Bingung mau menulis apa. Terpaksa bongkar bongkar berkas berkas di harddisk. Kemudian menemukan tulisannya Sora tentang Nomor 9 di Arsenal. Di baca ulang berikut dengan rentetan komentarnya. Maka, kali ini saya mencoba memancing jiwa sok reporter olahraga saya.

Nomor 9

Identik dengan nama nama penyerang. Ada Gabriel Omar Batistuta sang dewa Fiorentina. Berikut pula Ronaldo, tercatat dalam ingatan, hanya saat berada di kota Milan sajalah dirinya tidak memakai nomor 9. yaitu di kala kedatangannya pertama kali di Internazionale Milan. Kemudian saat dia balik lagi ke kota Milan untuk bermain dengan kostum AC Milan.

Filippo Inzaghi. Striker yang secara statistik goal sudah menjadi deretan penyerang terbaik di Eropa. Jumlah goalnya kalau tidak salah sampai saat ini sudah menyamai rekor goalnya legenda Jerman Gerd Muller.

Mantan duet mautnya Chile Ivan Zamorano-Marcelo Salas. Hanya saja karena kalah tua, saat Piala Dunia 1998 Salas harus mengalah memakai nomor punggung 11. Sementara di klub masing masing mereka adalah pemakai nomor terakhir dalam bilangan satu digit tersebut.

Keunikan terjadi di klub Chelsea, dimana nomor punggung tersebut sempat dipakai oleh pemain bertahan Khalid Bouhlaruz. Mungkin gara gara dia adalah pemain yang terlambat datang, sementara nomor tersebut sebelumnya dipakai oleh Hernan Crespo yang pindah. Catatan: saya tidak terlalu yakin dengan yang ini, jadi kalau salah mohon maafkan saya.

Nomor 10

Konon katanya, para legenda dan pemain terbaik di posisinya dan di tempat belaannya adalah pemakai nomor ini. Sebut saja nama Edson Arantes Do Nascimento. Diego Armado Maradona, hingga yang terakhir adalah Zineddine Yazid Zidane.

Begitu pula dengan pemain pemain terbaik di klub. Seperti misalnya Alessandro Del Piero di Juventus. Francesco Totti si pangeran diving dari ibu kota Italia. Roberto Baggio dan Giuseppe Signori pada setiap klub yang dibelanya. Hingga Adriano ketika dirinya masih bermain bagus di Internazionale Milan.

Masih dalam postingannya Sora, ada komentar yang mengatakan bahwasanya tidak semua klub mengkultuskan nomor 10. Sangat bisa jadi. Liat saja contoh contoh diatas. Nampaknya hanya terbatas pada klub klub Italia.

Salah satu contoh klub Inggris yang memberikan nomor 10 kepada pemain andalannya mungkin adalah Liverpool kepada Michael Owen, atau Manchester United saat ini, dimana mereka mempercayakan nomor pertama dalam bilangan dua Digit kepada pemain yang konon hebat yaitu Wayne Rooney.

Membahas kemungkinan di sektor klub mungkin terlalu lebar dan luas. Maka untuk lebih mempersingkat dan mempermudah, sebaiknya menggunakan negara negara juara dunia saja.

Negara dan Nomor 10

Brazil. Sejak dulu, negara yang menjuarai Piala Dunia paling banyak ini selalu mempercayakan nomor tersebut kepada pemain pemain terbaik mereka di zamannya. Edson Arantes Do Nascimento, Romario, Rivaldo Vitor Barbosa, hingga yang terakhir yaitu Ronaldinho.

Argentina. Yang ini juga nampaknya selalu mempercayakan nomor 10 kepada pemain hebat. Diego Maradona dan Ariel Ortega contohnya. Sayangnya, Maradona adalah juara dunia terakhir Argentina saat mengenakan kostum nomor 10.

Prancis. Sejak Michael Platini hingga Zidane, dewa negara mereka selalu mengenakan kostum dengan nomor punggung ini.

Italia. Sayangnya, karena kebanyakan pemain hebat dengan nomor punggung 10, setiap turnamen, satu nomor tersebut selalu menjadi rebutan. Seperti misalnya Alex Del Piero dan Roby Baggio (PD 1998). Lalu Del Piero versus Fancesco Totti (Euro 2000). Untuk PD 2006 yang lalu, seingat saya tidak ada polemik. Soalnya Alex memang tidak sedang dalam performa terbaiknya, sementara Totti sedang bagus bagusnya bersama AS Roma.

Jerman. Lothar Matthaus adalah pemakai setia nomor ini di timnas. Namun sejak Lothar Matthaus pensiun dari timnas. Nomor ini bukan lagi diperuntukkan buat pemain terbaik. Bahkan saat Euro 1996 dan 2004, serta PD 2002 dan 2006, pemain timnas Jerman berkostum 10 bukanlah pemain inti. Lagipula, pencetak gol terbanyak buat Jerman di Piala Dunia pun bukanlah pemakai nomor 10 melainkan 13.

Inggris. Berhubung Inggris adalah juara dunia palsu. Maka saya tidak tertarik membahasnya.

Uruguay. Juara dunia yang satu ini juga terlalu jadul. Sehingga data yang terkumpul sangatlah minim

Demikianlah liputan sok reporter olah raga dari saya. Sekian dan terima kasih banyak atas kesediaan anda membacanya.