Preman Berseragam

Bermain. Bermain adalah kebutuhan. Bukan hanya anak anak tapi juga remaja dan orang dewasa perlu bermain. Mulai dari permainan ringan, permainan yang perlu fisik, permainan menegangkan, sampai permainan uang.

Salah satunya adalah playstastion. Jenis ini banyak digemari bukan hanya oleh orang dewasa tapi juga anak anak. Permainan playstation yang paling sukai adalah sepakbola. Lebih tepatnya lagi Winning Eleven. Apa permainan playstation kesukaan anda?

Saya tidak punya playstastion sendiri. Biasanya saya bermain Winning Eleven pada saat menyewa playstation atau saat di rumah teman yang memiliki playstation. Adu klub atau adu negara tidak masalah. Hanya saja, dalam setiap tim yang saya mainkan. Saya selalu berusaha mencari dua tipe pemain yang sangat saya butuhkan.

Penyerang yang cepat, dan pemain tengah berskill tinggi adalah dua tipe tersebut. Bahkan pemain tengah itu adalah lebih penting buat saya ketimbang penyerangnya. Karena saya menyukai permainan yang bertumpu pada satu playmaker.

Adapun pemain pemain tersebut misalnya Ronaldinho, Zineddine Zidane, Kaka,atau Franscecso Totti. Sebagai pemain asli. Hanya Zidane yang saya sukai. Namun saat bermain playstation. Statistik pemain yang harus dicari. Sebenci bencinya saya dengan Rooney dan Beckham. Mereka masih saya pakai kalau bermain playstation karena statistik mereka yang dibuat bagus.

Ada banyak posisi dalam permainan sepakbola. Orang Italia menyebutnya dengan difensore, attacante, trequartista dan lain sebagainya. Kalau di Indonesiakan ada bek tengah, bek sayap, gelandang bertahan, gelandang serang, penyerang lubang dan lain sebagainya.

Pada satu kesempatan, saya pernah membaca di media cetak bahwasanya seorang penyerang lubang dan playmaker adalah dua posisi yang serupa tapi tidak sama. Francesco Totti dan Ricardo Izectson (Kaka) adalah penyerang lubang. Dimana mereka bergerak bebas, bukan hanya untuk membuka ruang bagi para penyerang, tetapi juga mencari sendiri peluang.

Paul Scholes juga bukan playmaker. Pemain bertipe playmaker sejati menurut saya adalah Zidane. Dimana sampai sekarang belum terlihat calon pemain yang bakalan melebihi skill dan ketenangannya. Pemain lain yang bertipe playmaker sejati mungkin Ariel Ortega dan Juan Veron dari Argentina. Atau Thomas Haessler dan Andy Moeller dari Jerman.

Dalam sepakbola yang sekarang dikatakan sepakbola modern. Sebenarnya peranan playmaker tidak lagi penting. Peranan semua pemain sekarang adalah total football. Penyerang tidak mesti hanya menunggu datangnya bola. Playmaker juga tidak harus selalu mengolah bola lama lama. Sekarang semuanya sudah berkembang dan terus berevolusi menjadi permainan sepakbola yang semakin menarik.

Namun tetap saja, dalam setiap tim, selalu ada pemain yang bertugas membuka ruang gerak bagi rekan rekannya, mengumpan dengan tajam dan tepat, serta mencari celah dalam pertahanan musuh guna memudahkan pemain lain untuk masuk ke daerah pertahanan lawan dan menjebol gawang lawan.Bisa juga menarik perhatian pemain lain, sehingga rekan setimnya bisa lebih bebas dan tidak terawasi oleh pemain musuh.

Didier Deschamps saat di Juventus, Andrea Pirlo di Milan, Steffan Effenberg dan Michael Ballack di Bayern Munchen, Dennis Bergkamp di Arsenal, David Beckham di Manchester United, Xavi dan Deco di Barcelona. Pemain pemain itu pada dasarnya adalah pemain pemain yang bertugas sebagai ‘pelayan’ buat rekan rekan setimnya.

Diluar kemampuan bola mati mereka. Tugas utama dari pemain pemain itu adalah memudahkan rekan setim untuk mendapatkan peluang atau mencetak gol. Dengan demikian, saya sebut saja mereka sebagai pemain bertipe ‘pelayan’ buat rekan rekan setimnya.

Biasanya mereka memang kerja keras saat di lapangan. Sekalian mereka juga melengkapi diri dengan kemampuan membidik bola mati sebagai umpan dan sebagai tendangan bebas yang bisa menghasilkan gol. Dan biasanya pula mereka kurang begitu terlihat dan menonjol, namun sumbangannya sangatlah besar.

Mereka biasanya kalah ekspos dengan penyerang, apalagi yang ganteng. Namun keberadaaan mereka tidak bisa dipisahkan dari tim, jikalau menginginkan permainan yang seimbang.

Ada juga pemain pemain yang seharusnya menjadi ‘pelayan’ bagi rekan rekannya namun justru kepingin menunjukkan dirinya dan skillnya. Pemain macam Francesco Totti di Roma, Cristiano Ronaldo di Manchester United, dan Arjen Robben saat di Chelsea adalah contohnya. Selain manja, pemain pemain ini juga selalu ingin terlihat peran sertanya dalam tim. Dan satu lagi, EGOIS!!

Pemain pemain ini adalah pelayan pelayan yang buruk. Sama buruknya dengan manusia manusia yang ceritanya atau tujuannya adalah bertugas sebagai pelayan masyarakat. Siapa lagi kalau bukan Polisi.

Bapak bapak dan ibu ibu polisi adalah pelayan masyarakat. Entah itu hanya sekedar slogan ataukah obsesi, yang jelas saya tidak pernah merasakan layanan mereka kecuali saat mereka memberhentikan kendaraan yang sedang jalan lurus demi kami yang ingin mengambil jalan memutar arah.

Saat membuat SIM, mengurus surat berharga yang hilang dan terkena musibah kebakaran, ataupun lapor kehilangan dan lain sebagainya yang menyangkut urusan dengan polisi. Preman preman berseragam ini suka memalak dan memaksa masyarakat untuk bayar, dan melakukan proses yang susah dan bertele tele.

Tapi hari ini saya cuma mau cerita tentang pak polisi yang tidak tahu diri atau tidak sadar diri. Minimal bapak bapak keparat jahanam terkutuk itu tidak pernah membaca atau tidak mengerti arti “ANDA SOPAN KAMIPUN SEGAN”.

Hari ini saya datang ke kantor Polisi Resot Kota Martapura Kabupaten Banjar bersama teman saya. Dan sambutan pertama yang diberikan kepada kami adalah “Hoy! Parkirnya disana!” lengkap dengan nada kasar dan perintah menyebalkan. Padahal teman saya bukan memarkir kendaraannya ditempat yang dianggap salah tadi, melainkan hanya menurunkan saya untuk kemudian dia sendiri sebenarnya memang berniat memarkir kendaraannnya dengan rapi pada tempatnya.

Okelah, ini sarang kalian, kalian para jahanam terkutuk bisa saja berbuat macam macam saat sedang berseragam lengkap dan berada di sarang kalian. Kami maafkan ketidaksopanan anda yang pertama.

Ketidak sopanan yang kedua adalah tampang beringas dan tatapan yang memandang kami seolah olah kriminal yang baru saja tertangkap basah. Padahal saya dan teman saya datang untuk urusan yang baik baik yaitu mengambil motor yang memang hak saya. Dan yang jelas bukan motor yang kena akal akalan tilangnya keparat jahanam itu.

Kami masih diharuskan menunggu tapi bukan di ruang tunggu. Apa daya kamipun duduk di pagar beton setinggi pinggang di depan kantor polisi.

Tak lama berselang dalam masa penantian kami. Datanglah serombongan Satuan Polisi Poco Poco bersama jahanam jahanam dan keparat keparat lainnya. Mereka baru pulang dari mencari uang dengan cara memeras masyarakat dengan gaya dan kedok sebagai razia penyakit masyarakat.

Salah satu polisi yang bertampang sok sangar dengan sigap turun dari mobil patroli sambil berkata “Dek, duduknya jangan ga sopan gitu. Ini kantor polisi!”. Lagi lagi dengan nada dan gaya bicara yang kasar sekasar kasarnya tanpa ada sopannnya sedikitpun.

He he he. Saya hanya bisa tersenyum kecut. Setelah beberapa saat saya pua pura pindah posisi duduk. Saya kembali mencantolkan pantat saya ke pagar tadi untuk duduk dalam rangka menunggu. Yang tidak sopan itu sebenarnya siapa ya?

Di hari lain masih di kantor polisi yang sama, saya sedang menunggu proses potret untuk pembuatan SIM. Berhubung ruang gantinya penuh sesak. Maka sayapun memilih untuk menunggu di luar. Dan kebetulan di pos terima tamu di kantor polisi ada televisi. Maka sayapun numpang duduk sekalian ikut menonton televisi.

Dua orang keparat berwajah sok suci sedang duduk jaga di sana. Pada awalnya mereka saya kasih senyum manis bak anak TK yang senyum pada gurunya. Dimana mereka menanggapinya dengan tanggapan sedingin kutub. Jadilah senyum saya tidak laku. He he he.

Tidak apa apa. Tujuan saya memang bukan jualan senyum atau pasang tampang manis dengan jahanam jahanam itu. Tujuan saya adalah ikutan nonton televisi dan menghindari sesaknya ruang tunggu.

Saat saya baru datang, kedua keparat ini sedang berbicara tentang masalah keluarga dan tetangga, seperti tetangga mereka yang naik haji, dan anak kecil mereka yang sudah bisa makan sendiri. Entah kenapa setelah saya datang dan ikuta bergabung, pembicaraan mereka juga mulai berubah arah.

Pada waktu itu rambut saya masih sebahu, tidak diikat, mengenakan celana panjang berkantong banyak warna terang dan baju kaos. Kedatangan saya tak lama kemudian dihasi dengan pembicaraan mereka yang seperti ini.

  • Jahanam A: “Pak, kapan naik Haji?”
  • Jahanam B: “Nantilah, tunggu ada uang hasil pungli dulu”
  • Jahanam A: “Kapan lagi pak kalau tidak sekarang. Itukan berbuat baik”
  • Jahanam B: “He he he, maling juga mau naik haji.”
  • Jahanam A: “Maksudnya Pak?”
  • Jahanam B: “Maksudnya kalau maling ditawari, pilih penjara atau naik haji? Pasti malingnya pilih naik haji”
  • Jahanam A: “Masa pak? Bukannya maling lebih suka di penjara, soalnya makan gratis”
  • Jahanam B: “Ah tidak, saya yakin kalau maling lebih suka naik haji. Iya kan dek?”(sambil menatap sinis seolah saya ini maling)

Perbincangan mereka berlanjut dengan topik yang tidak jauh dari menyinggung keberadaan saya yang terus menerus di samakan dengan maling. Hampir tiap kata maling dan penjara terucap, mereka menatap sinis pada saya.

Saya? He he he. Saya bukan seperti yang dituduhkan oleh mereka. Tanpa peduli saya justru memperbanyak tatapan saya kepada televisi. Sampai saat saat dimana giliran saya sudah dekat. Maka tanpa permisi sayapun berlalu dari pos jaga tamu keparat itu.

Mudah mudahan. Akan ada reformasi yang benar benar benar reformasi. Sehingga tidak akan ada lagi preman preman berseragam yang suka memeras masyarakat. Mudah mudahan polisi polisi jangan cuma berani dengan maling jemuran, tapi takut dan tunduk dengan koruptor. Dan mudah mudahan para polisi kelak bisa memahami “ANDA SOPAN KAMIPUN SEGAN”.

Mudah mudahan isi otak mereka tentang orang gondrong bisa diinstall ulang, sehingga tidak lagi semena mena menuduh pria berambut panjang sebagai maling atau mantan narapidana. Mudah mudahan negara ini bisa mengongkosi preman preman berseragam yang lapar itu dengan gaji layak sehingga otak keparat keparat yang sebenarnya tidak begitu pandai itu tidak hanya diisi dengan cara memeras masyarakat tetapi bagaimana mengamankan dan melayani masyarakat. Mudah mudahan juga mereka masih ingat akan sumpah jabatan dan tugas mulia mereka sebagai polisi.

Sebagai informasi tambahan buat semua preman preman berseragam dan yang suka memeras masyarakat. Atau yang suka sok jagoan dan suka mengasari masyarakat. Anda perlu tahu bahwasanya kami bukan takut dengan anda, atau seragam maupun senjata dan jabatan anda. Kami hanya berfikir lebih jernih dan dewasa, dan yang jelas, kami berusaha menghormati profesi anda sebagai polisi.

Maka, jikalau anda memang benar benar merasa diri anda jagoan. Silakan lepaskan seragam anda, lepaskan semua teman teman preman anda, lepaskan semua jabatan anda. Dan mari kita berkelahi dengan jantan. Mari kita berkelahi sebagai sesama manusia yang tidak terikat akan jabatan apapun. Yang ada hanyalah adu jotos atau adu mulut.

Dalam hal ini, saya yakin banyak yang dari anda anda preman preman berseragam yang tidak berani melayani tantangan ini. Apalagi anda yang beraninya hanya karena seragam dan senjata atau kesatuan anda. He he he.

Perlu anda anda sekalian ketahui. Jikalau anda ingin berkelahi sebagai manusia buka sebagai keparat bernama polisi. Banyak orang yang siap menerima tantangan anda. Beranikah anda?

Oh iya bapak bapak dan ibu ibu polisi. Saya sebenarnya tidak seganas itu. Kalau ada yang menantang berkelahi, asal adil dan sama status saya berani. Tapi kalau kemudian saya ditangkap karena saya rakyat sipil dan anda adalah aparat, maka itu namanya anda yang kalah. Karena berkelahi tidak jujur dan bawa bawa nama jabatan. He he he.

Jadi sekali lagi saya tegaskan. Kami warga sipil bukan tidak berani, hanya saja kami berusaha menghormati posisi anda dan kami tidak suka mencari masalah dengan anda para preman berseragam.

Buat semua masyarakat Indonesia yang berharap perubahan lebih baik. Mari kita doakan agar Kepolisian yang sangat kotor ini bisa bersih kembali. Bisa jujur, bisa bersikap ramah sekalian bisa menjadi pelayan yang baik dan pelayan yang sopan buat masyarakat. Amin.

Oh iya. Mugkin sebagian dari pembaca tidak faham apa itu keparat, jahanam, dan preman berseragam. Namun khusus dalam konteks tulisan ini. Kata kata keparat, jahanam, dan preman berseragam ditujukan buat para polisi polisi kotor, sok berani hanya kerena seragam dan jabatan, serta semua polisi korup dan tukang peras rakyat sipil.

Tulisan yang hampir senada.

11 Responses to “Preman Berseragam”


  1. 1 cK 22 October 2007 at 17:48

    vertamax boleh ga?😀

  2. 2 cK 22 October 2007 at 17:56

    haha…judulnya itu lho…:mrgreen:

    saya no komen deh soal beginian…🙄

    *punya temen yang polisi, tapi baek banget dan ganteng pula*

  3. 3 Shelling Ford 23 October 2007 at 13:50

    saya ini aslinya centrocampista, tapi lebih sering diplot sebagai attacante bagian kanan😛

  4. 4 Mrs. Neo Forty-Nine 24 October 2007 at 00:42

    *mo ngomen bagian depannya aja*

    aku juga sering make Juve buat ngelawan anak anak pas PS-an…

    mayan cepet di depan, tapi kadang suka agak nylowor di garis pertahanan tengah.

    tapi, secara keseluruhan, Juve teteplah tim favorit saya, baik di dunia nyata maupun dunia PS
    😆

  5. 5 Fortynine 24 October 2007 at 15:29

    @cK
    Teman teman saya yang polisi juga banyak, tapi biasanya mereka pura2 tidak kenal dengan saya. Apalagi kalau lagi di kantor atau pas saat saya kena tilang.

    @Shelling Ford
    Kalau saya aslinya difensore. Sering berada di bagian kiri. Jadi kalau suatu saat kita bertanding sepakbola. Kita bakalan berhadapan langsung. He he he.

    @Mrs. Neo Forty-Nine
    klub dengan penyerang cepat saat ini. Barcelona!

  6. 6 anas 10 December 2007 at 20:05

    komen dulu panjang banget tuh

  7. 7 erander 28 November 2008 at 18:13

    Pada waktu itu rambut saya masih sebahu, tidak diikat, mengenakan celana panjang berkantong banyak warna terang dan baju kaos.

    Kalo abang ada pada waktu itu, pasti langsung abang tegor : “Baru pulang camping ya Rid?” hahaha😆 .. jadi, kapan haji?

  8. 8 Mr. Fortynine 29 November 2008 at 01:22

    Kalau ada rejeki dan kemampuannya, pastilah akan naik Haji. Cuma sekarang, mampunya itu yang kapan???:mrgreen:


  1. 1 Entah « Fortynine’s Notes Trackback on 10 December 2007 at 12:16
  2. 2 Membaca « Generasi Biru Trackback on 3 November 2008 at 10:02
  3. 3 Soal Test CPNS 2008 « Generasi Biru Trackback on 20 November 2008 at 02:02

Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: