Baiklah, setelah membaca kutipan di halaman posting sebelum ini. Maka saya ingin memberikan tambahan pendapat saya terhadap artikel tadi.

Bangsa Lain Selain Yahudi adalah Bagaikan Binatang

Benar? Kalau benar, sungguh dahsyat para Yahudi itu, pemikiran yang mungkin sama dengaan pemikiran ras Arya. Sayang, saya sendiri mulai kurang percaya dengan pemikiran ras Arya yang konon ingin menguasai dunia sebagai ras terbaik, jangan jangan itu semua hanyalah rekayasa daripada ras yang menganggap dirinya paling hebat.

Bangsa Yahudi mempunyai rencana besar untuk menguasai seluruh umat manusia dimuka bumi, kemudian membuat mereka bertindak secara sadar atau tidak sadar menjadi pelayan Yahudi yang derajatnya dianggap sama dengan binatang.

Horor! Benar tidaknya, silakan persepsikan masing masing. Saya? Masih setengah percaya. Salah satu alasan yang masih membuat percaya adalah gosip gosip dan atau sedikit fakta tentang presiden Amerika yang harus selalu direstui Yahudi.

Banyak strategi yang dilancarkan oleh kaum Yahudi yang berkedok Kemanusiaan, Dialog Lintas Agama, Hak Asasi Manusia, Bea Siswa, Penyebar luasan simbol Yahudi dll, yang semuanya merupakan tak-tik belaka untuk meraih tujuan akhir mereka.

Kalau yang ini nampaknya terlalu paranoid.

Strategi penyebarluasan simbol Yahudi di masyarakat kita ternyata sudah dalam tahap yang memprihatinkan. Simbol Yahudi tanpa sadar telah di gunakan pada aksesories, kaos, cover kaset dll. Kita sudah mengetahui bahwa sebuah simbol/gambar bisa berarti lebih dari seribu kata kata. Ternyata, salah satu grup musik papan atas di Indonesia yaitu DEWA telah secara konsisten menyebarkan simbol Yahudi dari mulai album pertama mereka DEWA 19 (1992), TERBAIK–TERBAIK (1995), THE BEST OF DEWA 19 (1999), BINTANG LIMA (2000), CINTAILAH CINTA (2002), ATAS NAMA CINTA I & II ( 2004), dan LASKAR CINTA (2004). Simbol Yahudi dengan cerdik diletakkan dengan berbagai cara dan hanya bisa dilihat dengan cara cara tertentu. Ada yang dibuat terbalik, disamarkan, diputar dan hanya bisa dibaca didepan cermin.

Lalu? Kalau memang tersebar, apa masayarakat bakalan mengerti? Apa masyarakat bakalan terpengaruh dan menjadi budak zionis atau budak Yahudi seperti yang diimpikan Yahudi?

Jan Pieter Frederich Kohler adalah orang Yahudi Jerman. Secara jujur Dhani berterima kasih atas gen Yahudi yang ia terima dari sang kakek. (THANKS FOR THE GEN). Bisa jadi karena kebanggaannya mewarisi gen dari opa-nya.

Ini sebenarnya urusan silsilah keluarga, kalaupun si Kohler memang seperti halnya Einstein yang Yahudi. Wajar kalau Dhani berterima kasih. Karena dia memang berniat menguasai dunia juga. Minimal dunia musik.

Soal simbol simbol yang terdapat di album album dewa, saya kurang mengerti. Hanya saja untuk album Laskar Cinta. Setidak tahu saya, menurut wawancara dengan Dhani: covernya itu adalah kaligrafi dari Iran yang merupakan tulisan huruf Arab yang sebenarnya bertuliskan “Aulloh”. 8 tulisan itu membentuk bintang yang menurut Dhani memiliki karakter kuat! Dan sudah tidak terbaca lagi karena bolongan di huruf terakhir sudah ditutup.

Lalu, kenapa juga album PANDAWA LIMA tidak diperhatikan? Apakah karena seperti terlalu “Javanese Style” karena mengangkat nama tokoh pewayangan?

Bagi saya, itu semua hanyalah simbol. Ujung ujungnya yang tahu hanyalah kalangan terbatas. Plus, belum tentu baladewa akan bermutasi jadi para Jewish. Mungkin itu hanyalah sedikit dari bentuk propaganda dan provokasi Yahudi. Who knows?

Pertama, Lirik lagu “Sweetest Place”adalah sebuah lirik penantian akan ratu adil, penantian akan datangnya sesuatu, yang bisa membuat kehidupan menjadi menyenangkan. Dan yang dinanti adalah: MATA (I’am welcoming an eye/ Into the darkest one / It tells me not to worry…) Ratu adil itu adalah MATA. Menurut teologi Yahudi (Kabbala), The eye atau Mata merupakan mata Lucifer, Sang Pangeran Penguasa Kegelapan sekaligus Sang Penguasa alam raya.

Padahal. Kalau di kasetnya ini lagu oleh Once, bukan Dhani. Apa Once jadi penyebar propaganda Yahudi juga? Apakah Once keturunan Yahudi juga? Apakah ditulisnya nama Once hanyalah sebagai pengalihan dari Ahmad Dhani?

Untuk lirik “SATU”. Entahlah, mungkin benar Dhani menerjemahkan dan mencampur adukkan ajarannya Syekh Siti Jenar menjadi lagu. Atau seperti lirik Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada yang juga merupakan wejangan ulama terkenal. Menurut Dhani, dia adalah penganut aliran sufi. Kemungkinan banyak lirik lagu Dewa 19 yang merupakan hasil “kreatifitasnya” mencampuradukkan antara nasehat dan pesan ulama dengan karya sastra lain.

Prioritas utama kebencian orang Yahudi adalah orang Kristen karenanya adanya dendam kesumat antara keduanya yang bersumber dari dasar-dasar kedua agama tersebut. Namun jika mereka kesulitan mendapatkan darah orang Kristen (untuk ritual mereka), maka darah orang Islam pun bisa dijadikan gantinya

Konon, orang Kristen pernah beranggapan (dan mungkin masih beranggapan) bahwasanya kaum Yahudi-lah yang bertanggung jawab atas matinya Yesus di palang salib. Well? Saya tidak tahu banyak urusan ini.

Tambahan ngaco dan sembarangan dari saya:

Dhani bimbang, mau ke Mesjid apa ke Sinagoga? Mau Idul Fitri ataukah mau Chanukah? Hal ini tercermin dari lirik lagu Ahmad Band:

Memang salahku, yang tak pernah bisa, meninggalkan dirinya ‘tuk bersama kamu. Walau ‘tuk trus bersama kan ada hati yang kan terluka. Masihkah ada, sayang itu. Sekali lagi maafkanlah karna aku cinta kau dan dia. Maafkanlah, ku tak bisa, tinggalkan dirinya.

Dan Dhani masih memilih untuk menuju Mesjid. *pletak*

Dari nama tiga orang anak yang dimiliki Dhani: Ahmad Al Ghazali, El Jalaluddin Rumi, Abdul Qodir Jaelani. Nama nama itu adalah nama nama yang sangat berat. Anda sekalian bisa cari tahu sendiri betapa nama nama itu adalah nama nama tokoh tokoh yang terkenal pad zamannya.

Kemudian, nama panggilan anak anak Dhani adalah: Al, El, dan Dul. Memang, rima nya benar benar puitis membentuk sajak AA. Namun, apakah jadinya kalau “Dul” dihilangkan. Lalu urutan “Al” dan “El” dibalik? Inilah hasilnya.

Terakhir. Dhani suka memanjangkan janggut, seperti gayanya para jenggoters Yahudi.

Kesimpulan. Kalau memang Dhani keturunan Yahudi, wajar jikalau dia berpropaganda. Selain memang misi Yahudi yang ingin mengusai dunia. Selain itu, kejeniusan Dhani memang terlihat dari karya karyanya seperti: Membuat sampul sampul yang bernuansa Yahudi sebagai bukti kecintaannya pada gen nya tanpa diketahui khalayak. Serta, memadukan berbagai karya untuk menjadi lagunya seperti:

  • Dalam lagu Sayap Sayap Patah: Menggunakan kata kata Kahlil Gibran sebagai lirik lagunya. Kata kata digunakan setelah mengalami terjemahan bebas. Contohnya: “Oh God, Please mend my broken wings” = “Kucoba kembangkan sayap patahku..”
  • Dalam Lagu Bukan Rahasia: menterjemahkan lagu Imagine-nya John Lennon “You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one” = Bila aku adalah seorang pemimpi, dan aku bukanlah satu satunya di dunia ini.
  • Seperti yang saya tuliskan di sini
  • Beat drum Immigrant Songs-nya Led Zeppelin buat Pangeran Cinta
  • Melodi gitar Brian May Queen buat Pupus
  • Choirnya Let’s Cling Together dari Queen yang dicomot buat lagu Hadapi Dengan Senyuman

Belum lagi yang tidak kita kira kira, seperti halnya lirik dan aransemen dari Beatles, Muse, Linkin Park, Bjork, atau King Crimson. Bisa saja semuanya dicampuradukkan Dhani.

Oke, Dhani setidaknya membuktikan bahwasanya keturunan Yahudi saja bisa secerdas itu. Bagaimana yang keturunan Yahudi asli? Maka? Jadi Yahudi yuk…..*dilempar sendal*