Presiden Penakut yang Merepotkan

Bangun pagi kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Lalu makan dan berpakaian seragam putih biru. Hari ini kami, siswa siswi SLTPN 3 Banjarmasin akan beramai ramai menuju Poltabes Banjarmasin guna menghadiri sebuah acara besar.

Sesampainya di sana, ternyata acara masih lama. Berhubung darah masih panas dan kami memang masih bisa bebas, maka kamipun berkumpul guna patungan beli rokok buat merokok berjamaah. Maklum, sebagai anak anak SMP, merokok bukanlah kebutuhan melainkan gaya dan machoisme. Siswa yang tidak merokok adalah bencong alias banci. Pengecut, anak mami, dan berbagai julukan tidak mengenakan lainnya. Sehingga apapun resikonya, kejantanan tercermin lewat keberanian merokok dan rekor dipanggil guru BP!

Mengendap ngendap pasukan berani mati ini mencari warung terdekat dan lokasi yang kondusif buat merokok berjamaah. Sambil celingak celinguk kalau kalau ada guru yang lewat. He he he.

Acaranya apa si? Peresmian Jembatan Barito yang mana pemotongan pita pertama akan dilakukan oleh Presiden Republik Indonesia ke 2 yaitu Pak Suharto, bapak pembangunan kita.

Jembatan Barito dan Poltabes lokasinya jauh, namun memang itulah lokasi terdekat dari sekolahan kami. Kami memang berbondong bondong ke sana guna menyaksikan lewatnya Pak Harto.

Dalam bayangan saya, presiden akan lewat seperti yang saya bayangkan selama ini: Berjalan dengan mobil tanpa atap. Kecepatannya tak lebih dari 10 km per jam. Di depannya para tentara berjalan prok prok prok. Dimana sang kepala negara melambaikan tangannya, berdiri menghadapi rakyatnya.

Nyatanya? 1 jam sebelum presiden lewat, jalanan dikosongkan satu arah. Setengah jam sebelum pak presiden lewat. Jalanan dikosongkan total. Semua kendaraan diberhentikan paksa oleh aparat gabungan TNI Polri. Dan lewatlah barisan polisi dan pengawal yang kemudian diikuti oleh rombongan sedan hitam kaca tertutup yang konon bulletproof. Cepat sekali, mungkin 140 km per jam. Sedannya semuanya sama bentuk dan warnanya. Isinya sama sama satu penumpang dibelakang. Dan semuanya melambaikan tangannya. Jadi, yang mana presidennya??!!!

Ternyata lewatnya pak presiden yang ditunggu dari pagi hingga tengah hari hanyalah sepersekian detik! Jadi buat apa hari itu kami libur? Buat apa kami berletih letih dan berjejal jejal bersama masyarakat dibelakang aparat gabungan? Hanya untuk melihat rombongan mobil mewah dikawal ketat yang melaju kencang?

Semua bayangan saya tentang presiden yang lewat menyapa rakyatnya buyar. Hingga menyisakan pernyataan di kepala kecil saya: β€œPresiden merepotkan seperti itu adalah presiden penakut. Kenapa takut? Karena jahat dan banyak musuhnya!”

27 Responses to “Presiden Penakut yang Merepotkan”


  1. 1 itikkecil 16 January 2008 at 11:08

    ahahahakkkk…. pernah jadi korban yang dijemur hanya untuk menyambut si mbah?

  2. 2 Fadli 16 January 2008 at 11:15

    Sama!
    Nungguin komet Haley dan Gerhana Bulan aja ga serepot ini.

  3. 3 cK 16 January 2008 at 11:27

    menurut saya itulah perlakuan terhadap VVIP. ga heran kok. waktu presiden bush dateng aja, banyak jalan di bogor yang ditutup.

    mungkin presiden juga takut jadi sasaran karakter asinan assassin.πŸ™„

  4. 4 CY 16 January 2008 at 12:17

    Kalau misalnya (mimpi mode) presidennya baik dan jujur, yang ngincer nyawanya juga ga kalah banyak kok Rid… sudah tradisi mungkin.

  5. 5 FraterTelo 16 January 2008 at 12:24

    apapun yang dilakukan presiden tetep aja ada yang menyalahkan. lha wong namanya politik, gimana lagi.

  6. 6 chiw 16 January 2008 at 12:25

    Dalam bayangan saya, presiden akan lewat seperti yang saya bayangkan selama ini: Berjalan dengan mobil tanpa atap. Kecepatannya tak lebih dari 10 km per jam. Di depannya para tentara berjalan prok prok prok. Dimana sang kepala negara melambaikan tangannya, berdiri menghadapi rakyatnya.

    itu kan cuma bayanganmu aja !πŸ˜†
    kebanyakan nonton filem luwar negeri kamu Mas!

  7. 7 rozenesia 16 January 2008 at 13:28

    Buh, buhan kam ja nang kaya tu…

    *produk 90-an merasa nyaman dan tenang*

    *siul-siul*
    πŸ˜†

  8. 8 erander 16 January 2008 at 14:06

    Mengendap ngendap pasukan berani mati ini mencari warung terdekat dan lokasi yang kondusif buat merokok berjamaah. Sambil celingak celinguk kalau kalau ada guru yang lewat. He he he.

    Loh katanya berani .. koq beli rokok mesti mengendap2😈 pake celingak celinguk pula .. eh cari lokasi kondusif pula .. mana? mana berani ya??

    *kompor mode : OFF*

  9. 9 serdadulangit 16 January 2008 at 15:50

    “Hingga menyisakan pernyataan di kepala kecil saya: ……”

    Oooo…ternyata kepala sampeyan kecil to?
    (isinya gimana ya…? *mikir serius*)

  10. 10 manusiasuper 16 January 2008 at 16:20

    Beh, buhan kam di warungkah waktu itu??

    Unda maka’am, bepanas di pinggir jalan pas dimuka gang kebun bunga situ, mehawai-hawai bendera di tangan.

    Pas lewat sidinnya, muhanya gin kada keliatan! Kaca jendela mobilnya kadap lalu! Bisa meapakah di dalam situ…

  11. 11 extremusmilitis 16 January 2008 at 16:50

    persis seperti apa yang juga aku lihat dan rasa-kan. sekedar buat konvoi aja, plus nge-bunyi-in sirene hanya untuk mem-beritahu kalau dia atau mereka itu pejabatπŸ‘Ώ

  12. 12 Hoek Soegirang 16 January 2008 at 17:47

    nyohohohoho…begidulah, soale ntar kalo nongol bisa ditembak kek benazir bhutto….

  13. 13 ari's 16 January 2008 at 17:57

    hauhaha…. kayanya memang orang-orang itu jadi penakut setelah jadi pemimpin.
    Jadi teringat pak Agung Laksono (ketua DPR) saat berkunjung ke korban Tsunami Pangandaran, melihat pak Agung celingak-celinguk mencari pengawalnya yang pada melarikan diri ketika ada isu tsunami datang.

  14. 14 Neo Fortynine 16 January 2008 at 18:21

    @itikkecil: Iya Bu. Tapi saya ikhlas kok. Itukan bela negara. *dijitak*

    @Fadli: Ho ho.. apakah presiden dan yang anda sebutkan sama? Sama sama dari luar angkasa maksudnya.πŸ˜›

    @cK: Mungkin Bush dan Pak Harto dan presiden presiden lainnya mmang sama. mungkin aja si

    @CY: Jadi presiden berat ya…

    @FraterTelo: Politik memang kejam

    @chiw: namanya juga orang bule. Makanya saya nontonnya film luar. Bukan film Indonesia.πŸ˜€

    @rozenesia: He he he… padahal sekolah pian wan ulun jaarak tahunnya kada jauh

    @erander: Merokoknya yang berani Bang…resiko tetap harus diperhitungkan

    @serdadulangit: Itu dulu Pak. sekarang kepala saya ukurannya 36 B

    @manusiasuper: Tahu gen kada sidinnya pakai motor nang mana. Ya lo?

    @extremusmilitis: Itulah enaknya pejabat. karena itu pula mungkin banyak yang ingin jadi pejabat

    @Hoek Soegirang: Iya sich… apa perlu minta kesaltian rawe rontek supaya kebal ya?

    @ari’s: begitulah pemimpin sekarang Pak…kebanyakan berada di belakang saja

  15. 15 ekosuper 16 January 2008 at 19:09

    Bahkan Malaikat maut pengen ndeket aja susahnya minta ampuuun…

  16. 16 kangTutur 16 January 2008 at 19:44

    hmmm….
    tulisan, disita buat e-book!
    okay???πŸ˜†

  17. 17 Amed 16 January 2008 at 20:10

    Mobil atap terbuka? Mau bernasib seperti Kennedy?

    Eh, disuruh bawa bendera merah putih plastik jua lah? Gasan dikibar-kibarkan?

  18. 18 danalingga 16 January 2008 at 20:28

    Wakakak…. kasian banget deh…. presidennya…πŸ˜†

    Untung saya ndak pernah ikut ikutan gitu.

  19. 19 StreetPunk 17 January 2008 at 01:15

    Bisa jadi beliau mau nyoba gaya agen rahasia (bergerak cepat untuk menhindari sniper).
    Atau juga mungkin nggak mau direpotkan aksi brutal fans fanatik?

  20. 20 iman brotoseno 17 January 2008 at 10:33

    Soalnya dukunnya bilang,..Penangkal dan ageman yang saya pasang akan hilang kalau menyeberangi lautan..

  21. 21 suandana 17 January 2008 at 11:49

    Hanya bisa membayangkan susahnya, karena dak ikut acara begitu… (pernah ada sih, tapi saya kabur…πŸ˜€ )

  22. 22 Xaliber von Reginhild 18 January 2008 at 02:03

    Belum pernah merasakan pengalaman serupa.πŸ˜›

    Tapi Hitler yang konon banyak ‘lawan’nya saja masih melambaikan tangan. Mungkin itu karena terjadi puluhan tahun lalu.

  23. 23 Goenawan Lee 18 January 2008 at 11:59

    @: Bendera? Manukar saurang kah? Atau dibari sekolah?πŸ˜•

  24. 24 sezsy 22 January 2008 at 11:31

    pake ngibar-ngibarin bendera merah-putih kecil itu ga???

  25. 25 Neo Fortynine 23 January 2008 at 12:32

    @ekosuper: Katanya beliau pakai susuk?

    @kangTutur: Silakan Pak

    @Amed: Bawa dong. Kennedy? He he he

    @danalingga: Begitulah nasib presiden dan masyarakat

    @StreetPunk: Kurang tau juga. Yang pasti itu merepotkan

    @iman brotoseno: Ho ho ho. Pakai tolak bala dari dukun? Bisa jadi si

    @suandana: Kok bisa kabur?

    @Xaliber von Reginhild: Bisa juga karena film sniper belum dibuat.πŸ˜€

    @Goenawan Lee: Nukar sorang

    @sezsy: Iya.

  26. 26 suandana 23 January 2008 at 16:42

    Ada seribu satu alasan yang bisa dibuat, kan…πŸ˜†


  1. 1 63 Tahun? « Generasi Biru Trackback on 25 November 2008 at 07:37

Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Twitter

  • Laporan kepada @pln_123 , hari ini sdh terjadi pemutusan aliran listrik untuk kesekian kalinya di Banjarbaru dengan durasi yg cukup panjang 3 days ago

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: