Ada apa dengan agama? Melihat pertanyaan panjang dari Bang Fertob, Difo, tulisan tulisan di bataknews dan Sora9n di sini. Saya menjadi teringat akan cerita dari seorang teman yang dikisahkannnya kepada saya. Seorang teman yang menjadi aktifis lingkungan pernah menjadi duta (entah duta apa) yang mewakili Indonesia ke Afganistan. Di sana dia bertemu dengan seorang American yang sangat mencintai budaya timur, atau mungkin tepatnya Asia, terutama dari India.

Si American ini sering berdiskusi dengan teman saya itu. Pada suatu kesempatan, si American di tanya oleh teman saya tentang wanita wanita Afganistan yang menggunakan cadar dan jubah. Menurut pendapat si American, adalah wajar jikalau wanita wanita Afgan menggunakan jilbab, atau yang lebih tepatnya jubah dan cadar. Karena kalau menggunakan busana terbuka dan tidak menutupi wajah, maka gangguan utama dan sudah sangat pasti adalah debu.

Lalu teman saya melanjutkan dengan mengajaknya berdiskusi tentang keyakinannnya. Si American menjawab bahwasanya sampai saat itu, sampai saat ia berkata dan bercerita dengan teman saya itu, dia adalah seorang Christian. Mungkin kalau bahasa Indonesianya adalah kolom agama di KTP saya Kristen. Namun itu hanya sebatas formalitas saja kata sang American lagi.

Menurutnya, meski ia adalah seorang Cristian, namun banyak hal yang tidak ia pahami dan tidak setujui. Menurutnya: saya adalah seorang Cristian. Namun saya suka Yoga, semedi, dan berbagai ritual serta latihan batin ala Hindu dan Buddha. Saya juga seorang vegetarian. Bukan untuk sok sok’an, namun saya memang sebagai salah satu makhluk hidup haruslah turut serta menjaga kestabilan alam semesta. Setiap tarikan nafas dan hembusan nafas saya sudah merubah sesuatu di alam semesta ini, ujarnya lagi.

Si American, menurut teman saya itu memiliki tatapan mata yang tenang dan teduh, pembawaannya kalem, benar benar seperti pertapa yang telah menemukan kepuasan spiritualitas tingkat tingginya. Dia juga suka puasa, dengan alasan yang dia paparkan sangat panjang.

Lantas? Kenapa kamu tidak memilih Islam sebagai agama kamu? Tanya teman saya. Saat ini saya belum menemukan agama yang sesuai dengan kebutuhan batin saya jawabnya. Dengan kata lain, si American belum merasakan ada agama yang bisa memenuhi kebutuhan batinnya, sementara dengan semedi, yoga, puasa dan menjadi vegetarian, ia sudah merasa bahwa dirinya sudah cukup terpuaskan.

Untuk kemudian ia memaparkan lagi alasan alasan dan pandangannya terhadap berbagai agama yang ia kenal. Sebagai tambahan, si American ini juga sudah banyak mempelajari Islam.

Dari saya pribadi, setidaknya sang American memberikan saya tambahan pengetahuan bahwasanya agama, agama apa saja yang ada di dunia ini. Nampaknya belum menjadi sebuah pemuas kebutuhan batin. Hanya sebatas pada aturan aturan dan ritual, atau malahan mistik dan dongeng.

Apakah ritual dalam agama tidak berguna? Bisa jadi! Rajin ibadah belum tentu rajin membantu orang yang memang perlu dibantu. Rajin ke rumah tuhan belum tentu menjadikannya seorang yang bukan koruptor. Rajin baca kitab suci belum tentu menjadikannya seorang yang santun dan berbudi pekerti luhur. Edannya lagi, alim dalam urusan agama belum tentu menjadikan manusia menjadi seorang yang pandai! Contohnya ya Antosalafy

Si A adalah seorang muslim. Sudah naik haji berkali kali, rajin ke mesjid dan jadi imam. Namun tetap saja ia pelit. Pak B adalah seorang pejabat yang tidak pernah bolos ke gereja, namun kedudukannya sebagai kepala bagian instansi tertentu ternyata tetap saja membuat beliau menghamburkan uang dan menyedot uang melalui koropsi dan kongkalikong.

Tuan C sejak kecil sudah dilatih dan diajarkan tentang kitab suci Hindu/Buddha. Bahkan sudah hapal berbagai pelajaran agama Hindu/Buddha. Namun beliau sekarang adalah bosa suka marah marah, berkata kata kasar dan menghardik bawahannya. Malahan sering memarahi sambil menggunakan wejangan wejangan agama.

Saudara D itu lulusan sekolah agama terkenal. Punya banyak buku buku agama. Hafal kitab suci agamannya. Tau banyak tentang sejarah dan riwayat orang orang terkemuka pada agamanya. Namun cara beliau menasehati ponakannya yang sudah keluar masuk penjara itu amatlah tidak bijak.

Beliau selalu menggunakan nama Surga dan neraka sebagai janji manis dan janji pahit. Tak lupa kisah kisah mengerikan yang terkadang tercampur mistik guna menakuti sang ponakan. Bujukan untuk bertaubat dilaksanakan terus, namun tidak pernah berusaha memahami kebutuhan fisik sang ponakan.

Mungkin kalau ada yang membacanya sampai habis. Akan bertanya tanya pada saya, apakah ini nyata? Ya! Tapi jangan tanyakan saya bagaimana contohnya. Bukan takut atau tidak bisa memebrikan contoh, namun saya tidak mau menambah pergunjingan tak berguna. Lagipula, buat apa menggunakan dan memanfaatkan kesalahan orang lain untuk mempertahankan pendapat kita?

Tertawa, atau marah kepada seorang pemimpin dan penyebar agama baru? Kedua duanya. Namun sebenarnya, apakah yang menjadi alasannya? Tertawa, munkin dialami oleh orang orang yang tidak peduli agama, atau malahan sudah mencapai spiritualitas tingkat tinggi.

Marah, menghancurkan dan brutal justru dilakukan oleh orang orang yang sok ngerti agama. Jangan lupa bahwasanya di manapun juga, selama ada hukum yang berlaku, saya rasa tindakan menghancurkan dan tindakan kekerasan adalah tindakan kriminal!

Baik itu rumah ibadah, rumah pribadi, hingga rumah bordil. Apabila dihancurkan tanpa sebab, atau dihancurkan secara paksa tanpa pengesahan, menurut saya adalah tidakan kriminal. Terlebih lagi, tindakan demikian mencerminkan pendeknya atau dangkalnya cara berfikir dan memandang serta menyikapi keadaan dari para penghancur.

Bagaimana jika yang menjadi pengikut atau bahkan pemimpin agama baru tersebut adalah orang orang terdekat dan tercinta kita? Atau bahkan saya sendiri? Saya sendiri tidak akan pedulikan. Kalau orang tua saya, mungkin saya akan mengajak beliau berdiskusi.

Namun kalau selain itu, misalnya teman, saudara jauh maupun saudara dekat? Saya hanya akan berkata silakan dalam hati saya. Selama dia tidak memepengaruhi saya, selama dia atau mereka tidak menjahili dan menjahati saya, saya akan tetap berkata silakan pilih jalan anda sekalian masing masing.

Kesimpulan Dari Saya

Pemuka agama telah gagal dalam mengajarkan umatnya tentang kepuasan spiritual, selama ini yang terjadi banyak sebatas kepuasan semu. Ibadah dan cara pandang menurut agama memang tidak selamanya harus menyenangkan, namun bukan berarti harus selalu menyusahkan tentunya.

Anak anak muslim diajar sholat bukan untuk kepuasan lahir batinnya. Melainkan cuma buat tolak neraka. Padahal sholat tentunya meiliki hal yang lebih dari sekedar pahala. Kesehatan jiwa raga tentu ada di sana, namun ini nampaknya hanya berlaku buat orang orang dengan tingkat spiritualitas yang tinggi.

Lagipula saya bukan ahli agama, apalagi pernah melakukan penelitian terhadap sholat. Saya hanya percaya bahwasanya yoga, pemiusatan fikiran atau semedi itu tidak ada bedanya dengan sholat. Hanya gerakannya atau tata caranya yang berbeda. Tujuan utamanya selalu kepuasan spiritual, kalau yang ini dapat. Kepuasan fisik tentunya sudah turut didapatkan pula.

Dengan kata lain, kepuasan fisik mungkin adalah langkah awal, sebelum menuju kepuasan tingkat tinggi yaitu kepuasan spiritual. Nah, kenapa kepuasan spiritual yang dicari? Jika bisa mendapatkan jawabannya, itulah kepuasan spiritual.