Dahulu, ketika masih bersekolah di bangku sekolah menengah pertama, saya tak pernah lupa untuk menyisakan sebagian dari uang saku untuk membeli tabloid olahraga BOLA. Meskipun jatah uang saku harian cuma 500 rupiah sementara tabloid olahraga BOLA harganya adalah 1750 rupiah, terbit setiap Jum’at. Meskipun terkadang seharian saya tidak belanja apa apa demi menyisihkan uang saku, saya merelakannya saja. Demi kesenangan pribadi.

Sejak tahun 1996 memang saya sudah mulai rajin membeli tabloid olahraga tersebut. Pada masanya, tabloid itu adalah yang terlengkap dan terbaik dalam penyajian berita olahraga. Analisa pertandingan di tabloid itu juga banyak membantu saya untuk memenangi taruhan tebak skor pertandingan. Dan banyak juga mencantumkan serta menganalisa sejarah sejarah perhelatan perhelatan besar semacam Piala Dunia dan Piala Eropa hingga ajang kompetisinya negara negara Asia Tenggara Asian Games.

Dengan jadwal lengkap yang didaptkan dari tabloid bola, hampir tidak satupun pertandingan sepakbola live yang disiarkan salah satu stasiun televisi swasta Indonesia saya lewatkan. Dalam kasus ini adalah Serie A Italia. Dan anehnya, saya lebih banyak ketiduran kalau nonton pertandingan Liga Inggris yang memang tidak bermutu itu. Sampai sampai tugas karya tulis dari sekolah pun saya kerjakan dengan bahan bahan yang bisa dikatakan semuanya diambil dari BOLA, dikerjakan dengan mesin ketik pinjaman 😀 .

Sayangnya, setelah meningkatkan produksi dengan terbit 2 kali seminggu, harga tabloid ini terus meroket. Sementara kantong saya isinya tidak bertambah. Setalah berjuang mati matian untuk tetap bisa eksis membeli tabloid BOLA. Di tahun 2000, tepatnya bulan Desember saya menyerah. Cover tabloid BOLA terakhir pada saat itu adalah Dennis Bergkamp yang berkostum merah Arsenal.

Sejak pertama kali nonton Piala Dunia tahun 1994. Piala Dunia 2002 adalah Piala Dunia yang paling sedikit saya tonton partainya dari sekian banyak perhelatan sepakbola terbesar sejagat itu. Padahal pada tahun 1994 saya masih belum begitu mengerti dengan dahsyatnya sepakbola yang katanya bisa membutakan mata primordial bangsa itu. Yang saya tahu adalah saya ikut sedih ketika Diego Armando Maradona; Dewa sepakbola Argentina harus meninggalkan Piala Dunia dengan kenangan buruk: Dicekal karena mengkonsumsi zat terlarang!

Kemudian dilanjutkan ketika si Boncel menangis tersedu sedu di bangku penonton saat menyaksikan tim nasional kesayangannya dikalahkan oleh Rumania yang saat itu juga dipimpin oleh ‘Maradona dari Balkan’ George Hagi. Kok jadi ngelantur begini tulisannya???? Idenya kemana mana, tidak terarah…. Balik ke BOLA dulu!

Pada tahun 2002 saya masih berstatus mahasiswa yang ngekos. Sehingga tidak bisa menyisihkan uang untuk beli BOLA guna mengikuti perkembangan World Cup 2002 Korea and Japan. Di kost saya juga tidak ada televisi, sehingga hanya dikala akhir pekan, atau ketika saya berkunjung kerumah teman sajalah saya bisa menonton pertandingan sepakbola kelas dunia itu.

Tahun 2004. ketika Portugal menjadi tuan rumah Euro saya sedang tidak dalam keadaan ngekos. Saat itu saya bolak balik Banjarbaru Banjarmasin dengan angkutan khusus mahasiswa bernama DAMRI. Berhubung saya ga pernah lagi bayar ongkos DAMRI karena keseringan jadi kernet itu bus. Akhirnya saya bisa membeli lagi tabloid BOLA untuk mengikuti perhelatan sepakbola benua Eropa tersebut.

2 tahun kemudian. Saya sudah lepas dari jiratan siksa neraka dunia yang bernama kuliah di FKIP UNLAM yang butut dan ndeso itu. Sehingga saya bisa menikmati Germany 2006 dengan tenang. Meski untuk membeli tabloid BOLA saya harus memapas uang jatah rokok dan uang jatah makan.

Saya sungguh tidak menyangka Italia bisa jadi juara, saya lebih berat ke Prancis atau Argentina. Gilanya, Prancis justru bermain sangat buruk ketika penyisihan, dan hanya faktor keberuntunganlah yang membuat mereka lolos ke babak selanjutnya. Namun setelah itu saya akui bahwasanya Prancis menunjukkan kapasitasnya dengan melanju kencang ke Partai Final. Termasuk dengan menghajar tim paling sombong dan angkuh di dunia: Brazil.

Sementara Italia bermain inkonsisten. Permainan mereka sangat jauh dari cerminan calon juara dunia ketika mereka meladeni Amerika Serikat. Bahkan kemengan mereka dari Australia adalah pemberian wasit! Bukan karena kemampuan mereka sendiri. Argentina main sangat bagus, sampai akhirnya dikalahkan oleh tuan rumah Jerman dalam drama adu penalti.

Jerman sendiri bermain sangat fenomenal, kalau menurut pandangan pribadi saya. Pelatih tim nasional Jerman saat itu adalah pelatih yang bakalan menangani Bayern München musim depan: Jürgen Klinsmann. Klinsmann menyuguhkan permainan tim! Ketika Michael Ballack absen, Jerman tidak kehilangan kekuatannya pada partai pembuka dan penutup. Mungkin Klinsmann belajar banyak dari Piala Dunia sebelumnya dimana Jerman dikalahkan oleh Brazil dikala Ballack absent.

Sekian laporan pandangan mata kali ini. Kapan kapan saya lanjutkan lagi tulisan sok reporter olahraga macam ini.