Radit dan Jani

Ternyata masih ada produser yang tidak menjual mimpi seperti halnya produser produser lain (apalagi Dinasti Punjabi yang hobinya membuai masyarakat Indonesia dengan jualan mimpinya). Film berjudul Radit Dan Jani yang baru saja saya saksikan benar benar bukan jualan mimpi seperti halnya film film remaja dan film film percintaan Indonesia lainnya.

Dalam film ini diceritakan bagaimana sepasang suami istri Raditya (diperankan oleh Vino Bastian) dan Anjani (diperankan oleh Fahrani) yang harus berjuang mati matian untuk menjalani kehidupannya. Radit adalah seorang musisi idealis yang tidak mau membawakan lagu lagu cengeng. Sebagai konsekuensinya tawaran pekerjaan yang semakin sepi hingga puncaknya adalah Radit dikeluarkan dari bandnya karena idealisme gilanya untuk menolak manggung di cafe dan mebawakan lagu Radja!

Sementar untuk bertahan hidup mereka terpaksa mencuri, hingga cari kerjaan sampingan. Masalah mulai bertambah ketika pasangan ini akhirnya menghadapi kenyataan bahwasanya Jani hamil, sementara Radit makin kecanduan obat obatan.

Meskipun mereka sudah berusaha memenuhi kebutuhannya dengan menjalani berbagai macam profesi, tetap saja kenyataan bahwasanya harga harga termasuk harga rumah kontrakan dan ongkos tagihan ledeng serta listrik lebih mahal daripada sekedar idealisme dan kekuatan cinta mereka berdua.

Radit sudah berusaha menjadi apa yang dia bisa, mulai menawarkan demo musiknya kepada berbagai produser, jadi petugas parkir valet, hingga buruh kasar dan akhirnya penjaga klub malam. Sementara Jani sampai sampai merelakan dirinya menjadi petugas cuci piring di restoran.

Namun ternyata semuanya berakhir sempurna. Radit harus menghadapi kenyataan bahwasanya kehamilan Jani membutuhkan lebih daripada sekedar cinta Radit yang meluap. Radit dan Jani tak mungkin bertahan dengan makan cinta dan kasih sayang. Kehamilan Jani tidak bisa pula diberi asupan gizi dengan kesetiaan dan rasa rindu serta perhatian besar dari suaminya.

Maka akhir sempurna dari cerita ini pun terjadi: Anjani akhirnya dikembalikan oleh Radit kepada keluarganya, lantas Anjani dicarikan orang lain oleh keluarganya. Orang lain yang bisa membahagiakan Anjani dan anak yang ada dalam kandungannya hasil kolaborasinya dengan Radit.

Dalam detik detik terakhir film Radit dan Jani ini digambarkan anak Anjani sudah besar sedang bermain dengan papa barunya yang nampaknya orang terpelajar dan berduit, tidak seperti papa biologisnya yang berdandan ala Rocker tanpa masa depan.

Melihat alur ceritanya, nampaknya film ini masih layak untuk ditonton ulang oleh saya (entahlah oleh anda). Film juga seharusnya bisa menjadi film yang diputar disekolah sekolah sebagai film yang mengandung pelajaran, termasuk pelajaran bergaul yang tidak seperti biasanya, juga pelajaran memaki maki. Selamat Menonton!

24 Responses to “Radit dan Jani”


  1. 1 Mihael "D.B." Ellinsworth 13 August 2008 at 20:38

    Sejatinya itu film sudah lama sekali lho….:mrgreen:

  2. 2 itikkecil 13 August 2008 at 20:39

    belum pernah nonton… tapi sudah baca resensinya…
    salah satu cerita yang benar-benar realistis…

  3. 3 Mr. Fortynine 13 August 2008 at 20:47

    @Mihael “D.B.” Ellinsworth: Iya tau. Filmnya juga udah lama ada di harddisk. Hanya kebetulan lagi keranjingan buka buka koleksi film sekalian lagi gatal sok sok’an nulis soal film

    @itikkecil: Entahlah dengan ratingnya. Apakah serealistis kisahnya

  4. 4 jensen99 13 August 2008 at 21:22

    Duh, film ini dah nginep 2 minggu di kompie dan blum ditonton juga.
    Tapi ringkasan dari temen2, plus resensi diatas, menurutku endingnya kok malah ‘gak sempurna’ ya? Rasanya keterlaluan banget mengawinkan ulang Jani dengan orang lain. Harusnya ortunya kan malah bantu subsidi?😕
    Aeh, nonton dulu deh. baru komen lagi…

  5. 5 Amed 13 August 2008 at 23:25

    Alah, pasti nontonnya cuma karena ada Vino Bastian-nya aja…

    *kabur setelah melontarkan ad hominem plus gosip gak jelas*

  6. 6 Mrs. Fortynine 14 August 2008 at 00:41

    yaampuuun… baru nonton…:mrgreen:

    betewe, emang asik kok ini filem…
    andai aja kita tonton berdua… pastinya makin seru…😳

  7. 7 Mr. Fortynine 14 August 2008 at 05:58

    @jensen99: Lho? Justru ending yang tidak bahagia itu yang sempurna kalau menurut saya, karena kalau happy ending sama saja dengan klimax klimax yang lainnya.

    @Amed: Kok tau kamu Med?:mrgreen:

    @Mrs. Fortynine: Emang kenapa kalau baru nonton? Nonton berdua? Nanti diulang deh nontonnya

  8. 8 annmolly 14 August 2008 at 18:38

    Wah gue mo nonton minjem harddisknya skalian dikloning yaks!

  9. 9 Mrs. Fortynine 15 August 2008 at 01:48

    haks… ganti templet lagih… [-(

  10. 10 chic 15 August 2008 at 16:36

    one of the best indonesian movie… untungnya ada diantara film-film Indonesia lainnya yang ga mutu

  11. 11 Mr. Fortynine 16 August 2008 at 00:09

    @annmolly: Boleh Pak..

    @Mrs. Fortynine:
    Komen OOT *cap sepam!*

    @chic:
    Iya. Paling tidak jalan ceritanya yang realistis

  12. 12 Myryani 16 August 2008 at 12:40

    saya juga dah nonton tuh film….
    keren abiz….

  13. 13 ma2n-smile 16 August 2008 at 14:54

    hiks… hiks… aq belom nonton…..hiks…
    kunjung balik ya

  14. 14 takochan 16 August 2008 at 20:04

    Wah.. entah kenapa saya sering agak malas menonton film2 yg ramai dibicarakan, khususnya produksi dalem negri:mrgreen:

    Salah satunya ya ini, dulu kan lumayan rame dibahas. Tapi kalo Vino yg main rata2 filmnya, ya.. not so bad lah. (FTV itu perkecualian:mrgreen: )

  15. 15 Mr. Fortynine 16 August 2008 at 23:34

    @Myryani: Nonton di bioskop apa lewat DVD?

    @ma2n-smile:
    Sudah saya kunjungi, tapi ga kasih komen.:mrgreen:

    @takochan:
    Lho, kenapa? Sudah pesimis duluan dengan film Indonesia ya?

  16. 16 pendatang baru 18 August 2008 at 23:58

    vino-nya menurut saya over-acting, tapi ceritanya lumayan. meski gak logis. tapi gak setiap realita kayak gitu juga kok.

  17. 17 Mr. Fortynine 19 August 2008 at 02:55

    @pendatang baru: jadi kalau yang realistis dan logis yang seperti apa? Seperti film dan sinetron ini?

  18. 18 jensen99 22 August 2008 at 22:12

    Hehe, akhirnya s4 nonton juga😛 Sy tarik deh, komen sebelum nonton diatas:mrgreen:
    Komen ulang! Generally, memang layak tonton. Sepakat.😉
    Personally, film ini bikin mual!:(
    1) Karakter2nya sering kutemui sehari2. Cape liat lg di layar…
    2) Rasanya kurang orang. pasangan itu pny tll banyak musuh, tp gak pny teman. Mmg masuk akal, tapi ‘ganjil’
    3) Kisah cintanya mengingatkan pada kisah sendiri. Shit..!👿

  19. 19 Mr. Fortynine 23 August 2008 at 06:42

    @jensen99:

    Personally, film ini bikin mual!😦
    1) Karakter2nya sering kutemui sehari2. Cape liat lg di layar…
    2) Rasanya kurang orang. pasangan itu pny tll banyak musuh, tp gak pny teman. Mmg masuk akal, tapi ‘ganjil’
    3) Kisah cintanya mengingatkan pada kisah sendiri. Shit..!👿

    1. Iya. Karakter biasa. Tapi justru membuatnya makin realistis kalau menurut saya. Ketimbang menghasilkan tokoh berhati seputih susu

    2. Tul, setidaknya dan seharusnya minimal mereka punya beberapa kawan akrab

    3. Astagfirullah!

  20. 20 faisal14 25 August 2008 at 12:56

    wahhh bagus juga nich tulisannya,, salam kenal ya dari para blogger, view juga nich blog ku di http://faisal14.wordpress.com. nice to knowing you soon.

  21. 21 arda!! 21 October 2008 at 15:59

    aku suka bangat nonton film ini.skali pn aku dtg dr malaysia tp aku faham deh bahasanya…juga pemain nyee ganten bangat seh!!!

  22. 22 ury 31 December 2008 at 11:35

    Ini film indonesia pertama yang bikin gw nangis2,.,.
    Palagi kerasa deket sama kehidupan kita sendiri,.,.

  23. 23 rheifania 26 February 2009 at 16:36

    aduh…sayang sekali Rhe belum pernah menlihat film itu…emang bagus ya???habisnya Rhe suka males sih…klu nonton.Apalagi biasanya film itu bisa nyampe 2jam-an kan??bisa ngantuk deh…hehehehe

  24. 24 Mimi 9 October 2012 at 23:04

    Sukaaaaaaa sekali sama film ini…
    Banyak pelajaran, terutama buat pasangan muda…
    Menjalani hidup susah seneng sama2 dan tetep setia walaupun keadaan udah hancur begitu…

    Tapi satu yg aku gak suka, endingnya sebenarnya ngancurin bagusnya film ini,
    karena mereka gak sama2 ujungnya, walaupun msh sm2 cinta, tapi bagi aku mereka hancurin semua perjuangan yang telah mereka lalui, jadi sia2 semua kalo tau ujungnya gitu…

    Tapi walaupun begitu aku dapat menangkap satu pelajaran “cinta memang gak harus memiliki”

    Dan satu lagi film drama Romance Indonesia yg paling the best buat aku yaitu film Milli dan Nathan…


Wanna leave your comments?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Monthly Archives

RSS Artikel Orang

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 219 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 219 other followers

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


%d bloggers like this: