Cerita Tentang Bahasa

Komputer masih dititipkan di toko komputer, sekarang saya minjam laptop orangtua untuk menulis. Kali ini tidak menggunakan OpenOffice lagi. Entah kapan tulisan ini bisa di publikasikan. Maklum jarang konek internet. Tapi sebaiknya saya tuliskan dulu beberapa rancangan saya sebelum lupa. Itu juga bakalan ditulis kalau lagi ada kemauan.

Karena menulis bagi saya, yang utama adalah kemauannya dulu. Soal topik bahasan nanti bisa dicari kalau kemauan menulis sudah muncul. Jadi inilah beberapa calon calon tulisan dan yang bakalan saya lakukan untuk blog ini:

  1. Menulis tentang kerusakan alam (Lagi? Kan tadi udah?)
  2. Menulis tentang 19 Oktober
  3. Menulis tentang perbedaan Hari Raya Idul Fitri
  4. Menulis tentang problem saat ber-Ubuntu Linux
  5. Kembali ke fitrah asal dan prinsip awal dengan menambahkan satu kategori lagi untuk blog saya yaitu: Lorong Hitam

Okey. Enaknya yang mana dulu ya? Mungkin bisa saya mulai dengan cerita hari ini dulu. Eh salah, maksud saya cerita tentang tanggal 17 Oktober 2007 Pukul 05:30. GMT +08:00. Ceritanya apa? Ceritanya hari ini saya bangun pagi lagi. Karena malam sebelumnya saya berhasil tidur cepat. Jam berapa tidurnya? Jam 2 pagi!

Kenapa dikatakan tidur cepat? For your information: Saya sudah sekitar 2 bulan tidak pernah ketemu pagi. Karena biasanya pada pagi hari saya baru saja tidur. Selama beberapa waktu belakangan ini, saya selalu tidur setelah adzan subuh berkumandang di Langgar sebelah rumah. Alias sudah sekitar dua bulan saya hanya bisa tidur pada pagi, siang, dan sore hari. Sedangkan malam pada malam hari, saya sudah merasa tidak mengantuk lagi.

Apakah saya terserang gejala insomnia? Apakah saya terkena insomia? Insomnia kelas berat atau kelas bantam? Atau mungkin insomnia kelas bantam junior, insomnia kelas bulu? Versi apa? Versi WBA? WBO? IBF? Atau versi WBC? *Pletak!!! Ini bukan membahas soal tinju tauk!*. Oh iya, intinya sich saya susah tidur. Seperti halnya saat saya menulis ini menggunakan laptop merek Axioo, dengan Intel Celeron, 512 MB berkapasitas 40 Gigabyte yang sedang menopang program Microsoft Office Word 2003 ini.

Saat menulis saya sudah tidak mengantuk. Padahal tadi saya sudah berusaha tidur sebelum pukul 12:00 waktu setempat. Sayangnya, gara gara makan mie, ngantuknya kekenyangan dan akhirnya pergi meninggalkan saya.

Aneh? Apa yang aneh? Bahasa yang saya gunakan yang aneh. Meskipun tergolong dan terkategorikan sebagai bahasa Indonesia. Namun merasakan oleh saya bahwasanya bahasa indonesia yang saya gunakan untuk menulis tidaklah sepadan dan sesuai dengan instruksi dari bapak menteri Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) maupun Kamus Besar Bahasa Indonesia. *Dari tadi nulis muter muter. Maunya apa sich?*

Baiklah. Mari belajar berbahasa yang baik, sesuai ejaan baku. Serta belajar menulis seperti apa yang sering dikatakan oleh orang bule sebagai to the point. Alias langsung pada intinya, tidak usah berbelit belit sampai sembelit atau perut melilit.

Kembali pada cerita pada tanggal yang sebelumnya sudah tersebut di paragraf sebelumnya. Pagi hari, setelah untuk pertama kalinya dalam jangka waktu yang terkesan cukup lama, saya berhasil bangun pagi. Setelah jalan jalan menikmati udara pagi yang konon segar dan sehat itu, saya pulang ke rumah, lantas melanjutkan kegiatan saya dengan membaca.

Membaca apa? Membaca file yang merupakan hasil simpanan dari menjelajah dunia maya. File tersebut adalah file yang menurut terminologinya orang barat disebut sebagai HTML page. Alias halaman berekstensi HTML.

Apakah isi halaman berekstensi HTML tersebut? Isinya yang tersimpan adalah tentang Bahasa Indonesia versi Wikipedia. Meskipun tentang Bahasa Indonesia, namun saya menyelamatkannya sebagai (save as) halaman dalam bahasa Inggris. Dimana halaman tersebut secara cukup terperinci menjelaskan tentang Bahasa Indonesia dengan bahasa pengantar yaitu bahasa Inggris.

Sementara itu, sore harinya, saya membeli sebuah buku tentang Iwan Fals, yang ditinjaulah dirinya secara karya sastra dan secara gaya bahasa, begitulah kira kira ringkasnya.

Nah, cukup sudah rasanya menulis dengan hasil yang memutar mutar tidak karuan. Mari kembali konsisten pada topik awal ang ingin disampaikan, sekalian to the point. Sebenarnya cerita tanggal tujuhbelas Oktober tahun 2007 Masehi adalah menceritakan tentang seorang anak manusia yang dalam sehari telah menemukan kembali fitrahnya pelajaran baru tapi lama sekalian pelajaran lama tapi baru.

Apakah itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah pelajaran berbahasa secara umum. Pelajaran berbahasa Indonesia secara khusus. Si anak manusia terbayang lagi semua kenangan saat belajar tentang awalan, akhiran, dan sisipan. Juga tentang pengulangan, majas personifikasi, metafora, hiperbola, hingga akhirnya yang paling baru ditemukan olehnya yaitu bombasme.

Bombasme. Entah itu sudah diketemukan sejak lama. Seumuran dengan saudara saudara semajasnya seperti metafora, personifikasi, hiperbola, litotes, totem pro parte, dan pars pro toto, atau bahkan mungkin saudara saudaranya semajas yang kurang ajar dan kualat bernama Satire dan Ironi. Ataukah memang si bombasme ini hanyalah adik semajas dari mereka?

Yang jelas, majas bombasme baru pertama kali di dibaca oleh si anak saat membaca buku berjudul: Fals. Nyanyian Ditengah Kegelapan. Hasil tulisan Mokoo Awe. Sedikit kutipan dari buku tersebut tentang majas bombasme adalah

Bombasme adalah sarana retorika yang menyatakan sesuatu hal atau keadaan yang merupakan sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal. Pemakaian bombasme ini banyak terdapat dalam lirik lagu yang bertemakan kehidupan rakyat kecil dan protes sosial.

Sampai disitu dulu. Penulis menyebutkan bahwasanya bombasme adalah majas. Sementara si penulis buku menyebutkan bombasme sebagai sarana retorika. Dasar penulis mengatakan bahwasanya bombasme adalah majas, karena sebelum topik bombasme terdapat topik hiperbola yang selama ini di ketahui penulis sebagai majas. Sementara penulis buku tersebut tentunya mempunyai dasar dan daftar pustaka yang kuat pula untuk memperkuat tulisannya. Daripada diributkan, lebih baik dilanjutkan kepada kutipan berikutnya yaitu

Sedanau nanah dari matamu

Tak mampu jatuhkan hati mereka

Serimba luka di dalam jiwa

Juga tak berarti

Kutipan dari apakah itu? Kutipan tersebut berasal dari potongan lirik lagu Iwan Fals yang judulnya adalah PHK. Kutipan selanjutnya dari buku tersebut

Cairan yang keluar dari air mata berupa air mata yang bening, tak berwarna dan tak berbau. Sementara dalam lirik lagu tersebut dikatakan dari mata keluar ‘sedanau nanah’. Padahal nanah merupakan cairan yang keluar dari sebuah luka yang sudah membusuk, berbau, dan pekat. Pemakaian kata ‘nanah’ ini untuk mebuat kesan bahwa tangisan yang dilakukan merupakan penderitaan yang sangat mendalam. Bahkan dalam lirik lagu tersebut masih dikatakan bahwa nanah yang keluar dari mta sebanyak satu danau sehingga semakin menambah kesan yang tragis………………..

Kalau melanjutkan pembahasan mengenai segala macam tetek bengek antek anteknya bahasa dan karya sastra. Ratusan halaman, bahkan mungkin ribuan halaman Microsoft Word tidak akan cukup untuk menggambarkan dan mewakilinya serta menyampaikannya. Pendeknya, ada banyak hal yang bisa dipelajari, didalami dan digali. Untuk kemudian diperdebatkan atau diperincangkan maupun di bagi bagi menjadi sub topik yang lebih spesifik dan detail. Atau mungkin di dekonstruksi, di restorasi, atau direshuffle?

Maka dari itu, mulailah belajar berbahasa yang baik dan benar. Minimal yang mudah dimengerti. Sebenarnya manusia Indonesia sudah tau, sudah belajar dan sudah pernah menerapkan pelajaran berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Hanya saja, banyak yang tidak suka menerapkannya. Apalagi membiasakannya.

Wajar, sangat wajar. Apalagi dalam lingkungan dunia maya macam blog yang mencantol di wordpress, blogspot, blogsome, blogdrive, goblogmedia dan lain sebagainya. Atau berbagai forum online lainnya. Semua lingkungan tersebut dengan senang hati menerima adanya pemakaian Bahasa Indonesia jenis slang, kasar, jorok, atau bahkan yang tidak lazim maupu yang sok intelek dan bertele tele sampai yang benar benar membingungkan pembacanya sendiri. Pun juga bahasa es mambo, es campur dan es pelangi seperti Bahasa Indonesia campur Arab, Bahasa Indonesia campur Inggris, Bahasa Indonesia campur bahasa daerah dan lain sebagainya.

Mengapa terjadi fenomena seperti itu? Penulis berpendapat bahwasanya kejadian luar biasa ini terjadi karena:

  1. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional tidak mampu mengakomodir atau memfasilitasi penyampaian ide dan fikiran atau gagasan bahkan doktrin dan paksaan yang ingin disampaikan oleh para penutur bahasa itu sendiri. Contoh jelas baru saja terjadi dimana Bahasa Indonesia tidak mampu mengakomodir atau tidak sepenuhnya mampu memfasilitasi penyampaian ide mengakomodir itu sendiri menjadi kata kata yang represetatif.
  2. Bahasa Indonesia terlalu kampungan, tidak gaul, maupun tidak bisa menjamin masuk syurga seperti bahasa Arab, maupun tidak lengkap sehingga penuturnya malas menggunakannnya. Dan lebih suka menggantikannya dengan bahasa yang lebih keren, lebih agamis dan syurgawi, lebih intelek hingga lebih gaul.
  3. Penuturnya sendiri lebih bangga dengan bahasa lain. Sehingga tidak berminat menggunakan Bahasa Indonesia. Atau lebih suka mencampurkan bahasa lain kepada Bahasa Indonesia dengan dalih yang berbagai macam dan beragam versi.
  4. Bahasa Indonesia bukan bahasa yang bisa menjamin masuk surga. Bahkan bahasa yang mengandung lemak babi yang bisa membuat penuturnya masuk neraka. Kenapa begitu? Karena bahasa Indonesia itu plural. Sebab terdiri dari serapan pluralisme latar belakang bahasa dan budaya. Dimana pluralitas, plurarisme dan sejenisnya itu dekat dengan sekularisme, dan sekularisme itu dekat dengan rekayasa dan strategi penghancuran umat oleh kaum Barat, Kafir, Kapitalis dan Yahudi laknat terkutuk!
  5. Silakan tambahkan pendapat anda para pembaca dan komentator.

Sudah mulai meracau tidak karuan nampaknya. Oh, pantas. Sudah hampir pukul 3 subuh. Sekarang saya harus memaksa mata saya untuk terpejam. Pesan: Pergunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam menulis blog. Minimal berusahalah untuk diri anda sendiri dulu. Oh ya. Pesan itu juga ditujukan dan ditekankan kepada penulis. Semoga kelak penulis bisa menulis tulisan selanjutnya dengan bahasa Indonesia yang lebih baik dan benar. Amin. Semoga terkabul. Selamat tidur.

12 Responses to “Cerita Tentang Bahasa”


  1. 1 cK 19 October 2007 at 15:09

    vertamax! yay!:mrgreen:

  2. 2 zal 19 October 2007 at 15:39

    hmmmm, jelas kesal dengan yang tak sefaham…Bang Farid, kayaknya letak faham bukan pada pandai membaca…ada sesuatu pada relung yg hrs ditambah elemennya…
    berbuihpun mulut menjelaskan, milyaran tulisan tertulis, jika dengan secepatnya menganggap mengerti, maka pemahaman tidakkan mendalam…, rasanya seandainya setiap insan membaca, dan menahan diri untuk tidak buru-buru, meskipun sudah dimulai denga qamat…dan memasuki relung fikiran penulisnya…tidak mustahil akan sampai…

  3. 3 istrimu 19 October 2007 at 22:00

    maafkan aku, yang mungkin salah satu penyebab insomnia kamu kali ini…

    mengenai postingan, ah…terlalu panjang sayang…
    sudah kembalikah semangat hidupmu yang sempat hampir hilang itu?

  4. 4 syafriadi 20 October 2007 at 01:38

    klo bahasa indonesia kampungan..
    trus yg kotaan gmn bos?😀

  5. 5 Fortynine 22 October 2007 at 17:32

    @zal: Membaca dan faham. Untuk jadi bijaksana. Semoga saja kita semua bisa..

    @istrimu: Semangat? ga tau deh. Yang jelas insomnia kali ini karena harddisk yang kena virus

    @syafriadi: Wah, saya juga orang kampung Mas

  6. 6 Xaliber von Reginhild 26 August 2008 at 22:36

    Bombasme? Terdengar seperti hiperbola sekaligus kiasan.😀

    Kalau saya sih banyak yang menemui orang yang beralasan bahwa Bahasa Indonesia itu tidak gaul dan sudah ketinggalan zaman. Terlalu kaku. Jadi kalah keren dengan bahasanya Chincha Lawra. Padahal sebenarnya bisa bagus juga.

  7. 7 Xaliber von Reginhild 26 August 2008 at 22:37

    Duh, maap, saya baru sadar kalau ini postingan lama. ^^;


  1. 1 Bahan Acuan « Generasi Biru Trackback on 25 December 2007 at 12:34
  2. 2 Sekuel: Trik Jitu Sejuta Pengunjung dan Komentar « all hail rozenesia™ Trackback on 6 January 2008 at 03:37
  3. 3 Boxing » Cerita Tentang Bahasa Generasi Biru Trackback on 11 March 2008 at 13:10
  4. 4 63 Tahun? « Generasi Biru Trackback on 17 August 2008 at 12:52
  5. 5 Gunawan Rudy dot Com » Sekuel: Trik Jitu Sejuta Pengunjung dan Komentar Trackback on 27 August 2008 at 16:45

Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: