Adeknya Pak Erte

Saya, meskipun cerdas, pintar, pemurah, baik hati, tampan rupawan dan ganteng begini juga pernah berorganisasi. Jadi waktu kuliah dahulu tidak sekedar datang duduk diam lantas jadi mahasiswa manis bertampang intelek, atau sampai sampai membuat wajah ganteng saya ternoda oleh penampilan dengan wajah mirip trigonometri seperti halnya kebanyakan mahasiswa jurusan eksak maupun sok eksak yang seringnya tampil berpakaian rapi berkacamata sehingga terlihat seperti mahasiswa atau pemikir sejati.

Saya memang bukan tipe mahasiswa penurut yang suka akan ketaatan pada peraturan. Salah satu bentuk pemberontakan saya adalah ketika memanjangkan rambut dan dimusuhi dosen satu program studi. Bahkan dosen yang menjadi kesayangan salah seorang rekan sekampus sampai sampai mengharamkan nilai B buat saya karena faktor rambut. Termasuk skripsi saya yang sempat dihambat gara gara masalah rambut.

Kalau menurut kepada HAM keparat basi, mungkin saya bisa menuntut balik. Bahkan kalau saya adalah orang yang kecanduan agama saya bisa berdalih bahwasanya memanjangkan rambut itu tidak haram. Dengan sedikit kutipan riwayat atau hadist entah yang palesu ataupun yang aseli, sambil sedikit sedikit menggunakan tuhan sebagai senjata plus bawa bawa surga dan neraka sebagai beking sebenarnya saya bisa melakukan serangan balik.

Namun bukan itu yang saya lakukan, sekeras apapun saya akhirnya memilih untuk bersikap realistis ketimbang sok jadi manusia yang memiliki idealisme. Meskipun niat memanjangkan rambut sampai sekarang masih terkubur dalam selokan sempit bernama peraturan keparat. Biarpun keinginan dan hasrat memelihara rambut masih terkurung dalam urusan mencari pekerjaan dan kesopanan buatan manusia, saya yakin suatu saat nanti tetap akan ada kesempatan. Kalaupun tidak, toh saya sudah pernah melakukannya. Walaupun semua foto saya ketika masih berambut panjang saya jelas ga akan bisa saya dapatkan lagi gara gara semuanya disimpan mantan pacar yang….

Bukan soal omelan itu yang ingin saya perbesar, bukan pula alat kelamin, melainkan soal pemberontakannya. Pemberontakan (menurut saya) ada karena adanya peraturan atau ketidakpuasan dari sebuah aturan. Baik itu peraturan manusia, masyarakat, ataupun Tuhan sekalipun.

Bisa dibilang pemberontakan adalah rekan sejati dari peraturan. Jadi sebenarnya pencipta peraturan adalah kreator dan pemelihara pemberontakan juga. Dosen, dengan kekuasaannya sebagai tuhan kampus telah menciptakan berbagai peraturan. Salah satunya dalah kebijakan tidak boleh mempergunakan sendal dalam masa perkuliahan. Dengan mengatasnamakan kesopanan dan kerapian, maka peraturan ini diberlakukan. Apakah dengan peraturan ini akan tidak ada pemberontakan? Bukan peraturan namanya kalau tidak ada pemberontakan.

Bukan haram minum Whiskey kalau ga ada yang masih minum. Bukan bela negara namanya kalau tidak ada Gerakan Atjeh Merdeka atau Gerakan Kalimantan Merdeka! Ada sebab selalu ada akibat. Intinya peraturan itu ada memang untuk dilanggar.

Artinya ketika kita, dosen, pemerintah, ustad, nabi, atau bahkan tuhan sekalipun ketika membuat peraturan maka selalu akan diiringi dengan pemberontakan. Hanya sekarang, besar kecilnya pemberontakan tadi. Apakah habis di hati, di mulut, di tindakan, atau bahkan habis sebagai puncaknya sebagai pemisahan alias keluar dari peraturan. Semakin keras dan mengikat peraturan, semakin besar potensi pergesekannya dengan pemberontakan. Semakin lentur dan kenyal peraturan, semakin nikmat sedikit resiko pemberontakannya.

*JUST MY OWN OPINION*

Sekarang balik lagi soal organisasi. Organisasi dengan status keanggotaan seumur hidup yang saya ikuti adalah Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam Seni dan Budaya (disingkat IMPAS-B). Didalamnya ada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART). Ini adalah peraturan organisasi. Sifatnya mengikat bahkan menghakimi. Keanggotaan bisa dicabut kalau melanggar AD-ART, teguran dan peringatan bisa diberikan ketika AD-ART dilanggar.

Jujur, bahwasanya saya sebenarnya sangat tidak tertarik kepada AD-ART. Buat saya AD-ART tidak jauh dan tidak lebih daripada permainan bahasa tertulis. Saya lebih suka dikatakan memberikan peringatan kepada junior saya karena sudah menggangu jalannya kegiatan secara teknis lapangan ketimbang memberikan teguran karena dirinya telah memberontak secara kecil kecilan kepada AD-ART.

Dalam kenyataannya, saya justru lebih suka menghindari keduanya. Memaksimalkan kesempatan sebagai senior bukan seratus persen tipe saya. Dengan kata lain, saya tidak menyangkal bahwasanya terkadang saya berlindung di balik AD-ART dan turunannya serta pecahannya. Namun saya berusaha meminimalisasinya.

Meskipun demikian, tanpa bisa dihindari, ada beberapa peraturan yang memang bisa tidak bisa dan mau tidak mau harus ditegakkan secara kaffah! Seperti misalnya proses untuk meraih status keanggotaan buat yang baru, bahwasanya untuk menjadi anggota baru harus begini begitu.

Yang ini bukan lagi sesuatu yang harus dipusingkan, toh agama saja punya peraturan minimum buat siapa yang mau dikatakan umat beragama, misalnya untuk di Indonesia harus dicantumkan agamanya di KTP. Atau minimal pernah kerumah ibadah tertentu kalau mau dikatakan sebagai pemeluk agama anu.

Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada organisasi atau perkumpulan yang cara meraih anggotanya harus ekstrim. Salah satu organisasi lain yang pernah saya ikuti memiliki syarat keanggotaan yang benar benar mudah, semudah memasuki room chatting yaitu: ngumpul pada hari tertentu! Maka dengan demikian akan diterima sebagai anggota, kalaupun ngumpulnya sanggupnya hanya sebulan sekali juga bukan masalah.

Bagaimana dengan visi misi atau kegiatan nyata sebagai organisasi? Buat saya, benefit pertama dari organisasi adalah bersosialisasi dan kebesaran hati. Bersosialisasi antar pengguna Nokia misalnya yang dibarengi dengan kebesaran hati untuk memaklumi ketidak hadiran anggota lain yang pernah datang namun dalam kesempatan tertentu tidak bisa hadir.

Dari bersosialisasi akan tercipta sesuatu yang baru: informasi, persamaan minat dan kecocokan bakat. Setelah para Pecinta Alam ngumpul, info tentang tujuan kemping selanjutnya hingga proyek seperti pemetaan dan vertikal servis bisa terjadi. Dari perkumpulan pecinta motor ada pertukaran informasi soal sepeda motor, suku cadang hingga kegiatan amal atau kegiatan touring.

Bersosialisasi tidak harus dibebani target harus begini begitu. Soalnya bersosialisasi sendiri adalah salah satu wujud nyata dari ketaatan kita kepada hakikat manusia sebagai makhluk hidup selain berkembang biak. Tumbuhan, hewan, juga manusia baru bisa dikatakan sebagai jenisnya masing masing ketika mereka tumbuh, berkembang biak lantas bersosialisasi. Sesedikit dan seminimal apapun itu. Maka bersosialisasi ini sangat tidak perlu untuk dipersulit dan dibikin sulit.

Sebagai seorang pengguna internet yang lantas memiliki alamat weblog, maka status saya bisa diperjuangkan bahkan bisa diklaim sebagai blogger. Setelah itu maka akan ada interaksi dengan blogger lain, dimulai dengan kolom komentar yang selebar selangkangan, hingga ketertarikan sebagai akibat dari kesamaan geografis hingga hubungan psikis.

Bersosialisasi pun dimulai, mulai dari tukar tukaran ID buat ngobrol on lain, nomor hengpon hingga pertemuan di dunia nyata. Lantas apa gunanya? Setelah ketemu lalu mengakuisisi diri sebagai komunitas blogger wordpress misalnya. Kembali lagi kepada beberapa paragraf diatas: informasi, persamaan minat dan kecocokan bakat. Bahkan masih banyak yang lebih dari itu.

Contoh, gara gara lomba aneh dan konyol bernama Speedy Competition kemaren saya bertemu dengan Pakacil. Akibat dari sering ngumpul salah satunya adalah yang tadi kami nikmati dan sekarang sedang diproses untuk diluncurkan esok hari. Atau yang sekarang memenuhi kuota harddisk saya hasil ngangkut dari harddisk Pakacil, hingga kepuasan spiritual dari candaan candaan kurang ajar dan keterlaluan alias behapakan (yang ini versi Awym *mendompleng nama orang dengan semena mena*). Peraturan untuk bertemu? Kalau saya, Amed, Fadil, dan Pakacil bisa bertemu di suatu tempat di dunia ini, kenapa harus menunggu lama lama apalagi hingga di alam sana? *Busyettt, tulisan makin kacau*.

Saya tidak ingin mengatas namakan siapa siapa, saya hanya merasa bahwasanya ada kebenaran hakiki dan majasi dari tulisan dalam post ini PERSAMAAN MINAT (super subjektif dan egois). Saya tahu dan sadar diri bahwasanya klaim ini sangat sangat mungkin terbantahkan oleh yang lain. Namun disinilah indahnya perbedaan (sok relijius). Penekanan saya adalah pada kemudahan bersosialisasi dan interaksinya sebenarnya.

Kasus mulai bermutasi sebagai makhluk hidup yang berkembang biak dan beranak pinak ketika yang ingin bersosialisasi adalah sekelompok manusia manusia dalam bilangan diatas jumlah jari sebelah tangan. Kalau untuk mengumpulkan mahasiswa cukup dengan ancaman nilai D, maka untuk mengumpulkan sekelompok orang pengecut (versi Dhani) tidaklah segampang itu. Dari sini sebenarnya kebesaran hati untuk mentolelir ketidak hadiran sudah terasah, ihlas atau tidak ihlas, sadar atau tidak sadar. Maka benefit dari organisasi sebenarnya sudah tercapai.

Namun memang organisasi tanpa peraturan dasar memang laksana agama tanpa iming iming dosa dan pahala. Maka supaya jangan dibilang tukang protes tanpa bisa memberikan solusi dan hanya sok kritis, saya juga ingin memberikan peraturan versi saya. Sekali lagi versi saya, bukan versi kita, versi kami, versi orang orang Banjarbaru, apalagi versi blogger berpengaruh.

Bahwasnya organisasi, perkumpulan atau komunitas antar pemilik blog bukanlah ormas yang kerjaannya show up dengan ujung ujungnya minta dana bantuan. Bukan pula LSM tertutup yang menggadaikan idealismenya dengan rupiah. Bukan pula BASARNAS yang harus siap save and rescue. Juga bukan mapala yang penerimaannya ketat dan keras. Bukan juga geng motor dengan peraturan penerimaan yang konyol dan brutal seperti yang diekspos media. Organisasi, perkumpulan atau komunitas antar pemilik blog adalah kumpulan manusia manusia sadar informasi dan teknologi yang ingin bersosialisasi sebagai manusia asli. Dimana ada kebutuhan canda dan tawa, ada kebutuhan kesenangan karena bertemu incaran. Dan lain sebagainya.

Pernah bertemu berarti sudah menunjukkan niatan baik, maka resmilah kita sebagai satu perkumpulan. Kalau ada perkembangbiakan peraturan itu adalah hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah perkembangbiakan yang dipaksakan. Dalam hal ini penerimaan anggota dipersulit, hingga mencapai ada tahapan pemecatan dan penolakan.

Jadi kalau menurut saya: peraturannya adalah mau bertemu, pernah bertemu, dan mau dinamakan sebagai anggota komunitas. Selebihnya itu urusan rame rame dan tergantung kondisi lapangan yang akan disesuaikan (karena saya terbiasa dengan yang terakhir disebutkan). Tidak perlu membuat perkumpulan menjadi eksklusif apalagi tertutup.

Masih banyak dari peraturan organisasi yang kalau dibahas selama 7 hari 7 malam pun belum habis. Namun saya sangat tidak tertarik untuk mempersulit diri dengan hal hal macam itu. Entahlah orang lain yang organisatoris, kritis atau idealis. Maka rangkaian kata kata KALAU TIDAK MAU YA TIDAK USAH IKUT. Dimana penekanannya adalah pada ketaatan peraturan. Saya dengan sadar sadarnya mengklaim bahwasanya: SAYA TIDAK MAU. Saya tidak mau mentaati peraturan buatan manusia yang terlalu dipersulit dimana ada solusi mudah. Saya tidak mau mentaati peraturan konyol seperti dilarang datang bertamu atau bertemu di suatu tempat dimana pengunjungnya tidak diperkenankan pakai sendal jepit dan kaos oblong. Saya tidak sudi harus berseragam dan berpakaian sok rapi ketika masih bisa pakai kaos oblong.

*itu diatas tulisan siapa ya? Kok kacau begitu?*

Hmmm… Akankah ada perdebatan ide di sini? Ataukah akan ada penyangkalan bumi mengelilingi matahari karena yang menyebutnya adalah tukang becak yang tidak lulus SD? Entahlah, yang jelas saya ngantuk. Besok harus bangun kesiangan soalnya. Demi menghindari ceramah Bos di kantor yang berbelit belit dan suka nyindir nyindir padahal yang disindir tidak perduli.

About these ads

15 Responses to “Adeknya Pak Erte”


  1. 1 dana 28 August 2008 at 07:45

    Jadi nama perkumpulan blogernya apa nih? :D

  2. 2 itikkecil 28 August 2008 at 11:12

    ahem, bukannya peraturan itu memang diciptakan untuk dilanggar ;)
    jadi, apakah sekarang aturan untuk perkumpulan itu sudah ditetapkan?

  3. 3 awym 28 August 2008 at 12:15

    saya semakin bingung, semua sebenarnya mudah, kita bukan kelompok penjahat atao pahlawan yang memerlukan aturan agar tetap di anggap eksis, , ,
    biarlah, meungkin mereka punya pemikiran sendiri dengan kita yang mecintai kebebasan yang tidak kebablasan…
    makin banyak perbedaan agar kita makin bisa menerima ketidak seragaman…
    jabat erat! :) *mesem-mesem z karena karakter saya sudah terlanjur terbunuh*

  4. 4 Mr. Fortynine 28 August 2008 at 18:57

    @dana: Ada aja. nanti juga anda akan tahu sendiri

    @itikkecil: Sudah sebagian kecil. tapi sebagian besarnya belum

    @awym: Niat saya memang melebarkan perbedaan kok. Bukan selesai dengan kata kata If you’re not in my side you’re my enemy

  5. 5 Amed 28 August 2008 at 19:37

    *Sementara komen sembarang dulu deh*

    Adek Pak Erte, kalau menurut saya tetap diperlukan, siapa tahu Pak Erte berhalangan, Adeknya bisa menggantikan…

    Ahem… Bagian yang dicoret pertama, yang ada mantan-mantannya itu ndak di-link :mrgreen:

  6. 6 Mr. Fortynine 28 August 2008 at 19:47

    Semprul. Pak Erte itu mutlak. Ga ada Istilah pemindahan kekuasaan apalagi yang namanya care-taker tauxs™!!

    Links? Links apa ya?? *tertawa Iblis*

  7. 7 hariesaja 28 August 2008 at 20:41

    Glekkk…gdubrakkkk *Sambil nyiram kepala pake air es…*

  8. 8 mbelGedez™ 29 August 2008 at 08:38

    Ha…ha…h.a…

    Jadi inget inih, boss….. :

    http://mbelgedez.com/2008/08/02/vox-populi-vox-dei-mbelgedez/

  9. 9 Mrs. Fortynine 29 August 2008 at 23:58

    hampir saja aku cemburu… :oops:

    ternyata adeknya pak erte yang itu toooh…

    :D

    *missyu*

  10. 10 Fortynine 30 August 2008 at 01:44

    @hariesaja: Bangun Pak… Bangun….

    @mbelGedez™: Hmmmm….. Maksudnya ada perdebatan tanpa ujung atau ujung ujungnya adsens?

    @Mrs. Fortynine: Yang organisatoris tentu tau apa itu adeknya Pak erte. I Miss you too…

  11. 11 warmorning 11 September 2008 at 08:11

    so ? intinya ? bingung saya :D


  1. 1 Tendang!!! - A Journal Of A Not-Superman Human Trackback on 8 September 2008 at 21:57
  2. 2 Tendang!!! « A Journal of A Not-Superman Human Trackback on 8 September 2008 at 21:59
  3. 3 Masalah Kontrakan « seperti adanya Trackback on 19 September 2008 at 08:43
  4. 4 20 Januari 2012 (Memperingati 4 Tahun Komunitas Blogger Kalimantan Selatan) « Generasi Biru Trackback on 20 January 2012 at 00:03
Comments are currently closed.



Monthly Archives

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Join 166 other followers

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 166 other followers

Twitter

Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

::::::

blogarama - the blog directory

::::::

IP

::::::

 Subscribe in a reader


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 166 other followers

%d bloggers like this: