SWOT

Kaget! Nama saya juga ditulis sebagai undangan oleh Pak Agorsiloku. Padahal saya bukan siapa siapa. Ilmu tidak seberapa, banyak keterbatasan dalam pengetahuan. Tapi, kata orang atau mungkin kata kata yang pernah saya dengan. Kalau diundang tidak datang maka akan jadi dosa. Saya memang sudah datang, tapi apakah hanya sebatas itu saja? Tentu tidak, bukankah saya harus berusaha menyumbangkan sesuatu tentang SWOT itu?

Iya, dan dalam postingan kali ini saya akan coba menggunakan penafsiran dan keinginan serta nafsu saya sendiri untuk memberikan sumbangan sekalian pemenuhan undangan kepada artikel berjudul Mau Susun: SWOT Analisis Islam di Indonesia?

SWOT sebagai salah satu alat analisis manajemen kerap digunakan untuk mensistematisasikan masalah dan menyusun pilihan-pilihan strategi manajerial. Melihat kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dari suatu sistem atau bagian industri. Nah bisa nggak ya ini dimasukkan ke dalam dunia reliji?

Bisa jadi. Saya kurang tahu juga, makanya mari dicoba dulu.😛

STRENGTH atau kekuatan adalah unsur-unsur yang jika digunakan dengan baik akan memperkuat tujuan/sasaran.

Kalau demikian, biar saya coba cari tahu dahulu apa saja unsur unsur yang bisa digunakan sebagai kekuatan. Pertama: MAYORITAS. Meskipun mungkin hanya sebatas mayoritas dalam bentuk kolom agama di KTP, setidaknya dengan status negara dengan mayoritas penduduk ‘beragama’ Islam, Indonesia bisa menjadi salah satu negara sumber kekuatan Islam. Sayangnya, mayoritas ternyata bukan kekuatan utama dan lagi bukan kekuatan atau kelebihan yang bisa diandalkan.

Kedua: Penyebaran yang makin mudah. Adanya alat transportasi dan alat komunikasi serta kecanggihan media membuat syiar alias penyebaran agama bukanlah sesuatu yang sukar. Meskipun ditengah hutan atau pulau terpencil, pemuka agama dan penyebar agama bisa menyebarkan agama hingga menambah pengikut yang kemudian akan menjadi unsur pertama tadi. Sayangnya, inipun bukan lagi, atau terkadang malah menjadi titik kelemahan.

Ketiga: Kecocokan Budaya. Karena menurut Embah, Engkong, dan kakek kakek kita dulu bahwasanya masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang berbudi pekerti luhur, ramah dan sopan serta suka menolong. Hal ini sangat cocok bahkan sangat mendukung dengan filosofi zakat sebagai penyamarataan kemakmuran. Meski hanya bermodal syahadat, meski hanya bermodal kolom agama di KTP, manusia Indonesia atau lebih tepatnya Muslim Indonesia tidak akan menjadi pencuri karena lapar berhubung sudah banyak ‘saudara’nya yang siap menolong.

Keempat: Dampak Positif dari cara keagamaan. Liat saja kalau ada tahlilan, yasinan, apalagi sampai acara peringatan Maulid dan Isra Mi’raj atau hari Idul Fitri dan Adha. Betapa perut masing masing akan terisi hingga kenyang atau kekenyangan. Betapa roda ekonomi sangatlah memihak kepada para penyedia jasa dan barang yang bersangkutan. Acaranya saja mampu memberikan dampak positif, bagaimana agamanya/ajaran agamanya?

Sebenarnya mungkin masih banyak, namun berhubung saya sudah kebanyakan ngoceh sok tahu. Sebaiknya saya loncat kepada faktor lain saja.

WEAKNESS adalah kekurangan atau kelemahan yang jika dibiarkan akan menggerogoti kekuatan sehingga tujuan menjadi tidak tercapai atau gagal.

Kelemahannya kalau menurut saya tidak jauh jauh dari kekuatan itu sendiri. Mungkin kekuatan memang meiliki dua sisi. Tergantung kemampuan dan kebijaksanaan pemakainya.

Pertama: Kuantitas justru membuat jumawa, dan yang paling parah adalah susah diatur! Meskipun banyak, banyak pula jumlah umat Islam Indonesia yang tidak mau damai urusan rakaat sholat sunat taraweh dan jumlah adzan Jum’at. Banyak, juga membuat jumlah kepala dan perut yang diurusi dan diisi berbanding lurus.

Kedua: Penyebaran melalui media dan alat komunikasi canggih rentan disusupi misi penyesatan. Penyebaran ke kampung kampung terpencil menggunakan transportasi didahului oleh penyebar agama dari agama lain. Meskipun terkesan paranoid. Saya justru menganggap ini fakta. Bahwasanya bukan hanya umat Islam yang gencar menyebarkan agama Islam. Tentu hal yang wajar jikalau terdapat kompetensi penyebaran agama antar pemuka agama.

Ketiga: Benturan Budaya. Orang orang suku Dayak di pedalaman kalau menjadi Muslim akan langsung berhadapan dengan benturan utama dalam budaya. Kebiasaan mereka memelihara dan makan Anjing serta Babi. Mau diapakan hal yang begini? Mau langsung dibilang HARAM!? Bisa bisa mereka langsung pensiun jadi Muslim.

Belum lagi budaya lain seperti tradisi tradisi yang tidak sesuai namun tetap dilestarikan. Termasuk ritual menaruh sesajen di bawah ranjang penganten dengan alasan kedua mempelai sedang meminjam pakaian kebesaran almarhum raja raja!

Pada awal penyebaran Islam memang banyak digunakan asimilasi dan akulturasi budaya. Yang menjadi permasalahan sekarang adalah: apakah masyarakat Muslim Indonesia bisa menggunakan akal pikirannya untuk menyaring dan meninjau kembali akulturasi dan asimilasi budaya tadi?

Dan yang paling sering jadi masalah mungkin adalah: Arabisasi yang dipaksakan! Untuk yang ini saya sedang malas membahasnya. Mungkin postingan ini dan ini sudah lumayan mewakili.

Keempat: Dampak Negatif Acara Keagamaan. Misalnya mengkultuskan ulama, mencari berkah lewat cara aneh, dan tentu saja pengutamaan menjual dan membeli baju baru ketimbang meresapi makna hari Idul Fitri.

OPPORTUNITY atau peluang adalah hal-hal yang ada dan kita lihat sehingga jika kita mempergunakan kekuatan kita secara efektif dan tepat guna memungkinkan sasaran bisa dicapai dengan baik.

Media. Ini nampaknya adalah keuatan utama sekaligus juga kelemahan utama. Dengan media baik cetak seperti koran, buka dan majalah sampai selebaran, elektronik macam televisi, radio dan telepon hingga media internet adalah kekuatan utama dalam penyebaran agama, termasuk juga pemurtadan maupun pencerdasan dan pencerahan umat.

THREAT atau ancaman adalah “bahaya” atau gangguan yang masuk ke dalam sistem yang jika dibiarkan akan menggergoti kekuatan yang ada dan membuat kita semakin lemah.

Kapitalisasi SMS, pengutamaan gosip sebagai bahan berita. Menuhankan rating atau hits. Inilah yang menjadi ancaman terbesar kepada penyebaran dan pencerahan umat beragama melalui media.

Hal lain adalah misi penyesatan lewat oknum oknum yang berkedok Islam. Yang ini juga meskipun terasa paranoid dan berlebihan, namun bagi saya hal ini terasa jelas.

PESTLE Analysis

Politik adalah faktor yang mempengaruhi kehidupan keberagamaan. Sikap politik, dimensi otorisasi pemerintahan mempengaruhi kebijakan-kebijakan publik. Agama adalah salah satu isu yang kerap menjadi salah satu pemicu konflik maupun tujuan-tujuan politik dalam negara.

Kalau politik sudah menggunakan dan mengatasnamakan agama. Atau agama sudah di politikkan. Maka kata atau faktor politik akan menjadi seuatu kelemahan dan ancaman terbesar. Bukan hanya buat agama tertentu, melainkan buat semua agama.

Ekonomi menjadi salah satu faktor yang memicu pergerakan dan kepentingan dalam “mencari” ummat atau kelompok.

Bisa dijadikan senjata penyebaran agama seperti bantuan sandang pangan papan. Faktor Ekonomi juga menjadi kendala besar ketika seorang Muslim tahu bahwasanya mencuri itu haram, namun tuntutan ekonomi membuatnya tidak mempunyai pilihan lain.

Sosial. Jelas ini merupakan aspek yang sangat penting. Perilaku sosial orang beragama dan orang tidak beragama berbeda. Meskipun pada kondisi etika tertentu bisa ada kesamaan.

Kondisi sosial yang memanas, tidak mau menerima perbedaan, tidak mengenal toleransi. Hal ini adalah hambatan. Sementara kepekaan sosial dan toleransi sosial adalah kekuatan.

Teknologi. Agama dipengaruhi perkembangan budaya, khususnya dalam hal ini kemajuan tekonologi. Perkembangan sistem informasi, komputasi, mobilitas manusia mengubah cara dan tatanan hidup. Apa pengaruh teknologi dalam keberagamaan.

Pembahasan untuk ini menurut saya, isi nya kurang lebih dengan pembahasan media yang telah dituliskan diatas. Dengan kebersediaan menerima dan memanfaatkan teknologi, maka faktor teknologi dapat menjadi penyokong dan kekuatan.

Environment atau lingkungan keberagamaan memiliki perbedaan-perbedaan yang menyolok dalam keseharian. Orang yang lahir dari lingkungan pasantren berbeda dengan orang yang lahir dari lingkungan kondusif untuk melakukan kejahatan. Lingkungan hutan dan perkotaan juga melahirkan sikap keberagamaan yang berbeda.

Poin terakhir ini ada hubungannya dengan benturan atau kecocokan budaya. Serta pembahasan tentang sosial.

Demikianlah, setelah saya baca baca kembali, nampaknya saya menuliskan hal yang sangat dangkal, maka sebaiknya pembahasan kali ini saya hentikan. Dan kalaupun ada manfaatnya maka tentunya saya akan sangat bersyukur. Kalau hanya menjadi omong kosong, sayapun maklum. Terima Kasih.

7 Responses to “SWOT”


  1. 1 agorsiloku 29 January 2008 at 16:02

    Terimakasih…. tampaknya perbenturan budaya menjadi salah satu faktor dimana leburnya keislaman tidak pernah tuntas. Keinginan Islam (dalam tradisi) untuk menghindari yang haram, berbeda dengan kebiasaan/tradisi. Apakah ini salah satu kelemahan dalam proses islamisasi ataukah kecenderungan orang indonesia untuk dua-duanya diterima. Dalam budaya jawa, sepertinya ini juga termasuk salah satu aspek yang begitu kuat mencengkram.
    Terimakasih lho atas masukkannya, pemahaman budaya tampaknya satu lingkaran yang sangat mempengaruhi…
    Kalau ada… tambahan jangan ragu-ragu ya… Salam, agor

  2. 2 itikkecil 29 January 2008 at 16:46

    wheww…. lengkap sekali…. sampe bingung mau komen apa.
    tapi… pas di kelemahan, kok dari yang pertama langsung loncat ke ketiga ya?

  3. 3 Goenawan Lee 29 January 2008 at 17:38

    Wah, lumayan panjang. Komen yang aku ketahui dulu aja.😛

    Ketiga: Benturan Budaya. Orang orang suku Dayak di pedalaman kalau menjadi Muslim akan langsung berhadapan dengan benturan utama dalam budaya. Kebiasaan mereka memelihara dan makan Anjing serta Babi. Mau diapakan hal yang begini? Mau langsung dibilang HARAM!? Bisa bisa mereka langsung pensiun jadi Muslim.

    Benar, udah budaya kalau memelihara anjing, tapi kalau makan babi sih nggak juga. Orang Dayak yang sudah Islam nggak makan babi lagi, tapi yah kebanyakan masih memelihara anjing.😉

  4. 4 Mrs. Fortynine 29 January 2008 at 21:49

    wew! *keplok keplok*

    keren banget Sayang?

    udah coba diterapkan dalam aspek lainnya belom?😉

  5. 5 Mr. Fortynine 29 January 2008 at 22:25

    @agorsiloku: Terima kasih kembali buat Pak Agorsiloku. Nampaknya asimilasi dan akulturasi yang belum bisa dipikirkan ulang, atau dikaji ulang yang membuat budaya sirik masih tetap terjaga dan menjadi penghalang perkembangan Islam.

    @itikkecil: Maaf salah, waktu mengkopi ke notepad ada yang kelupaan. Tapi sudah saya edit kok.

    @Goenawan Lee: Jadi yang harus dikaji ulang budayanya? apa Islamnya? apa Anjingnya?

    @Mrs. Fortynine: Terima kasih. Saya memang keren. Belum dicoba tuh

  6. 6 Ersis W. Abbas 30 January 2008 at 07:46

    Wow ‘cara’ membahasnya itu khas, asyik, dan menarik. Saya suka gaya penyajiannya. Bagus.

  7. 7 mayssari 30 January 2008 at 08:29

    setuju sama pak Abas


Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: