Agama dan Spiritualitas

Ada apa dengan agama? Melihat pertanyaan panjang dari Bang Fertob, Difo, tulisan tulisan di bataknews dan Sora9n di sini. Saya menjadi teringat akan cerita dari seorang teman yang dikisahkannnya kepada saya. Seorang teman yang menjadi aktifis lingkungan pernah menjadi duta (entah duta apa) yang mewakili Indonesia ke Afganistan. Di sana dia bertemu dengan seorang American yang sangat mencintai budaya timur, atau mungkin tepatnya Asia, terutama dari India.

Si American ini sering berdiskusi dengan teman saya itu. Pada suatu kesempatan, si American di tanya oleh teman saya tentang wanita wanita Afganistan yang menggunakan cadar dan jubah. Menurut pendapat si American, adalah wajar jikalau wanita wanita Afgan menggunakan jilbab, atau yang lebih tepatnya jubah dan cadar. Karena kalau menggunakan busana terbuka dan tidak menutupi wajah, maka gangguan utama dan sudah sangat pasti adalah debu.

Lalu teman saya melanjutkan dengan mengajaknya berdiskusi tentang keyakinannnya. Si American menjawab bahwasanya sampai saat itu, sampai saat ia berkata dan bercerita dengan teman saya itu, dia adalah seorang Christian. Mungkin kalau bahasa Indonesianya adalah kolom agama di KTP saya Kristen. Namun itu hanya sebatas formalitas saja kata sang American lagi.

Menurutnya, meski ia adalah seorang Cristian, namun banyak hal yang tidak ia pahami dan tidak setujui. Menurutnya: saya adalah seorang Cristian. Namun saya suka Yoga, semedi, dan berbagai ritual serta latihan batin ala Hindu dan Buddha. Saya juga seorang vegetarian. Bukan untuk sok sok’an, namun saya memang sebagai salah satu makhluk hidup haruslah turut serta menjaga kestabilan alam semesta. Setiap tarikan nafas dan hembusan nafas saya sudah merubah sesuatu di alam semesta ini, ujarnya lagi.

Si American, menurut teman saya itu memiliki tatapan mata yang tenang dan teduh, pembawaannya kalem, benar benar seperti pertapa yang telah menemukan kepuasan spiritualitas tingkat tingginya. Dia juga suka puasa, dengan alasan yang dia paparkan sangat panjang.

Lantas? Kenapa kamu tidak memilih Islam sebagai agama kamu? Tanya teman saya. Saat ini saya belum menemukan agama yang sesuai dengan kebutuhan batin saya jawabnya. Dengan kata lain, si American belum merasakan ada agama yang bisa memenuhi kebutuhan batinnya, sementara dengan semedi, yoga, puasa dan menjadi vegetarian, ia sudah merasa bahwa dirinya sudah cukup terpuaskan.

Untuk kemudian ia memaparkan lagi alasan alasan dan pandangannya terhadap berbagai agama yang ia kenal. Sebagai tambahan, si American ini juga sudah banyak mempelajari Islam.

Dari saya pribadi, setidaknya sang American memberikan saya tambahan pengetahuan bahwasanya agama, agama apa saja yang ada di dunia ini. Nampaknya belum menjadi sebuah pemuas kebutuhan batin. Hanya sebatas pada aturan aturan dan ritual, atau malahan mistik dan dongeng.

Apakah ritual dalam agama tidak berguna? Bisa jadi! Rajin ibadah belum tentu rajin membantu orang yang memang perlu dibantu. Rajin ke rumah tuhan belum tentu menjadikannya seorang yang bukan koruptor. Rajin baca kitab suci belum tentu menjadikannya seorang yang santun dan berbudi pekerti luhur. Edannya lagi, alim dalam urusan agama belum tentu menjadikan manusia menjadi seorang yang pandai! Contohnya ya Antosalafy

Si A adalah seorang muslim. Sudah naik haji berkali kali, rajin ke mesjid dan jadi imam. Namun tetap saja ia pelit. Pak B adalah seorang pejabat yang tidak pernah bolos ke gereja, namun kedudukannya sebagai kepala bagian instansi tertentu ternyata tetap saja membuat beliau menghamburkan uang dan menyedot uang melalui koropsi dan kongkalikong.

Tuan C sejak kecil sudah dilatih dan diajarkan tentang kitab suci Hindu/Buddha. Bahkan sudah hapal berbagai pelajaran agama Hindu/Buddha. Namun beliau sekarang adalah bosa suka marah marah, berkata kata kasar dan menghardik bawahannya. Malahan sering memarahi sambil menggunakan wejangan wejangan agama.

Saudara D itu lulusan sekolah agama terkenal. Punya banyak buku buku agama. Hafal kitab suci agamannya. Tau banyak tentang sejarah dan riwayat orang orang terkemuka pada agamanya. Namun cara beliau menasehati ponakannya yang sudah keluar masuk penjara itu amatlah tidak bijak.

Beliau selalu menggunakan nama Surga dan neraka sebagai janji manis dan janji pahit. Tak lupa kisah kisah mengerikan yang terkadang tercampur mistik guna menakuti sang ponakan. Bujukan untuk bertaubat dilaksanakan terus, namun tidak pernah berusaha memahami kebutuhan fisik sang ponakan.

Mungkin kalau ada yang membacanya sampai habis. Akan bertanya tanya pada saya, apakah ini nyata? Ya! Tapi jangan tanyakan saya bagaimana contohnya. Bukan takut atau tidak bisa memebrikan contoh, namun saya tidak mau menambah pergunjingan tak berguna. Lagipula, buat apa menggunakan dan memanfaatkan kesalahan orang lain untuk mempertahankan pendapat kita?

Tertawa, atau marah kepada seorang pemimpin dan penyebar agama baru? Kedua duanya. Namun sebenarnya, apakah yang menjadi alasannya? Tertawa, munkin dialami oleh orang orang yang tidak peduli agama, atau malahan sudah mencapai spiritualitas tingkat tinggi.

Marah, menghancurkan dan brutal justru dilakukan oleh orang orang yang sok ngerti agama. Jangan lupa bahwasanya di manapun juga, selama ada hukum yang berlaku, saya rasa tindakan menghancurkan dan tindakan kekerasan adalah tindakan kriminal!

Baik itu rumah ibadah, rumah pribadi, hingga rumah bordil. Apabila dihancurkan tanpa sebab, atau dihancurkan secara paksa tanpa pengesahan, menurut saya adalah tidakan kriminal. Terlebih lagi, tindakan demikian mencerminkan pendeknya atau dangkalnya cara berfikir dan memandang serta menyikapi keadaan dari para penghancur.

Bagaimana jika yang menjadi pengikut atau bahkan pemimpin agama baru tersebut adalah orang orang terdekat dan tercinta kita? Atau bahkan saya sendiri? Saya sendiri tidak akan pedulikan. Kalau orang tua saya, mungkin saya akan mengajak beliau berdiskusi.

Namun kalau selain itu, misalnya teman, saudara jauh maupun saudara dekat? Saya hanya akan berkata silakan dalam hati saya. Selama dia tidak memepengaruhi saya, selama dia atau mereka tidak menjahili dan menjahati saya, saya akan tetap berkata silakan pilih jalan anda sekalian masing masing.

Kesimpulan Dari Saya

Pemuka agama telah gagal dalam mengajarkan umatnya tentang kepuasan spiritual, selama ini yang terjadi banyak sebatas kepuasan semu. Ibadah dan cara pandang menurut agama memang tidak selamanya harus menyenangkan, namun bukan berarti harus selalu menyusahkan tentunya.

Anak anak muslim diajar sholat bukan untuk kepuasan lahir batinnya. Melainkan cuma buat tolak neraka. Padahal sholat tentunya meiliki hal yang lebih dari sekedar pahala. Kesehatan jiwa raga tentu ada di sana, namun ini nampaknya hanya berlaku buat orang orang dengan tingkat spiritualitas yang tinggi.

Lagipula saya bukan ahli agama, apalagi pernah melakukan penelitian terhadap sholat. Saya hanya percaya bahwasanya yoga, pemiusatan fikiran atau semedi itu tidak ada bedanya dengan sholat. Hanya gerakannya atau tata caranya yang berbeda. Tujuan utamanya selalu kepuasan spiritual, kalau yang ini dapat. Kepuasan fisik tentunya sudah turut didapatkan pula.

Dengan kata lain, kepuasan fisik mungkin adalah langkah awal, sebelum menuju kepuasan tingkat tinggi yaitu kepuasan spiritual. Nah, kenapa kepuasan spiritual yang dicari? Jika bisa mendapatkan jawabannya, itulah kepuasan spiritual.

33 Responses to “Agama dan Spiritualitas”


  1. 1 Istrimu 15 November 2007 at 14:01

    yaudah deh… pertamax dulu…

    rikues sang swami…

  2. 2 danalingga 15 November 2007 at 14:23

    Jika agama menyebabkan saya membenci, maka biarlah saya masuk neraka dengan tidak beragama.:mrgreen:

  3. 3 Istrimu 15 November 2007 at 14:25

    betewe, sudahkan kamu memperoleh kepuasan (baik fisik maupun spiritual) lewat ritual yang kamu jalani selama ini?😉

  4. 4 annots 15 November 2007 at 14:58

    Pemuka agama telah gagal dalam mengajarkan umatnya tentang kepuasan spiritual, selama ini yang terjadi banyak sebatas kepuasan semu. Ibadah dan cara pandang menurut agama memang tidak selamanya harus menyenangkan, namun bukan berarti harus selalu menyusahkan tentunya.

    Saya belum pernah diajarkan kepuasan spiritual oleh pak ustadz dikampoeng saya. Tapi paling tidak saya bisa belajar dari tulisan anda ini😀

  5. 5 kabarihari 15 November 2007 at 17:43

    Terkadang saya juga ngerasa, saya beragama lebih sering hanya sebatas ritual semata, jauh dari kepuasan spiritual. Kadang saya pikir lebih baik agnostik saja, sepanjang kolom agama di KTP masih diisi toh ngga akan dianggap sesat, yang terpenting lagi saya ngga nyolong, ngga membunuh, ngga korupsi dll.

  6. 6 alex 15 November 2007 at 18:37

    Uhhmm…
    Yang jelas sampai detik ini aku masih puas dengan candu agama yang kupegang saat ini.

    Masalah kepuasan spiritual, masalah ibadah yang cuma semu, kenapa mesti nunggu ahli agama mendefinisikan bentuknya? Kalo memang yakin dengan pola pikir kita, yakin dengan konsep, turunlah ke masyarakat dan sebarkan. Dengan konsekuensi apapun. Kalau cuma nancep untuk diperdebatkan dalam benak sendiri, ya cuma rusuh di benak sendiri saja jadinya😉

    Betewe… kepuasan spiritual itu kalo menurut aku sendiri, ketika ibadah yang dijalankan bisa kita terapkan pada masyarakat, minimal lingkungan sekitar dulu…

  7. 7 joyo 16 November 2007 at 00:39

    hidup ini sendiri adalah agama, kehidupan yang saya jalani sehari2 adalah ritualnya🙂

    May all beings be happy and enlighten🙂

  8. 8 extremusmilitis 16 November 2007 at 01:21

    agama-mu, agama-nya, agama-ku, tidak akan menjamin apa-pun sepanjang kita sendiri tidak men-jadi seperti apa yang DIA minta😉

  9. 9 cK 16 November 2007 at 06:50

    ngabsen dulu. belom baca. lagi sakit..😦

  10. 10 rozenesia 16 November 2007 at 10:39

    Idem sama mas joyo.😉

  11. 11 Fortynine 16 November 2007 at 14:33

    @danalingga:

    Jika agama menyebabkan saya membenci, maka biarlah saya masuk neraka dengan tidak beragama.

    Waks!

    @Istrimu: Ga tau. Belum kayanya.

    @annots: Terima kasih banyak. Syukurlah jika bisa memberikan manfaat

    @kabarihari: Jadi seperti pemikiran di sini

    @alex:

    kepuasan spiritual itu kalo menurut aku sendiri, ketika ibadah yang dijalankan bisa kita terapkan pada masyarakat, minimal lingkungan sekitar dulu…

    Nice point of view!

    @joyo@rozenesia: Jadi apakah anda terpuaskan secara spiritual dan fisik?

    @extremusmilitis: Jadi DIA minta apa ya?

    @cK: Semoga lekas dapat pacar sembuh

  12. 12 mardun 16 November 2007 at 16:47

    tapi tapi *mengacungkn jari*

    kenapa ada orang yang tidak beragama bisa memperoleh kepuasan spiritual ya?

  13. 13 agorsiloku 16 November 2007 at 19:21

    wow… keren sekarang lay-otnya oi….😀
    Menarik uraian american ini…

    namun “kepuasan” spiritual budha dicapai ketika “moksa” — kalau nggak salah… bukan pada semedi, juga bukan pada tirakat, ….

    Sang american tadi… mencari kepuasan spiritual dan “mendapatkannya” seperti seorang yang membeli mobil terbagus, rumah termewah, dan puas mendapatkannya….

    spiritual itu tidak berada pada dimensi keberagamaan… 😀

  14. 14 Fortynine 16 November 2007 at 22:47

    @mardun: Saya tidak berkompeten untuk menjawabnya Mas.

    @agorsiloku: Terima kasih Mas Agor. Saya tidak banyak tahu tentang segala macam semedi dan pemusatan fikiran. Nampaknya si American memang terpuaskan.

    spiritual itu tidak berada pada dimensi keberagamaan.

    Wow! Nampaknya realita nich!

  15. 15 blogkeimanan 17 November 2007 at 05:17

    Postingan ini berjudul Agama dan Spiritualitas….

    Saya setuju dg pemilik blog ini bahwa Ritual suatu agama (apapun agamanya), seringkali tidak menghasilkan dampak-dampak yg postif bagi kemashlahatan bersama… Yg terjadi justru banyak orang jadi alergi dg agama…..
    Dan banyak orang yg beragama justru menjadi jahat dan merugikan orang…..

    Kok Bisa ya seperti itu ya.. aneh… kan agama itu baik… masa yg menjalaninya justru jadi jahat..?

    Berikut sharing dari saya, (tapi ini sekedar pendapat pribadi lho.. – bisa jadi salah, jadi mohon koreksinya yaa…)

    Begini..
    Agama adalah suatu Konteks Universal, dia menyangkut nilai-nilai kehidupan manusia secara keseluruhan…
    Sedangkan Spiritualitas, kecenderungannya maknanya adalah mengarah pada Zat KeTuhanan….

    Spiritualitas ada dalam konteks agama…
    Lalu kenapa ritual spiritualitas seseorang dalam suatu agama justru menghasilkan dampak yg “tidak baik”…? (dalam tanda kutip….?)

    Karena dia “Mentok”….. Alias Spiritualitasnya mengalami “jalan buntu”….

    Begini penjelasan sederhananya:
    Bahwa Spiritualitas kita kepada Tuhan » adalah suatu ‘perjalanan ruhani’ menuju-NYA…
    Tuhan itu kan hebat…
    DIA tidak sembarangan menerima “orang yg akan datang pada-NYA”….
    Banyak para ahli ibadah masuk dalam golongan mentok ini…
    Bisa jadi dia menguasai teori agama 100&…. tapi manakala dia perjalankan ruhaninya dalam suatu spiritualitas.. » dia mentok » alias tidak sampai pada ZAT keTuhanan…..

    Dampak yg terjadi adalah…..
    Orang ini bisa “keblinger”….
    Agama dijadikan “perang” argumentasi dan sangat meresahkan jiwa…. Disini saya menggunakan istilah iblis berkedok agama…..
    Dimana pun dia berada, dengan agamanya itu dia mengacaukan suasana…..

    Berbeda dg orang yg ‘sampai’ pada Zat KeTuhanan saat dia melakukan spiritualitas….
    Sekalipun dia tidak menguasai teori agama, sekalipun dia tidak berpendidikan, tapi dg niat yg lurus, orang ini kemungkinan besar sampai pada tujuan….

    Ciri-cirinya orang yg sampai pada tujuan Spiritualitas adalah:
    1)* Semua ucapannya (sekalipun dia tidak sekolah atau pun kurang memahami teori agama), maka ucapannya akan menjadi HIKMAH…. mengandung nilai-nilai kebijaksanaan yg dalam…
    2)* Tingkah lakunya menjadi inspirasi orang utk berbuat baik…
    dan ke 3)* Kehadirannya akan membawa kedamaian hati dan jiwa….

    Kenapa bisa begitu…?
    Ya… Karena dia telah membawa sebagian sifat-sifat Ilahiah atau sifat-sifat KeTuhanan, sebagai hasil dari spiritualitas dia…..

    Tuhan itu kan baik, siapa saja yg telah sampai pada-NYA, pasti dia orang baik…..

    =salam=

  16. 16 galih 17 November 2007 at 09:55

    Artikel yang… hmm… saya sebut apa ya…. berbahaya…🙂 nice…

  17. 17 agorsiloku 17 November 2007 at 19:11

    Dunia fisis (yang dipahami) oleh akal dan dimensi segala hal yang berkenaan dengan kesadaran tidak fisis bergerak pada ranah spiritual. Kita cenderung memiliki anggapan bahwa transenden menjadi bagian penting dalam keberagamaan dan kesalehan. Kalau agor agak berbeda pandang. Allah maha transenden, ghaib, ruh juga berada pada wilayah ini. Sedang petunjuk tentang keberagamaan (Islam) sangat terkait dengn hubungan antara manusia dan pemahaman fisis untuk mengenalNya.
    Spirit kepada yang Maha Transenden adalah kemurnian spirit dan keberimanan pada yang MahaKuasa, sedangkan dunia dipenuhi segala macam spiritualisme semu. Kebanyakan manusia beriman pada jin (QS Saba 34:41). Petunjuk ini menjelaskan bahwa yang disebut spiritual membawa peluang pada “kepuasan spiritual” yang bukan mencapai jalan menuju Allah. Meskipun juga kita memahami bahwa Allah maha transenden dan kita mendekatinya (berusaha) dalam iman dan kepasrahan, datang sebagai seorang hamba yang tak kuasa apapun kepada pemilik kerajaan langit dan bumi. Al Qur’an meminta kita sebagai hambaNya, datang kepadaNya melalui ibadah dan penghormatan pada ayah ibu, anak yatim, membebaskan budak, bersedekah dan segala jalan kebaikan pada sesama. Memakmurkan alam semesta dan memeliharanya.
    Perjalanan spiritual dan pengetahuan manusia terhadap keseluruhan hijab adalah pemahaman spiritual dalam akhlak vertikal ketika kita memperlakukan dimensi horisontal (sesama manusia) sesuai petunjukNya.

    Spirtual kepada jalan keTuhanan kemudian menjadi berbeda dengan spiritual kepada jalan kepuasan spiritual dan jalan ketuhanan (t kecil).

    Dengan reposisi itu, maka jalan spiritual berbeda dengan jalan keberagamaan. Bahwa akhir dari seluruh perjalanan selalu bermakna kepada dimensi spiritual yang terkait dengan jalan menuju Allah adalah jalan yang Dia tunjukkan. Namun, melihat fakta dunia, kita juga mengerti bahwa begitu banyak jalan spritual yang tidak menuju jalan yang ditunjukiNya, seperti isyarat yang disampaikan oleh ayat tadi.

    Karena itu dimensi spiritual berbeda dengan jalan keberagamaan… apalagi jika itu berada pada hubungan sosial. Hanya kegiatan yang menisbahkan dengan energi kesalehan dan ketulusan sebagai bagian dari ibadah, maka spiritnya menjadi salah satu jalan kepada yang Maha Transenden…..

    Salam.

  18. 18 Fortynine 17 November 2007 at 19:58

    @blogkeimanan & Mas Agor: Komentar anda nampaknya saling menjawab dan melengkapi. Terima kasih banyak atas tambahan dan paparannya.

    @galih: Berbahaya? he he. Bagi yang fanatik mungkin iya.

  19. 19 extremusmilitis 17 November 2007 at 20:24

    @extremusmilitis: Jadi DIA minta apa ya?

    meskipun aku ndak bisa menilai apa yang DIA minta, tapi aku yakin, DIA meminta kita untuk berbuat seperti apa kehendak-Nya. Simpel tapi Sangat Berat😉

    Dan kehendak-Nya itu tidak bisa kita tafsir-kan hanya dengan kata-kata, tapi per-buatan, bukan begitu bro?

  20. 20 joyo 18 November 2007 at 22:54

    saya agnostic, tapi saya juga ngerasa sangat religius, mungkin karena hidup saya adalah agama saya🙂

  21. 21 erander 18 November 2007 at 23:36

    Wah .. ternyata sudah mulai nulis lagi ya?? kirain sudah menghilang. Jadi sorry banget kalo sekarang baru jalan2 kesini lagi??

    .. kenapa kepuasan spiritual yang dicari? Jika bisa mendapatkan jawabannya, itulah kepuasan spiritual.

    Boleh urun rembug ga?? .. saya sudah tahu jawabannya. Yaitu IKHLAS. Insya Allah, akan saya tulis tentang ikhlas. Saya coba rangkaikan kata tentang ikhlas di blog saya.

  22. 22 kurtubi 19 November 2007 at 10:42

    “Dari saya pribadi, setidaknya sang American memberikan saya tambahan pengetahuan bahwasanya agama, agama apa saja yang ada di dunia ini. Nampaknya belum menjadi sebuah pemuas kebutuhan batin. Hanya sebatas pada aturan aturan dan ritual, atau malahan mistik dan dongeng.”

    Nampaknya pandangan itu subyektif sekali.. memang agama dan segala macam pengalaman rohaninya merupakan sebuah subyektifitas. jadi sah-sah saja menafsiri dan menganggap sebagai sebuah pandangan pribadi.

    kalau boleh saya tambahkan, pengetahuan sang american tadi bukan maksud melecehkan agama, tetapi masalahnya pada kepuasan rohaninya sendiri. Agama masih dianggap ritualitas; agama masih dalam koridor aturan; belum masuk sebuah kepuasan batin. Ketika Yoga dan meditasi (di luarshalat) dianggap lebih baik dan lebih mencerahkan batinya, mungkin inilah yang cocok dengan kepribadiannya. Maka saya ucapkan “selamat menemukan agama baru pilihannya bagi American tadi…”

    Jatuh pada pilihan Yoga sebagai meditas yang cocok bagi penikmatnya, sama persis seperti yang dilakukan oleh penulis Novel “DEWI”. Semual dia beragama Kristen lalu beralih ke agama yang menganut Yoga sebagai spiritual medtationnya.

  23. 23 zaldeeho 19 November 2007 at 10:49

    Ohya salam kenal… (salaman)

  24. 24 Fortynine 19 November 2007 at 16:49

    @extremusmilitis: Ya. Setuju.

    @joyo: Oke…

    @erander: Boleh Mas. Saya tunggu “ikhlas”nya

    @kurtubi: Bisa jadi sangat subjektif. Namun saya pribadi setuju bahwasanya kepuasan spiritualitas memang masih belum didapatkan oleh orang orang yang katanya beragama. Contoh paling jelas. Orang beragama masih banyak yang berangasan dan tidak sabar.

    @zaldeeho: *salaman*

  25. 25 hoek 20 November 2007 at 03:56

    “kenapa kepuasan spiritual yang dicari? ”
    uhmm…karena menusa ndak fernah fuas, jadi walofun suda fuas secara fisik, ya tetef aja nyari kefuasan lain, salah satunya ya nyari kefuasan sfiritual…
    eh ya, berdasarkan fendafad saia, bisa ditarig kesimfulan bahwa menusa yang nyari kefuasan sfiritual adalah menusa yang terlalu menuruti hawa nafsu dunk yah, ndak fernah fuas segh…
    eh ya….ko saia jadi binun…
    errghhhh…

  26. 26 Fortynine 20 November 2007 at 20:35

    @hoek: Bukannya kepuasan spiritual bisa menghilangkan berbagai hawa nafsu? *sok filiosofis mode*

  27. 27 Shelling Ford 23 November 2007 at 11:45

    saya juga suka meditasi ala zen, lho:mrgreen:
    sejujurnya, ritual agama menurut saya adalah – sejauh ini – cuma semacam “kewajiban” aja. kepuasan spiritual yg saya dapatkan adalah ketika saya mengaplikasikannya dalam kehidupan sosial di masyarakat😉

  28. 28 Fortynine 23 November 2007 at 17:16

    @Shelling Ford: Terima kasih atas pencerahan sekalian pembagian pengalaman dari anda

  29. 29 RETORIKA 22 December 2007 at 23:01

    Meditasi dan rutinitas : Riding dan nonton Arsenal bertanding

  30. 30 gusti 26 February 2008 at 18:07

    KEMENANGAN UNTUK BERSAMA
    Kebenaran adalah kebenaran mutlak yang tidak bisa dipungkiri oleh hati nurani. Ada seorang bijak berkata, bahwasanya sebagai manusia kita sangat sulit untuk mencapai kesempurnaan, akan tetapi dengan penuh keyakinan kita kepada Tuhan maka kita diminta untuk menjadi orang yang baik. Untuk itu telah diberikan berbagai jalan untuk menuju kebaikan guna mencapai kebenaran yang sejati.
    Dalam kebersamaan kita sehari-hari sebagai makhluk sosial, yang selalu berhubungan dengan sesama atau umat yang lain, kita sering lupa dengan petuah bijak tadi, jadilah orang baik, terserah jalan mana yang dipilih. Mengapa kita sering lupa atau mungkin sengaja melupakan petuah bijak itu? Hati nurani tidaklah pernah buta, tuli, maupun bisu. Kita saja sebagai manusia yang dikendalikan oleh pikran yang penuh dengan keinginan-keinginan yang dilandasi oleh nafsu duniawi lebih sering untuk sengaja mencampakkan hati nurani itu.
    Umat se-Kebenaran, hendaknyalah kita mulai bersikap bijak untuk diri kita sendiri. Perjalanan hidup yang singkat dan kita tidak tahu kapan Sang Pencipta memanggil kita kembali, semestinya diisi dengan sifat-sifat dan perbuatan kebajikan. Jadikanlah hari-hari sebagai awal untuk kita instropeksi diri, untuk memulai memaknai dan menjalani hidup lebih baik berdasarkan Kebenaran. Bijak terhadap diri berarti bijak juga terhadap orang lain, berbuat baik kepada orang lain berarti telah berbuat baik untuk diri sendiri. Bukankah demikian semestinya, tiada dusta di antara kita? Segala sesuatunya kita kembalikan kepada diri kita sendiri, bercermin ke dalam hati, sudah benarkah yang kita lakukan?
    Ibarat sebuah kereta kuda yang dikendalikan oleh seorang kusir dan membawa seorang penumpang, maka kuda itu adalah hawa nafsu kita, sang kusir adalah pikiran kita, dan sang penumpang adalah Jiwa Yang Kekal. Apa jadinya bila kuda itu menjadi liar tidak terkendali karena sang kusir tidak mampu mengendalikannya? Mengapa sang kusir tidak mampu mengendalikannya, apakah karena dia bodoh, terburu-buru, tidak bisa melihat? Bagaimana nasib sang Jiwa Yang Kekal yang menjadi penumpang, apakah akan terlempar dari kereta dan terjatuh di tanah bermandi debu atau lumpur? Sang kusir tidak pernah mendengarkan apa yang disampaikan oleh sang penumpang. Pikiran tidak pernah mau mendengar kata hati nurani, celakalah jadinya. Begitu menyedihkan sang penumpang harus bermandi debu ataupun lempur. Sungguh menyedihkan sang Jiwa Yang Kekal kita penuhi dengan lumuran dosa karena pikiran kita yang bodoh, buta, tuli, dipenuhi kegelapan.
    Bagaimana kalau kereta kuda itu bertemu dengan kereta kuda yang lain? Sangatlah mungkin akan terjadi tabrakan, karena sang kusir tidak mampu mengendalikan kudanya. Bagaimana kita bisa menikmati kebersamaan bila harus melanggar orang lain? Dimana letak kedamaian itu?
    Umat sesama, adalah suatu kebahagiaan yang tidak terkira apabila kita bisa hidup berdampingan, saling mengasihi berdasarkan Kebenaran. Bila kita mampu mengendalikan hawa nafsu, mau mendengarkan kata hati nurani, niscaya tidak akan terjadi tabrakan dengan umat yang lain. Selamatlah diri kita, berjayalah sang Jiwa Yang Kekal, terbebas dari celaka debu dan lumpur dosa yang siap membalut. Maka dari itu, kemenangan itu adalah kemenangan untuk kita semua. Kemenangan untuk bersama, karena tiada yang saling mencelakai.
    Begitu banyak ajaran suci telah diturunkan, hendaknya jangan hanya untuk dibaca, dibahas, diperdebatkan. Amalkanlah ajaran itu, mulailah untuk berbuat baik, lebih baik dari yang sudah pernah dilakukan. Bukalah mata hati lebar-lebar, masih banyak perbuatan baik yang belum dilakukan. Jangan pernah merasa berbuat jasa baik, lupakan, kerjakanlah saja kebaikan itu. Segala kebaikan yang kita perbuat tidak bisa kita ukur, tidak bisa kita takar sendiri, dan jangan mengingat-ingatnya. Jangan pernah merasa puas berbuat baik.
    Sadarilah bahwa kebodohan selalu menyertai kita, maka dari itu belajar dan belajarlah terus. Banyak hal yang belum kita ketahui. Setiap hari kita lakukan persembahyangan, setiap hari suci kita datang berbhakti ke tempat ibadah, janganlah itu dianggap cukup. Karena, dalam perjalan hidup ini, banyak waktu kita untuk berbhakti kehadapan Yang Kuasa telah kita sia-siakan. Semasih hajat dikandung badan, jangan bosan untuk berbhakti, karena pada hari terakhir kita, tidak ada kesempatan lagi untuk melakukan bhakti, tidak ada kesempatan lagi untuk ber-Karma baik di dunia ini. Entah kapan itu waktunya, kitapun tidak tahu. Andaikan menitis lagi, apakah kita akan menjadi lebih baik, bisakah kita sadar, bisakah kita mendapatkan pencerahan hati, mungkinkah kita lahir kembali menjadi manusia? Itu semua kita tidak tahu, buta. Saat sekaranglah kita menentukan nasib kita pada kehidupan yang akan datang, bukan nanti dan nanti.
    Umat sesama, marilah kita berjuang terus untuk memenangkan Kebenaran dalam diri kita, agar kita semua bisa hidup dalam kedamaian, kesucian dan kebahagiaan. Kemenangan itu untuk bersama, mari kita wujudkan.

  31. 31 gusti 26 February 2008 at 18:11

    yoga-meditasi-semedi : suatu rangkaian yang tidak terlepas satu sama lain. meditasi harus didasari oleh yoga. belajar menarik nafas untuk ketenangan dalam meditasi adalah power untuk menunjang tubuh mempertahankan konsentrasi yang merupakan bagian dari yoga (pranayama). semedi didapatkan lewat meditasi yang tekun, tak tergoyahkan, sampai kondisi trance akan tetapi pikiran dan indria masih sadar. dengan semedi kita mampu mencapa kesempurnaan yoga yang tertinggi (raja yoga).


  1. 1 Agama dan Kemegahan Spiritualitas « Sains-Inreligion Trackback on 18 November 2007 at 09:02
  2. 2 Tentang….. « Generasi Biru Trackback on 27 April 2009 at 17:58

Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: