Sikap Nasionalis

Pada suatu hari di dalam hidup saya. Pernah seorang rekan saya yang berlokasi di pulau yang berbeda dengan saya menelepon. Isi percakapannya bermacam macam. Salah satunya adalah soal kehidupan berbangsa dan bernegara. Lebih terperinci lagi adalah soal Indonesia dan Malaysia.

Dia ingin tau bagaimana sikap saya terhadap rentetan kejadian Indonesia versus Malaysia yang sedang heboh dibicarakan. Dengan demikian, di blog ini saya ingin menyampaikan pandangan dan harapan saya.

Indonesia dan Malaysia adalah bertetangga. Paling tidak secara geografis. Ada juga yang menyatakan bahwasanya Indonesia dan Malaysia adalah serumpun. Yaitu sama sama rumpun melayu. Kelanjutan dari masalah serumpun itu bisa dibahas lebih lanjut hingga memakan waktu dan tempat yang teramat sangat panjang. Maka untuk itu lebih baik jika tulisan saya kali ini membahas tentang sikap saya terhadap Malaysia yang mulai macam macam dengan negara tetangganya yang disebut Indonesia.

Bagi saya, apapun yang dilakukan oleh Malaysia terhadap Indonesia, apakah itu mencuri hak cipta lagu daerah, melakukan kekerasan terhadap tenaga kerja Indonesia, ataupun kegiatan lainnya yang bisa memancing perdebatan bahkan perang. Saya sejujurnya sangat prihatin. Meskipun saya dalam hal ini memiliki sikap ganda.

Sebagai orang Indonesia. Yang secara umum lahir, besar, bersekolah, dan mengerti Indonesia dan Bahasa Indonesia. Adalah suatu kewajiban saya sebagai warga negara Indonesia untuk berterima kasih, mencintai, sekaligus membela negara bernama Indonesia.

Adapun sikap saya terhadap Indonesia pada dasarnya adalah benci dan cinta. Meskipun saya sendiri tidak tahu yang mana yang benar benar benci, dan yang mana yang benar benar cinta.

Kalau saya berpendapat bahwasanya semua koruptor di Indonesia harus dihukum mati, lalu semua hartanya diserahkan kepada negara untuk kemakmuran rakyat. Apakah itu adalah kebencian terhadap Indonesia? Ataukah justru sikap dan keinginan saya itu adalah bentuk kecintaan saya kepada negara Indonesia?

Lebih singkatnya. Dalam menyikapi tindakan Malaysia kepada Indonesia, saya sebagai warga negara Indonesia memiliki beberapa harapan. Dimana harapan itu saya tujukan bukan kepada Malaysia, melainkan kepada Indonesia. Atau lebih menyempit lagi adalah kepada rakyat dan pemimpin Indonesia.

HARAPAN PERTAMA: Berantas korupsi. Harapan ini nampaknya akan lebih tepat jika ditujukan kepada aparat dan pejabat yang ada diseluruh negara Indonesia.

Saya sangat berharap agar siapapun yang berwenang di negeri ini bisa menangkap semua koruptor. Jangan pedulikan latar belakang maupun golongan sosialnya. Meskipun sang koruptor itu adalah kerabat anda anda sekalian. Tangkap mereka. Hukum! Sita semua hasil korupsinya!

Kemudian untuk mencegah terjadinya permainan. Harap para jaksa, hakim, pengacara, dan para polisi beserta segenap penegak keadilan dan kebenaran di negeri ini bersikap jujur. Sehingga tidak akan ada lagi yang lolos. Saya percaya, jikalau semuanya jujur, paling tidak bersikap tidak pandang bulu dalam mengadili koruptor. Maka korupsi akan bisa diberatas. Minimal dikurangi sehingga mencapai taraf paling minimum!

