Antara Udin dan si Boy

Dalam hidup ini, tersebutlah seorang Udin. Anak pegawai negeri golongan bergaji standar UMR. Seorang Udin yang pernah menjadi ‘bejat’. Pernah berciuman di dalam kelas ketika kelas masih berisi banyak siswa siswi. Pernah melecehkan siswi lain dengan meremas menyentuh payudaranya. Mojok di berbagai tempat seperti kelas, taman umum sampai mojok di dekat mesjid kampus. Kalau membonceng wanita selalu dipeluk erat erat oleh si wanita.

Atau lebih memilih tidur, bercanda dan bermesraan dalam kelas ketimbang memperhatikan guru dan dosen sedang cuap cuap sambil berusaha mencuci otak siswa/mahasiswanya.

Udin juga seorang lelaki gondrong tidak rapi yang malas berpakaian formal. Memakai baju kaos oblong dalam resepsi pernikahan. Sering acuh terhadap lingkungan dan pandangan masyarakat sekitar. Tidak bersahabat dengan tetangga dan adik adik angkatan.

Apa hasilnya? Cap sebagai ‘preman’? imej sebagai ‘anak nakal’ atau ‘anak bengal’? dikatakan sebagai pria mesum dan paling berdosa oleh para akhwan dan ikhwan aktifis keagamaan kampus?

Sementara itu, Boy, seorang anak pejabat kaya yang kelebihan duit. Boy bukan anak yang suka pacaran di kelas melainkan mengajak pacarnya check in atau menginap ke villa mewah orang tuanya. Boy juga tidak suka melecehkan lawan jenis, bukan karena alim namun karena jaim. Boy juga tidak pernah membonceng wanita karena Boy tidak naik motor melainkan naik mobil.

Boy menamatkan kuliahnya dengan baik sebagai mahasiswa sopan dan rapi termasuk dalam riwayat akademis. Boy bukan aktifis keagamaan namun lumayan sering menyumbang buat mereka.

Udin menjadi pekerja jujur di kantor penyedia jasa. Menjadi seorang pekerja keras yang menjaga tanggung jawab dan kepercayaan. Udin mungkin anak nakal, tapi bukan pembohong, bunglon apalagi penjilat.

Sementara si Boy, dengan kekuatan ekonomi dan diplomasi orang tua dan keluarganya berhasil menjadi pengusaha sukses. Sering tukar guling, kongkalikong sampai nyogok aparat sebagai beking.

Bisnisnya berkembang pesat lewat kebijakan kapitalis campur elastis yang diterapkannya. Boy bisa berteman dengan musuhnya dan sebaliknya dengan cepat, asalkan bisa dapat untung dan bisa terus melaba.

Udin tetaplah Udin. Si anak nakal yang mungkin hanya bisa dipahami dan dimengerti teman teman dekatnya atau mereka yang menjauhkan prasangka buruk. Si anak nakal yang teman temannya dari berbagai kedudukan sosial.

Boy tetaplah Boy. Anak ‘bersih’ yang menjadi pujaan penjilat dan anteknya. Si anak terhormat yang pergaulannya dengan para pemuda rapi bermartabat. Anak keturunan baik baik yang ‘mengisap darah’ dengan cara halus terselubung.

Ah, ini hanya sekedar remake dari lirik lagu Slank berjudul Gemerlap Kota.

Diantara gemerlap kehidupan kota
Udin kecil, hanyut di dalam impiannya
Dia terbuai
Dia tak mampu menggapainya

Diantara gemerlap kehidupan kota
Si Boy kecil hanyut membeli impiannya
Dia terbuai
Dia tertawa
Karna semua didapat tinggal meminta

Kita… hidup bersama mereka
Kita… hidup bersama mereka

Diantara gemerlap kehidupan kota
Udin kecil, coba paksakan impiannya
Benak menghitam
Pisau digenggam siap menikam

Diantara gemerlap kehidupan kota
Si Boy kecil, coba hamburkan impiannya
Coba yang hitam
Membakar uang, turun ke jalan menjual nama bapaknya

Nasib pertemukan mereka
Perang di simpang jalanan
Cuma karena salah paham
Si Boy tewas, Udin masuk penjara..

Apakah si Boy sang business man akan tewas ditikam si Udin? Entahlah, tapi bisa saja si Udin mewakili hati dan perasaan yang kesal dari orang orang yang banyak dirugikan si Boy lewat ‘permainannya’

Lagipula, jika Udin anak nakal, orang akan membencinya dan menabukan perbuatannya. Sementara si Boy, jikalau dia membakar uang, yang terpengaruh olehnya dan menjadi pengikutnya bisa banyak.

Kalau Udin tampil tidak layak, orang akan menjauhi kemiripan dengan tampilannya. Sementara gaya penampilan si Boy akan menginspirasi orang lain untuk menyamai dan mengikutinya. Meski dengan berbagai cara.

Kebohongan Udin di tempat kerja mungkin akan merugikan segelintir pihak. Sementara kejujurannya tidak akan terlalu dihadang dan ditentang. Kebohongan si Boy dalam bisnisnya menguntungkan segelintir pihak dan merugikan banyak pihak. Kejujuran si Boy ditunggu banyak orang namun kedustaan yang diminta segelintir ‘rekannya’ membuatnya bertahan dalam dusta.

Ah postingan ini…. hanyalah kesinisan terhadap orang kaya dan berduit, padahal orang kaya masih banyak jujur dan dermawan, betul?

18 Responses to “Antara Udin dan si Boy”


  1. 1 Cabe Rawit 14 February 2008 at 11:38

    Ahhh… kalo cerfen ini (ini cerpen bukan sih??? Ah, ane anggap aja!) diangkat menjadi sintentron, gak apa-apa ane yang jadi si Boy, bang Forty yang jadi Udin. Kalo cerfen ini direfleksikan dalam dunia nyata, gak apa-apa kita gantian, ane yang jadi si Boy, bang Forty si Boy-na…:mrgreen:
    *diemut*

    Yayaya… Orang jujur yang jadi terpidana, pendusta yang dipuja…😯

    Refleksi yang bagos bang..🙂

  2. 2 cK 14 February 2008 at 11:40

    kirain ini tentang kamu, rid…

  3. 3 itikkecil 14 February 2008 at 12:03

    orang kadang-kadang cuma bisa melihat dari tampilan luar saja.

  4. 4 Nazieb 14 February 2008 at 15:12

    Hohoho iya inih, mirip cerita-cerita di silit-tron ituh…
    :mrgreen:

  5. 5 rajaiblis 14 February 2008 at 15:20

    siapa suruh terlahir jadi manusia …
    begitu berat penderitaanmu nak …
    coba jadi kambing tetangga, tentu hidupmu gak begitu amat …
    yg penting gemuk, mahal kalo dijual dan mati masuk sorga sebagai alat sesembahan !

    wakkakkakakkaaa …

  6. 6 Mrs. Fortynine 14 February 2008 at 18:08

    dari paragraf satu sampai dengan empat… aku melihat kamu Mas…
    dan aku tau itu benar 😆

    setelah itu? aku nggak tau…

  7. 7 hariadhi 14 February 2008 at 23:43

    hebat.. rasanya ini cerita soal sayah. Cermin yang benar-benar bening.

  8. 8 Ghira 15 February 2008 at 10:24

    Paradoks kehidupan…

  9. 9 Mbelgedez 16 February 2008 at 09:40

    Sebenernya sayah mirip-mirip si Boy looohhh….

    ***xi…xi….xi…. ngikik di kamar hotel….***

  10. 10 Mr. Fortynine 16 February 2008 at 21:39

    @Cabe Rawit: Terima kasih. Ini cuma postingan iseng karena lagi bengong. Akhirnya mencoba me’remake’ lirik lagu Slank

    @cK: Kalau tentang saya. Emangnya kenapa?

    @itikkecil: don jat de buk prom its koper?

    @Nazieb: Cerita setantron™?

    @rajaiblis: Jadi kambing enak ya? Bisa ngesex tanpa pedulikan norma

    @Mrs. Fortynine: Melihat saya dari sudut mana?

    @hariadhi: Terima kasih pujiannya. Saya jadi malu…

    @Ghira: Yah, begitulah…

    @Mbelgedez: Weks?!1$%^&^

  11. 11 suandana 17 February 2008 at 14:15

    Udin atau Boy? Ada opsi lain, gak?😀

  12. 12 Andrew Anandhika Wijaya 17 February 2008 at 23:33

    hee… mas farid pacaran didalam kelas…???

    *merujuk ke komennya mbok pethakilan*

    yang buruk nggak selamanya jahat…

    yang baik belum tentu juga busuk… ada kok anak gemerlapan yang nggak mirip ama boy…

  13. 13 nurcha 18 February 2008 at 14:55

    Numpang lewat..
    Yah, itu mah pilihan yah… mau pilih yang manah…
    kalo ku pikir mah selalu ada kekecualian untuk apa pun… halah meni beurat begini….
    wakakak

  14. 14 Mr. Fortynine 18 February 2008 at 16:15

    @suandana: Ada. Misalnya… Amat, Saue, Stefanus, atau Cing San. 😛

    @ Andrew Anandhika Wijaya:

    yang baik belum tentu juga busuk… ada kok anak gemerlapan yang nggak mirip ama boy…

    Bagus!. Pacaran di kelas? He he he….

    @nurcha: Hidup memang pilihan…

  15. 15 tikabanget™ 19 February 2008 at 12:47

    uhuk..

    **lirik blogger blogger berduit meteran ituh..**

  16. 16 Neng Keke 19 February 2008 at 16:38

    Kayaknya sih cakepan Boy :p :p :p

  17. 17 stey 5 March 2008 at 17:32

    kalo harus milih..mending udin ah..ada aroma anak nakalnya..hahaha..

  18. 18 mo'mampus 14 March 2008 at 17:56

    pacaran di kelas..?
    padahal si boy sama udin sekolah’a
    di STM..yang jelas” gak ada cewek’a..
    terus mereka pacaran sama siapa ya..?
    hiiiiiiii..jangan..jangan..


Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Twitter

  • Laporan kepada @pln_123 , hari ini sdh terjadi pemutusan aliran listrik untuk kesekian kalinya di Banjarbaru dengan durasi yg cukup panjang 3 days ago

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: