Lebaran yang Berbeda

Perayaan Idul Fitri tahun ini kembali berlangsung dalam hari yang berbeda. Yang bikin gara gara masih sama pelakunya dengan tahun tahun yang terdahulu. Siapa lagi kalau bukan pihak Muhammadiyah versus Nahdatul Ulama dan Pemerintah. Seperti biasa juga, Muhammadiyah mengumumkan perayaan Idul Fitri dengan tempo yang lebih cepat daripada dua musuh besarnya yang suka sekali berkolaborasi itu (NU dan Pemerintah). Muhammadiyah mengumumkan perayaan Idul Fitri jatuh pada hari Jum’at. Lebih cepat satu hari daripada Pemerintah dan NU yang akhirnya menetapkan hari Sabtu sebagai hari raya Idul Fitri.

Rapat digelar. Namun keputusan tetap sama. Mari kita membedakan diri dari Muhammadiyah! Barangsiapa yang berlebaran pada hari Kamis. Dia adalah kaum Muhammadiyah. Dan mereka adalah bid’ah!!

He he he. Itu mungkin hiperbola dari saya saja. Bisa juga doktrin tersirat yang ingin disampaikan oleh pemerintah dan NU. Jangan salahkan saya, karena siapapun berhak menilai hasil dari rangkuman kejadian yang terjadi. Hasil apa yang akan terjadi, dan bagaimana pandangan masyarakat, tidak bisa sepenuhnya dikendalikan oleh Pemerintah yang punya kerjaan memecah belah umat.

Sama dengan Death of the Blogger hasil tulisannya seorang blogger yang juga psikolog. Pengumuman tentang perbedaan ketetapan tanggal 1 Syawal dan perbedaan perayaan Idul Fitri bisa dimaknai apa saja oleh seluruh manusia yang ada di bumi ini. Salah satunya adalah pemaknaan seperti yang saya tuliskan dengan cetak tebal itu.

Sekarag saatnya saya sedikit bernostalgia ke jaman Orde Baru. Saat si Mbah Harto yang sakti dan kaya itu masih berkuasa. Saya sendiri lupa persisnya kejadiannya tahun berapa. Yang saya ingat masa itu adalah masa pertama kalinya saya merasakan perbedaan perayaan lebaran.

Untuk lebih mudahnya kita ambil saja tanggal tanggal di tahun 2007 ini sebagai pedoman. Pada masa itu, hari raya Idul Fitri jatuh pada hari Sabtu tanggal 13 Oktober 2007. Namun itu baru menurut penulisan tanggal merah di kalender. ada tanggal 11 Oktober 2007, alias hari Kamis yang juga saat itu dikatakan sebagai tanggal 28 Ramadhan.

Seperti biasa, saya dan anak anak sebaya berangkat ke Langgar. Namanya juga anak anak, sebenarnya saya dan teman teman berangkat ke Langgar bukan untuk sholat taraweh. Melainkan untuk MEROKOK! Karena anak anak masih dilarang merokok, maka anak anak sekampung saya selalu janjian utuk keluar rumah. Taraweh adalah senjata sakti yang bisa membuat kami semua keluar rumah. Kemudian kami berkumpul di dekat Langgar untuk mencari tempat sunyi buat bisa merokok. Tidak lupa pula kami mengumpulkan uang jajan untuk beli sebungkus rokok buat diisap secara berjamaah.

Biasanya kalau sudah begitu, kami bakalan lupa waktu. Karena terlalu asyik mengisap asap rokok sekalian bersenda gurau. Pernah suatu waktu saya pulang ke rumah pada saat orang Taraweh bahkan tadarus sudah bubar. Semua gara gara kesyikan bermain dan merokok bersama teman teman.

Seperti halnya anak kecil jaman kami kebanyakan. Kami juga dititipi buku Pelajaran Berdusta dari sekolah. Buku yang biasanya harus diisi dengan daftar berapa hari berpuasa, berapa hari taraweh plus paraf imam tarawehnya. Berapa kali sholat dalam sehari selama bulan puasa. Berpa ayat Al Qur’an yang dibaca setiap harinya, dan lain sebagainya.

Saya? Saya memang sudah hobi/bakat berdusta sejak kecil. Setiap harinya saat bulan Ramadahan sholat saya dalam daftar di buku itu selalu full. Karena orang tua saya selalu menandatanganinya dan menconteng kolom “Ya” sebagai tanda mereka mengetahui bahwasanya saya memang sholatnya lima kali sehari. Padahal? He he he, untuk urusan ini biar Sang Pencipta saya saja yang tau bagaimana yang sebenarnya.

Untuk taraweh plus paraf imam. Biasanya saya titipkan buku itu keada salah seorang teman saya yang memang rajin taraweh untuk memintakan paraf imam saat taraweh. Atau saya matikan dulu rokok saya, beranjak dari Blok M, untuk kemudian bergegas ke Langgar saat sholat taraweh akan usai untuk meminta tanda tangan imam.

Malam itu. Seperti biasa, setelah berbuka puasa saya keluar rumah dengan alasan taraweh (padahal sebenarnya mau merokok berjamaah bersama teman teman sebaya). Seusai sholat Isya, kamipun langsung Allahuma antassalam lantas pulang. Alias melarikan diri menuju Blok M. Blok M adalah sebutan kami untuk tempat tempat kami biasa merokok. Tempatnya bisa rumah tua yang kosong tak berpenghuni, warung warung pinggir jalan yang memang tutup selama bulan Ramadhan. Bisa juga di tempat tempat berumput tinggi sehingga kami bisa terlindung dari pandangan orang.

Klepas klepus asap rokok pun mengepul ngepul dari mulut anak anak bengal ini. Sambil bercanda ceria, sesekali kami memasang telinga terhadap suara dari megaphone Langgar. Biasanya kami melakukan ini agar bisa mengenali suara imam sholat taraweh di Langgar. Sehingga kami bisa menuliskan nama imam sholat taraweh di buku yang siap diparaf. He he he. Kebetulan di Langgar kampung saya dahulu, imamnya cuma ada 3 orang. Yang tugasnya bergantian. Maka dari itu sangatlah gampang buat kami untuk mengenali suara, nama, dan bahkan bentuk paraf mereka bertiga untuk kemudian parafnya kami palsukan. He he he he.

Namun malam itu telinga kami sama sekali tidak tercemari oleh suara suara keras dari megaphone Langgar sebagaimana malam malam bulan Ramadhan sebelumnya. Padahal kami sudah habis habisan pasang gaya manusia bionik untuk mendengarkan suara dari Langgar. Biasanya setiap Langgar dan tempat ibadah lainnya macam Mesjid atau Mushalla di kampung ini dan kampung sekitarnya selalu terjadi adu kencang suara megaphone. Tambah lagi kalau Mesjid yang banyak jemaah Muhammadiyah-nya berdekatan dengan Mesjidnya orang orang NU, dijamin perang megaphone bakalan berlangsung sengit.

Meski sedikit bertanya tanya, anak anak bengal ini masih melanjutkan merokok. Sampai pada jam dimana kami biasanya balik ke Langgar guna mendapatkan paraf imam sholat taraweh.

Yang kami temui saat itu adalah Langgar yang hampir kosong melompong, hanya ada beberapa langganan Langgar yang nongkrong sambil mendengarkan radio. ‘Deg’. Saya sangat terkejut. Taraweh sudah usai. Hal ini berarti bahwa saya melewatkan satu kolom untuk diisi paraf imam. Hasilnya kelak adalah jatah duit lebaran yang bakalan berkurang. Plus omelan orang tua saya karena saya tidak taraweh.

Selanjutnya sayapun berlari sekencang kencangnya ke rumah. Sudah saya niatkan dalam hati bahwasanya sesampainya di rumah nanti saya akan langsung masuk kamar untuk kemudian pura pura tidur. Daripada dimarahi gara gara melewatkan taraweh.-Padahal aslinya memang selalu bolos taraweh. He he he-.

Namun apakah yang terjadi sesampainya saya di rumah? Orang tua saya nampak tenang tenang saja. Bahkan tidak bertanya seperti apa yang sudah saya bayangkan sebelumnya: “Tadi tarawehnya bolos Nak?”. Ternyata mereka sedang menonton televisi sambil menunggu pengumuman hasil rapat keputusan tanggal berapa 1 Syawal akan disamakan dengan tanggalan Masehi.

Keputusan akhir yang kemudian muncul di News Flash di setiap televisi baik swasta maupun pemerintah saat itu. “Idul Fitri jatuh pada taggal 13 Oktober 2007. Namun bagi yang meyakininya, bisa melaksanakan sholat Idul Fitri pada esok hari tanggal 12 Oktober 20007”. Entah kenapa pada saat itu tidak ada tampang oknum oknum pemerintah termasuk menteri agama yang muncul di televisi. Semuanya hanya diumumkan dalam bentuk News Flash.

Otak manusia, otak setiap manusia Indonesia, atau bahkan mungkin tidak hanya otak setiap manusia Indonesia melainkan sampai pada otak otak orang orang lain di luar Indonesia, tentu berfikir apakah gerangan yang menyebabkan terjadinya perbedaan perayaan hari besar keagamaan umat yang agamanya paling banyak mengisi kolom agama di KTP itu?

Setiap manusia Indonesia pada saat itu memiliki fikiran dengan segala warna warninya, beserta versi pendapat masing masing. Sementara saya pada saat itu berpendapat bahwasanya kejadian ini adalah akal akalannya Mbah Harto saja. Jauh sebelum hari raya Idul Fitri mendekat, si Mbah sudah menyiapkan acara buang duit besar besaran yang namanya sebesar judul acaranya Takbir Akbar Bersama Presiden di Mesjid Istiqlal.

Acara besar besaran yang juga dibesar besarkan itu rencanaya dilaksanakan pada malam hari tanggal 12 Oktober 2007. Jikalau pemerintah (Mbah Harto) menerima pendapat Muhammadiyah-yang saat itu juga mengumunkan bahwasanya Ramadhan cuma 29 hari-, maka rencana besar besaran Mbah Harto bakalan gagal. Padahal sejak beberapa hari sebelum hari itu termasuk hari Kamis, pemberitaan tentang persiapan acara itu sudah habis habisan juga. Kalau Idul Fitri jatuh pada tanggal 12 Oktober 2007. Maka acara tersebut sudah basi dan tidak bisa lagi disebut Takbir Akbar.

Jikalau mungkin mayoritas masyarakat pada saat itu menganggap bahwasanya yang hari raya duluan adalah kaum minoritas. Saya justru menganggap semua YANG BERHARI RAYA BELAKANGAN ADALAH PARA PENDUSTA AGAMA DAN CALON PENGHUNI NERAKA JAHANAM!!

He he he. Itu pendapat sekaligus pandangan saya dahulu kok. Meski sampai sekarang saya tidak pernah ikut hari raya yang ditetapkan oleh pemerintah. Bukan karena saya fanatik apalagi sampai menuhankan Muhammadiyah. Bukan juga karena saya ingin membedakan diri dan tidak mau disebut seorang penganut aliran NU. Melainkan karena saya memang sudah malas puasa. Kalau ada yang cepat, kenapa harus lambat? He he he he he.

Mulai dari sana sampai seterusnya. Jikalau saya masih ketemu Idul Fitri. Siapapun yang mengumumkan hari raya Idul Fitri jatuh lebih cepat, saya pasti ambil yang cepat. Silakan mau mencap saya seorang pengikut atau penganut Muhammadiyah atau NU. Saya sudah bosan dan tidak mau perdulikan segala macam urusan konyol macam itu.

Sejak kecil saya sudah di paksa untuk membesarkan sekalian memperbesar dan membesar besarkan perbedaan tentang orang orang NU dan Muhammadiyah. Sejak kecil saya sudah dikasih makan makanan batin berupa sholat taraweh 20 rakaat plus witir 3 rakaat itu adalah kerjaannya orang orang NU. Sedangkan kalau mau jadi seorang pengikut Muhammadiyah saya harus sholat taraweh 8 rakaat plus 3 rakaat sholat witir.

Pada kenyataannya, yang 8 saja saya malas melaksanakan. Apalagi yang 20. He he he. Makanya kalau saya sholat taraweh pun, sama seperti keputusan hari saya Idul Fitri. Saya pasti ambil yang cepat. karena sekali lagi saya katakan. Kalau ada yang cepat, kenapa harus lambat?

Balik lagi ke hari hari dimana si Mbah membutikan kekuasaannya yang absolut-bahkan sampai sampai bisa mengalahkan majalah bertaraf internasional sekelas Time-dengan semena mena. Pada pagi hari tersebut, di hari Jum’at 12 oktober 2007. Saya bersama keluarga, dan penganut aliran Muhammadiyah cepat lainnya melaksanakan sholat Id. Diiringi tatapan kosong oleh para pengikut NU orang orang yang lain yang tidak merayakan Lebaran pada hari yang sama. Disambut tatapan mata iri oleh teman teman sebaya saya, karena saya sudah makan makanan ringan dalam perjalanan pulang sementara sebagian teman teman saya masih harus puasa.

Ada juga teman saya yang ikut aliran keluarganya. Tidak sholat sunat Idul Fitri pada hari Jum’at. Tetapi juga tidak puasa di hari Jum’at. Sehingga mereka sholat Id nya ikut hari Sabtu. Jadi meskipun percaya pada kecepatan versi Muhammadiyah, mereka masih malu malu untuk murtad dari NU. Sehingga mereka memikirkan cara untuk tetap tidak ingkar dari kesan sebagai pemeluk NU, meski sebenarnya sudah mendukung dan tertarik Muhammadiyah. He he he he.

Besok besok kalau ada Idul Adha. Maulid Nabi, Isra Mi’raj. Atau tahun baru Hijriyah. Yang merasa Idul Fitrinya duluan silakan duluan merayakan hari hari tadi, pun yang belakangan juga jangan bersama sama merayakannya. Bukankah kalian sudah memutuskan untuk menjadi beda? Jadi yang Idul Fitrinya belakangan. Naik Hajinya nanti juga harus belakangan. He he he he.

Bagi saya, blogger yang baik adalah blogger yang selalu berniat bahkan hingga mampu membantu Para Pengunjung Blog melalui tulisan/gambar/video/suara yang ada di blognya. Kalau tidak bisa membantu, untuk apa mem-publish tulisannya di dunia internet. Kalau memang nge-blog hanya untuk pribadi, kenapa tidak hanya disimpan di hardisk? Kenapa harus disebar-sebar pada publik? Kalau tidak mau dibaca publik, kembali saja ke jaman 80-an, nulis di diary kertas merah jambu dengan sampul plastik Hello Kitty juga yang berwarna merah jambu.

Kutipan dari artikelnya Bang Arif Kurniawan yang saya kagumi itu membuat saya memikirkeun bagaimana caranya supaya tulisan saya yang maha dahsyat ini bisa dinikmati oleh para pembaca lainnya. Kata lainnya adalah saya mengajak pembaca lainnya untuk berbagi. Sekalian mengais traffic.

Adalah mustahil bagi saya untuk berdoggy style ria di blog blog orang lain demi mempublikasikan artikel atau alamat blog. Maka dengan demikian, saya mengirimkan tembusan tembusan saja. Buat semua yang bersedia menerima tembusan yang saya berikan (kalaupun memang tembus). Saya ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya. Mereka yang dikirimi tembusan:

20 Responses to “Lebaran yang Berbeda”


  1. 1 syafriadi 20 October 2007 at 01:38

    beneran pertama?

  2. 2 syafriadi 20 October 2007 at 01:39

    hehe… hidup lebaran duluan😀

  3. 3 Siw 20 October 2007 at 04:21

    yayaya…
    yang duluan lebaran…😆

  4. 4 istrimu 20 October 2007 at 04:29

    teteeep aja narsis…

    ah, buat saya mo tanggal berapa aja, yang penting ada lebarannya…😀

  5. 5 cK 20 October 2007 at 08:28

    pantesan kamu pamer udah lebaran duluan…

  6. 6 mardun 20 October 2007 at 19:40

    Yang penting puasanya nggak 60 hari😛

    jadi biar aja orang mau lebaran beda-beda, yang penting tidak saling mengobrak apalagi membakar😀

  7. 7 Mrs. Neo Forty-Nine 20 October 2007 at 21:39

    #mardun

    Yang penting puasanya nggak 60 hari

    takut kurus ya Dun?😆

  8. 8 alex 20 October 2007 at 21:51

    Lho? Ini Farid?😯

    *komen OOT*

  9. 9 mardun 21 October 2007 at 01:15

    @siwi, enak aja….. takut lidah kaku karena nggak bisa misuh😀

  10. 10 Istrinya Farid 21 October 2007 at 01:28

    #bukan…
    ini istrinya😀

    betewe, alex lebarannya ikut yang kapan?

  11. 11 Istrinya Farid 21 October 2007 at 01:30

    #mardun
    mardun…kapan kau akan terus begini nak?
    kau mau dimasukkan neraka ya?
    *geleng geleng*

  12. 12 aRuL 21 October 2007 at 02:18

    lah koq yang diskusi mardun sama siwi?
    hehehe…ngak takut shiw suamimu marah?hahaha

  13. 13 alex 22 October 2007 at 13:52

    @ Istrinya Farid

    #bukan…
    ini istrinya😀

    Oh! Ternyata profesor mars…:mrgreen:

    betewe, alex lebarannya ikut yang kapan?

    Saya kan sering maki-maki protes pemerintah, jadi sesekali biar impas, ya saya ikut pemerintah…
    Meski eneg juga liat pemerintah ikut campur urusan beginian🙄

  14. 14 Fortynine 22 October 2007 at 17:34

    @mardun
    Setuju!

    @alex
    Hm…..

  15. 15 ziegrusak 22 October 2007 at 22:02

    mo lebaran jumat atau sabtu sama aja, itu sih tergantung dari keyakinan kita masing2.. yang jelas jgn sampai terjadi saling ‘mencela ato ngomongin’ yang lain karena perbedaan itu (kata bossnya NU dan Muhammadiyah)
    seandainya aja mereka tau apa yang terjadi di kalangan rakyat bawah yang sudah mereka bikin bingung….
    mmmhhh….ane juga bingung, cuma karena dirumah pada lebaran sabtu jd ane ngikut aja dehh…

  16. 16 Fortynine 24 October 2007 at 15:30

    @ziegrusak
    Harusnya sich mereka tau

  17. 17 agorsiloku 25 October 2007 at 16:31

    Weleh… weleh.. tiap kali klik : aku bosan dengan bosan, kok tetap saja.. eh.. rupanya postingannya di sini… trims dapat trekbeknya.
    Jadi alhamdulillah deh…
    maaf lahir batin ya…

  18. 18 Fortynine 26 October 2007 at 13:51

    @agorsiloku: Maaf lahir batin juga Mas. Maaf juga karena saya belum sempat jalan jalan.

  19. 19 morishige 26 October 2007 at 19:31

    waduh, postnya panjang-panjang ya…
    hehe…😀

  20. 20 Syamsuddin Ideris 4 October 2008 at 21:27

    Aku bingung bacanya..perasaan lebaran kali ini serentak dan bareng antar NU dan Muhamadiyah. Eee..ternyata cerita tentang lebaran tahun lalu..betul juga. Aneh bin ajaib, katanya ummat Islam satu kesatuan, ternyata hari raya saja tidak ada keseragaman..subhanallah.


Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: