Kegunaan Tuhan

Kegunaan Tuhan

  1. Buat di puja puja/sembah sembah. Yang ini paling lazim. Apalagi kalau manusia dapat kenikmatan atau bahkan keberuntungan. Pasti ucapan terima kasih Tuhan, puji Tuhan dan sejenisnya bakalan berkumandang. Sampai sampai ada acara massal dalam berterima kasih dan menyembah Tuhan.
  2. Buat disalahkan/dijadikan sasaran ratapan. Kebalikan dari point satu. Biasanya kalau gagal, sial, atau lagi sakit manusia bakalan melakukan hal ini. “Tuhan kok ga adil sich. Kenapa Tuhan ciptakan aku sebagai ini dan itu. Kenapa Tuhan tidak cabut saja nyawaku supaya hilang segala duka nestapa dan penderitaanku ini?”. Dan lain sebagainya.
  3. Buat menguatkan/memberanikan. Seperti saat berperang, pakai Tuhan buat semacam doping. “Jangan takut, Tuhan bersama kita!”. Atau buat yang lagi takut sama setan, demit, dan kawan kawan. “Nyebut, nyebut. Biar ga kerasukan/ biar sadar”. Serta dalam segala keadaan genting dan terjepit. Sayangnya ini nampaknya mulai ga efektif. Soalnya biar dikasih doping Tuhan masih banyak orang yang penakut dan (katanya) kerasukan.
  4. Buat menakut nakuti/melemahkan. “Tuhan akan membalas semua perbuatan kejimu pada keluargaku!”. “Awas, jangan berani berdusta, ingat! Pembalasan dari Tuhan kelak akan lebih pedih!”. Yang ini juga mulai kehilangan efektifitasnya. Tetap aja rampok, garong atau pemerkosa melakukan tindakan kriminalnya masing masing meskipun sudah ditakut takuti dan diancam pakai Tuhan.
  5. Buat penghias keberhasilan. “Tuhan merestui penelitian kami kali ini!”. “Tuhan bersama kami dalam perjalanan melelahkan dan berbahaya kemaren”. “Tuhan membantu kami dalam keputus asaan kala tersesat kemaren”. Kalau berhasil memang selalu dihiasi yang macam begini.
  6. Buat tameng kegagalan. “Mungkin Tuhan belum merestui hubungan kami”. Serta berbagai ucapan dan dalih lainnya ketika mengalami kegagalan. Maka hilanglah emua kesalahan dan kekeliruan dalam proses pengerjaannya. Buta akan evaluasi kegagalan. Kan ada Tuhan buat dijadikan pelampiasan dan tameng kegagalan.
  7. Buat menguatkan argumen dan doktrinasi. Kalau manusianya yang di doktrin atau yang lagi dinasehati tak kunjung menurut, pakai Tuhan buat menguatkan doktrin kita. “Pokoknya yang begitu adalah wajib. Ini adalah kebenaran dan perintah langsung dari Tuhan. Azablah yang akan kau terima jikalau mengacuhkannya”. Anehnya kok banyakan gagalnya? Kurang doktrin apa anak anak kecil? Tetapi besarnya tetap nakal dan bejat. Kurang doktrin apa pejabat pejabat negara dari kecil? Kok masih korup dan gemar menyengsarakan rakyat?
  8. Buat tambahan janji manis. “Biarlah kita miskin di dunia, nanti Tuhan akan membalasnya dialam sana”. “Biarlah kita tidak membalas kekejiannya, kelak pahala akan berlimpah kepada kita.” Hasilnya? Banyakan yang takut miskin apa yang takut kaya? Banyakan yang ikhlas apa pendendam?
  9. Buat pembenaran. Paling lazim digunakan. Pembenaran guna menarik pungutan liar di jalan jalan umum. Pembenaran buat meracuni telinga tetangga. Pembenaran buat mengusir penjahat yang mau tobat dari rumah ibadah. Pembenaran buat memaksakan kehendak. Dan lain sebagainya.
  10. Buat bahan diskusi hingga perdebatan. Kalau yang ini bakalan tiada ujungnya. Namun anehnya selalu hangat dan menarik. Tak pernah berkesudahan. Bahkan diskusinya dan perdebatannya bermutasi menjadi lebih menarik ketimbang Tuhannya itu itu sendiri.

Melihat banyaknya ketidak efektifan atau kadaluarsanya beberapa point diatas. Maka wajarlah jikalau banyak yang mengatakan atau berkesimpulan bahwasanya Tuhan telah mati. Tuhan hanya imajinasi manusia. Tuhan hanya ciptaan manusia. Tuhan hanya pelarian dari ketidak berdayaan manusia. Tuhan tidak pernah ada dan lain sebagainya.

Apakah Tuhan yang salah?

Kalau menggunakan logika bahwasanya Tuhan itu serba Maha. Maka Tuhan tidak pernah, dan tidak akan salah.

Sementara manusia adalah tempatnya salah dan khilaf. Ini mungkin bukan logika, meski nampaknya realita sehingga bisa di katakan logis pula.

Maka kesimpulannya adalah: Tuhan selalu benar, dan manusia (selalu) seringkali salah. Apalagi dalam urusan Ketuhanan.

Bagaimana? Apakah nampaknya premis premis dan kesimpulan diatas logis? Ataukah nampaknya fiktif? Atau bahkan hanya kesesatan logika (logical fallacy)?

19 Responses to “Kegunaan Tuhan”


  1. 1 Guh 22 November 2007 at 14:00

    Sebagai bumbu penyedap dalam adegan seks,
    Oh god.. oh yes,.. ya allah… enak…bangett… ough!!

  2. 2 itikkecil 22 November 2007 at 14:57

    kok kayak lagu ya….. Tuhan tak pernah salah *halah*

  3. 3 cK 22 November 2007 at 15:15

    *baca komen guh*
    😆 😆 😆

    ajiiibb!!!:mrgreen:

  4. 4 hoek 22 November 2007 at 16:56

    ah…Tuhan…….
    emang bermanfaad sangadh, bahkan untuk dijadikan tofik fostingan kalo lagi ngga ada ide lain, abis mo gimana lagi?

    *lari takud ditumfuk faman farid*

  5. 5 extremusmilitis 22 November 2007 at 19:41

    Bukan-lah suatu kesesatan logika tapi bukan juga suatu kebenaran logis, karena bagi-ku justru yang harus aku per-tanya-kan adalah, apakah aku sudah melakukan yang ber-guna buat Tuhan? daripada sekedar meminta pada saat aku mem-butuh-kan, dan lebih sering lupa pada saat aku sedang senang😉

    Kita masih bisa ber-nafas sedetik-pun itu sudah lebih dari cukup untuk meminta terima kasih kepada Tuhan, bagaimana bro?

  6. 6 Fortynine 22 November 2007 at 20:43

    @Guh: *Ketawa ngakak! Sambil berfantasi seks*

    @itikkecil: Lagunya siapa itu Mba?

    @cK: Emang elu pernah liat pelem begituan Neng?

    @hoek: *Tangkap Hoek*. kamu mau macam macam sama tuhan Ya? hah? hah? hah?!!

    @extremusmilitis: Betul. Lebih bagus lagi kalau kita selalu berbuat baik seperti membantu sesama dan bersikap ramah. pasti tuhan juga akan tersenyum pada kita. betul?

  7. 7 extremusmilitis 22 November 2007 at 23:50

    DIA akan selalu tersenyum. Akur bro😉

  8. 8 Swiwi™ 22 November 2007 at 23:54

    buat menciptakan permusuhan juga kali…

  9. 9 Pyrrho 23 November 2007 at 04:36

    itu mungkin kegunaan Tuhan buat manusia, sementara kita manusia nggak pernah tahu apa kegunaan manusia buat Tuhan🙂

    *jangan-jangan manusia memang nggak berguna di mata Tuhan*:mrgreen:
    *jadi bingun mana yang subyek dan mana yang obyek*

  10. 10 sigid 23 November 2007 at 09:13

    Sepertinya ada yang sedikit mengganjal dari judul di atas.
    Dalam pikiran saya, kegunaan biasanya mengacu pada benda.
    Seperti halnya terdengar janggal jika seorang anak bertanya apa kegunaan orang tua-nya.
    He he, namun yang jelas, tanpa Dia saya ndak ada dan sudah pasti ndak bisa nge-blog😀

  11. 11 danalingga 23 November 2007 at 10:51

    Terimakasih atas pencerahannya, ternyata Tuhan mempunyai banyak kegunaan.

  12. 12 Mihael "D.B." Ellinsworth 23 November 2007 at 12:25

    Orang Atheis pun memakai kegunaan nama Tuhan jikalau mereka sedang kaget.

    A : HIA !
    B : My God !
    A : Kaget ga ?😆

  13. 13 widyasaputra 23 November 2007 at 14:14

    wah anda perangkum yang hebat, pasti anda nih sering merenung ya! salut bwat anda! lain kali bagi-bagi lagi perenungannya ttg Ketuhanan

  14. 14 Fortynine 23 November 2007 at 17:14

    @extremusmilitis: Tos!

    @Swiwi™: Bisa juga.

    @Pyrrho: jangan-jangan manusia memang nggak berguna di mata Tuhan. Wah, bisa jadi. Coba kita tanyakan pada yang sudah pernah bicara langsung dengan Tuhan.

    @sigid: Bena itu kan zat. Tuhan bukan zat ya?

    @danalingga: Sama sama

    @Mihael “D.B.” Ellinsworth:😛

    @widyasaputra: Terima kasih.

  15. 15 Xaliber von Reginhild 25 November 2007 at 18:14

    “Tuhan” memang sering digunakan sebagai alat yang sempurna bagi berbagai “keperluan” manusia…😛

    Buat menghindar juga bisa, macamnya, “Demi Tuhan, saya tidak tahu apa-apa soal ini.”😛

  16. 16 Fortynine 26 November 2007 at 17:57

    @Xaliber von Reginhild: Demi Tuhan… Saya tak sanggup berkata kata lagi setelah membaca komentar anda

  17. 17 sigid 27 November 2007 at 11:20

    He he, mungkin maksud saya semacam, Tuhan itu ndak sama dan ndak sekedar benda.
    Eh, tapi ngelantur apa to saya ini.
    Ndak usah didengerin mbak😀

  18. 18 agorsiloku 26 December 2007 at 09:45

    Kelihatankan… dari sisi manapun, bahkan pada ateis sekalipun dalam kondisi tertentu, dia sadar (atau tetap nggak sadar), ada sesuatu yang berkuasa di atas segalanya.

    Karena itu, kita sering bertanya (berprasangka) pada Tuhan. Tuhan seperti apa yang ada dalam angan dan pikiran kita.

    Ibarat cahaya lampu, menyinari segalanya, semakin dekat dengan sinar itu, semakin terang, semakin jauh semakin terasa gelap… terlalu dekat, bahkan kita larut dalam sinar itu… tak ada yang bisa tampak lagi, kecuali cahayaNya….😀

  19. 19 Neo Fortynine 26 December 2007 at 16:57

    Merasakan dan mendekatkan diri denganNya memang sulit ya Mas. tapi coba aja kalau lagi sial. pasti cepat ingat sama Tuhan


Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Twitter

  • Laporan kepada @pln_123 , hari ini sdh terjadi pemutusan aliran listrik untuk kesekian kalinya di Banjarbaru dengan durasi yg cukup panjang 23 hours ago

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: