Sedari siang tadi hujan terus mengguyur, pulang kantor saja basah kuyup karena lebatnya hujan. Mau ke warnet juga masih hujan. Meskipun ketika saya sedang mengetik ini hujan sudah reda, namun waktu di sini sudah menunjukkan pukul 10 malam. Sebenarnya bukan jam 10 malamnya yang bikin saya malas ke warnet, melainkan malas keluarkan si Fabio yang saat ini sedang menikmati istirahatnya di garasi kecil yang tiap pagi melatih kesabaran saya untuk mengeluarkan Fabio. Jadi kalau tulisan ini selesai, mudah mudahan besok malam ga hujan lagi sehingga saya bisa majang ni tulisan.

Rencananya mau cerita soal lomba kemaren yang diadakan di Duta Mall. Mungkin akan saya mulai dari keberangkatan, setelah dari Banjarbaru dihadang mendung tapi tak berarti hujan, saya bisa sampai dengan selamat di rumah Amed, dimana si Amed sendiri sedang berada di rumah bersama Harie, lantas kami menunggu si Fadil untuk bersama sama berangkat menuju Duta Mall, satu satunya Mall di Banjarmasin dan tentu saja satu satunya pula Mall di Kalimantan Selatan. Lalu? Langsung protes aja deh, protes itu kan nikmat, sama nikmatnya dengan iri hati, dengki, sombong.

Eh, ga jadi. Nulis yang lain saja dulu. Setelah didalam perjalanan sukses motret jalanan Banjarmasin yang pemandangannya diganggu adanya Fadil yang lagi naik motor, lantas saya mengikuti regulasi panitia yaitu daftar ulang mirip seperti kegiatannya anak SMA baru mau masuk kuliah. Setelah itu, karena panitia tidak sanggup menyediakan 1 komputer untuk 1 peserta karena keterbatasan komputer, peserta harus onlen gantian, beruntungnya saya dapat giliran Sesi pertama sehingga bisa pulang cepat. 😛

Saya kembali lagi habis Magrib ketika pemenang akan diumumkan, padahal ini buang buang waktu dan bensin saja, toh saya sudah dipastikan tidak bakalan menang. Namun dengan alasan kemanusiaan yaitu menjemput Bapaknya Nadira saya balik lagi ke Duta Mall malam itu.

Suasana di sana sungguh hangat, bahkan cenderung panas laksana gurun. Bayangkan saja ketika ratusan atau mungkin jutaan manusia berkumpul diterowongan sempit tak berujung dan tak bertuan plus tanpa saluran pembuangan keluar masuk udara, apa yang akan terjadi? Tragedi Terowongan MINA!

Sementara ratusan orang yang berkumpul di Duta Mall harus menikmati hangatnya suasana yang disebabkan oleh padamnya AC di Duta Mall sehingga suhu udara ketika itu mungkin mencapai 28 derajat celcius. Dan tentu saja sebagai manusia yang terbiasa hidup di kisaran suhu antara 20-16 derajat celcius, keadaan malam itu tentu bisa melumerkan saya. Untung saja saya tidak meleleh waktu makan di KFC salah satu tempat makan yang tersedia di Duta Mall. Lalu pengumuman pemenang juga tertunda oleh karena satu dan banyak hal. Acara kalau tidak salah bubarnya adalah jam 10 malam.

Eh sebelumnya ada beberapa hal kecil namun tentunya tidak boleh dilupakan untuk diceritakan. Seperti soal datangnya si Cewekbawel (yang merupakan calon istrinya Fadil) ke acara sambil bawa perutnya yang mungkin hamilnya sudah mencapai 4 bulan itu, ini sebenarnya penting ga si??? Lalu soal perjuangan Mansup nyari nomor telepon anaknya Sarah, tapi ternyata Sarahnya belum punya anak. Atau perjuangan Mansup nyari gandengan baru, paling tidak untuk one night stand di acara. Eh, kok Amed ga ada ceritanya? Lha, si Amed kan duduk manis dengan tenang sambil ingat anak istri di rumah. Ya sudah, sekarang waktunya untuk kenikmatan duniawi bernama protes.

Pertama: Waktu diminta registrasi ulang via email, panitia meminta untuk turut mencantumkan nama dan nomer telepon. Mungkin yang ada di benak saya adalah suara seksi dari kejauhan sana yang akan menelepon saya soal waktu dan tempat penyelenggaraan partai final. Nyatanya? NIHIL. Tak satu nomor asing yang masuk ke daftar panggilan henpon. Jangankan suara seksi, suara cempreng yang ancurpun tidak. Dan anehnya lagi, waktu registrasi tertulis, alamat blog saya ada tapi tidak nama administratornya, padahal di email saya sudah nulis nama asli saya yang disesuaikan dengan KTP?????

Kedua. Waktu diadu nulis, gangguannya banyak dan mungkin terlalu banyak, mulai dari fans para pengunjung yang terlalu dekat bahkan ikutan memelototi layar monitor dimana saya sedang nulis sehingga niatan saya untuk sekalian nyambil download konten dewasa pakai fasilitas yang disediakan panitia menjadi teganggu. Lalu suara super bising yang bahkan lebih bising ketimbang speaker rumah ibadah, dimana suara suara mirip raungan setan itu terus memecah belah konsentrasi lewat alunan nada nada yang sudah terdengar sebagai teriakan ga jelas saja di telinga saya. Kemudian ada dancer sexy yang sayangnya ga pakai acara pakaian melorot yang turut serta mengganggu kekhusyukan saya dalam menulis karena harus mengalihkan pandangan kepada mereka.

Saya memang salah karena malam sebelum final saya malah lebih asyik nonton bola ketimbang bikin draft tulisan. Lha, yang mau ditulis apa ga tau kategori dan syarat syaratnya…taunya baru ketika sampai di tempat penyelenggaraan partai final.

Ketiga. Meskipun pendaftaran bersifat gratis, tidak selayaknya peserta di telantarkan kondisi perut dan tenggorokannya. Itu yang pada olimpiade masa ga dikasih makan, yang lagi asik main perang perangan onlen apa ga haus? Apa mereka itu bawa makan dan minum sendiri ya? Juga ID card buat peserta yang sampai kehabisan sehingga saya tidak kebagian ID card! Kenapa sampai begitu?! Ah, protes memang sungguh nikmat. 😛

*Semua hasil jepretan rencananya saya pajang di flickr yang bisa diakses oleh anda sekalian melalui sidebar blog ini*