Kegunaannya? Tentu saja kesejahteraan rakyat. Apabila rakyat sudah sejahtera. Maka kita Indonesia tidak lagi memerlukan Malaysia sebagai penerima tenaga kerja. Kemakmuran tentunya berbanding lurus dengan ketersediaan lapangan pekerjaan bagi seluruh warga negara Indonesia.

Dengan demikian, yang bekerja ke luar negeri kelak hanyalah orang orang yang memang punya keahlian. Bahkan kalau perlu yang bekerja ke luar negeri hanyalah orang orang yang akan menancapkan kukunya sebagai warga terhormat di negara lain.

Imbasnya adalah promosi negara. Indonesia akan dikenal sebagai negara yang mengirimkan ahli ahlinya untuk membantu perkembangan negara lain. Bukan sebagai pesakitan yang sudah putus harapan untuk menyambung hidup di negara sendiri.

Hambatannya? Semua yang berwenang saling bersimbiosis mutualisme. Para pengadil sudah pernah menikmati hasil korupsi dari para koruptor yang akan diadili. Aparat penegak hukum, misalnya polisi. Dulu waktu masuk kepolisian dibantu oleh si koruptor agar bisa diterima sebagai polisi. Dan lain sebagainya.

Untuk hal ini. Saya memikirkan sebuah sikap yang keras. Pecat! Penjarakan semua yang terkait. Bentuk tim orang jujur dan anti KKN untuk memberantas hal ini. Semua yang sudah merugikan negara dan bertindak culas serta menyengsarakan masyarakat harus dipecat. Kemudian dipenjarakan.

Percuma. Para koruptor, sekeluarnya dari penjara mereka masih tetap kaya. Maka dari itu solusinya adalah dibunuh! Ambil semua hartanya! Dengan demikian semua koruptor akan jera. Yang bersedia mengembalikan uang negara diampuni tapi tetap dipenjara.

Kenapa harus dibunuh? Supaya penjara tidak penuh. Dan supaya semua koruptor tidak lagi menyusahkan negara. Tidak perlu mereka diberi kesempatan kedua, karena kesempatan kedua mereka sudah ditukar dengan kerugian negara dan kesengsaraan masyarakat.

Tidak perlu takut akan kekurangan tenaga, ataupun orang jujur dan berniat untuk hidup bersih. Tidak mungkin dari sekian ratus juta rakyat Indonesia tidak ada orang orang yang bersih dan anti KKN.

Membasmi orang orang kotor dan culas di negeri ini dengan cara hukum mati juga akan mengurangi kepadatan penduduk. Menguragi angka pengangguran, dimana para orang orang idealis yang mengganggur atau terkucilkan selama ini bisa naik jabatan. Orang orang yang berniat tulus dan jujur dalam membangun Indonesia bisa menempati posisi yang sesuai keahlian dan minat.

Orang orang yang berfikiran maju, membangun dan tidak pandang bulu dalam menegakkan keadilan bisa turut serta menyumbangkan tenaga dan fikiran mereka demi kemajuan dan kesejahteraan negeri ini.

HARAPAN KEDUA: Jika sudah dilakukan harapan pertama. Maka kemakmuran dan keadilan sosial haruslah diratakan. Jangan ada lagi diskrimiasi terhadap rakyat Indonesia. Dalam hal apapun, jangan lagi memandang suku, agama, ras, status sosial, termasuk masa lalu sebagai anak seorang anggota komunis misalnya.

Seorang anak mantan anggota komunis atau yang orang tertuduh komunis oleh rejim orde baru. Jikalau dia seorang yang cerdas, bertekad membangun bangsa dan cinta tanah air serta berkemampuan untuk membangun negeri. Jangan dihalangi untuk jadi pejabat, aparat, dan atau pegawai negeri. Apalagi jika si anak tertuduh komunis itu memang lebih handal dan jujur ketimbang seorang anak pejuang atau anak pejabat negara yang selama ini sok baik dan sok suci.

