Dalam istilah bahasa Banjar ada yang namanya kapuhunan. Contoh kasus dari kapuhunan ini adalah ketika misalnya anda ingin makan nasi goreng sore nanti. Dimana warung yang jual sendiri sudah buka, andapun punya duit untuk membelinya. Namun entah kenapa dan sebab apa anda tiba tiba tidak jadi membelinya. Dan malamnya tiba tiba anda dapat musibah. Maka kasus yang begini sering disebut kapuhunan.

Saya sebenarnya sangat sangat terkikis kepercayaan soal ini. Apalagi untuk urusan ditangkap polantas, saya sangat tidak percaya itu adalah kapuhunan. Kalau ditangkap polantas, buat saya hanya ada dua kemungkinan: memang kitanya salah, atau kita adalah korban keusilan polisi lapar yang sedang cari tunjangan tambahan.

Pagi tadi, saya berniat mengirim buku ke suatu alamat yang berada nun jauh di sana namun masih masuk wilayah Indonesia. Karena ada panggilan dari seorang teman maka saya batalkan pengiriman buku yang rencanannya menggunakan jasa pos.

Sorenya, saya ingin memompa ban si Fabio. Bahkan sesudah magrib ketika saya beranjak untuk ke rumah seseorang, saya kembali berniat untuk memompa ban. Lagi lagi entah kenapa saya batal memompa ban.

Kapuhunankah saya hari ini? Diluar kebetulan yang memang disengaja maupun tidak disengaja. Apakah hal ini pas momennya atau apa. Mungkin kapuhunan memang masih eksis. Karena hari ini tadi hampir jatuh dari motor. Namun nampaknya juga bukan kapuhunan karena sebenarnya saya tidak apa apa. Soalnya jatuhnya statusnya baru hampir alias almost, bukan sudah alias already. This is the example of balance status of part of speech. 😛 (*sok tau mode*)

Soalnya alasan logis untuk kejadian hari ini tadi bersama Pakacil memang masih ada. Sehingga nampaknya saya masih akan tetap kehilangan kepercayaan saya terhadap kapuhunan.