jauh lebih sukar daripada mendapatkan 1000 musuh.

Aku sekarang selangkah lagi menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah. Namun sejak saat ini aku juga merasa gamang dengan keislamanku yang sekarang. Aku adalah anak yang lumayan nakal karena aku suka mabuk dan main judi. Orang tuaku sudah tak terhitung lagi dalam menegurku. Kakekku yang dituakan di kampungnya juga pernah turun tangan. Namun bagiku aku sudah tak peduli. Aku ingin hidup bebas, maka akupun sering tak ada di rumah. Aku juga bekerja membantu temanku yang tukang bangunan untuk mendapatkan uang karena aku sebisa mungkin tidak mau minta uang lagi dengan orang tuaku.

Kelulusanku pun tiba. Aku lulus, meski bukan yang terbaik ataupun yang terjelek di sekolahku. Aku pun akhirnya kuliah. Aku sudah menyiapkan semuanya. Hasil menang judi dan hasil kerja kerasku selama menjadi tukang bangunan sedikit demi sedikit kukumpulkan untuk biaya masuk kuliah. Makanya setiap berjudi aku selalu berprinsip pantang kalah, tak peduli bagaimanapun caranya. Serta aku selalu habis habisan dalam bekerja.

Kini setelah sekian semester kulalui, aku makin gamang dengan keislamanku. Katanya orang yang sholat melatih disiplin, nyatanya para pegawai tata usaha yang Islam dan rajin sholat semua itu selalu terlambat datang. Katanya orang puasa itu penyabar, kenyataannya tak sekali aku dimarahi mentor mentorku yang suka puasa Senin Kamis itu gara gara aku suka membahas saat mereka lagi ceramah. Katanya aku suka melawan dan menuhankan akal. Termasuk saat aku meragukan bahwasanya “Bunga ataupun tumbuhan lainnya itu bukalah makhluk bernyawa”. Mereka bilang aku sudah tersesat.

Katanya Muslim itu bayar zakat supaya berbagi dan peduli dan saudaranya. Namun aku sudah liat sendiri Muslim Muslim pelit saat aku bekerja menjadi tukang bangunan. Dengan berbagai alasan dan dalih mereka memotong gaji kami. Mereka juga..ah sudahlah, pokoknya aku banyak ketemu Muslim kaya yang pelit bin kikir alias medit bin bakhil. Orang yang sudah pernah naik haji katanya alim. Nyatanya pak haji pemilik kostku itu tiap hari ikutan gabung main judi. Dosenku yang haji itu juga menyediakan kesempatan buat anak anak cewe agar dapat nilai tinggi dengan syarat harus mau datang kerumah beliau. Dan anak anak cowonya disuruh menghubungi beliau untuk membicarakan pembayaran untuk nilai. Ada apa? Apa agamanya yang salah?

Kalau memang sholat itu menyehatkan dan mendisiplinkan. Aku yang ga pernah lagi sholat ini bisa lebih disiplin daripada Pak Haji dosen yang sering telat itu. Aku juga tidak sakit sakitan macam temanku seangkatan yang berjidat hitam yang sekarang hampir koit terbaring di rumah sakit dengan penyakit jantungnya itu. Badanku kekar berotot karena hampir tiap hari aku bekerja berat. Semuanya aku dapatkan bukan oleh didikan sholat. Jauh lagi didikan guru guru agama dan mentor mentorku.

Kalau memang Muslim itu bersaudara, kenafa tetanggaku yang kebetulan janggutnya lebih lebat dan istrinya berjubah itu di usir dan dicap bid’ah bahkan kafir? Kalau memang orang orang Muslim itu suka bayar zakat. Kenapa aku bisa nyumbang mesjid lebih banyak dari si Arab juragan toko obat kuat itu waktu ada acara Isra Mi’raj?

Tibalah aku pada kesimpulanku…. aku tak perlu Islam! Aku mau pensiun jadi Muslim! Aku juga tak perlu agama lain. Mending aku jadi manusia ciptaan Allah yang bebas. Aku merasa Islam mengekangku. Mau belajar musik dibilang haram. Mau kenalan sama cewe dibilang haram. Mau main bilyar dibilang haram. Mau bersalaman dengan lawan jenis saja dibilang haram. Aku tak butuh semuanya yang digembar gemborkan pemuka pemuka Islam yang suka konser pake Toa itu. Biarkan aku hidup bebas. Yang penting aku ga nyolong, ga nodong, dan ga menghamili anak orang….

*Kisah ini bukan nyata. Jadi kalau ada yang merasa tersinggung. Berati pernah mengalami. Minimal pernah triak triak ceramah pakai Toa sehingga tetangganya berhenti jadi Muslim!*