Pelajaran Berbahasa Buat yang Merasa Beragama

Anda pernah belajar Bahasa Indonesia di sekolah? Kalau anda sekolah di Indonesia tentu saja pernah, betul? Tapi kenapa ya, masih ada orang orang yang menanggap sepele pelajaran berbahasa? Saya percaya orang itu bukan anda. Iya kan?

Saya memang bukan lulusan sebuah lembaga pendidikan yang mengkhususkan alumnusnya untuk menjadi pengajar Bahasa Indonesia. Namun saya tercatat sebagai mantan mahasiswa sebuah lembaga yang menghasilkan tenaga pengajar. Mungkin kali ini saya bisa sedikit menyalurkan apa yang didapat selama pendidikan dulu.

Buat anda yang merasa nilai Bahasa Indonesia di raportnya bagus, sebaiknya anda minggat saja dari postingan yang tidak penting ini. Buat yang merasa ingin mengambil pelajaran dari apa yang akan ditulis di sini, silakan teruskan membaca, lalu kalau bisa berikan tambahan sebagai bahan pencerahan dan renungan buat saya. Atau buat siapa saja yang mau ikut mengambil pelajaran.

Totem pro parte. Adalah majas yang menyebutkan keseluruhan, tetapi yang dimaksud adalah sebagian. Contohnya: Indonesia menang dalam pertandingan bulu tangkis di Korea.

Demikianlah yang saya kutip dari selembar kertas hasil fotokopi yang tentu saja saya sendiri tidak tahu darimana sumbernya, atau pengarangnya ataupun penerbitnya. Karena itu hanyalah selembar kertas tanpa ada cantuman daftar pustakanya.

Sekarang contoh Totem pro parte dari saya: Indonesia mengirimkan pasukan bom bunuh diri ke Iraq dalam rangka membantu Iraq yang sedang berperang melawan Amerika Serikat.

Setiap kata kata yang bermakna suatu negara dalam kalimat contoh diatas adalah totem pro parte. Indonesia: apakah Indonesia-nya yang mengirimkan pasukan bom bunuh diri itu? Apakah Indonesia itu semacam makhluk hidup yang bisa melepaskan pasukan bom bunuh diri? Tentu tidak seperti itu bukan?

Yang dimaksudkan Indonesia tentu saja adalah para rakyatnya, para pemimpinnya dan unsur unsur lain dalam suatu negara yang bernama Indonesia. Tidak semua rakyat Indonesia suka perang. Tidak semua rakyat Indonesia adalah pejuang bom bunuh diri. Serta tentu saja tidak semua manusia berkewarganegaraan Indonesia ingin ke Iraq hanya untuk bunuh diri. Begitu juga dengan kata ‘Iraq’ dan ‘Amerika Serikat’.

Totem pro parte bisa menyingkat tempat jikalau digunakan untuk headline sebuah berita di media cetak. “Indonesia kirim 200 orang untuk menjadi relawan ke Iraq”. Bahkan bisa saja kalimat contoh saya tadi ditulis seperti itu apabila dimuat dalam headline sebuah koran.

Ketimbang menjelaskan panjang lebar apa itu Indonesia dalam kalimat headline, tentu saja akan lebih irit tempat kalau ditulis seperti itu saja. Lagipula wartawan dan editor beserta tukang cetak itu berita tentu saja bukanlah orang yang berkewajiban untuk menyadarkan, apalagi memaksa pembacanya untuk mengerti sepenuhnya. Karena apa? Ya karena tugas mereka adalah menyampaikan berita, bukan membuat masyarakat pembaca faham apa makna tersurat dan tersirat dalam sebuah berita.

Siapa yang bertugas untuk membuat pembaca faham apa makna tersurat dan tersirat? Menurut saya yang paling utama adalah dirinya sendiri. Gunakan segala macam pengetahuan, pengalaman dan pelajaran yang didapat oleh diri sendiri untuk membaca, memahami dan menyikapi sebuah wacana.

Bagi anak anak kecil yang belum banyak tahu, belum banyak pengalaman dan belum tahu banyak ajaran, tentu adalah tugas orang dewasa yang membagi ilmunya, dan memberitahu mereka. Sekalian mengajari dan saling berbagi tentunya. Bukan merasa dirinya benar sendiri. Dengan berbagi, kita dan mereka sama sama belajar, lantas jalan selanjutnya silakan tentukan masing masing. Siapa tahu kelak anak yang kita ajak berbagi bisa lebih pandai dari kita, sehingga gantian kita yang memetik ilmu dari anak tadi.

Kembali kepada contoh kalimat. Kalau diri masing masing sudah saling menggunakan segala pelajaran yang dan pengalaman yang pernah dipetik, tentunya setiap tenaga pendidik di sekolah tidak bakalan banyak keluhan karena murid muridnya sudah pada cerdas, paling tidak mau belajar sendiri untuk meningkatkan kemampuan tafsiran.

Buat yang lagi belajar agama, bukankah pelajaran berbahasa sangatlah penting? Untuk sopan santun, adab dan adat saat berdakwah dan berceramah, dan tentu saja dalam menafsirkan segala sesuatu, bukan hanya kitab kitab dan riwayat riwayat. Dan bukan hanya menafsirkan tentunya, dalam tindakanpun tentu saja akan berpengaruh.

Bersikap bijaksana dan berlogika dalam menanggapi suatu wacana atau acara, tentu saja hal itu adalah ciri orang orang yang baik dan bakalan disukai oleh manusia manusia lain yang ada disekitarnya. Meskipun orang itu tidak beragama. Jadi? Masa umat beragama mau mempermalukan diri sendiri dengan bersikap tidak bijaksana dan tidak berlogika?

Sekarang saya mau kasih contoh lagi. ‘Agama mengajarkan kepada manusia agar mempercayai Tuhan’. Apakah itu berarti ‘agama’ itu makhluk hidup yang bisa mengajar? Bukankah kata kata agama hanyalah sebuah totem pro parte dari umat beragama? Ya, siapa lagi yang mengajarkan untuk percaya Tuhan, berbuat baik kepada sesama, menjaga kelestarian alam, dan lain sebagainya kalau bukan umat beragama. Tentu saja bukan agamanya yang harus susah payah jadi guru untuk mengajar. Manusialah yang berusaha untuk mengajarkan ajaran agama. Bukan agama yang mengajarkan agama. Bukan begitu?

Anda menyimak tulisan ini dari awal sampai akhir? Terima kasih.. mungkin saya ingin merepotkan lagi sedikit dengan memberikan pekerjaan rumah. Apa pendapat atau tanggapan anda terhadap kalimat berita ini:

CNN Report: Islam Suka Akan Kekerasan dan Identik Dengan Pemaksaan. Hari ini Islam makin menancapkan citra mereka sebagai teroris dunia dengan menghancurkan sebuah tempat hiburan malam. Para pelaku berdalih hal ini dilakukan guna menyongsong bulan Ramadhan.

Pemerintah daerah dimana masyarakatnya mayoritas Islam telah menetapkan bahwasanya pada siang hari tidak boleh ada warung makanan dan minuman yang buka demi menghormati bulan Ramadhan. Tidak boleh pula terlihat ada manusia yang makan dan minum selama siang hari, tidak peduli siapa dia dan apa agamanya. Jikalau tertangkap melakukan kegiatan terlarang tadi maka akan dihadiahi hukuman cambuk dan denda.

Silakan tuliskan jawaban anda dalam bentuk essay yang bisa dikumpul kapan saja di kolom komentar di bawah ini. Jangan lupa untuk mengisi url jikalau anda memang punya dan berani untuk mengisikannya sehingga saya bisa menyerang balik ke alamat anda jikalau komentar anda tidak menyenangkan buat saya!

Kalau anda memang memberikan tanggapan, tolong gunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Paling tidak sesuai EYD. Bukan ejaan kearab araban, ketimur tengahan, kebarat baratan, apalagi kekebun binatangan dan kehutan hutanan. Karena saya mengertinya Bahasa Indonesia, bahasa Banjar, bahasa Inggris, Jerman, sedikit bahasa Spanyol, Prancis dan Italia. Bukan bahasa padang pasir, dan bukan bahasa asal salin rekat dari sumber tidak jelas dan meragukan bukan pula bahasanya para orang orang yang suka berdandan tidak sesuai pada tempatnya seperti manusia yang berdandan ala padang pasir padahal tinggalnya di negara tropis.

Demi mempermudah anda, sebaiknya gunakan bahasa nasional kita Bahasa Indonesia saja, biar saya terbantu dan mendapat tambahan ilmu serta para pembaca bisa saling membantu dan menambahkan. Setuju?

Selamat berkomentar bagi yang bersedia, saya ucapkan terima kasih duluan atas segala komentar anda yang manis dan memuji saya sebagai pria ganteng dan cerdas. Terima Kasih.
😀

29 Responses to “Pelajaran Berbahasa <strike>Buat yang Merasa Beragama</strike>”


  1. 1 Mrs. Fortynine 26 March 2008 at 17:26

    Nggak mau berkomentar!

    terserah kamu!!!

  2. 2 Mihael Ellinsworth 26 March 2008 at 17:27

    Jadi, apakah Islam adalah suatu jenis Mahluk Hidup atau… *PLAK !*

    Waduh, kayaknya yang satu ini bukan bagian saya. Saya jadi penonton atau tukang kompor saja, deh.:mrgreen:

  3. 3 cK 26 March 2008 at 17:34

    panjang! saya lagi dedlen!🙄

  4. 4 Mr. Fortynine 26 March 2008 at 17:39

    @Mrs. Fortynine:Terima kasih atas komentarnya

    @Mihael Ellinsworth: Asal jangan jualan kompor aja Deb… He he he

    @cK: Iya iya…

  5. 5 norie 26 March 2008 at 18:36

    waduh…
    tumben nih.. sepi.
    biasanya sudah rame nih jam segini.
    *pergi muter-muter dulu aahh..*

  6. 6 calonorangtenarsedunia 26 March 2008 at 19:31

    Tanggapan saya terhadap berita tersebut? Singkat saja.

    Hana Repot Report: CNN, yang dinilai sebagai media massa paling tidak seimbang di dunia, telah meyakinkan publik bahwa CNN memang antek Amerika yang memiliki hobi melakukan aksi pukul rata persepsi.

    Bagaimana?

  7. 7 Charles 26 March 2008 at 19:37

    Setuju. Di dalam mengungkapkan pendapat kita (baik yang berhubungan dengan agama atau tidak), kita harus mengungkapkannya dengan sopan. Perkataan seseorang mencerminkan kepribadian orang tersebut…😀

    Tulisan terkait:
    t*i – Seolah Kata Biasa…

  8. 8 danalingga 26 March 2008 at 19:45

    Wah, ternyata totem pro parte itu berbahaya juga.

  9. 9 quietnoise88 26 March 2008 at 21:36

    Haben Sie ueberhaupt, wenn ich hoeflich fragen darf, in Ihrer künstlerischen oder “schoepferischen” Tätigkeit, oder in Ihrer schulischen Laufbahn von dem Begriff “Stilmittel” (z.B. Personifikation) gehoert. Manchmal darf man manche Äuserungen nicht so wörtlich nehmen, wie Sie in Ihrem Aufsätzen über Religion postuliert haben.

    Gruß

  10. 10 dewi 26 March 2008 at 22:33

    “Anda pernah belajar Bahasa Indonesia di sekolah? Kalau anda sekolah di Indonesia tentu saja pernah, betul? Tapi kenapa ya, masih ada orang orang yang menanggap sepele pelajaran berbahasa? Saya percaya orang itu bukan anda. Iya kan?”

    sorry to say, Yes Im!!! (waah, bkn bahasa Indonesia, jd klo ndak dipublish, Rela kok…:-) )

    Jika saya, Anda, atau siapapun membuat survey, polling, ato iseng-iseng tanya ke teman, siapa yg menjadikan bhs Indo pelajaran favorit? sebagian kecil.
    dari hasil survei ato apapun namanya, menunjukkan ada sesuatu yang salah dalam pengajaran bhs Indonesia. mungkin metode, kemasan materi, bahan ajar, media pembelajaran, atau SDM pengajarnya?

    makasih utk pelajaran bahsanya, tapi sorrrriiii dewi bukan pelajar teladan, jadi belon ngeRjain PR-nya😦😦

    *diliat dari tata bahasa, pemilihan kata, kira2 termasuk pribadi yg gimana ya saya ini?*🙂

  11. 11 RETORIKA 27 March 2008 at 00:22

    Saia salah seorang yang menjadikan pelajaran Bahasa indonesia sebagai mata pelajaran favorit saia semasa di Oz college😀
    (maklum pelajaran indonesianya setara dengan materi pelajaran bahasa indonesia di sltp di kurikulum P&K):mrgreen: bisa jadi lumbung nilai!

    Anehnya saia masi ndak tau apa itu kata “Toleransi Beragama” Bletak (ditimpuk FPI)👿

    Banyak diskusi menarik, konstruktif yang jadi mandeg atau ternodai akibat beberapa “jihad junkies” nimbrung di dalamnya.

    ingat ini karena mereka terlalu emosional dan sensitif saat membahas sebuah topik yang berhubungan dengan agama, terutama agamanya! sehingga ilmu yang mereka dapatkan di sekolah formal seolah menguap begitu saja dan berubah menjadi :

    1. sumpah serapah dan ancaman berupa pedang, piso golok dll
    2. “Pokoknya” kambing, walau bisa terbang😆
    3. disaat membahas sebuah faham-ideologi entah mengapa mereka sontak menyambungkanya dengan ayat2 dari kitap suci tertentu.
    4.tidak mau membaca annoucement dengan benar (termasuk postinganya) langsung ke kolom komentar dan mendongeng …

    liat dan bandingkan sendiri :

    http://retorika.wordpress.com/2008/03/24/keutamaan-sekularisasi-hukum-pada-umat-beragama/

  12. 12 RETORIKA 27 March 2008 at 00:22

    atau di postingan yang ini ..

    http://retorika.wordpress.com/2008/03/24/keutamaan-sekularisasi-hukum-pada-umat-beragama/

  13. 13 fahroe 27 March 2008 at 01:03

    dari gaya bahasa itu,.. terdapat makna bahwa CNN memang mengadu domba ISLAM.

  14. 14 joyo 27 March 2008 at 05:41

    ada hungungannya ya antara berbahasa dengan beragama…?

  15. 15 Mr. Fortynine 27 March 2008 at 10:45

    @norie: Yang lain lagi pada ibadah mungkin

    @calonorangtenarsedunia: Bagus Bu. Essaynya saya kasih nilai 8.

    @Charles: Iya Pak, bukankah ada ujar ujaran ‘anda sopan kamipun segan’.

    @danalingga: Iya. Apalagi buat yang suka tafsir buta tanpa pakai logika.

    @quietnoise88: Entschuldigen Sie. Ich versetehe nicht. I mean not all of the words I can fully understand. So, I’m afraid there will be misunderstanding. Would you mind if I ask you to rewrite it in English? Because I have lost almost all of my ability to understand Deustch.

    @dewi: Konon, di negara negara berbahasa Inggris pun English bukanlah pelajaran favorit. Mungkin karena banyak yang menganggap bahwasanya pelajaran berbahasa itu tidak penting. Namun kenyataannya? Liatlah Indonesia.. nampaknya pelajaran berbahasa harus lebih ditingkatkan.

    Ga papa. PRnya sifatnya cuma sunnah. bukan wajib alias bersifat memaksa.

    @RETORIKA: Pasti anda selalu dapat nilai tinggi untuk pelajaran Bahasa Indonesia. Karena sudah fasih duluan.😀

    Mau bagaimana lagi Pak? Namanya juga sudah terbiasa menggunakan otot, nafsu dan terbuai janji surga. Makanya sporadis, anarkis, dan destruktif terus bawaannya.

    @fahroe: Nilai 9 untuk anda

    @joyo: Itu bukan jawaban PR maupun bukan komentar yang perlu dijawab karena sudah terjawab dalam komentar komentar lain dan terutama dalam postingannya.

  16. 16 erander 27 March 2008 at 12:04

    Ulun pake basa banjar pang hehehe *baru belajar nih* .. kadak paham apa itu Totem pro parte .. itu nama partai jar?? .. oya, ntar lagi kan mau Pemilu🙂

    Rid .. abang suka baca kolom di majalah Intisari, tentang Bahasa Indonesia. Disitu banyak sekali ilmu2 bahasa yang baru abang tahu, yang selama ini abang sangka kan sudah benar .. eh, taunya salah.

    Kesimpulannya, apa yang sering diucapkan atau digunakan orang ternyata belum tentu sama dengan kaidah2 berbahasa .. hmm, mudah2an postingan ini mencerahkan ya Rid.

    *hidup-kan lampu biar terang*
    *diluar awan mendung sekali*

  17. 17 Mr. Fortynine 27 March 2008 at 17:30

    Mungkin saya juga perlu baca Intisari buat nambah pengetahuan…

  18. 18 erickningrat 27 March 2008 at 21:36

    mensana in corpore sano
    *kaburrrrrrrrrrrrrr*

  19. 19 deteksi 27 March 2008 at 23:54

    Agama mengajarkan kepada manusia agar mempercayai Tuhan

    Hehe.. [menurut saya] jelas ini bukan majas totempropart, Cak!

    Penjelasan Anda setelah kalimat tersebut di atas kurang tepat. UMAT BERAGAMA bukan totempropart dari AGAMA, begitu pula sebaliknya

  20. 20 RETORIKA 28 March 2008 at 00:52

    @ Mr fortynine

    iayalah temen sekelas bule semua, yang baru bisa ngomong “apa kabar atau selamat pagi”:mrgreen:

    giliran ketemu majas, SPOK saia baca buku SD dulu deh😯

  21. 21 Mr. Fortynine 28 March 2008 at 10:08

    @deteksi: Pada makna hakikinya memang betul. Namun pada penerapan yang sering terjadi… seperti contoh ini: Agama saya melarang untuk membunuh orang. bukankah itu hanyalah kiasan lain terhadap orang yang mengajarkan agama kepada si penyebut. soalnya tidak mungkin agamanya yang hidup, lalu mengajar dan berkata kata bahwasanya “Aku, aku sebagai agama melarang kamu untuk membunuh orang”. *Sok tau Mode*

    @RETORIKA: Ha ha ha. Harusnya anda dan orang Indonesia lainnya disediakan kelas khusus supaya persaingannya berimbang…😀

  22. 22 calonorangtenarsedunia 28 March 2008 at 14:51

    Cuma 8??!!

    Standar saya itu 10. Tunggu saja. Akan saya buat esai yang lebih bagus lagi!

    Penulisan kata ‘Essay’ itu seharusnya ‘esai’, Bro.

    *mengingatkan*

  23. 23 ketawa 28 March 2008 at 15:39

    jangan bikin malu orang cerdas di depan pacar nya donk hanna

  24. 24 Mr. Fortynine 28 March 2008 at 16:39

    @calonorangtenarsedunia: Protes nih ye…

    Terima kasih sudah mengingatkan. Saya memang belum lancar bahasa Indonesia, soalnya kelamaan tinggal diluar negeri. *Cinta Laura Mode*

  25. 25 putra pamungkas 28 March 2008 at 16:49

    salam kenal aja deh

  26. 26 Mr. Fortynine 28 March 2008 at 17:13

    Salam kenal juga..

  27. 27 Suhadinet 5 April 2008 at 23:33

    Totem pro parte ‘ntu diambil dari bahasa apa-an yach? Trus apa di english juga ada majas m’cam bgitu-an yach? Sori, begayaan haja-lah.

  28. 28 stey 7 April 2008 at 20:35

    *ambil kamus besar bahasa indonesia*
    *siap-siap komen*
    Saya pikir dan saya juga mengalami bahwasanya di Indonesia ini tidak pernah ada warung yang ditutup dengan paksa demi untuk puasa ya?Kalau diminta dengan hormat untuk mnghormati yang puasa mungkin dan buat saya itu harus. Toleransi antar umat itu yang membuat sebuah negara menjadi lebih kuat.
    *hos..hos..susah komen serius*

  29. 29 Dion 19 June 2008 at 16:04

    “Islam Suka Akan Kekerasan dan Identik Dengan Pemaksaan.” ini punya nilai provokasi, itu kebanyakan orang tau. Ini ga punya landasan logika, atau kehilangan logika kata, atau dengan sengaja logika kata itu diputar balikkan, ini yang tidak banyak orang tau. Akibatnya adalah politik pencitraan, ini kebusukan yang langka orang tau.

    Kehilangan dasar logika : Islam adalah kata subjek, berati mereka berbicara tentang Islam, bukan tentang gw atau bermiliyar umat muslim besar lainnya, bukan juga berbicara tentang golongan tertentu. Tapi mereka berbicara tentang Islam, sebuah ajaran. Dikatakan disana, ajaran tersebut memiliki ke-sukaan, atau semacam hoby yaitu kekerasan. Jadi Ajaran Islam suka akan kekerasan, sedangkan ajaran tidak memiliki sebuah kesukaan atau hoby, ajaran tidak bergerak dan hidup lalu melakukan pengeboman tapi ajaran itu adalah kumpulaan nilai-nilai yang mengajarkan. Dari sini saja CNN bukan lagi seperti memberitakan suatu kejadian dengan etika bahasa jurnalistik yang tepat, tapi sepertinya mirip seperti sebuah puisi personifikasi. atau ini sebuah alegori?

    Idientik, bukan deskaden dalam bahasa serapannya, terasosasi dengan erat terhadap pemaksaan. Ajaran Islam ternyata dimata CNN mengasosiasikan dirinya secara erat dengan pemaksaan padahal kata “tidak ada paksaan dalam beragama” adalah spirit umat Islam yang berasal dari kutipan ayat di Al-Baqarah. Jelas lagi2 ini ga logis.

    Inilah contoh konkrit sebuah teknik bahasa baru yang disebut dengan simulasi, atau bahasa bentukan, sebuah kenyataan kreasi. Dan simulasi bahasa media terutama dalam pencitraan buruk dan pembunuhan karakter, khususnya media amerika telah dirumuskan sejak era perang dunia ke dua oleh kumpulan filsof2 positivistik sperti Jhon Dewey dkk (baca : Noam Chomsky) inilah yang melahirkan Black Campaing dan Red Scare dikedepan harinya, untuk meruntuhkan ideologi2 tandingan yang bisa menghambat amerika untuk menjadi Negara adikuasa. Dan Islam sebagai penghambat dikenal sebelum masa bom minyak era 80an ketika arab memboikot minyak terhadap amerika dan eropa sebagai protes serangan mereka ke Israel (sudah jelas ada dikompas 2 hari yang lalu) sejak itu arahan media mereka dilancarkan untuk menghancurkan akar kekuatan utama pemersatunya yaitu Islam.

    Padahal siapa yang merupakan teroris besar abad ini? Presiden Selandia Baru menjawab lantang “Amerika!” Morales jawab “Amerika!” Ahmadi Nejad jawab “Amerika” Chaves jawab “Amerika” Cina jawab “Amerika!” banyak orang jawab Amerika! dan sekarang hanya Islam saja yang berani secara frontal melawan mereka dan beberapa glintir komunal kecil seperti Subcomandante Marcos yang berada di Chiapas. Melawan dengan pena dan senjata.

    Berapa banyak korban jatuh di Irak? berapa Rumah dibombardir? pabrik es dibom siang hari dan hanya ada belasan korban mati sementara pabrik tersebut rata dengan tanah? ini manipulasi media baru lagi. cuih. Yang mereka bom itu sekolah, museum, rumah2, yang mereka tembak itu anak2, sipil dan perempuan, lantas apa yang menyebabkan mereka tidak layak dianugerahi sebagai teroris nomor satu didunia? Mengapa CNN diam saja? ga ambil poling? seluruh dunia ini sudah sepaham tentang amerika, cuma Indonesia aja yang lambat pemahamannya. Untung ada site ini yang menyibak majas menjijikan CNN yang memang sudah lama dibahas oleh pakar2 semiotik lain yang mempunyai penalaran peka seperti Baudrillard sampai Yasraf Amir Piliang.

    Salam perjuangan
    Salam persatuan
    bukan pembebasan, bebas dari penjajahan bukan bebas menelanjangkan perempuan
    bebas membela kebenaran dan berpakaian iklim padang pasir tropis dan negara tropis katulistiwa.
    karena kultur arab sudah lama mengakar dari pakaian hingga bahasa disini
    salju dari kata Tsalju, Kalam dari kata Qalamu, Hakim dari kata Hakim
    bahkan Pram merunut pengenalan kata adil di Indonesia pertama kali dikenal dari bangsa arab.
    salam damai
    salam slank juga
    Dan satu lagi
    salam stopgoblog

    wassalamualaikum wr. wb.

    nb :maaf kalau ada yang tidak berkenan dalam ucapan gw.


Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Twitter

  • Laporan kepada @pln_123 , hari ini sdh terjadi pemutusan aliran listrik untuk kesekian kalinya di Banjarbaru dengan durasi yg cukup panjang 23 hours ago

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: