Si anak memandang ke meja itu
Tersusun tidak rapi piagam dan medali
Untuk apa semua itu?
Tetesan keringat hanya terbayarkan oleh janji janji

Anak itu merenung
Masihkah mimpinya akan dikejar
Melihat semua medali yang sempat terkalung
Hanya menyisakan rasa hambar

Dari seorang anak mantan atlet. Yang semua prestasinya hanya mejadi pajangan dan kenangan. Hingga akhirnya dilupakan

Ah…sudah lama tak berpuisi. Panggilan tentang kekangan kebebasan seni mengingatkanku pada Arts have no grammatical and lexical error. Surat ini mungkin menjadi pemicu…kenapa Kang Adhi, Bang Fertobhades, Danalingga dan tentunya Kekasih tercinta menuliskan hal hal bersifat simpatik pada pemberangusan karya seni. Merdeka dari apa kita? Bersuara dan berpendapat saja diberangus? Mungkin besok besok memandang si buta dan tuli yang pengecut beserta penerusnya kelakpun bakalan diharamkan………

*diteriakkan denga lesu*
Selamat Tujuhbelasan…….. Merdeka (dari apa?)……..