Jangan lagi ada pembedaan terhadap suku dan etnis. Meskipun seorang Aceng, jikalau dia memang bisa menjadi wakil rakyat yang baik dan jujur, kenapa harus digantikan dengan yang lain? Atau ditaruh dibelakang yang lain?

Mohon maaf berjuta maaf jika saya menyinggung anda. Menurut saya pribadi, selama ini yang bisa jadi pejabat, lalu dapat jabatan tinggi, empuk dan basah di negeri ini hanyalah orang orang dari pulau dan etnis, atau suku atau ras terentu.

Dalam pandangan saya. Yang bisa jadi orang besar di negeri ini hanyalah orang orang yang itu itu saja. Jikalau alasannya tidak ada orang lain yang kompeten, menurut saya itu adalah alasan yang sangat tidak masuk akal.

Memangnya orang dari pulau ujung dan tengah tidak ada yang bisa jadi presiden dan mentri? Tidak ada! Kenapa? Karena memang dikucilkan, dibedakan, dan dikebiri. Bukan karena memang tidak ada yang mampu atau sanggup!

Dengan pemerataan di segala pulau dalam segala bidang. Akan ada persaingan yang mudah mudahan adalah persaingan yang sehat. Tidak membeda bedakan, dan tidak mendahulukan kepentingan golongan.

HARAPAN KETIGA: Terbentuknya negara yang sama rata dan sama rasa. Atau negara yang memiliki kedaulatan sendiri didalamnya.

Dalam buku karangan Lambert Giebels yang saya lupa judulnya. Beliau mengusulkan dua cara untuk memajukan negara yang luas dan padat ini. Yang pertama adalah pemerataan di segala bidang, dan yang kedua adalah membentuk negara bagian.

Kalau memang setiap pulau punya kekayaan alam. Maka hasilnya haruslah memakmurkan seluruh Indonesia, bukan pulau tertentu saja, bukan golongan tertentu saja.

Atau biarkan kami berdiri sendiri. Pemerintah pusat tidak usah terlalu banyak campur tangan. Karena kami bisa sendiri. Kami bisa mengatur diri sendiri. Dengan kesamaan fasilitas, perlakuan, dan kesempatan. Maka kami akan bersaing secara sehat.

Ibarat perlombaan Formula 1 dimana semua pembalap memakai mobil terbaik. Disokong ban dan mekanik terbaik. Maka yang menentuan hasil akhir adalah pembalapnya. Dalam hal ini adalah manusianya.

Bukan seperti sekarang, dimana seorang yang ibaratnya memiliki kemampuan sehandal Michael Schumacher harus bertarung dengan mobil Toyota untuk bersaing dengan pembalap sekelas Alex Yoong yang menggunakan mobil Ferarri. Sehebat hebatnya Schumi, dia akan tetap kalah cepat dengan Yoong kalau keadaannya demikian.

Begitu pula dengan anak anak bangsa ini. Anak anak yang brilian dan cerdas banyak yang terpendam. Bisa karena kesukuan dan etnisnya. Bisa karena asalnya dan keturunannya. Bisa juga karena fasilitasnya atau ketidakadaan kerabat dan sokongan.

Banyak juga ‘Schumi Schumi’ lain yang kalah dengan seorang Ananda Mikola karena ‘Schumi Schumi’ tadi cuma pakai mobil Honda dengan mekanik level medium saat bersaing dengan Ananda Ananda lain yang bermobilkan Ferarri atau McLaren Mercedes dan ditopang oleh mekanik mekanik level expert.

HARAPAN KEEMPAT: Indonesia adalah negara yang adidaya. Dengan segala kemakmuran dan kemajuannnya. Negara ini tidak perlu lagi tergantung pada negara manapun.

Paling tidak, negara Indonesia tidak perlu takut akan putusnya hubungan dagang dengan negara lain. Karena orang orang pintar tapi tidak membodohi rakyat sudah banyak.

Apa yang kita Indonesia tidak punya? Hasil alam? Hutan? Laut dan sungai? Atau tambang maupun manusia? Indonesia punya semuanya. Berlimpah malahan. Berhenti tergantung dengan negara lain dan mencintai produk dalam negeri yang memang berkualitas akan menumbuhkan rasa nasionalisme yang kuat. Dengan demikian negara Indonesia akan menjadi negara adidaya.

HARAPAN KELIMA: Sebagai negara adidaya, Indonesia tidak akan takut akan ancaman dari negara lain. Termasuk ancaman kehilangan kepulauan atau ancaman kehilangan hak intelektual.

Negara adidaya tentunya bukan hanya bisa mempertahankan, namun memperluas dan memperbanyak atau memperluas kekayaannya. Maka, jika Malaysia berbuat macam macam. Indonesia bisa dengan mudah menghajar Malaysia. Baik secara diplomatik. Ataupun secara jalan kekerasan sekalipun.

Jika semua harapan terkabul, persenjataan dan seluruh kekuatan tempur Indonesia tidak akan kalah dengan Malaysia. Dengan demikian Malaysia tidak akan berani berbuat macam macam.

Indonesia adalah macan tidur sekaligus ompong. Entah kapan Indonesia akan bangkit dari tidurnya. Lagipula kalaupun bangkit, Indonesia harus memperbaiki dulu gigi giginya yang rontok oleh kebiasaannya sendiri. Belum lagi kuku kukunya yang sudah tumpul harus diasah kembali. Agar bisa pamer kekuatan dan mengusir kejahilan negara lain. Tak perduli itu negara manapun.

Nampaknya harapan harapan saya hanyalah dongeng semata. Atau saya sebut saja sebagai tulisan aneh, tidak bermutu, sekaligus kacau. Namun hanya itulah yang bisa saya tuliskan.

Dari sisa sisa nasionalisme saya. Itulah yang bisa saya tuliskan. Semoga saja semua harapan itu bisa terkabul demi kemajuan Indonesia, paling tidak ada kedekatan dalam realisasi harapan harapan saya.

Saya tidak bisa memastikan apakah tulisan saya mencerminkan kecintaan saya kepada Indonesia ataukah justru mencerminkan kebencian dan kekecewaan saya pada negara dan oknum oknum republik ini. Dalam hati saya, masih ada setitik harapan: Semoga saja negara kesatuan republik Indonesia bisa jadi negara yang kuat dan makmur.

Tulisan lain mengenai Indonesia Malaysia

9 Responses to “Sikap Nasionalis”


  1. 1 qzink666 23 October 2007 at 10:51

    Semoga harapan2nya segera terkabul, mas.. 😛
    harapanmu, harapan kita semua..
    *menunggu wangsit*

  2. 2 Si Nyonya Farid 23 October 2007 at 19:38

    aku cuma bisa bantu mendoakan aja Mas…

  3. 3 Mrs. Neo Forty-Nine 24 October 2007 at 00:48

    ehm…

    yang tentang temen kita beda rumpun itu gimana Mas?

    ah, seandainya kamu yang jadi presidennya Mas…

    tentu aku bakalan jadi first lady-nya:mrgreen:

  4. 4 Fortynine 25 October 2007 at 15:04

    @qzink666: Semoga terkabul.

    @Mrs. Neo Forty-Nine: Yang itu nanti deh

  5. 5 anggunpribadi 26 October 2007 at 21:29

    saya mah setuju banget kalau para koruptor itu di hukum mati, terus di ambil semua hartanya, keluarganya disuruh kerja paksa, supaya kapok…

    terus saya lebih setuju lagi kalau tuan presiden SBY yg skrg ini lebih menunjukkan ketegasannya dan melakukan gebrakan yg melegakan rakyat seperti
    “saya ndak akan nerima gajih selama jadi tuan presiden”

    Waduh kalau presiden sini kayak gitu, rakyat dijamin sumringah…

  6. 6 Fortynine 27 October 2007 at 09:12

    @anggunpribadi: Yup! Saya juga setuju dengan anda

  7. 7 indiegal 27 October 2007 at 22:47

    Harapan anda harapan saya juga…
    Saya berdoa kiranya harapan ini sudah terjadi ketika saya masih hidup (halah, mangnya mo mati ?:D )
    Saya gak mau dan malu dengan generasi selanjutnya jikalau ternyata kita hanya mewariskan kemiskinan, kebodohan, mediokritas, kebiasaan korupsi, banjir, anarki, dsbnya.
    Dan saya sebenarnya sebal dan enek sekali dengan generasi saya sebelumnya, karena mereka mewariskan karakter greedy pada generasi setelah mereka. (Tentu tidak bisa disamaratakan dengan semua pendahulu,hanya beberapa saja, tetapi ternyata yang beberapa ini lebih beri pengaruh😦 )

    You said,
    Percuma. Para koruptor, sekeluarnya dari penjara mereka masih tetap kaya. Maka dari itu solusinya adalah dibunuh! Ambil semua hartanya! Dengan demikian semua koruptor akan jera.

    Saya sebagai manusia percaya dengan pengampunan, tetapi hati yang sudah terlalu gemas, saya sebenarnya setuju sekali dengan statement ini. Kita bisa melihat contoh dari RRC, bahkan tidak hanya si koruptor, tetapi juga seluruh keluarganya ! Menyeramkan sekali… Tapi saya berpikir mungkin koruptor Indonesia baru dibeginiin baru mengerti…

    You said,
    HARAPAN KEEMPAT: Indonesia adalah negara yang adidaya. Dengan segala kemakmuran dan kemajuannnya. Negara ini tidak perlu lagi tergantung pada negara manapun.

    Paling tidak, negara Indonesia tidak perlu takut akan putusnya hubungan dagang dengan negara lain. Karena orang orang pintar tapi tidak membodohi rakyat sudah banyak.

    Apa yang kita Indonesia tidak punya? Hasil alam? Hutan? Laut dan sungai? Atau tambang maupun manusia? Indonesia punya semuanya. Berlimpah malahan. Berhenti tergantung dengan negara lain dan mencintai produk dalam negeri yang memang berkualitas akan menumbuhkan rasa nasionalisme yang kuat. Dengan demikian negara Indonesia akan menjadi negara adidaya.

    Setuju sekali.
    Indonesia bisa menjadi negara adidaya. Kita tinggal perlu memajukan SDM kita, melumat orang2 maruk dan greedy alias koruptor2 tolol, dan berkompetisi secara sehat antara kita masing2 dengan kejujuran dan integritas. Ketika kita berpikir untuk orang lain, kita seharusnya sadar kemarukan kita tidak ada gunanya.

    You said,
    Saya tidak bisa memastikan apakah tulisan saya mencerminkan kecintaan saya kepada Indonesia ataukah justru mencerminkan kebencian dan kekecewaan saya pada negara dan oknum oknum republik ini.

    Kritikan dan harapan anda tentu saja adalah bentuk kecintaan anda😉

    Nasionalisme, Yes !
    Sectarian en korupsi, Ke laut aje !

  8. 8 Fortynine 28 October 2007 at 22:44

    @indiegal: Terima kasih. Semoga korupsi di Indonesia bisa diberantas sampai ke akar akarnya

  9. 9 karmin 17 February 2009 at 00:33

    tukisan yang bagus….saya sangat setuju point 4 bahwa negara kita adalah negara adi daya…kita harus tunjukan pada dunia bahwa kita adalah macan asia, yaitu caranya dengan meningkatkan SDM dengan pendidikan…


Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Twitter

  • Laporan kepada @pln_123 , hari ini sdh terjadi pemutusan aliran listrik untuk kesekian kalinya di Banjarbaru dengan durasi yg cukup panjang 3 days ago

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: